[Parenting] Acara Maulid, Menumbuhkan Rasa Pede Anak

Salah satu kekhawatiran saat kami memutuskan HS untuk Reza adalah khawatir anaknya tambah pemalu, pendiam, ga mau gaul sama orang, dan sejenisnya. Sekolah dipandang tempat terbaik untuk menghilangkan semua sifat-sifat ‘minus’ itu.

Tapi, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami tetap memutuskan HS (panjang ceritanya). Seiring waktu, ternyata kekhawatiran kami (dan kerabat kami) ternyata tak terbukti. Reza terlihat semakin berani,  mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang (bahkan, membuat tetangga terheran-heran mendengar gaya bahasa Reza yang ‘formal’, nggak kayak anak-anak biasanya. Formal itu maksudnya.. ya agak patuh dengan EYD, gitu deh :D), dan beberapa kemajuan lain di bidang sosialisasi.

Namun masih ada nih yang kurang. Reza belum pernah ‘tampil’. Dibanding kakaknya yang mahir piano dan biola, Reza seperti ‘tenggelam’. Dan saya juga menangkap ada rasa minder karena dia tidak bisa tampil di depan publik menunjukkan keahlian (musik). Saya membesarkan hatinya dengan menjelaskan bahwa bakat orang itu beda-beda.

Apakah anak harus berani ‘tampil’? Buat saya, poinnya bukan di ‘tampil’ dalam arti memamerkan kemampuan, tetapi keberanian dan ketenangan saat berdiri di depan umum, untuk apa saja, bisa untuk memamerkan keterampilan, menyampaikan pendapat, mengajar, dll.

Akhirnya, ‘jalan keluar’ pun muncul. Si Akang terpikir untuk membuat show yang bisa mengakomodasi Reza, dalam acara Maulid Nabi. Rana, Reza, dan Fadhli (sepupu) tampil bareng. Musik latarnya adalah lagunya Opick. Awalnya, Reza baca puisi dulu, lalu Fadhli menyanyikan lagu “Bila Waktu Tlah Berakhir” diiringi biola Rana, lalu Reza puisi lagi, dan diakhiri dengan lagu lagi.

reza2

Sederhana saja sebenarnya. Tapi prosesnya dilakukan cukup lama dan saya melihat kemajuan yang signifikan dalam diri Reza. Awalnya, Reza menolak disuruh baca puisi. Udah minder sebelum maju. Tapi kami berhasil mendorongnya untuk mencoba. Dia berlatih berkali-kali sehingga bacaannya menjadi lancar, intonasinya lumayan, dan suaranya tegas. Setelah tampil, kami mencoba mengevaluasinya melalui hasil rekaman. Jadi, meskipun kami secara khusus memuji Reza karena telah berani membaca puisi di depan umum, kami juga memberitahunya, apa yang kurang. Misalnya, dia masih usil senyum-senyum, bisik-bisik dengan Fadhli saat selingan musik.

Secara teori, rasa percaya diri (PD/pede) itu muncul alami dalam diri anak bila mereka mencapai sesuatu; jadi bukan karena dipuji-puji. Ortu sering memuji anak “kamu pinter!” atau “kamu hebat!” dengan harapan anaknya jadi pede. Justru kalau sering dipuji secara ‘kosong’ begitu, resikonya anak malah jadi frustasi karena merasa harus menyesuaikan diri dengan frasa ‘pinter’ dan ‘hebat’ itu.

Jadi, yang perlu dilakukan adalah mendorong anak untuk mencapai sesuatu, baru kemudian dipuji khusus untuk pencapaian itu. Misalnya, anak balita saat didorong untuk memakai baju sendiri, pujilah “Wow, sekarang adik sudah pinter pakai baju sendiri!”. Dan prosesnya perlu bertahap. Jangan sampai, anak yang untuk hal-hal yang lebih sederhana belum pede, tapi didorong-dorong (atau bahkan dipaksa) untuk melakukan hal-hal besar (misal, ikut lomba ini-itu, atau tampil di depan umum).

Salah satu yang menggerus pede anak adalah kritik dari ortu. Bukannya tidak boleh mengkritik sama sekali ya, tapi lebih bijaksana untuk fokus pada yang baik daripada sibuk mengkritisi yang buruk. InsyaAllah, saat anak semakin pede bahwa dirinya ‘baik’, yang ‘buruk’ itu akan ditinggalkannya (ini saya pelajari dari buku “10 Anugerah Terindah Untuk Ananda” karya Vannoy). Tapi, menjauhi kritik bukan berarti kita juga harus menghujaninya dengan pujian bertubi-tubi. Misalnya, saat anak balita sedang mencoba menumbuhkan pede-nya dengan makan sendiri, tunjukkan antusiasme atas kemajuan kecil yang dia capai (dan beri pujian secukupnya), dan  tahan mulut dari omelan, “Eh, hati-hati dong.. tuh..kan.. jadi tumpah!”

Terakhir, ini puisi yang dibaca Reza dalam acara Maulid Nabi itu; semoga bisa kita resapi bersama…

Di dalam Al-Quran Allah berfirman
Muhammad adalah teladan – bagi semua insan,
bagi siapa saja yang percaya
bahwa hidup di dunia hanyalah sementara
tak ada yang hidup abadi di dunia ini
bahwa dia akan kembali – Kepada Allah Rabbul ‘Izzati
Zat yang penuh kasih – kepada hamba yang salih

Kematian pasti akan menghampiri kita
Kadang tanpa memberikan tanda – Datang secara tiba-tiba

Segala yang kita punya – Tak satupun yang akan kita bawa
Kita hanya berkain kafan – Tanpa harta, benda, atau perhiasan

Orang tua, anak, dan keluarga – Yang selama ini kita cintai
Tak ada yang ikut menyertai – Menemani kita di tempat sepi

–lagu–

Semua sanak dan famili – Tak akan ada yang menyertai
Kita akan betul-betul sendirian
Di tempat yang sepi, gelap, dan menyeramkan

Untuk mempertanggung-jawabkan – Segala amal dan perbuatan
Saat itu pasti akan tiba – Kita pasti akan kembali kepada-Nya
Ketika waktu telah memanggil – Hanya amal soleh yang menemani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s