Akhirnya, Lulus SUP :)

Pay-It-Forward

Pay It Forward, illustration: iquim.org

Jam 2 dini hari saya memulai hari. Power point belum selesai dibuat. Padahal saya sudah dapat jadwal sidang usulan penelitian disertasi (SUP) sejak 3 minggu yang lalu. Sejak kemarin, si Akang sudah berkali-kali mengingatkan. Saya entah mengapa, macet dan alay banget, ga bisa fokus ke situ, malah ngurusin hal-hal lain yang ga jelas. Bahkan akhirnya, jam 9 malam, si Akang yang berinisiatif memulai membuatkan ppt, cuma membuatkan bagan kerangka pemikiran, tapi lumayanlah, karena itu yang agak repot bikinnya.

Jam 5.45 berangkat dari rumah ke stasiun kereta, tentu saja dianter si Akang. Sebelumnya dia sudah mengingatkan “Jangan lupa bawa uang.” Ya, saya memang sering sekali lupa bawa uang kalau bepergian. Jadi kayaknya, sudah refleks saja si Akang mengucapkan kalimat itu. Ketika mobil sudah jalan, lagi-lagi dia tanya, “Udah bawa uang kan?”

Ya ampun. Belum. “Harusnya papa juga bawa uang dong di saku,” kata saya. Benar-benar tak tau diri, sudah diingatkan malah menyalahkan 😀 Akhirnya, mobil yang sudah berjalan sekitar 100 meter mundur lagi, saya turun dan buru-buru ngambil uang (bahkan dompet pun tak terbawa, biasanya saya ga lupa bawa dompet, tapi sering lupa mengecek, apakah dompet itu ada isinya atau tidak. Dan bukan sekali-dua kali saya kaget di tempat tujuan, menyadari tak ada uang di dompet.)

Kalau sudah begini, jadi inget kata-kata papi saya saat menginap di rumah kami beberapa bulan yang lalu. Beliau berkata kepada si Akang, “Kamu ni sibuknya kayak punya anak tujuh. Ngurusin Dina aja kayak ngurus lima anak.”

Si Akang nyengir lebar. Sementara saya kaget banget. What?! Rasanya saya gak separah itu deh. Masa sih?!

Di stasiun, langsung panik lagi. Loket penjualan tiket sudah tutup. Padahal kereta masih sejam lagi. Sejak KAI dipimpin Jonan, memang banyak banget ‘masalah’ yang dialami rakyat jelata pengguna kereta lokal (tulisan saya: Curhat untuk Pak Jonan dan Kereta Api dan Neolib). Skrg direkturnya sudah ganti. Masalahnya juga ganti lagi. Kalau dulu ada kereta patas ber-AC yang mahal itu, sekarang semua disamaratakan, kereta ekonomi, tapi frekuensinya lebih banyak. Tapi herannya, mengapa jadi tambah susah dapat tiketnya ya? Khusus kereta pagi, kami terpaksa ngantri beli tiket sejak 1 jam sebelumnya, kalau ga mau kehabisan.

Seorang penjual asongan berkata, “Beli tiketnya di loket sebelah sana bu, cepet..!”

Langsung saya berlari menyeberangi rel, dan beli di loket seberang. Untung ada. Saya balik lagi ke mobil, ngasih tau si Akang. Dia menawarkan, mau beli surabi dulu? Saya menolak, mau ngaji saja *mendadak relijius*. Setelah salaman, cium tangan, kasih instruksi “doain ya!”, saya pun duduk di ruang tunggu sambil ngaji n baca doa, berusaha meredakan ketegangan.

Lalu… singkat cerita, SUP pun dimulai. Rasanya seperti klimaks dari perjuangan panjang. Ini awal semester ke-4 saya. Padahal saya menargetkan, awal semester 3 seharusnya sudah SUP. Tapi, memang kuliah sambil jadi IRT itu repot banget. Apalagi topik disertasi saya adalah ‘dunia baru’, yaitu mengenai food security. Hanya untuk memahami FS sampai ke akar-akarnya (termasuk counternya, yaitu food sovereignty), panjang sekali “perjalanan” yang saya tempuh. Saya pernah keliling Jakarta untuk wawancara dengan puluhan aktivis di bidang pangan. Saya gak kenal Jakarta, juga gak kenal para aktivis itu. Untungnya ada salah satu aktivis yang mau jadi asisten penelitian saya. Dia yang mengatur pertemuan, memberi tahu rute mana yang musti diambil, kadang bahkan mengantar saya kemana-mana, kalau dia sedang off.

Pernah, suatu malam, saya mewawancarai beberapa aktivis sampai malam, di sebuah hotel. Mereka sedang ada kongres di hotel itu. Jam 11 saya baru nyadar: saya tidur di mana?! Pas nanya, di hotel itu harganya 800rb, itupun sudah ga ada kamar. Akhirnya, asisten penelitian saya ini mengantar pakai motor, keliling cari hotel yang kira-kira murah. Tapi saya serem liat hotel itu. Trus, cari lagi hotel yang lebih keren. Setelah beberapa hotel, dapatlah yang 500rb. Untungnya detik-detik terakhir, datang telpon dari temen aktivis, “Mbak Dina nginep di sini aja, bareng ibu-ibu petani.”

Waduh leganya. Pertama, saya memang serem tidur sendirian di hotel. Kedua, selametlah 500rb itu. Kami balik lagi ke hotel tempat kongres, dan saya tidur rame-rame bersama para ibu petani-aktivis. Paginya, kami ngobrol panjang lebar soal masalah sistemik yang mereka temui dalam bertani. Nah, alhamdulillah, tak disangka jadi nambah lagi pemahaman saya.

Saya juga diskusi dengan beberapa orang, untuk mendalami aspek teoritis disertasi saya. Seorang teman saya sangat berjasa dalam hal ini, mengenalkan saya ke beberapa kolega seniornya di kampus.

Walhasil, mungkin buat orang lain ini masalah ‘kecil’. Tapi buat saya, ini benar-benar ‘perjalanan’ yang rada-rada spiritual. Saya semakin berusaha tunduk dan mendekat ke Allah, karena semakin saya sadar, tanpa bantuan-Nya, sulit bagi saya memahami hakikat ilmu yang sedang saya pelajari.

Dan, SUP pun berjalan lancar. Nilai A.

Tapi kemudian, Allah ngasih ‘tugas’ lagi ke saya. Atas segala kemudahan yang saya dapatkan, saya musti ‘pay it forward’. Saya mendadak harus membantu teman saya yang macet disertasinya dan bahkan harus diubah total. Saya ikut mendampingi saat dia diceramahi prof kami, jadi saya sedikit paham, problemnya di mana. Di kantin, sambil makan siang, kami berdiskusi, langkah apa yang musti diambil. Bukan karena saya pinter. Tapi kebetulan saja, saya lebih bisa berpikir sederhana. Ternyata mampu berpikir sederhana itu anugerah juga ya? Aneh, padahal saya kadang ingin sekali bisa mikir dan nulis yang rumit-rumit dan filosofis.

Lalu, pulang, naik kereta lagi. Kepala sudah kleyengan. Sejak jam 2 dinihari belum tidur sepicing pun. Di rumah, ngobrol-ngobrol dengan si Akang dan anak-anak. Lalu nelpon ortu. Lalu kami ke Jatos, makan malam. Ditraktir Kirana karena baru dapat royalti buku dalam jumlah lumayan sekaligus merayakan lulus SUP. Bayarnya pun dibagi dua, setengah uang Kirana, setengah uang saya 😀

Pulang, chatting sebentar dengan beberapa orang di WA, mengurusi beberapa email. Lalu tidur.

Dan pagi ini, sederet kerjaan (tulis-menulis) sudah menunggu. Ga ada duitnya (honornya) semua. Tapi ya ga apa. Toh meski sering kerja pro-bono begini, saya baik-baik saja. Just pay it forward, begitu pikir saya. Saya dapat kebaikan dari Allah, saya coba berbuat baik meskipun sangat sedikit, kepada semesta. Semoga kebaikan dan karunia-Nya juga tak henti melimpahi kami. Amin.

Bandung, 28 Feb 2015, 4:00 WIB

Melawan Sedih dengan Tetap Baik

keep-calm-and-be-kind-10Kemarin, saya mendapat ‘resep’ baru, yaitu melawan rasa sedih adalah dengan berusaha tetap menjadi orang baik.

Di perjalanan menuju kampus, saya sekereta dengan seorang ibu Tionghoa non-muslim (sebut saja bu Liem). Dia cerita masa kecilnya yang susah, ayahnya ngganggur, ibunya “gak mau usaha” (istilah bu Liem), sehingga bu Liem hanya sekolah sampai tamat SD. Bu Liem-lah yang kemudian kerja serabutan, sampai adik-adiknya bisa tamat SMA. Setelah menikah dan punya anak, bu Liem tetep musti kerja serabutan, supaya anaknya bisa sekolah. Alhamdulillah, anak pertamanya lulus SMK (dan sering dapat beasiswa karena juara 1 terus) lalu kerja dengan gaji lumayan. Anak kedua juga hampir lulus SMK.

“Saya banyak diomongin orang bu.. Dikatain, masa Cina jadi babu?” katanya.

“Tapi saya tahan saja bu. Yang penting kita baik, jangan mencuri. Ngutang sih wajar, tapi kalau menipu dan mencuri, itu salah,” ujarnya lagi.

Lalu, di perpustakaan kampus, petugas menghidupkan televisi di kantornya, acara infotaintment. Pas saya lagi mengambil sesuatu di loker, ikut nyimak deh. Seorang gadis cilik usia 1o tahun bernama Viara, berkunjung ke lokasi syuting Ganteng-Ganteng Serigala. Wajahnya sumringah banget. Padahal, dia sejak 7 thn yang lalu, 7 kali mengalami operasi dan rutin menjalani cuci darah. Orang tua Viara memberikan segala upaya terbaik untuk putri mereka itu,  sampai jatuh miskin karena mahalnya biaya pengobatan. Tapi mereka berdua terlihat tegar, penuh dignity dan penuh kasih sayang. Mata saya langsung berembun, dan cepat-cepat masuk ke ruang perpustakaan. Ga kuat melihat kamera menyorot tangan Viara yang penuh perban bekas suntikan jarum cuci darah.

Ya Allah.

Saya kembali diingatkan bahwa setiap orang punya ‘perang’-nya masing-masing. Semua orang punya medan perjuangan yang harus dijalani. That’s life, anyway. Sungguh tak pantas merasa sengsara atau sedih hanya karena ujian yang secuil; atau mengkhawatirkan hidup dan masa depan padahal sampai hari ini masih baik-baik saja. Ada banyak orang yang lebih sengsara, lebih banyak mengalami intimidasi, lebih pahit. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha (Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kapasitas orang itu menanggung beban).

Dan, saya kembali teringat pada kata-kata mutiara (ada yang bilang ini dari Plato, ada pula yang mengatakan ini dari penulis Skotlandia, Ian Maclaren): berbuat baiklah kepada semua orang, karena masing-masing mereka mengalami kesulitan (perjuangannya) masing-masing.  “Be kind, for everyone you know is fighting a great battle”.

Dan.. teringat juga pada kata-kata Ali Syariati, penulis asal Iran :

Jika kau penuh kasih sayang, orang-orang akan menuduh ada niat-niat tersembunyi padamu,

tapi tetaplah penuh kasih sayang.

Jika kau baik, orang-orang akan menipumu, tapi tetaplah baik.

Ketika kebaikanmu dilupakan orang, tetaplah berbuat kebaikan.

Berikanlah yang terbaik kepada dunia

meskipun itu tak cukup.

Pada akhirnya akan kau lihat, semuanya adalah tentang kau dan Tuhanmu,

bukan antara kau dan orang lain.

 

[Parenting] Acara Maulid, Menumbuhkan Rasa Pede Anak

Salah satu kekhawatiran saat kami memutuskan HS untuk Reza adalah khawatir anaknya tambah pemalu, pendiam, ga mau gaul sama orang, dan sejenisnya. Sekolah dipandang tempat terbaik untuk menghilangkan semua sifat-sifat ‘minus’ itu.

Tapi, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami tetap memutuskan HS (panjang ceritanya). Seiring waktu, ternyata kekhawatiran kami (dan kerabat kami) ternyata tak terbukti. Reza terlihat semakin berani,  mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang (bahkan, membuat tetangga terheran-heran mendengar gaya bahasa Reza yang ‘formal’, nggak kayak anak-anak biasanya. Formal itu maksudnya.. ya agak patuh dengan EYD, gitu deh :D), dan beberapa kemajuan lain di bidang sosialisasi.

Namun masih ada nih yang kurang. Reza belum pernah ‘tampil’. Dibanding kakaknya yang mahir piano dan biola, Reza seperti ‘tenggelam’. Dan saya juga menangkap ada rasa minder karena dia tidak bisa tampil di depan publik menunjukkan keahlian (musik). Saya membesarkan hatinya dengan menjelaskan bahwa bakat orang itu beda-beda.

Apakah anak harus berani ‘tampil’? Buat saya, poinnya bukan di ‘tampil’ dalam arti memamerkan kemampuan, tetapi keberanian dan ketenangan saat berdiri di depan umum, untuk apa saja, bisa untuk memamerkan keterampilan, menyampaikan pendapat, mengajar, dll.

Akhirnya, ‘jalan keluar’ pun muncul. Si Akang terpikir untuk membuat show yang bisa mengakomodasi Reza, dalam acara Maulid Nabi. Rana, Reza, dan Fadhli (sepupu) tampil bareng. Musik latarnya adalah lagunya Opick. Awalnya, Reza baca puisi dulu, lalu Fadhli menyanyikan lagu “Bila Waktu Tlah Berakhir” diiringi biola Rana, lalu Reza puisi lagi, dan diakhiri dengan lagu lagi.

reza2

Sederhana saja sebenarnya. Tapi prosesnya dilakukan cukup lama dan saya melihat kemajuan yang signifikan dalam diri Reza. Awalnya, Reza menolak disuruh baca puisi. Udah minder sebelum maju. Tapi kami berhasil mendorongnya untuk mencoba. Dia berlatih berkali-kali sehingga bacaannya menjadi lancar, intonasinya lumayan, dan suaranya tegas. Setelah tampil, kami mencoba mengevaluasinya melalui hasil rekaman. Jadi, meskipun kami secara khusus memuji Reza karena telah berani membaca puisi di depan umum, kami juga memberitahunya, apa yang kurang. Misalnya, dia masih usil senyum-senyum, bisik-bisik dengan Fadhli saat selingan musik.

Secara teori, rasa percaya diri (PD/pede) itu muncul alami dalam diri anak bila mereka mencapai sesuatu; jadi bukan karena dipuji-puji. Ortu sering memuji anak “kamu pinter!” atau “kamu hebat!” dengan harapan anaknya jadi pede. Justru kalau sering dipuji secara ‘kosong’ begitu, resikonya anak malah jadi frustasi karena merasa harus menyesuaikan diri dengan frasa ‘pinter’ dan ‘hebat’ itu.

Jadi, yang perlu dilakukan adalah mendorong anak untuk mencapai sesuatu, baru kemudian dipuji khusus untuk pencapaian itu. Misalnya, anak balita saat didorong untuk memakai baju sendiri, pujilah “Wow, sekarang adik sudah pinter pakai baju sendiri!”. Dan prosesnya perlu bertahap. Jangan sampai, anak yang untuk hal-hal yang lebih sederhana belum pede, tapi didorong-dorong (atau bahkan dipaksa) untuk melakukan hal-hal besar (misal, ikut lomba ini-itu, atau tampil di depan umum).

Salah satu yang menggerus pede anak adalah kritik dari ortu. Bukannya tidak boleh mengkritik sama sekali ya, tapi lebih bijaksana untuk fokus pada yang baik daripada sibuk mengkritisi yang buruk. InsyaAllah, saat anak semakin pede bahwa dirinya ‘baik’, yang ‘buruk’ itu akan ditinggalkannya (ini saya pelajari dari buku “10 Anugerah Terindah Untuk Ananda” karya Vannoy). Tapi, menjauhi kritik bukan berarti kita juga harus menghujaninya dengan pujian bertubi-tubi. Misalnya, saat anak balita sedang mencoba menumbuhkan pede-nya dengan makan sendiri, tunjukkan antusiasme atas kemajuan kecil yang dia capai (dan beri pujian secukupnya), dan  tahan mulut dari omelan, “Eh, hati-hati dong.. tuh..kan.. jadi tumpah!”

Terakhir, ini puisi yang dibaca Reza dalam acara Maulid Nabi itu; semoga bisa kita resapi bersama…

Di dalam Al-Quran Allah berfirman
Muhammad adalah teladan – bagi semua insan,
bagi siapa saja yang percaya
bahwa hidup di dunia hanyalah sementara
tak ada yang hidup abadi di dunia ini
bahwa dia akan kembali – Kepada Allah Rabbul ‘Izzati
Zat yang penuh kasih – kepada hamba yang salih

Kematian pasti akan menghampiri kita
Kadang tanpa memberikan tanda – Datang secara tiba-tiba

Segala yang kita punya – Tak satupun yang akan kita bawa
Kita hanya berkain kafan – Tanpa harta, benda, atau perhiasan

Orang tua, anak, dan keluarga – Yang selama ini kita cintai
Tak ada yang ikut menyertai – Menemani kita di tempat sepi

–lagu–

Semua sanak dan famili – Tak akan ada yang menyertai
Kita akan betul-betul sendirian
Di tempat yang sepi, gelap, dan menyeramkan

Untuk mempertanggung-jawabkan – Segala amal dan perbuatan
Saat itu pasti akan tiba – Kita pasti akan kembali kepada-Nya
Ketika waktu telah memanggil – Hanya amal soleh yang menemani

Garlic Bread

Sudah lama Kirana bilang pingin makan garlic bread lagi. Dulu pernah makan di sebuah restoran. Saya bilang, cari saja resepnya, ntar kita bikin sendiri. Nah, saat ke Jatos (mall terdekat dari rumah), saya beli tuh roti keras kayak pentungan dengan niat mau bikin garlic bread. Pas liat resepnya, musti pake garlic bubuk. Ga punya. Yah, musti ditunda deh.

(Dua hari itu roti nganggur. Tiba-tiba ada ide bikin sesuatu yang lain. Kirana manyun : itu garlic bread aja masih belum jadi!)

Ahad pagi, sambil nganterin Reza latihan bulutangkis, saya ke warung terbesar dan terlengkap di kompleks kami (bener-bener warung dalam arti lokal, jual sayuran, daging, dll, tapi gaya penjualannya ala swalayan gitu). Karena ga nemu garlic bubuk, saya tanya ke pelayan warung. Dengan heran dia bilang, “Maksudnya, bawang putih dibubukin gitu?!” Hahaha.. saya pikir, iya ya, dalam ‘local framework’, memang iseng amat, pan udah ada bawang putih segar, ngapain nyari yang bubuk?

Siangnya, kami ke nikahan Fikri, sepupu saya. Senengnya…ketemu dengan sepupu-sepupu, paman, tante, dll, yang lama ga jumpa. Saya sampai ga makan nasi, hanya camilan, karena sayang rasanya menghabiskan waktu untuk ngantri makanan, ngobrol dengan sepupu-sepupu lebih penting. Yang paling rame tentu saja, ngobrol sama Puti, sepupu tersayang yang juga lagi S3. Sudah lamaaa sekali kami tak jumpa. Sesama mahasiswa, kami pun curhat-curhatanlah soal nasib kuliah kami. Tapi sambil ketawa-ketiwi gitu, padahal yang diobrolin sesuatu yang menjengkelkan.

Misalnya, “Si Akang gimana kuliahnya?” tanya Puti.

“Waaah..dia lebih parah lagi..,” jawab saya.

“Lho kok ndak ada berita bagus tho?”… dan kami ngakak bareng.

Lalu saya ceritain nasib disertasinya si Akang sambil ketawa-ketawa (padahal isi ceritanya harusnya bikin sebel). Tapi ya memang kadang kita itu musti menertawakan banyak hal dalam hidup, yang susah-susah itu jangan terlalu diambil hati, biar ga stress…

ki-ka: dina-rika-puti

ki-ka: dina-rika-puti

Karena si Akang ada acara di tempat lain, kami terpaksa pulang cepat. Jadi, saya ajaklah sepupu dan sodara-sodara untuk segera salaman ama penganten dan foto-foto. Pas mau ke panggung, eh, Kirana baru datang bawa chicken cordon bleu. Kasian banget, dia udah ngantri panjang untuk dapetin makanan itu. Saya dan Puti cekikikan liat wajah memelas Kirana (masak batal dimakan?). Akhirnya, diputuskan Kirana makan saja, ga usah ikut ke panggung untuk salaman dan makan. Pas di panggung, pemandangan Kirana lagi duduk sendirian makan, terlihat jelas. Hahaha. Ternyata ya, para penganten dan ortu mereka itu bisa ngeliat detil kelakuan para tamu saat “menyerbu” makanan. Pak Odang (paman), melambai-lambai ke Kirana, menyuruh datang ke panggung untuk ikut foto keluarga. Saya dan Puti cekikikan lagi, karena dilema berat yang dihadapi Kirana. Hampir pasti, kalau dia tinggalin makanannya di meja, akan segera diberesin petugas. Benar saja, begitu Kirana naik ke panggung datanglah pelayan mendekati meja itu. Saya dan Puti langsung ketawa-ketawa.

“Yang penting udah nyicipin,” kata saya. [eh untungnya, piring Kirana gak jadi diambil si pelayan, jadi Kirana lanjut makannya abis foto2]

Kami lalu pamitan dengan sodara-sodara. Pak Odang menegur si Akang, “Kapan ke Semarang?!”

Ketika si Akang bilang “Insya Allah”, langsung diomelin, “Jangan Insya Allah melulu! Pak Odang udah tua lho!”

Aduh.. jadi nyess… njih Pak Odang, insya Allah dalam waktu dekat kami akan berkunjung. (Si Akang sejak menikah dengan saya memang belum pernah berkunjung ke sodara-sodara di Semarang, tanah kelahiran saya)

Kami meneruskan perjalanan.

Setelah urusan si Akang selesai, kami mampir ke sebuah toko swalayan besar di daerah elit di Bandung utara. Benar saja, ada bubuk garlic. dan ada parsley segar (daun yang disebutkan dalam resep garlic bread). Pas liat harganya, seikat kecil hampir 40 ribu. What?! Waduh, maaf deh. Saya benar-benar heran, siapa sih yang mau beli sayuran seikat kecil dengan harga semahal itu? (bukan cuma parsley, di situ ada sayur-sayuran “asing” lainnya dengan harga mahal). Akhirnya saya beli oregano kering aja, hanya 5000-an. Anak-anak nanya-nanya, oregano itu apa. Wah Mama juga nggak ngerti, sering denger namanya aja, hahaha. Nggak apa-apalah kita bereksperimen sama sayuran asing. Sempat mau beli keju mozarella, karena baca resep ada garlic bread yang pake keju itu. Tapi selain harganya mahal amir, juga ga ada sertifikat halal.

Pulang, langsung deh mempraktekkan resep. Kirana dan Reza semangat banget. Saya coba browsing, oregano itu dimanfaatkan untuk masakan apa tho? Eh, ternyata bisa juga dipake untuk garlic bread.

garlic breadHasilnya.. mmm… mmm… ya gitu deh… hahaha, ga seenak yang di restoran dong ya. Agak keasinan (habis, pake blue band, dicampur pula sama keju biasa yang ada di warung-warung gitu.. bener2 ga sesuai sama resep dah). Tapi “perjalanan” sampai camilan ini tersedia di piring, sangat berharga. Misalnya, kebersamaan. Di swalayan, kami berempat sibuk membicarakan sayuran, bumbu-bumbu, memilih-milih mana yang murah, mana yang mahal, mana yang halal, dst. Lalu di rumah, ‘bergotong-royong’ membuatnya (ibu-ibu yang ahli masak, pasti terheran-heran, kok bikin makanan sesimpel ini musti heboh banget sih? Hm, agaknya ini hikmah saya nggak terlalu pinter masak ya.. hahaha). Proses ini  juga bentuk pembelajaran buat anak karena belajar itu bukan cuma baca buku pelajaran.

Alhamdulillah untuk hari yang menyenangkan ini 🙂

1 Feb 2015