Pelajaran Sejarah untuk Anak

Ini tulisan untuk memenuhi janji di tulisan sebelumnya, tentang cara saya mengajarkan pelajaran sejarah kepada anak-anak. Saya baca-baca di blog atau buku orang lain, pelajaran sejarah itu akan menarik buat anak kalau “difilmkan”, misalnya, ketika didongengkan ke anak, cara mendongengnya sedemikian rupa supaya anak ‘melihat’ film kejadian di masa lalu. Atau, dibuat drama (role play), masing-masing anggota keluarga pura-pura jadi tokoh sejarah di masa lalu. Atau, nonton film. Yang paling praktis tentu saja anak disuruh baca buku sendiri, dan saya memilih yang paling praktis ini ­čśÇ

Tentu saja, untuk bisa membuat anak suka membaca perlu proses panjang banget dong. Saya sudah menuliskan caranya berkali-kali di sini. Yang jelas, alhamdulillah karena kedua anak saya sangat suka  membaca, pekerjaan saya jauh lebih mudah. Tinggal persoalannya: bukunya yang mana..?

Langkah pertama (duluuu…) saya coba cari buku pelajaran ‘resmi’ (bisa download di internet). Dan saya dapati, memang boring banget. Anak-anak saya nggak minat sama sekali. Lalu, ya sudah, gerilya cari buku. Prosesnya juga lama sampai ketemu buku yang pas. Cara menemukannya,┬á trial and error. Saya suka datang ke Gramedia Bargain Book (karena saya lewati kalau pulang-pergi kampus), dan mencari-cari buku yang kira-kira menarik. Seringkali sih ga menarik..hiks, cuma diliat sekilas sama anak-anak, lalu ditinggalkan.

Sampai akhirnya, Kirana membaca buku John Perkins (Economic Hitman) dan Andre Vltchek (Archipelago of Fear), edisi terjemahan tentu saja. Barulah saya tahu, minatnya di buku-buku kayak gitu. Siplah kalau gitu, cocok kita ya Nak. Setelah itu, dia malah mencari-cari buku Tan Malaka *tepok jidat*. Untung ibumu ini sejak muda dulu sudah berani menerabas berbagai hambatan psikologis sehingga berani membaca buku apa saja. Kalau enggak… wah.. bisa teriak-teriak deh, “Awas Komunis!” ­čśÇ

Dari sini, saya simpulkan, yang perlu dilakukan ortu adalah memberi stimulasi. Kasih saja berbagai jenis buku, dicoba-coba, akhirnya nanti ketemu sendiri minat mereka di mana.

Nah, setelah tau selera Kirana kayak apa, saya lebih mudah mencarikan buku untuknya. Lagi-lagi saya tidak mendesain apapun (misalnya, bukunya harus berjudul ini, itu), karena keterbatasan waktu. Saya hanya datang berkali-kali ke Gramedia, cari-cari buku, kadang ketemu, kadang tidak.

Buku terbaru yang saya temukan adalah buku-buku ini, harganya cuma 10rb-25 rb, tipis, bahasanya mengalir kayak sedang bercerita, ga bikin bosen.

buku sejarah

Dan karena ‘enteng’, memudahkan saya untuk ikut baca dong. Kalau ibunya nggak baca, gimana mau diskusi sama anak? Di sini terbuktilah kata teman-teman saya praktisi homeschooling, bahwa HS itu memang sistem belajar yang akan mendorong ortu juga ikut belajar baik secara intelektual maupun secara akhlak, yaitu mengubah diri menjadi lebih baik (soalnya, kan ortu merangkap guru, artinya terasa banget bahwa kita jadi ‘panutan’ anak).

Saya juga membelikan dua buku ini:

buku sejarah prri

Sengaja saya membeli keduanya karena isinya dua versi meskipun membahas topik yang sama: PRRI. Buku pertama yang ditulis Syamdani, orang Minang, merupakan semacam pembelaan terhadap pelaku PRRI; dan buku kedua, menyodorkan bukti-bukti bahwa PRRI didalangi oleh AS. (Hal yang sama saya lakukan untuk kisah G30 S, saya memberitahukan 2 versi sejarahnya kepada anak saya).

Poinnya adalah: mempelajari sejarah bukanlah menghafalkan tanggal peristiwa belaka, tetapi berusaha memahami apa yang pernah terjadi di masa lalu, untuk kemudian pemahaman itu digunakan dalam menyikapi masa kini. Karena itu penting buat kita untuk membaca cerita sejarah dari berbagai sisi.  Sikap terbuka dan mau mendengar, lalu mengambil kesimpulan dengan berlandaskan akal sehat dan nurani, adalah sikap penting yang perlu ditanamkan kepada anak-anak.

Inilah yang sedang saya coba ajarkan kepada anak saya. Apalagi, saya “saksi hidup” betapa kebohongan bisa sedemikian masif direkayasa untuk menghancurkan sebuah negara (kasus Libya, Suriah, Irak).

Ada hal yang menggelitik saya di buku karya Syamdani: dia menceritakan tentang watak orang Minang, yang saya baru tahu (padahal saya orang Minang asli). Misalnya, dia menulis bahwa orang-orang Minangkabau memiliki watak merdeka sehingga orang-orang Belanda sulit menguasai Sumatera Barat. Syamdani juga mengutip dua penulis Belanda:

Orang-orang Minangkabau, berlainan dengan orang Jawa, tidak atau sedikit sekali menganggap diri sebagai orang  bawahan (ondergeschiktheid). Kemerdekaan pribadinya begitu tinggi, hingga praktis tidak ada beda antara kepala dan orang-orang biasa kecuali nama saja. Semua mau memerintah, tidak ada yang ingin diperintah. (De Stuers)

Sejarah Sumatera Barat di mana-mana memberi pelajaran pada kita bahwa daerah ini dari dulu selalu merupakan tempat rusuh, di mana kita tidak punya waktu untuk istirahat apalagi ketenangan yang betul-betul. (Elout)

Saya membatin, wah emang gue banget ini mah…. :D. Maksud saya, meskipun saya ditekan sana-sini (dan terus-terang saya secara psikologis memang tertekan), tapi entah mengapa saya merasa tetap harus melawan dan menuliskan apa yang memang harus ditulis. Saya memang kuatir menghadapi berbagai ancaman fisik (apalagi saya sudah dapat info bawah ada kelompok radikal di suatu daerah sedang melakukan latihan bersenjata untuk kemudian menyerang orang-orang tertentu), tapi saya juga percaya bahwa sebelum Allah┬á berkehendak,┬á saya ga akan mati.

Wew, ternyata… it is in my blood… ­čÖé

Lalu, bagaimana untuk Reza yang usianya hampir 9? Tentu saja dia masih belum nyambung kalau disuruh  baca buku-buku di atas. Untungnya, ada buku-buku obralan di Gramedia yang saya temukan, yang membantunya belajar sejarah (meski dia nggak ngerasa sedang belajar). Misalnya, buku biografi tokoh-tokoh dunia yang dikomikkan (terbitan Elex). Jadi, saya senyum-senyum saja saat Reza bercerita dengan bersemangat tentang sejarah penghapusan perbudakan di AS yang mengakibatkan terbunuhnya Abraham Lincoln.

Untuk sejarah Indonesia, alhamdulillah, saya menemukan buku yang disukai Reza (indikator disukai: dia baca berulang-ulang dan diceritakan berulang-ulang juga ke saya), yaitu serial Bagas dan Komando Rajawali. Ini sih belinya ga obral dong, beli online. Semoga para komikus Indonesia semakin banyak yang membuat komik sejarah seperti ini.

bagas

komando rajawali

Yang juga saya rencanakan untuk pelajaran sejarah adalah menonton film-film perjuangan, mungkin lewat you tube, tapi saya belum sempat mencarinya. Yang menarik buat Kirana tentu saja sudah ketemu: New Ruler of The World (John Pilger), tapi buat Reza.. wah musti nyari-nyari dulu mana yang cocok dengan seleranya.

Oiya, untuk pelajaran sejarah agama (misal kisah Nabi Muhammad), saya pakai cara konvensional: baca Al Quran, lalu bikin lapbook-nya. Misalnya saat mempelajari surah Al Qurays dan Al Fiil, Reza membuat lapbook seperti ini (tentang rute perjalanan kafilah pedagang Qurays dan tentang pasukan Gajah yang ingin menyerang Ka’bah):

lapbook reza

Demikian, semoga ada gunanya.

(Kalau ada info tambahan soal buku dan film, bagi-bagi ya. Thanks)