Melawan Sedih dengan Tetap Baik

keep-calm-and-be-kind-10Kemarin, saya mendapat ‘resep’ baru, yaitu melawan rasa sedih adalah dengan berusaha tetap menjadi orang baik.

Di perjalanan menuju kampus, saya sekereta dengan seorang ibu Tionghoa non-muslim (sebut saja bu Liem). Dia cerita masa kecilnya yang susah, ayahnya ngganggur, ibunya “gak mau usaha” (istilah bu Liem), sehingga bu Liem hanya sekolah sampai tamat SD. Bu Liem-lah yang kemudian kerja serabutan, sampai adik-adiknya bisa tamat SMA. Setelah menikah dan punya anak, bu Liem tetep musti kerja serabutan, supaya anaknya bisa sekolah. Alhamdulillah, anak pertamanya lulus SMK (dan sering dapat beasiswa karena juara 1 terus) lalu kerja dengan gaji lumayan. Anak kedua juga hampir lulus SMK.

“Saya banyak diomongin orang bu.. Dikatain, masa Cina jadi babu?” katanya.

“Tapi saya tahan saja bu. Yang penting kita baik, jangan mencuri. Ngutang sih wajar, tapi kalau menipu dan mencuri, itu salah,” ujarnya lagi.

Lalu, di perpustakaan kampus, petugas menghidupkan televisi di kantornya, acara infotaintment. Pas saya lagi mengambil sesuatu di loker, ikut nyimak deh. Seorang gadis cilik usia 1o tahun bernama Viara, berkunjung ke lokasi syuting Ganteng-Ganteng Serigala. Wajahnya sumringah banget. Padahal, dia sejak 7 thn yang lalu, 7 kali mengalami operasi dan rutin menjalani cuci darah. Orang tua Viara memberikan segala upaya terbaik untuk putri mereka itu,  sampai jatuh miskin karena mahalnya biaya pengobatan. Tapi mereka berdua terlihat tegar, penuh dignity dan penuh kasih sayang. Mata saya langsung berembun, dan cepat-cepat masuk ke ruang perpustakaan. Ga kuat melihat kamera menyorot tangan Viara yang penuh perban bekas suntikan jarum cuci darah.

Ya Allah.

Saya kembali diingatkan bahwa setiap orang punya ‘perang’-nya masing-masing. Semua orang punya medan perjuangan yang harus dijalani. That’s life, anyway. Sungguh tak pantas merasa sengsara atau sedih hanya karena ujian yang secuil; atau mengkhawatirkan hidup dan masa depan padahal sampai hari ini masih baik-baik saja. Ada banyak orang yang lebih sengsara, lebih banyak mengalami intimidasi, lebih pahit. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha (Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kapasitas orang itu menanggung beban).

Dan, saya kembali teringat pada kata-kata mutiara (ada yang bilang ini dari Plato, ada pula yang mengatakan ini dari penulis Skotlandia, Ian Maclaren): berbuat baiklah kepada semua orang, karena masing-masing mereka mengalami kesulitan (perjuangannya) masing-masing.  “Be kind, for everyone you know is fighting a great battle”.

Dan.. teringat juga pada kata-kata Ali Syariati, penulis asal Iran :

Jika kau penuh kasih sayang, orang-orang akan menuduh ada niat-niat tersembunyi padamu,

tapi tetaplah penuh kasih sayang.

Jika kau baik, orang-orang akan menipumu, tapi tetaplah baik.

Ketika kebaikanmu dilupakan orang, tetaplah berbuat kebaikan.

Berikanlah yang terbaik kepada dunia

meskipun itu tak cukup.

Pada akhirnya akan kau lihat, semuanya adalah tentang kau dan Tuhanmu,

bukan antara kau dan orang lain.

 

Advertisements

5 thoughts on “Melawan Sedih dengan Tetap Baik

  1. bagus sekali … alhamdulillah terima kasih … dengan ini diingatkan agar kita lebih tawadhu … dan melihat sekeliling … dan tetap berbuat kebaikan apapun reaksi mereka disekeliling kita dan sangat sangat benar karena pada akhirnya itu urusan kita sendiri dengan Allah SWT yang maha kuasa … anyway thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s