Cerita dari Jamuan Teh Petang di Gedung Merdeka

Siang yang cukup terik, saya melangkahkan kaki dari Masjid Agung menuju Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika Bandung. Saya diundang hadir dalam “Jamuan Teh Petang Bersama Para Saksi Sejarah KAA 1955”. Acara dimulai 13.30 (28/4/2015), masih banyak waktu, jadi saya jalan pelan-pelan. Saya tidak sempat datang ke jalan AA sebelum KAA meskipun banyak yang memuji-muji keindahannya di medsos. Sayang kini yang saya lewati sepertinya sudah berkurang keindahannya. Saya melewati monumen Asia Afrika yang sudah pitak di sana-sini (sebagian nama-nama negara di monumen itu dicabuti tangan-tangan jahil).

monumen yang pitak

monumen yang pitak

Bola-bola batu bertuliskan negara-negara KAA sudah tidak ada lagi benderanya (yang kata orang semula tertancap di atasnya). Bunga-bunga di pot banyak yang layu. Di medsos diberitakan kalau bunga-bunga itu rusak gara-gara diinjak warga. Tapi yang saya lihat, justru sepertinya gara-gara tidak dirawat Dinas Pertamanan. Misalnya pot gantung ini, kan tidak mungkin diinjak? Tapi bunganya layu tuh.

24Kakak ipar saya cerita, 10 tahun yll, dia juga datang berfoto-foto di jalan AA. Suasana sangat indah karena sangat banyak bunga. Tapi zaman itu belum musim hp berkamera dan media sosial, jadi tidak seheboh sekarang. Bahkan kakak ipar nggak berfoto sama sekali. Namun, tiga hari pasca KAA semua bunga itu layu. Entah tidak dirawat, entah memang sejak awal ditanam secara kamuflase saja (bunga potong/bunga segar ditancepin ke pot).

Tapi saya tetap salut pada kang Emil. Selera arsitek memang beda ya. Kalau bunga-bunya bisa layu, lampu-lampu hias dan bangku-bangku insya Allah akan tahan lama. Di pinggir sungai Cikapundung sekarang juga ada Cikapundung Riverspot (bangku-bangku+meja dari besi merah), asyik buat kongkow-kongkow di sore hari. Sayang sungainya udah banyak sampah lagi. Ah intinya mah, kita ini masih jauuuuh kalau pingin jadi tertib kayak negara-negara maju. Ayo, para ortu, didik anak-anak kita baik-baik yuk, agar taat aturan, tertib, disiplin, dan punya sensitivitas menjaga lingkungan. Dan.. amanah!

Di jalanan yang panas, banyak juga orang yang berfoto-foto. Wah demam KAA belum habis rupanya.Saya ikutan mejeng juga deh 😀

1aMasih ada bazaar juga. Saya tergoda beli dua bahan batik warna pink *I’m a pink lover* yang dijual disc 50%, cuma Rp50.000 sehelai. Duh beruntung banget saya :D. Nama tokonya MAHABATIK, toko asli mereka di Paris van Java Mall.

Saya lalu masuk ke Gedung Merdeka.. wow, gorden-gorden merah terlihat mewah dan membuat semakin keren suasana gedung (saya sudah berkali-kali masuk sini, jadi bisa merasakan perbedaannya). Lalu, ketemu pak Thomas Siregar, Ketua Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) yang ramah dan keren, beliau langsung menyuruh saya makan siang dulu. Oala, disediain makan siang tho… sayang saya udah terlanjur makan bareng suami dan anak-anak. Tapi saya tetap masuk ke ruang makan, dan… berjumpa dengan seseorang yang bikin kaget: jurnalis Suriah yang dulu pernah saya wawancarai! Di awal konflik Suriah, saya pernah posting wawancara dengannya dengan identitas disamarkan karena faktor keamanan. Wawancara itu saya publish di beberapa web dan fb, dan dishare sangat luas.. dan akibatnya you know lah, saya kan udah sering curhat di sini, hiks. Kali ini dia cerita lagi panjang lebar soal perkembangan Timteng. Dan… saya baru tau dia sebenarnya sudah bergelar profesor! Nanti kapan-kapan kalau ada waktu saya tuliskan isi perbincangan kami.

Setelah itu, acara pun dimulai. Wow, nggak nyesel sama sekali saya datang. Benar-benar inspiring! Secara bergantian beberapa saksi sejarah menceritakan kenangan mereka soal KAA 1955. Pembawa acara, Kang Asep Hambali, founder Komunitas Historia Indonesia, jadi moderator. Dia berkali-kali mengucapkan kalimat-kalimat yang bikin saya tercenung. Misalnya:

Siapa yang punya lagu Indonesia Raya di HP-nya?

Waduh, iya ya.. Kirana punya banyak koleksi lagu Barat di hp-nya, tapi ga ada lagu nasional satupun, hwaaa… Reza, saya tidak yakin, dia hafal Pancasila dan lagu Indonesia Raya. Aduh, ibu macam apa aku ini, hiks..hiks.. Ayo, perbaiki diri!

Btw, luar biasa, ada dua peserta, anak muda, yang punya lagu itu di HP-nya, lalu diperdengarkan dan tepuk tangan membahana haru di ruangan bersejarah itu. Kata kang Asep, dia udah keliling Indonesia bicara di depan anak-anak muda, selalu mengajukan pertanyaan itu, dia jarang sekali menemukan ada anak muda yang menyimpan lagu Indonesia Raya di hp mereka.

Apakah dengan merayakan 17 Agustusan dengan panjat pinang dan makan krupuk, kita jadi kenal sejarah dan para pahlawan kita?! Tidak! Mengapa kita tidak membuat lomba “kostum mirip pahlawan”, atau “menyanyikan lagu nasional”, “membaca teks proklamasi” ?

Hey, ini ide sangat menarik. Di acara hiburan, tampil grup musiknya Adew Habtsa yang memusikalisasi pidato-pidato Bung Karno dan Ali Sastroamijoyo (Perdana Menteri Indonesia penggagas KAA). Seorang dari mereka membacakan kutipan teks pidato BK dan AS dengan suara menggelegar, menirukan gaya BK dan AS, mantap abis deh! Nah, bayangkan kalau anak-anak kita dilatih baca teks proklamasi atau kutipan pidato BK sehebat ini. Mantaaaap!

Apa akibatnya kalau kita lupa sejarah bangsa? Bayangkan kalau Bapak-Ibu tiba-tiba amnesia. Lupa anak, keluarga, rumah, kerjaan..lupa segala. Akibatnya, Bapak-Ibu pasti akan nurut saja pada instruksi dari saya!

Hwaaa..benar juga! Tak heran kalau Kundera pernah berkata “Perjuangan Manusia Melawan Kekuasaan Adalah Perjuangan Melawan Lupa” Dia juga pernah menulis begini:

Bung Karno dan Bung Hatta baru dinobatkan jadi Pahlawan Nasional tahun 2012. Bangsa macam apa kita ini?!!!

kang Asep dan Sukmawati Sukarnoputri

kang Asep dan Sukmawati Sukarnoputri

Di sesi berikutnya, sejarawan JJ Rizal berorasi tentang Perdana Menteri RI pada 1955, Ali Sastroamijoyo, arsitek utama Konperensi Asia Afrika 1955. Dia menjelaskan dengan rinci pemikiran-pemikiran Ali Sastro yang akhirnya bermuara pada gagasan menggelar KAA 1955. Luar biasa sekali pemikiran beliau, saya baru tersadarkan, mudah-mudahan bisa saya tuliskan lain waktu. Intinya sih: pemikiran Bung Karno & pak Ali adalah “internasionalisme” dan “marhaenisme”, dan itulah ruh utama KAA 1955. Dan hasil perenungan saya sekilas, “internasionalisme KAA” adalah antitesis dari globalisasi… (ehm, ini kayaknya agak berat, nanti aja ditulis untuk blog Kajian Timur Tengah ya).

JJ Rizal juga mempertanyakan, mengapa yang disebut-sebut orang Indonesia cuma Sukarno, padahal pemikiran Ali sangat klop dengan Sukarno, dan bahkan Ali-lah pelaksana berbagai pemikiran/idealisme Sukarno. Sampai hari ini Ali Sastroamijoyo belum dinobatkan jadi pahlawan nasional.

Sayang saya harus segera pulang, padahal ingin juga menyaksikan orasi JJ Rizal sampai akhir dan dialog setelahnya. Di luar gedung MKAA, orang-orang yang berfoto-foto lebih banyak lagi daripada siang tadi. Di kereta, dalam perjalanan pulang, saya merancang janji, akan lebih banyak mengajak anak-anak saya mempelajari sejarah bangsa ini.

20.000 Angklung untuk KAA

Jadi ceritanya ini kejadian tak terduga. Dalam perjalanan menuju tempat les Rana, angkot yang kami tumpangi melewati Stadion Siliwangi. Saya lihat banyak orang berkerumun. Kebetulan paginya baca di fb, hari ini ada acara pemecahan rekor dunia permainan angklung oleh 20.000 orang. Karena masih ada waktu, saya putuskan untuk turun. Yah, nonton sekitar 10 menit cukuplah, pikir saya. Eh, ternyata semua pengunjung disuruh melewati barikade dan dihitung satu persatu. Saya mulai heran. Tapi kemudian dikasih kaos, snack, dan angklung. Lho, jadi, semua pengunjung sekalian didaulat main angklung?! Benar-benar nggak diduga nih.

Saya jadi bingung deh. Di satu sisi ingat jadwal les, di sisi lain, kalau keluar rasanya ada yang salah karena sudah terlanjur dihitung. Saya coba tunggu sebentar, ga taunya malah acara nggak dimulai juga. Mungkin menunggu sama genap 20.000 orang. Akhirnya saya putuskan untuk tetap di tempat. Dan benar juga, kemudian ketauan, pihak Guinness World Record ga mau masuk ke lokasi karena mereka melihat orang-orang pada keluar (artinya, hitungan panitia di pintu masuk sudah tidak akurat). Nah kesempatan ini saya pakai buat ngasih pelajaran soal ‘setia kawan’ ke anak-anak, “Lihat, gara-gara ada segelintir orang yang ga setia kawan, akhirnya kita semua jadi korbannya.. Tapi setia kawan itu harus dalam kebaikan ya..!”

Duh, di tengah panas terik itu, panitia berusaha melakukan penghitungan manual. Suaranya sudah terdengar lemes. Teriakan-teriakannya seolah ga didengar. Akhirnya kang Emil (Walikota Bandung) naik ke panggung dan mengambil alih komando. Wow… langsung salut deh sama kang Emil. Keliatan banget emang dia dicintai sama warganya. Sejak awal nih ya, waktu para pejabat pidato, terasa sekali beda sambutan warga. Waktu kang Emil bicara, sorak-sorai sangat ramai dan penuh antuasias. Apalagi ada joke andalan kang Emil, “Yang jomblo mana suaranyaaaa…?!” 😀

angklung1

Nah, kali inipun untuk menenangkan massa agar tidak bubar (emang enak, dijemur panas-panas di stadion?!), kang Emil melakukan berbagai cara, mulai menyuruh berbaris rapi (ajaib, beneran itu 20ribu orang yang tadinya berdiri berantakan, bisa jadi pada rapi), melempar joke-joke (lagi-lagi, yang dapat sambutan adalah joke tentang para jomblo), ngasih kata-kata motivasi, dan mengajak bernyanyi. Rasa nasionalisme dan cinta pada Bandung keliatan banget bisa didoktrinkan oleh kang Emil ke hadirin sehingga mereka mau tetap bertahan. Malah ada sesi yang bikin saya terharu juga: penyanyi di panggung menyanyikan lagu Padamu Negeri, dan kang Emil menyuruh hadirin untuk memejamkan mata, meresapi lagi tersebut.

Jpeg

Akhirnya hitungan pun selesai dan kami disuruh main angklung lagi We Are The World. Meskipun, belum ketauan juga, Guinness World Record akan kasih sertifikat pemecahan rekor atau tidak. Katanya mereka musti rapat dulu di London sana. Ih nyebelin juga nih… mentang-mentang… Kalau pihak rekor MURI sih langsung kasih sertifikatnya ke kang Emil.

Kami lalu cepat-cepat naik taksi. Reza yang tadinya nangis karena kecapean, langsung tersenyum senang saat tahu bahwa angklungnya boleh dibawa pulang. Dia berkata, “Kita ini tercatat dalam sejarah ya Ma?” (menirukan kata-kata kang Emil saat menenangkan massa).

Pulangnya, menuju stasiun, kami lewat jalan Otista (Pasar Baru) yang sudah disterilkan, pengendara kendaraan bermotor ga boleh lewat. Wow, jalan yang biasanya macet itu kini malah penuh dengan manusia yang lagi selfie dan wefie, atau sekedar jalan-jalan santai. Seru juga. Reza sampai berpose tiduran di jalan segala (fotonya liat di blognya Reza aja ya).

angklung2

Kami sempat berusaha mendekat ke jalan Asia-Afrika, ternyata sudah diblokir, ga boleh masuk. Saya melihat banyak warga yang senasib, pingin ke jalan Asia Afrika tapi ga bisa. Ada yang menarik kami temui di jalan, sebuah masjid bergaya China di jalan ABC. Langsung deh numpang sholat Ashar di situ, bapak-bapak polisi dan Basarnas yang sedang bertugas juga ikut berjamaah di masjid itu. Reza yang sholat di shaf bapak-bapak, kemudian dengan takjub berbisik, “Ma, ini pertama kalinya aku melihat pistol beneran dari dekat!” 😀

masjid jln abc

Pinginnya sih hari Sabtu mau nonton Karnaval Asia Afrika. Tapi untung ga jadi, karena saya liat di tivi, massa sangat membludak, bergerak saja susah. Melihat antusiasme warga, terasa sekali keberhasilan kang Emil menjadikan KAA sebagai pesta rakyat. Mudah-mudahan saja, spirit asli KAA, yaitu perlawanan terhadap imperialisme (termasuk jenis modernnya, yaitu penjajahan ekonomi – neoliberalisme) juga ditangkap oleh warga.

Ini video rekaman permainan angklung 20rb orang (saat latihan)

Dieng: Yes I Can!

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang tinggal di AS (Amerika Serikat) mengirim bingkisan kepada kami di Teheran. Sebelumnya, saya juga mengirim buku kepada sang teman. Waktu saya kirim buku, rasanya biasa saja. Tapi saat menerima bingkisan balasan darinya, rasanya luar biasa. Wow. AS-Iran ternyata bisa juga ya, kirim-kiriman hadiah? 🙂

Salah satu  isi bingkisan dari teman baik saya itu adalah buku cerita anak berjudul “The Little Engine That Could”. Buku ini terkenal banget, terbit tahun 1930 dan sepertinya terus dicetak ulang sampai sekarang. Ceritanya tentang kereta api biru yang berjuang keras untuk naik ke bukit dengan mengulang-ulang kalimat “I think I can, I think I can…” Saya membacakannya berulang-ulang pada anak-anak saya, dengan rasa cinta. Apalagi buku itu ada coretan-coretan tangan anak-anak teman saya itu (memang itu bukan buku baru keluar dari toko), rasanya semacam ada bonding dan cinta yang menyeruak di sela-sela halamannya.

Dan.. bertahun-tahun kemudian, saya menemukan kesempatan untuk mengulang-ulang mantra sang kereta api biru. Saya dan anak-anak mendaki puncak Sikunir (Dieng) pada pagi-pagi buta, sehabis sholat Subuh. Saya sendiri bukan pendaki gunung (dan sebenarnya malas sekali beraktivitas fisik yang merepotkan). Tapi saya ingin mencoba mengajari anak spirit pantang menyerah. Dan mendaki gunung memang cara terbaik untuk mengajari anak hal tersebut, selain juga kepercayaan diri bahwa “Aku bisa!” Sekali mulai mendaki, harus sampai ke puncak. Sebelumnya, Rana dan Reza sudah berhasil mencapai puncak gunung Geulis di Jatinangor tapi saya ga ikut.

Awalnya, rasa dingin benar-benar mengganggu. Saya sampai harus beli kupluk untuk anak-anak, plus sarung tangan. Sepanjang pendakian, dengan terengah-engah, saya terus ucapkan, “Ayo Reza, pasti bisa!” Kami terpisah dari rombongan yang berjalan lebih cepat. Maklum, saya sendiri lambat berjalan, harus terus menyemangati Reza pula. Kirana, karena sudah besar, ga perlu lagi dibujuk-bujuk. Dia jalan terus dengan tegap, tanpa mengeluh. I’m proud of you, girl!

Dan ketika akhirnya sampai ke puncak, wow… bahagia sekali rasanya. Memang sayangnya, awan mendung menghalangi sehingga keindahan matahari terbit yang diidam-idamkan tak terlihat. Setelah itu, kami juga langsung turun melewati jalur yang sama. Sayangnya ga ada pemandu yang memberi tahu kami bahwa sebenarnya dalam perjalanan turun, ada pemandangan indah yang bisa dilihat dari puncak Sikunir ini, yaitu Telaga Cebong.

dieng1

dalam perjalanan turun dari Puncak Sikunir

rame-rame turun dari Puncak Sikunir

rame-rame turun dari Puncak Sikunir

Tapi ya tak apalah, toh misi utama sudah dicapai: menaklukkan puncak pegunungan Dieng. Dan saya melihat banyak sekali orang memasang tenda di seputar Telaga Cebong, saya langsung bertekad, suatu saat akan kembali ke sini full team, bersama si Akang, dan camping di sini. 🙂 Selain ke Puncak Sikunir, kami juga mengunjungi tempat-tempat wisata ‘wajib’ lainnya di Dieng, seperti Telaga Warna, Telaga Menjer, dan Kompleks Candi Arjuna. Senengnya, saya nemu buah Terong Belanda banyak banget yang jual di sini, terutama di Desa Sembungan (di starting point kalau mau mendaki ke ke Puncak Sikunir, ini desa tertinggi di Pulau Jawa lho, wow banget dong). Saya borong banyak-banyak deh. Di desa ini saya banyak melihat pohon pepaya tapi buahnya mini. Ternyata itu pohon carica namanya, dan manisan carica adalah oleh-oleh khas Wonosobo. Rasanya seger banget. Saya jadi kangen banget ih sama carica.

Telaga Cebong dari dekat

Telaga Cebong dari dekat

Reza di pinggir Telaga Warna, sayang airnya lagi sedikit (kemarau)

Reza di pinggir Telaga Warna, sayang airnya lagi sedikit (kemarau)

Reza bergelantungan di pohon (di hutan di sekeliling Telaga Warna)

Reza bergelantungan di pohon (di hutan di sekeliling Telaga Warna)

Reza di kompleks Candi Arjuna

Reza di kompleks Candi Arjuna

Oiya, kami ke Dieng ini ikut trip backpacker yang dikoordinatori mba Yayah (kenal di FB). Rombongan (sekitar 40-an ibu-ibu&gadis-gadis, dan beberapa anak) yang datang dari berbagai kota di Indonesia, berkumpul di Terminal Mendolo Wonosobo. Kami tiba jam 3 dini hari, padahal jam ngumpul adalah jam 8 pagi. Jadi, untuk pertama kalinya dalam hidup, kami duduk dan tidur-tiduran di bangku terminal menunggu pagi (untungnya terminalnya bersih dan aman). Beneran backpackeran ini mah. Untung anak-anak santai aja, nggak mengeluh. Setelah fajar datang, karena menunggu jam 8 masih lama, saya dan anak-anak naik angkot ke alun-alun Wonosobo cari sarapan. Asyik juga sarapan pagi-pagi di situ, sambil menatap alun-alun yang asri. Ada beringin besar-besar. Ada gereja dan masjid yang berdampingan di sini, seolah menyimbolkan kedamaian kota. Kirana sampai-sampai bilang ingin pindah saja ke Wonosobo yang resik dan asri ini.

Hm, misi Dieng sudah terlaksana pada 19 Oktober 2014. Sayangnya, meski kini sudah berlalu 6 bulan, niat saya untuk kembali ke Dieng full team, naik mobil sendiri dan kemping di sana, masih belum kesampaian. Padahal, sebelumnya sudah ada niat mau ke Bromo full team juga (setelah dulu ke Bromo sendirian bulan bulan Maret 2013, bareng Muslimah Backpacker). Wah… kebanyakan niat ini mah. Ga tau kapan terlaksana. Sekarang ditulis dulu, buat kenang-kenangan. 🙂

From Makassar with Love :)

Judul artikel ini tidak lebay. Itulah yang memang saya rasakan. Terus-terang sebelumnya kesan saya terhadap orang Makassar tuh agak gimanaaa… gitu;  keras, tak mau kompromi, galak, dll. Apalagi di tivi kan berita tawuran di Makassar sering terjadi. Ditambah lagi, rencana kedatangan saya ke Makassar (dalam rangka seminar internasional) sempat “disambut” dengan broadcast (BC) penolakan. Tentu saya sempat kuatir kalau-kalau ada serangan fisik ke saya.

Heran banget, kok “mereka” takut amat ya, sama saya? Sebelumnya saya juga dijegal BC penolakan penayangan Metro Realitas tentang kasus Azzikra (Ust Arifin Ilham) di mana saya menjadi SALAH SATU narasumbernya. Kalau TV sekelas Metro sampai membatalkan penayangan sebuah acara, berarti benar-benar dahsyat jumlah BC yang masuk ke pemrednya dong ya? Padahal nih ya, saya paling-paling muncul 2-3 menit; itupun saya bicara sesuai kapasitas saya sebagai pengamat Timteng. Banyak narasumber lainnya, termasuk dari Azzikra, kepolisian, dll. Saya pikir, pembatalan tayangan itu justru merugikan Azzikra dan pihak-pihak pendukungnya. Mereka sudah dikasih kesempatan ngomong panjang lebar di media terkemuka, malah dihalangi tayang oleh “mereka”.

Mereka telah menciptakan hantu dalam kepala mereka sendiri, yang akhirnya mereka yakini bahwa hantu itu riil, dan mereka pun jadi takut sendiri. Bener-bener terjangkit halusinasi. Korban simulacra tingkat akut.

Dan reporter Metro pun barangkali tak mau rugi toh? *logat Makassar*. Mereka kan sudah jauh-jauh ke Bandung mewawancarai saya. Akhirnya wawancara itu ditampilkan sebagian di acara Metro Realitas dan Prime Time News yang membahas ISIS. Tonton video 3 menit-nya di sini.

Singkat cerita, meski ada sedikit kecemasan, saya tetap datang ke Makassar, sendirian. Acara seminar berlangsung lancar. Panitia sangat profesional dan sigap. Saya tidak melihat ada penjagaan keamanan. Tapi kemudian saya ketahui bahwa sebenarnya ada polisi yang berjaga-jaga. Ada seorang panitia yang sepertinya juga ditugaskan mengawal saya, bahkan sampai ke toilet pun ia membuntuti saya (tapi nunggu di luar dong:D). Peserta membludak, sampai musti dikasih kursi tambahan dan sebagian terpaksa berdiri atau duduk di lantai. Suasana diskusi pun seru, belum pernah saya hadir di seminar dengan audiens yang kritis dan bicaranya blak-blakan seperti ini. Ga sungkan-sungkan mereka mendebat pembicara (ada 4 pembicara termasuk saya), tapi dengan cara yang tetap santun dan bernuansa akademis (bukan debat kusir dan pakai kata “pokoknya”). This is sooo.. Makassar, I love it 🙂

Usai seminar saya tidak langsung pulang karena pingin traveling dulu. Rugi dong jauh-jauh ke Makassar kalo ga jalan-jalan. Awalnya saya berniat jalan-jalan sendirian saja. Saya sudah kontak wartawan terkenal asal Makassar. Dia bilang, di luar acara seminar, tenang saja, saya bisa keliling sendirian, ga perlu takut.

mksr1

sunset di pantai Losari

Tapi rupanya, panitia juga pingin berlibur, wohoho…! 😀 Saya bisa maklumi, mereka pastilah capek banget mempersiapkan acara. Jadi, ya memang musti liburan dong biar seger lagi. Akhirnya, kami pun jalan-jalan rame-rame. Dan betul, the more the merrier. Mereka (aktivis HMI semua nih) seru banget, sepanjang jalan ga henti-hentinya bersuara kenceng (tepatnya: antusias dan penuh semangat :D). Saya hanya senyum-senyum saja, menikmati logat Makassar yang makin lama makin enak terdengar di telinga saya. Sampai sekarang masih terngiang-ngiang itu logat Makassar, saya bahkan sampai praktekkan ke anak-anak 😀

Tujuan pertama (sore habis seminar) adalah pantai Losari, menikmati pemandangan matahari terbenam. Subhanallah indahnya… Lalu ke Fort Rotterdam, tapi cuma bisa masuk sebentar ke halamannya, karena sebenarnya sudah tutup. Besoknya, ke Dusun Rammang-Rammang. Ini wisata naik perahu untuk menelusuri taman hutan batu kapur. Di dunia, konon taman hutan batu kapur hanya ada di China dan Madagaskar. Bisa baca detilnya di blog orang lain. Ongkos perahunya (muat untuk 10 orang + 1 pemilik perahu) 250rb. Itupun setelah tawar-menawar cukup lama. Saya menikmati gaya Fitri, salah satu panitia, dalam tawar-menawar. Unik sekali, dia berpanjang lebar bicara kesana-sini, menyelipkan khutbah segala (misalnya: kalau kau kasih murah, rizkimu tambah lancarji :D), untuk membujuk si pemilik perahu agar turunkan harga.

rammang-rammang2

berperahu di rammang-rammang

 

Dari situ, lanjut ke Leang-Leang. Ini juga taman batu kapur. Menakjubkan sekali, bebatuan berbagai bentuk seolah muncul begitu saja dari dalam tanah. Cerita lengkap bisa baca saja di blog orang lain. Tak lama kami di sana, lanjut lagi ke Taman Nasional Bantimurung. Jadi, tiga lokasi ini relatif berdekatan (di kabupaten Maros) dan bisa dicapai seharian. Cuma, seharusnya, Bantimurung jadi lokasi pertama yang dikunjungi. Saat kami tiba di Bantimurung, sudah sore, museum dan taman penangkaran kupu-kupu sudah tutup. Tapi saya cukup terhibur melihat kupu-kupu berterbangan di sela-sela percikan air terjun. Kata penjual suvenir yang membuntuti kami dengan setia, waktu terbaik berkunjung ke Bantimurung memang pagi hari (banyak kupu-kupu) dan di bulan Mei, saat debit air sedikit (dan jernih; kalau kemarin saya ke sana airnya kecoklatan), sehingga bisa main tubing (meluncur di air terjun dengan ban mobil).

Leang-Leang

Leang-Leang

Besoknya lagi, kami ke Pulau Samalona dan Kodingareng keke. Ini ga jauh-jauh amat dari bandara. Jadi rencananya, habis dari pulau, saya akan langsung ke bandara. Awalnya kami ke dermaga ****. Lagi-lagi Fitri yang turun tangan bernegosiasi. E..e..e… *meniru logat Fitri* si pemilik perahu menyebalkan banget sikapnya. Bahkan dia menghalangi pemilik perahu lain untuk tawar-menawar dengan kami.  Jadilah, kami angkat kaki dari situ dan pergi ke Dermaga Kayu Bangkoa. Dapat harga 325rb. Beda harga antara dermaga pertama dengan Kayu Bangkoa dalam tawar-menawar ini sangat tipis. Tapi ini masalah harga diri, Daeng! 😀

(Oiya, harga sewa perahu 325rb adalah dengan tujuan pulau Samalona. Tapi di tengah jalan, si pemilik perahu bilang, pulau Kodingareng keke lebih indah, tapi bayarnya nambah jadi 500rb. Sudah dilakukan tawar-menawar, dia keukeuh 500rb. Sikapnya tetap ramah dan penuh senyum *so tak ada masalah harga diri di sini* jadi akhirnya deal 500 rb dengan 2 tujuan, pulau Samalona dan Kodingareng keke. Keduanya sama-sama indah. Di Pulau Samalona ada perkampungan, jadi ada tempat makan dan mandi; ada banyak bule yang datang ke situ. Sementara pulau Kodingareng keke adalah pulau sangat mungil yang masih alami, tidak berpenduduk.)

Lalu dimulailah perjalanan mengarungi samudera. Wow.. wow.. wow.. indah bangeeeet…. subhanallah 1000x. Saya pernah ke laut Bunaken, tapi sayang waktu itu agak mendung. Sehingga, bila dibandingkan keduanya, laut Makassar jauuuuuh…. lebih indah! Alhamdulillah, matahari bersinar sangat cerah. Lautan berwarna biru tua, hijau muda, biru muda. Di sela-sela air yang terhempas saat dilewati perahu, muncul bias warna pelangi tak putus-putusnya. Dan, pasir pantai Kodingareng keke, wuih… putiiiih banget… Airnya pun sangat bening dan tenang. (Sebagai buktinya, biar ga dituduh hoax, bisa tonton rekaman video saya di bawah, sekitar menit ke-2)

makasar3

Saya ga tahan, akhirnya nyemplung ke air, bersama Mustafa (4 th), anak Andis. Sambil main air, iseng saya coba bicara dengan logat Makassar dengan Mustafa, hehe. Di pantai Kodingareng keke ini banyak sekali ikan-ikan kecil-kecil mirip teri halus, namanya ikan penja. Kebetulan saat itu ada fansclub-nya Valentino Rossi yang sedang berfoto-foto. Akhirnya kami gabung juga dong, biar fans-nya Rossi kliatan tambah banyak, heuheuheu.

pantai kodingareng keke

with Valentino Rossi FC

 

Oiya, jangan lupa soal kuliner. Wow.. makanan Makassar uenaaak… Favorit saya sup konro, coto, ikan bakar, pisang epe, otak-otak… (hehehe, semuanya difavoritin karena enak semua).

ikan parape dan ikan cepa bakar

 

Singkat cerita, di akhir perjalanan ini, saya pun jatuh cinta pada Makassar dan pada orang-orang Makassar 🙂

Semoga suatu saat bisa ke sana lagi full team. Rana dan Reza langsung kepingin ke Makassar saat liat-liat foto-foto traveling saya. Saat melihat foto pasir putih di pulau Kodingareng keke, Reza spontan nyeletuk, “Pasirnya seperti kristal bertebaran di sela-sela birunya laut.” Eaaaa….

Sebagian foto + rekaman video sudah digabungkan dalam film singkat 5 menit ini, silahkan ditonton. 🙂

Klarifikasi Soal Jilbab Traveler

Di FB ada seseorang yang secara kurang ajar membuat fitnah atas saya terkait tulisan saya di buku Jilbab Traveler yang dieditori Asma Nadia. Saya merasa perlu menulis klarifikasi karena berpotensi merugikan orang lain, yaitu Asma Nadia, meskipun dia bukan teman dekat (sebatas hubungan antara penulis-editor), bahkan dia bukan friend FB saya. Saya me-remove Asma dari friend FB saya setelah dia menjadikan Jo***  sebagai partner promosi bukunya. Buat saya, it’s a big no-no. Saya juga sudah meremove ratusan orang lainnya dari pertemanan FB yang hobi menyebar status-status fitnah, baik produksi Jo***, maupun produksi media-media-mengaku-Islam. Saya benar-benar merasakan pahitnya difitnah, jadi sikap saya me-remove pendukung fitnah adalah bentuk solidaritas saya kepada para korban fitnah lainnya.

Tapi saya benar-benar berempati pada Asma Nadia atas ‘nasib’-nya hari ini. I’ve been there, since 3 years ago 😦 Sejak tahun 2011 akhir, saya mulai aktif menulis soal Suriah dan ini sebenarnya biasa saja buat saya; karena saya memang sejak 2007 mulai mendedikasikan diri menjadi peneliti dan pengamat Timur Tengah. Suriah hanya satu dari sekian banyak tulisan saya yang lain soal Timteng. Namun khusus Suriah, rupanya tulisan saya sangat mengganggu situs-situs berlabel Islam yang menjadi pendukung utama jihad Suriah (dalam rangka merekrut “mujahidin” dan menggalang dana bantuan untuk “mujahidin). Jadi, siapapun yang anti-jihad Suriah akan mereka tuduh Syiah dengan dilengkapi definisi dan deskripsi yang mengandung fitnah luar biasa (saya 8 tahun tinggal dan bergaul dengan orang Syiah di Iran, jadi saya tahu pasti betapa besarnya kebohongan yang disebarkan para ‘mujahidin online’ itu).

Media pelopor fitnah kepada saya adalah Arrahmah.com (saya disebut Tokoh Syiah Indonesia), dirilis hanya dua hari setelah status FB saya yang membela Dr Joserizal Jurnalis (yang dituduh Arrahman.com sebagai Syiah karena dia tidak mau mengirim bantuan medis ke Suriah) dan status saya itu laku keras di medsos (dishare ribuan kali). Dari Arrahmah, kemudian disebarluaskan secara masif media-media-mengaku-Islam lainnya, termasuk berbagai fanpage -mengaku-Islam, dibantu oleh para netizen, terutama ibu-ibu -mengaku- muslimah yang merasa sedang berjihad dengan cara menshare fitnah. Mereka begitu percaya pada media-media pembohong itu.

Inilah klarifikasi yang saya maksud:

Seorang bernama Andy Ikha Umma Naqieb menulis begini (klik untuk memperbesar): FITNAH

Berikut ini saya upload hasil scan tulisan saya tersebut. Silahkan baca sendiri dan beri penilaian sendiri orang macam apa Andy Ikha ini. Sialnya, sedihnya, banyak sekali muslimah model begini ini. Semoga Allah memberi hidayah. Tapi ingat bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa manusia yang menzalimi orang lain, sebelum orang yang dizalimi itu memaafkannya.

Tulisan pertama (tentang Jalan-Jalan ke Iran). Klik untuk memperbesar.

Iran-1Iran-2Iran-3Iran-4Iran-5Iran-6Iran-7Iran-8

 

Tulisan kedua (tentang Jalan-Jalan ke Damaskus). Klik untuk memperbesar.

Damaskus1Damaskus2Damaskus3Damaskus4Damaskus 50-51Damaskus5Damaskus6Damaskus7Damaskus8

Demikian, terimakasih kepada yang mau membaca.

bahayanya-fitnah

Ke Jogja Lagi….

Saya jatuh cinta pada Jogja sejak pertama kali mengunjunginya. Kota ini eksotis banget. Pertama kali saya ke Jogja itu tahun 1996 (atau 1995 ya? lupa), bersama teman-teman sekelas waktu kuliah S1.

taman sari jogja 1995

ki-ka: Isfand, Dina, Hasan (alm), Nita, Agus

Lalu, kedua kali tahun 1997, bersama Papi, untuk mencari bahan skripsi (mengetik kalimat ini, saya jadi terharu dan rindu banget sama Papi. Inget beliau jauh-jauh dari Padang mengantar saya kuliah ke Bandung, trus karena saya nangis pada hari pertama penataran, Papi langsung menawarkan agar saya pulang saja ke Padang dan kuliah di swasta saja. Tapi darah perantau saya lebih kuat daripada kemanjaan saya. Jadi, saya tetap bertahan di Bandung, meskipun sedih banget rasanya berpisah dari ortu. Enam tahun kemudian, saya dapat beasiswa S2 di Univ Teheran, saya juga sempat nangis-nangis di masa-masa awal, pingin pulang ke Padang (padahal ke Iran-nya berdua suami, dan dia benar-benar kebingungan saat saya nangis itu :D).

Kali ketiga, alhamdulillah, saya ke Jogja lagi bersama suami dan dua anak, April 2014. Awalnya kami ke Salatiga dulu untuk mengikuti camping FESPER (Festival Pendidikan Rumah), yang karena kesibukan, tak sempat saya tuliskan cerita serunya di blog. Pokoknya seru banget deh, bertemu dengan sesama keluarga yang meng-homeschooling-kan anak-anak mereka, dapat semangat baru dan inspirasi baru.

Lalu… dari Salatiga, lanjut ke Jogja deh, dianter dengan mobil oleh adiknya teman kami. Di jalan, sempet mampir ke Borobudur. Ceritanya juga panjang dan seru, entah kapan bisa dituliskan. Karena sudah capek camping, saya minta ke si Akang agar kami menginap di hotel yang mentereng. Kalau nginep di losmen sederhana, kan apa bedanya sama rumah sendiri :D. Awalnya, kita mau mengambil dua kamar, saya berdua suami; Rana bareng Reza. Tapi Reza mendadak ngadat, maunya tidur sama saya, sudah dibujuk sampai lama, ga mempan juga. Yaelah… kalau gitu ya mending nyewa satu kamar aja, tidur berempat rame-rame. Si Akang jadi agak-agak kesel gitu 😀

Besoknya, kami jalan-jalan. Standarlah, Taman Pintar, naik becak keliling kompleks keraton, belanja batik, Parangtritis. Kalau buat saya, semuanya menyenangkan. Tapi yang paling berkesan itu saat kami makan di sebuah restoran di kompleks Keraton, yang menunya adalah menu raja keraton. Waduh namanya lupa. Saya browsing barusan, ga ketemu (kalau ada pembaca yang tau nama restoran ini, info ya). Makanannya enak bangeeeet…! (Belum pernah saya memuji-muji makanan Jawa kayak begini.) Tapi harganya memang bikin tepok jidat untuk ukuran backpacker, wkwkwk. Ini salah satu menu yang kami pesan:

makanan keraton

bagian dalam restoran, rumah tua keluarga keraton

bagian dalam restoran, rumah tua keluarga keraton

Sampai suatu hari, datang satu paket buku hadiah dari seorang teman. Buku-buku ini terbitan Badan Geologi Bandung.

buku terbitan badan geologi

Isinya foto-foto indah alam Indonesia, yang membuat Kirana dan Reza terpekik-pekik kagum dan spontan berkata, “Ayo kita ke sini Maaaa…!” Waah.. kalau ada waktu dan duitnya ya dijalanin semua deh… saya juga terkagum-kagum melihat betapa indahnya Indonesia dalam foto-foto itu.

Alhamdulillah, ada tawaran ikut trip ke Jogja bersama komunitas Muslimah Backpacker… dan, di antara yang dikunjungi adalah situs-situs yang ada di buku-buku itu! Waduh, anak-anak semangat banget (terutama Reza). Sejak jauh-jauh hari dia sudah merancang, tas apa yang mau dibawa, apa saja isi tasnya, dll. 🙂

Acaranya masih 17 hari lagi (yang berminat masih bisa gabung lho. Bisa kontak langsung ke tim trip MB atau founder MB (hp085722256562).) Saya browsing-browsing mengumpulkan  foto-foto antara lokasi yang akan dikunjungi dalam Trip MB ke Jogja ini (biar anak-anak tambah ga sabaran sehingga mereka bakal lebih semangat menempuh perjalanan jauh naik kereta :D)

air terjun sri gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Sumber foto: Kompasiana

Air Terjun Jogan

Air Terjun Jogan

Sumber foto: pesonawarnaindonesia.blogspot.com

Gua Pindul Jogja

Gua Pindul Jogja

Sumber foto: tipswisatamurah.com

Snorkeling di Pantai Nglambor

Snorkeling di Pantai Nglambor

Sumber foto: www.temantour.com

Sunrise di Telaga Embung

Sunrise di Telaga Embung

Sumber foto: Hipwee.com

Telaga Embung

Telaga Embung

Sumber foto; tipsjalan.com

Dan masih ada yang lain.. tapi ga ada waktu lagi buat upload. Segini cukuplah buat bikin Rana dan Reza ter-wow-wow. Selain itu akan ada kegiatan membersihkan pantai (ngumpulin sampah dalam rangka Hari Bumi), melepas tukik, snorkeling, kunjungan ke panti asuhan dengan membawa buku-buku untuk anak-anak, dll. Wah, cocok banget aktivitasnya nih buat anak-anak. Semoga kami diberi kesehatan supaya bisa kesampaian ikut trip ini. Amin. Ehm, mengingat kegiatannya yang bakal padat, saya kayaknya musti rajin ikut fitness lagi setelah lama absen nih 😀