[Homeschooling] Pelajaran Akidah

galaksiProses homeschooling di keluarga kami jauh dari sempurna, dan terus mengalami perubahan. Yang konsistennya ya belajarnya, tapi ‘apa’ yang dipelajari berubah terus. Untungnya otak saya sudah mulai stabil dan tidak terlalu resah lagi (dan bisa tetap optimis) melihat berbagai kekurangan. Saya memaafkan diri sendiri dan terus berusaha melakukan perbaikan.

Misalnya, suatu saat ketika pulang dari ta’ziah, saya naik angkot dengan seorang teman yang salihah banget. Dia cerita bahwa kini dia membiasakan diri membaca Quran bersama anak-anak lengkap dengan terjemahannya, sekaligus mengajari anak-anaknya bahasa Arab supaya mengerti makna Quran. Ehm, saya kan sebenarnya sudah tau ya, bahwa mempelajari Quran ya musti sama maknanya (dan bahkan sudah pernah nulis buku soal ini). Tapi, dulu itu kan metode buat ‘anak-anak’ (7 tahun ke bawah). Sekarang anak-anak sudah beranjak remaja, metodenya tentu musti berbeda lagi.

Saya pun mencoba meniru yang dilakukan teman saya itu. Tapi entah karena sudah remaja (Reza sih baru 9 tahun, tapi cara mikirnya saya lihat sudah melampaui usianya, jadi saya selalu bilang ke Reza bahwa dia itu sekarang sudah ‘pemuda’), mereka malah bosan dengan metode seperti ini: baca ayat, trus baca terjemahannya (mana kalimat terjemahan itu kan kadang susah dimengerti, ya kan?). Saya berusaha menjelaskan sebisanya (soalnya pengetahuan agama saya memang minim). Ketika bacaan mereka sudah ke buku-buku sastra yang tebal-tebal, baca kalimat-kalimat ala terjemahan Quran memang terasa ‘jauh’ banget. Padahal sebenarnya ayat Quran-nya sendiri (bahasa Arab-nya) sebenarnya indah, kalau ngerti.

Akhirnya, saya diskusi deh dengan si Akang. Kesimpulannya, kami memang perlu mengajari anak-anak bahasa Arab, supaya ada ‘tantangan’ sehingga mereka lebih antusias mempelajari Quran. Masalahnya… gimana cara mengajarinya ya? Kebayang deh, bakal boring banget mereka kalau saya ajarin tenses Arab (saya aja boring, hiks, meski dulu lulus Sastra Arab cumlaude tapi kayaknya yang nempel dikit banget).

Si Akang bilang, akarnya harus di akidah. Kita harus mengajarkan lagi konsep Ketuhanan kepada anak-anak, dengan dilandasi logika dulu, bukan doktrin. Soalnya, kalo doktrin, bakal ‘muter’: misalnya nih, darimana kita tahu ada Tuhan? Dari Quran. Lho trus, Quran siapa yang bikin? Allah. Trus, kata siapa Quran itu dibikin sama Allah? Dari Quran. Eaaaa…

Nah, sejak beberapa waktu terakhir, si Akang pun mulai mengajarkan akidah kepada anak-anak, dirunut lagi dari awal: apakah Tuhan benar-benar ada? Darimana kita tahu Allah itu ada (jawabannya bukan “dari Quran” lho ya). Dst. Sudah saya duga, diskusinya jadi seru. Anak-anak antusias (apalagi si Akang emang komunikatif dengan anak-anak) dan saya bertugas sebagai notulen (barangkali aja suatu saat bisa jadi buku anak-anak, hehe).

Proses ini masih jauh (kayaknya) untuk sampai ke pertanyaan: kenapa sih kita musti belajar bahasa Arab? [untuk memotivasi anak-anak agar keinginan untuk belajar itu lahir dari diri mereka sendiri]. Tapi… kemarin ‘efek’-nya sudah terlihat sedikit.

Reza: Pa.. penulis Doraemon itu theis, atau atheis? 😀 😀

Kirana: Pa, kemarin waktu kita ke Bosscha, kan pemandunya bilang pusat galaksi kita ini lubang hitam; tapi kita ga bisa liat lubang hitam itu, kita cuma bisa melihat gejala-gejalanya atau efek keberadaan lubang hitam terhadap planet-planet lain. Itu kan sama dengan cara kita mendeteksi keberadaan Tuhan, ya kan Pa?

Yang saya temukan, terkadang, sesuatu yang sudah kita (ortu) yakini belum tentu diyakini juga oleh anak. Kita sudah mendoktrin mereka, tapi belum tentu juga mereka menerimanya dengan keyakinan. Misalnya, suatu saat Kirana minta dibeliin bukunya Felix Siaw tentang Hijab. Saya heran. Kan Kirana sudah pakai jilbab sejak kecil, ngapain juga beli buku itu?

“Kakak masih kurang yakin sama kewajiban berjilbab?”

“Mmmm… yaaa… ada hal-hal yang aku pertanyakan siiih…”

Oh ya udah, saya beliin aja buku itu (meski saya ga setuju sama sangat banyak pandangan politik Felix Siaw, tapi saya tetap objektif, bahwa buku dia soal hijab dan jeleknya pacaran, emang bagus kok buat remaja 😀 ).

Atau, saat memulai pelajaran akidah, dan si Akang menjelaskan berbagai bukti logis (bukan doktrin) keberadaan Tuhan, Kirana senyum, “Ini memang pertanyaanku sejak dulu.”

Waduh, siapa sangka anak saya yang sejak balita sudah saya ajarin ngapalin Quran ternyata masih mencari jawaban ‘apa sih bukti adanya Allah?’ Inilah bukti buat saya bahwa yang saya anggap ‘sudah seharusnya dipahami’ ternyata belum tentu demikian adanya. Biar gimana pun, anak kita dikaruniai akal dan kecerdasan oleh Allah, pastilah pikiran mereka ‘kemana-mana’. Kita ortu harus membimbing agar akal dan logika anak terlatih untuk berpikir logis dan benar; supaya nggak jadi manusia pembebek yang susah mikir dan gampang banget menelan info hoax. *euleuh… kalo saya terusin kalimat ini bisa jadi tulisan politik lagi deh…stop aja di sini deh 😀 😀

Too Much Hate Will Kill You

Apa??? Istri Presiden Turki datang ke Aceh menjenguk pengungsi Rohingya?? Benar-benar heran saya, kok mereka percaya begitu saja pada berita seaneh ini. Agaknya, ilmu HI itu memang penting diketahui publik. Kunjungan selevel ibu negara dari negara asing, mana mungkin ujug-ujug, langsung datang ke Aceh? Secara diplomatik itu kan ga mungkin bangeeet..?? *tepok jidat 10x*. Kalau bener istri Presiden Turki datang ke Indonesia, mustilah disambut oleh pejabat tinggi negara kita, dan beritanya pasti ada di media-media terkemuka. Lha ini, diberitakan oleh ABU-ABU-an *dan ternyata dia konon ustadz lho* Anehnya demikian banyak orang yang percaya (sedemikian awamnyakah orang Indonesia? Tapi yang nge-share saya liat sebagiannya orang-orang terpelajar tuh). Dalam waktu 7 jam, sudah 1300 lebih yang share.

(klik untuk memperbesar)

(klik untuk memperbesar)

Dan saat saya baca komen-komennya… gila… benci banget mereka sama Jokowi, ia dan istrinya dimaki-maki dengan kata-kata yang kasar. Bahkan ketika ada yang mengingatkan bahwa itu berita kunjungan istri Erdogan ke Myanmar (BUKAN ACEH) tahun 2012, jawabnya tetap ngeyel, seperti ini:

turki-aceh2a

(klik untuk memperbesar)

Persis kayak kelakuan sebagian dari mereka dulu saat saya ingatkan bahwa foto-foto yang disebarluaskan untuk menjustifikasi jihad di Suriah (dan menggalang dana dari masjid ke masjid, kampus ke kampus) adalah foto-foto dan video-video palsu.

Balik ke soal urusan diplomatik, saya sudah googling  barusan, kunjungan Erdogan (saat itu statusnya perdana menteri) dan istrinya ke Myanmar 2012 itu didampingi dengan Menlunya, dan diumumkan secara resmi sebelum berangkat, diberitakan di media resmi Turki *tanpa abu-abu-an*. Artinya, ga ujug-ujug ngelencer masuk ke provinsi Rakhine (tempat dimana orang Rohingya berada, sekitar 214 km dari Naypyidaw, ibukota Myanmar). Jadi, kalau ada pejabat negara lain nekad masuk wilayah Indonesia tanpa kulonuwun, ujug-ujug begitu aja, itu sudah pelanggaran kedaulatan, kalian harusnya tersinggung masbroooow.

Continue reading

Mengenang Al Nakba

Kajian Timur Tengah

Nakba Day, atau Al Yaum Al Nakba, atau HariMalapetaka adalah hari peringatan didirikannya Israel dari sudut pandang bangsa Palestina. Proklamasi pendirian Israel tanggal 14 Mei 1948 bagi orang-orang Zionis merupakan perwujudan dari ‘cita-cita bersejarah kaum Yahudi’. Namun bagi bangsa Palestina, hari itu adalah hari malapetaka, yang menjadi tonggak dari pengusiran ratusan ribu orang Palestina. Pengusiran itu terus berlanjut hingga hari ini, 65 tahun kemudian. Kini diperkirakan lima juta orang Palestina hidup terusir, tersebar ke berbagai wilayah; atau jadi pengungsi namun masih di wilayah Palestina. Banyak di antara mereka masih memegang kunci dan sertifikat rumah-rumah mereka yang kini sudah dihancurkan, atau ditempati orang Israel.

536271_220531904715801_1283003541_n

Kronologi Al Nakba

Kronologi tragedi Al Nakba sangatlah panjang dan luas dimensinya, namun dalam buku ini penulis membatasi penulisan kronologi  pada gelombang kedatangan imigran Yahudi Zionis, pengusiran bangsa Palestina dari tanah air mereka, serta upaya bangsa Palestina sendiri sejak awal dalam memperjuangkan kemerdekaan. (Bahkan, menariknya…

View original post 1,195 more words

[Homeschooling] Tau Diri

origami karya Reza

origami karya Reza

Salah satu “godaan” terbesar dalam ber-homeschooling, yang saya rasakan adalah, rasa minder saat melihat aktivitas keluarga lain. Ada yang masih remaja, sudah mampu ngisi seminar di dalam dan luar negeri, ada yang canggih banget kemampuan IT-nya, ada yang pengetahuan sainsnya kliatan luas banget (dan canggih, yang oleh saya aja nggak ‘terjangkau’, gimana saya ngajarin ke anak saya?), ada yang mampu nulis di blog dengan bahasa Inggris yang lancar. Sementara… anak-anakku bisa apaaaa..?

Anehnya, di saat saya sering minder liat anak orang lain, mungkin orang lain juga ada yang minder terhadap anak saya (setidaknya beberapa kali ada yang bilang begitu).

Kalau tidak diwaspadai, perasaan minder begini, bahaya juga lho. Di buku parentingnya siapa, gitu, saya lupa lagi, disebutkan bahwa salah satu sebab ortu marah ke anak adalah karena ekspektasi (harapan) yang terlalu berlebihan kepada anak. Ditambah lagi sikap pembanding-bandingan ke anak-anak orang lain, selain akan bikin anak tertekan, juga bikin diri sendiri stress.

Padahal, kalau ditinjau lagi konsep HS itu kan “pendidikan oleh keluarga”. Di buku “Belajar Tanpa Sekolah” disebutkan bahwa model pembelajaran HS sebaiknya bersesuaian dengan kondisi masing-masing ortu. Orang tua yang profesinya petani akan mengeksplorasi pendidikan dengan hal-hal yang tersedia dalam dunia pertanian, misal belajar biologi di sawah atau di peternakan. Jika orang tua berprofesinya penulis dan pengamat politik, dan pembicaraan di rumah sehari-hari seringnya politik melulu, jangan heran kalau anaknya tertarik pada hal yang sama, dan ga terlalu tertarik pada sains atau IT. [Nah, ini sih pengalaman pribadi.]

Jadi, salah banget kalau saya kecewa Rana ga minat sama sains, ga antusias saat saya ajak ke observatorium Bosscha, atau saya tawarin les IT, karena dia lebih baca buku-buku politik dan di usia 14 tahun sudah mengomentari IMF dan Bank Dunia atau mereview bukunya Andre Vltchek *tepok jidat*. Atau, muncul pertanyaan dari Reza (9 thn), “Ma, Jepang kan dulu penjajah, trus kok ikut Konperensi Asia Afrika tahun 1955?!” dan sederet pertanyaan yang kalau di studi HI bisa masuk bab teori poskolonialisme 😀 :D. Itu terjadi begitu saja, tidak saya setting atau agendakan.

Di sinilah yang saya maksud ‘tau diri’. Umumnya anak-anak adalah cerminan ortunya. Jadi, kalau ada anak-anak hebat di luar sana, ya lihat saja ortunya, lalu lihat ke diri sendiri. Kalau ortunya hebat di IT, kita nggak usah resah liat anak mereka hebat di IT, kecil-kecil sudah go internasional memanfaatkan internet. Lha saya aja beli tiket pesawat online baru bisa kemarin, ngapain juga resah kalau anak saya gaptek? Kalau saya saja cenderung pemalu *uhuk* dan ga terlalu suka tampil di depan umum, ya ngapain saya kecewa saat Reza cenderung pemalu dan susah sekali disuruh tampil di depan umum. Saya yakin, suatu saat Reza juga bisa kayak saya, kalo sudah kepepet sih akan terpaksa pede aja ngomong di depan umum.

Saat saya tau diri, saya nggak akan resah lagi liat anak orang yang hebat. Kehebatan anak orang akan saya ambil sebagai inspirasi saja, misalnya, oooh…dia hebat karena disiplin. Nah, saya ajak anak-anak saya meniru kedisiplinan si anak hebat itu.

Continue reading

Jogja: Let’s Snorkel!

Setelah misi Yes I Can di Dieng tercapai, saya lanjutkan dengan misi snorkeling di Jogja. Ceritanya, Kirana kan pernah snorkeling di Bunaken. Waktu itu, dia dapat hadiah menang lomba nulis, tapi cuma saya yang bisa mendampingi. Walhasil Reza ga ikut menikmati. Saat ada tawaran trip ke Jogja dari Muslimah Backpacker (MB) yang salah satu menunya adalah snorkeling, wah, langsung saya daftar deh. Kesempatan untuk another Yes I Can moment buat Reza.

Trip ke Jogja kali ini adalah menelusuri pantai-pantai di Gunung Kidul yang ternyata..beneran menakjubkan! Subhanallah deh, Indonesia ini emang luar biasa, menyimpan banyak tempat yang indah bangeeeet… Ibu saya aja sampai heran “Lho, kalian ke pantai atau ke gunung sih?” Itulah uniknya, kami ke Gunung Kidul, dan memang melewati jalanan menanjak dengan hutan di kiri-kanan, tapi ujung-ujungnya nyampe ke pantai. Liat aja sendiri di peta detilnya ya. Dan yang terlintas di benak saya dalam perjalanan ini: duh, untung… ikut trip MB. Ga kebayang berapa banyak duit habis kalau ke sini sendirian/sekeluarga (tidak berombongan). Soalnya, sepertinya tidak ada transportasi umum ke lokasi (musti naik motor atau bawa mobil sendiri…dan pasti jatuhnya mahal banget tuh). Kalau ikut rombongan backpacker, biaya bisa jauh ditekan. Btw, kesian deh si Akang ga ikut, dia cuma bisa terkagum-kagum liat foto-foto dan video rekaman traveling kami. Pepatah lama memang tetap laku di keluarga kami: pernikahan itu bagaikan workshop… suami work, istri shop 😀 😀

Nah, pantai yang berat dicapai adalah Pantai Nglambor. Elf AC yang ditumpangi rombongan cuma sampai parkiran. Kami musti jalan kaki sekitar 1 kilo di tengah panas terik. Tapi, oh…oh.. setelah sekian menit berjalan tertatih-tatih (saya udah capek banget soalnya, kaki udah sakit-sakit), muncul pemandangan indah… :

Jpeg

Pantai Nglambor Jogja

Pantai ini memang keren. Fasilitas snorkeling lengkap dengan pemandu dan fotografer bawah air, cuma bayar @Rp35.000. Pemandunya banyak dan care banget. Saya, Rana, dan Reza, dibimbing satu pemandu.

Nah, di detik inilah muncul perang batin. Pasalnya, ombaknya gedeee.. hiks. Saya kan ga bisa berenang, jadi kuatir banget melihat ombaknya. Dulu waktu di Bunaken kan snorkelingnya di tengah laut, jadi ga ada ombak besar. Itupun, saya dulu ga berani jauh-jauh dari kapal sampai ada insiden tangga jatuh segala.

“Reza, ombaknya besar sekali, nak. Gimana kalau lain waktu snorkelingnya?” bujuk saya.

Mata Reza langsung berkaca-kaca. “Buat apa Mama beli tiket mahal-mahal, buat apa kita jauh-jauh ke sini kalau enggak snorkeling?!” jawabnya dengan nada marah.

Waduh. Saya tahu, kalau saya melarang Reza snorkeling, justru akan membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Misi Yes I Can juga bisa lewat deh… Akhirnya, saya beranikan diri nyemplung ke laut bersama Rana dan Reza. Benar-benar tidak nyaman, pasirnya banyak serpihan batu karang, jadi sakit saat melangkah. Pakai sepatu plastik yang disediain sih, tapi pasir dan serpihan karang tetap masuk ke sepatu. Seorang mas pemandu menggandeng tangan saya, Reza, dan Kirana sekaligus, membimbing pelan-pelan ke tengah. Dia berusaha menenangkan saya dan mengajari cara mengapung di air. Tapi saya risih juga, dia itu laki-laki, gitu lho. Jadi, saya hanya beberapa detik membenamkan kepala ke air dan sempat ngeliat sebentar ikan-ikan di bawah laut. Lalu, “Udah ah, saya nitip anak-anak aja ya!”

Trus saya ke tepi. Dan bahkan duduk di tepi pantai pun ga bisa tegak, sewaktu-waktu ombak datang cukup keras, sampai saya terpelanting. Tapi lama-lama seru juga. Justru malah ditunggu-tunggu tuh ombak, lalu jerit-jerit sama pengunjung pantai lainnya, hihihi.

Bagaimana nasib Kirana dan Reza…? Wow, air mata saya hampir menetes, melihat mereka sedemikian menikmati snorkeling, mengapung-ngapung jauh ke tengah, tanpa didampingi si mas pemandu yang tadi itu. Tapi ada banyak pemandu yang siap siaga di berbagai titik, jadi saya tetap merasa aman. Duh, anak-anakku sudah besar ya… terharuuuu….

Malamnya, saya WA foto-foto kami ke si Akang dan saya cerita betapa anak-anak sedemikian gagah berani di tengah lautan *lebay dikit*. Komentar si Akang juga sama: anak-anak kita sudah besar ya…

snorkeling di Nglambor

Rana snorkeling di Nglambor

jogja-1a

Rana n Reza

Snorkeling di Pantai Nglambor ini dibatasi jamnya, karena peralatan terbatas, dan banyak yang ngantri. Apalagi pemandunya juga terbatas. Kira-kira 1 jam untuk 1 rombongan. Reza terlihat sekali bangganya, berani snorkeling di laut.

“Awalnya aku sedikit takut, tapi ditahan. Lama-lama terbiasa,” kata Reza. Wow.. yes you can, boy!

Nah, habis itu, kita ga langsung ganti baju karena kamar mandi sangat terbatas. Jadi, kami jalan lagi ke parkiran (dan itu panaaas banget, lebih praktis naik ojek aja, bayar 10rb). Lalu, dengan mobil berangkat ke Pantai Siung. Nah, di pantai ini, puas deh, kamar mandinya banyaaaak. Bayarnya cuma 2000-3000 sekali mandi.

Lalu, makan siang sambil duduk-duduk di bawah pohon. Nikmatnyaaaa.. Pengelola trip MB bekerja sama dengan warga lokal (namanya Mbak Arum) dalam penyediaan makanan. Nah, mba Arum, plus staf dapurnya bela-belain nganterin langsung makanan ke Pantai Siung dengan sistem prasmanan gitu (beda banget kan enaknya, dibanding nasi kotak). Oiya, kami juga nginep di rumah tradisional milik simbahnya mbak Arum.  Ini jadi pengalaman menarik buat anak-anak.

jogja-3a

Rumah Limas

Di rumah ini pula, anggota trip saling berkenalan dan berbagi cerita seru. Asyik jadi nambah saudara deh. Trending topic malam itu adalah tentang bisnis. Ternyata anggota trip kali ini banyak yang pebisnis, padahal masih muda-muda. Salut deh. Kata mba Susi, seorang pengusaha senior, “Jangan pernah bilang bisnismu ‘bisnis kecil-kecilan’! Ga ada bisnis yang kecil, semua musti dijalani dengan berani dan serius.” 🙂

Oiya, MB dapat hadiah sponsor Abon Jambrong Unia yang dimakan rame-rame di pinggir pantai Siung. Ternyata ini ikan asin jambrong yang disuir-suir, dikasih bumbu dan bawang goreng yang banyaaak… Top deh, mak nyus. Tanpa MSG pula. Cocok banget buat bekel traveling.

Jpeg

Abon Jambrong Unia di Pantai Siung

Saya sudah catat baik-baik, abon ini akan saya jadikan salah satu bekal kalau ke Bali. Kata temen saya, supaya ngirit dan kehalalan terjaga, memang kita sebaiknya bawa bekal masakan kering kalau jalan-jalan ke Bali. Niat saya, trip Bali akan dilanjut dengan trip ke Lombok, demi snorkeling. Amin..amiin.. semoga niat ini kesampaian. Akang kerja yang rajin ya.. hihihi…

Silahkan mampir ke blog Rana dan Reza untuk membaca catatan jalan-jalan mereka 🙂