From Makassar with Love :)

Judul artikel ini tidak lebay. Itulah yang memang saya rasakan. Terus-terang sebelumnya kesan saya terhadap orang Makassar tuh agak gimanaaa… gitu;  keras, tak mau kompromi, galak, dll. Apalagi di tivi kan berita tawuran di Makassar sering terjadi. Ditambah lagi, rencana kedatangan saya ke Makassar (dalam rangka seminar internasional) sempat “disambut” dengan broadcast (BC) penolakan. Tentu saya sempat kuatir kalau-kalau ada serangan fisik ke saya.

Heran banget, kok “mereka” takut amat ya, sama saya? Sebelumnya saya juga dijegal BC penolakan penayangan Metro Realitas tentang kasus Azzikra (Ust Arifin Ilham) di mana saya menjadi SALAH SATU narasumbernya. Kalau TV sekelas Metro sampai membatalkan penayangan sebuah acara, berarti benar-benar dahsyat jumlah BC yang masuk ke pemrednya dong ya? Padahal nih ya, saya paling-paling muncul 2-3 menit; itupun saya bicara sesuai kapasitas saya sebagai pengamat Timteng. Banyak narasumber lainnya, termasuk dari Azzikra, kepolisian, dll. Saya pikir, pembatalan tayangan itu justru merugikan Azzikra dan pihak-pihak pendukungnya. Mereka sudah dikasih kesempatan ngomong panjang lebar di media terkemuka, malah dihalangi tayang oleh “mereka”.

Mereka telah menciptakan hantu dalam kepala mereka sendiri, yang akhirnya mereka yakini bahwa hantu itu riil, dan mereka pun jadi takut sendiri. Bener-bener terjangkit halusinasi. Korban simulacra tingkat akut.

Dan reporter Metro pun barangkali tak mau rugi toh? *logat Makassar*. Mereka kan sudah jauh-jauh ke Bandung mewawancarai saya. Akhirnya wawancara itu ditampilkan sebagian di acara Metro Realitas dan Prime Time News yang membahas ISIS. Tonton video 3 menit-nya di sini.

Singkat cerita, meski ada sedikit kecemasan, saya tetap datang ke Makassar, sendirian. Acara seminar berlangsung lancar. Panitia sangat profesional dan sigap. Saya tidak melihat ada penjagaan keamanan. Tapi kemudian saya ketahui bahwa sebenarnya ada polisi yang berjaga-jaga. Ada seorang panitia yang sepertinya juga ditugaskan mengawal saya, bahkan sampai ke toilet pun ia membuntuti saya (tapi nunggu di luar dong:D). Peserta membludak, sampai musti dikasih kursi tambahan dan sebagian terpaksa berdiri atau duduk di lantai. Suasana diskusi pun seru, belum pernah saya hadir di seminar dengan audiens yang kritis dan bicaranya blak-blakan seperti ini. Ga sungkan-sungkan mereka mendebat pembicara (ada 4 pembicara termasuk saya), tapi dengan cara yang tetap santun dan bernuansa akademis (bukan debat kusir dan pakai kata “pokoknya”). This is sooo.. Makassar, I love it 🙂

Usai seminar saya tidak langsung pulang karena pingin traveling dulu. Rugi dong jauh-jauh ke Makassar kalo ga jalan-jalan. Awalnya saya berniat jalan-jalan sendirian saja. Saya sudah kontak wartawan terkenal asal Makassar. Dia bilang, di luar acara seminar, tenang saja, saya bisa keliling sendirian, ga perlu takut.

mksr1

sunset di pantai Losari

Tapi rupanya, panitia juga pingin berlibur, wohoho…! 😀 Saya bisa maklumi, mereka pastilah capek banget mempersiapkan acara. Jadi, ya memang musti liburan dong biar seger lagi. Akhirnya, kami pun jalan-jalan rame-rame. Dan betul, the more the merrier. Mereka (aktivis HMI semua nih) seru banget, sepanjang jalan ga henti-hentinya bersuara kenceng (tepatnya: antusias dan penuh semangat :D). Saya hanya senyum-senyum saja, menikmati logat Makassar yang makin lama makin enak terdengar di telinga saya. Sampai sekarang masih terngiang-ngiang itu logat Makassar, saya bahkan sampai praktekkan ke anak-anak 😀

Tujuan pertama (sore habis seminar) adalah pantai Losari, menikmati pemandangan matahari terbenam. Subhanallah indahnya… Lalu ke Fort Rotterdam, tapi cuma bisa masuk sebentar ke halamannya, karena sebenarnya sudah tutup. Besoknya, ke Dusun Rammang-Rammang. Ini wisata naik perahu untuk menelusuri taman hutan batu kapur. Di dunia, konon taman hutan batu kapur hanya ada di China dan Madagaskar. Bisa baca detilnya di blog orang lain. Ongkos perahunya (muat untuk 10 orang + 1 pemilik perahu) 250rb. Itupun setelah tawar-menawar cukup lama. Saya menikmati gaya Fitri, salah satu panitia, dalam tawar-menawar. Unik sekali, dia berpanjang lebar bicara kesana-sini, menyelipkan khutbah segala (misalnya: kalau kau kasih murah, rizkimu tambah lancarji :D), untuk membujuk si pemilik perahu agar turunkan harga.

rammang-rammang2

berperahu di rammang-rammang

 

Dari situ, lanjut ke Leang-Leang. Ini juga taman batu kapur. Menakjubkan sekali, bebatuan berbagai bentuk seolah muncul begitu saja dari dalam tanah. Cerita lengkap bisa baca saja di blog orang lain. Tak lama kami di sana, lanjut lagi ke Taman Nasional Bantimurung. Jadi, tiga lokasi ini relatif berdekatan (di kabupaten Maros) dan bisa dicapai seharian. Cuma, seharusnya, Bantimurung jadi lokasi pertama yang dikunjungi. Saat kami tiba di Bantimurung, sudah sore, museum dan taman penangkaran kupu-kupu sudah tutup. Tapi saya cukup terhibur melihat kupu-kupu berterbangan di sela-sela percikan air terjun. Kata penjual suvenir yang membuntuti kami dengan setia, waktu terbaik berkunjung ke Bantimurung memang pagi hari (banyak kupu-kupu) dan di bulan Mei, saat debit air sedikit (dan jernih; kalau kemarin saya ke sana airnya kecoklatan), sehingga bisa main tubing (meluncur di air terjun dengan ban mobil).

Leang-Leang

Leang-Leang

Besoknya lagi, kami ke Pulau Samalona dan Kodingareng keke. Ini ga jauh-jauh amat dari bandara. Jadi rencananya, habis dari pulau, saya akan langsung ke bandara. Awalnya kami ke dermaga ****. Lagi-lagi Fitri yang turun tangan bernegosiasi. E..e..e… *meniru logat Fitri* si pemilik perahu menyebalkan banget sikapnya. Bahkan dia menghalangi pemilik perahu lain untuk tawar-menawar dengan kami.  Jadilah, kami angkat kaki dari situ dan pergi ke Dermaga Kayu Bangkoa. Dapat harga 325rb. Beda harga antara dermaga pertama dengan Kayu Bangkoa dalam tawar-menawar ini sangat tipis. Tapi ini masalah harga diri, Daeng! 😀

(Oiya, harga sewa perahu 325rb adalah dengan tujuan pulau Samalona. Tapi di tengah jalan, si pemilik perahu bilang, pulau Kodingareng keke lebih indah, tapi bayarnya nambah jadi 500rb. Sudah dilakukan tawar-menawar, dia keukeuh 500rb. Sikapnya tetap ramah dan penuh senyum *so tak ada masalah harga diri di sini* jadi akhirnya deal 500 rb dengan 2 tujuan, pulau Samalona dan Kodingareng keke. Keduanya sama-sama indah. Di Pulau Samalona ada perkampungan, jadi ada tempat makan dan mandi; ada banyak bule yang datang ke situ. Sementara pulau Kodingareng keke adalah pulau sangat mungil yang masih alami, tidak berpenduduk.)

Lalu dimulailah perjalanan mengarungi samudera. Wow.. wow.. wow.. indah bangeeeet…. subhanallah 1000x. Saya pernah ke laut Bunaken, tapi sayang waktu itu agak mendung. Sehingga, bila dibandingkan keduanya, laut Makassar jauuuuuh…. lebih indah! Alhamdulillah, matahari bersinar sangat cerah. Lautan berwarna biru tua, hijau muda, biru muda. Di sela-sela air yang terhempas saat dilewati perahu, muncul bias warna pelangi tak putus-putusnya. Dan, pasir pantai Kodingareng keke, wuih… putiiiih banget… Airnya pun sangat bening dan tenang. (Sebagai buktinya, biar ga dituduh hoax, bisa tonton rekaman video saya di bawah, sekitar menit ke-2)

makasar3

Saya ga tahan, akhirnya nyemplung ke air, bersama Mustafa (4 th), anak Andis. Sambil main air, iseng saya coba bicara dengan logat Makassar dengan Mustafa, hehe. Di pantai Kodingareng keke ini banyak sekali ikan-ikan kecil-kecil mirip teri halus, namanya ikan penja. Kebetulan saat itu ada fansclub-nya Valentino Rossi yang sedang berfoto-foto. Akhirnya kami gabung juga dong, biar fans-nya Rossi kliatan tambah banyak, heuheuheu.

pantai kodingareng keke

with Valentino Rossi FC

 

Oiya, jangan lupa soal kuliner. Wow.. makanan Makassar uenaaak… Favorit saya sup konro, coto, ikan bakar, pisang epe, otak-otak… (hehehe, semuanya difavoritin karena enak semua).

ikan parape dan ikan cepa bakar

 

Singkat cerita, di akhir perjalanan ini, saya pun jatuh cinta pada Makassar dan pada orang-orang Makassar 🙂

Semoga suatu saat bisa ke sana lagi full team. Rana dan Reza langsung kepingin ke Makassar saat liat-liat foto-foto traveling saya. Saat melihat foto pasir putih di pulau Kodingareng keke, Reza spontan nyeletuk, “Pasirnya seperti kristal bertebaran di sela-sela birunya laut.” Eaaaa….

Sebagian foto + rekaman video sudah digabungkan dalam film singkat 5 menit ini, silahkan ditonton. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “From Makassar with Love :)

  1. Sukaaaa bacanya 🙂

    Dulu obyek wisata hanya Losari, Bantimurung dan Tana Toraja.

    Sekarang rupanya tambah banyak ya, Uni.

    Jadi mau buat trip ke Makasar aaaah 🙂

    Sampai ketemu besok sore ya, Uniii 🙂

  2. Entah kenapa, membaca kebahagiaan Dina yang menyeruak dalam tulisan ini, saya ikut senang dan merasa legaaa sekali….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s