20.000 Angklung untuk KAA

Jadi ceritanya ini kejadian tak terduga. Dalam perjalanan menuju tempat les Rana, angkot yang kami tumpangi melewati Stadion Siliwangi. Saya lihat banyak orang berkerumun. Kebetulan paginya baca di fb, hari ini ada acara pemecahan rekor dunia permainan angklung oleh 20.000 orang. Karena masih ada waktu, saya putuskan untuk turun. Yah, nonton sekitar 10 menit cukuplah, pikir saya. Eh, ternyata semua pengunjung disuruh melewati barikade dan dihitung satu persatu. Saya mulai heran. Tapi kemudian dikasih kaos, snack, dan angklung. Lho, jadi, semua pengunjung sekalian didaulat main angklung?! Benar-benar nggak diduga nih.

Saya jadi bingung deh. Di satu sisi ingat jadwal les, di sisi lain, kalau keluar rasanya ada yang salah karena sudah terlanjur dihitung. Saya coba tunggu sebentar, ga taunya malah acara nggak dimulai juga. Mungkin menunggu sama genap 20.000 orang. Akhirnya saya putuskan untuk tetap di tempat. Dan benar juga, kemudian ketauan, pihak Guinness World Record ga mau masuk ke lokasi karena mereka melihat orang-orang pada keluar (artinya, hitungan panitia di pintu masuk sudah tidak akurat). Nah kesempatan ini saya pakai buat ngasih pelajaran soal ‘setia kawan’ ke anak-anak, “Lihat, gara-gara ada segelintir orang yang ga setia kawan, akhirnya kita semua jadi korbannya.. Tapi setia kawan itu harus dalam kebaikan ya..!”

Duh, di tengah panas terik itu, panitia berusaha melakukan penghitungan manual. Suaranya sudah terdengar lemes. Teriakan-teriakannya seolah ga didengar. Akhirnya kang Emil (Walikota Bandung) naik ke panggung dan mengambil alih komando. Wow… langsung salut deh sama kang Emil. Keliatan banget emang dia dicintai sama warganya. Sejak awal nih ya, waktu para pejabat pidato, terasa sekali beda sambutan warga. Waktu kang Emil bicara, sorak-sorai sangat ramai dan penuh antuasias. Apalagi ada joke andalan kang Emil, “Yang jomblo mana suaranyaaaa…?!” 😀

angklung1

Nah, kali inipun untuk menenangkan massa agar tidak bubar (emang enak, dijemur panas-panas di stadion?!), kang Emil melakukan berbagai cara, mulai menyuruh berbaris rapi (ajaib, beneran itu 20ribu orang yang tadinya berdiri berantakan, bisa jadi pada rapi), melempar joke-joke (lagi-lagi, yang dapat sambutan adalah joke tentang para jomblo), ngasih kata-kata motivasi, dan mengajak bernyanyi. Rasa nasionalisme dan cinta pada Bandung keliatan banget bisa didoktrinkan oleh kang Emil ke hadirin sehingga mereka mau tetap bertahan. Malah ada sesi yang bikin saya terharu juga: penyanyi di panggung menyanyikan lagu Padamu Negeri, dan kang Emil menyuruh hadirin untuk memejamkan mata, meresapi lagi tersebut.

Jpeg

Akhirnya hitungan pun selesai dan kami disuruh main angklung lagi We Are The World. Meskipun, belum ketauan juga, Guinness World Record akan kasih sertifikat pemecahan rekor atau tidak. Katanya mereka musti rapat dulu di London sana. Ih nyebelin juga nih… mentang-mentang… Kalau pihak rekor MURI sih langsung kasih sertifikatnya ke kang Emil.

Kami lalu cepat-cepat naik taksi. Reza yang tadinya nangis karena kecapean, langsung tersenyum senang saat tahu bahwa angklungnya boleh dibawa pulang. Dia berkata, “Kita ini tercatat dalam sejarah ya Ma?” (menirukan kata-kata kang Emil saat menenangkan massa).

Pulangnya, menuju stasiun, kami lewat jalan Otista (Pasar Baru) yang sudah disterilkan, pengendara kendaraan bermotor ga boleh lewat. Wow, jalan yang biasanya macet itu kini malah penuh dengan manusia yang lagi selfie dan wefie, atau sekedar jalan-jalan santai. Seru juga. Reza sampai berpose tiduran di jalan segala (fotonya liat di blognya Reza aja ya).

angklung2

Kami sempat berusaha mendekat ke jalan Asia-Afrika, ternyata sudah diblokir, ga boleh masuk. Saya melihat banyak warga yang senasib, pingin ke jalan Asia Afrika tapi ga bisa. Ada yang menarik kami temui di jalan, sebuah masjid bergaya China di jalan ABC. Langsung deh numpang sholat Ashar di situ, bapak-bapak polisi dan Basarnas yang sedang bertugas juga ikut berjamaah di masjid itu. Reza yang sholat di shaf bapak-bapak, kemudian dengan takjub berbisik, “Ma, ini pertama kalinya aku melihat pistol beneran dari dekat!” 😀

masjid jln abc

Pinginnya sih hari Sabtu mau nonton Karnaval Asia Afrika. Tapi untung ga jadi, karena saya liat di tivi, massa sangat membludak, bergerak saja susah. Melihat antusiasme warga, terasa sekali keberhasilan kang Emil menjadikan KAA sebagai pesta rakyat. Mudah-mudahan saja, spirit asli KAA, yaitu perlawanan terhadap imperialisme (termasuk jenis modernnya, yaitu penjajahan ekonomi – neoliberalisme) juga ditangkap oleh warga.

Ini video rekaman permainan angklung 20rb orang (saat latihan)

Advertisements

4 thoughts on “20.000 Angklung untuk KAA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s