[Homeschooling] Tau Diri

origami karya Reza

origami karya Reza

Salah satu “godaan” terbesar dalam ber-homeschooling, yang saya rasakan adalah, rasa minder saat melihat aktivitas keluarga lain. Ada yang masih remaja, sudah mampu ngisi seminar di dalam dan luar negeri, ada yang canggih banget kemampuan IT-nya, ada yang pengetahuan sainsnya kliatan luas banget (dan canggih, yang oleh saya aja nggak ‘terjangkau’, gimana saya ngajarin ke anak saya?), ada yang mampu nulis di blog dengan bahasa Inggris yang lancar. Sementara… anak-anakku bisa apaaaa..?

Anehnya, di saat saya sering minder liat anak orang lain, mungkin orang lain juga ada yang minder terhadap anak saya (setidaknya beberapa kali ada yang bilang begitu).

Kalau tidak diwaspadai, perasaan minder begini, bahaya juga lho. Di buku parentingnya siapa, gitu, saya lupa lagi, disebutkan bahwa salah satu sebab ortu marah ke anak adalah karena ekspektasi (harapan) yang terlalu berlebihan kepada anak. Ditambah lagi sikap pembanding-bandingan ke anak-anak orang lain, selain akan bikin anak tertekan, juga bikin diri sendiri stress.

Padahal, kalau ditinjau lagi konsep HS itu kan “pendidikan oleh keluarga”. Di buku “Belajar Tanpa Sekolah” disebutkan bahwa model pembelajaran HS sebaiknya bersesuaian dengan kondisi masing-masing ortu. Orang tua yang profesinya petani akan mengeksplorasi pendidikan dengan hal-hal yang tersedia dalam dunia pertanian, misal belajar biologi di sawah atau di peternakan. Jika orang tua berprofesinya penulis dan pengamat politik, dan pembicaraan di rumah sehari-hari seringnya politik melulu, jangan heran kalau anaknya tertarik pada hal yang sama, dan ga terlalu tertarik pada sains atau IT. [Nah, ini sih pengalaman pribadi.]

Jadi, salah banget kalau saya kecewa Rana ga minat sama sains, ga antusias saat saya ajak ke observatorium Bosscha, atau saya tawarin les IT, karena dia lebih baca buku-buku politik dan di usia 14 tahun sudah mengomentari IMF dan Bank Dunia atau mereview bukunya Andre Vltchek *tepok jidat*. Atau, muncul pertanyaan dari Reza (9 thn), “Ma, Jepang kan dulu penjajah, trus kok ikut Konperensi Asia Afrika tahun 1955?!” dan sederet pertanyaan yang kalau di studi HI bisa masuk bab teori poskolonialisme 😀 :D. Itu terjadi begitu saja, tidak saya setting atau agendakan.

Di sinilah yang saya maksud ‘tau diri’. Umumnya anak-anak adalah cerminan ortunya. Jadi, kalau ada anak-anak hebat di luar sana, ya lihat saja ortunya, lalu lihat ke diri sendiri. Kalau ortunya hebat di IT, kita nggak usah resah liat anak mereka hebat di IT, kecil-kecil sudah go internasional memanfaatkan internet. Lha saya aja beli tiket pesawat online baru bisa kemarin, ngapain juga resah kalau anak saya gaptek? Kalau saya saja cenderung pemalu *uhuk* dan ga terlalu suka tampil di depan umum, ya ngapain saya kecewa saat Reza cenderung pemalu dan susah sekali disuruh tampil di depan umum. Saya yakin, suatu saat Reza juga bisa kayak saya, kalo sudah kepepet sih akan terpaksa pede aja ngomong di depan umum.

Saat saya tau diri, saya nggak akan resah lagi liat anak orang yang hebat. Kehebatan anak orang akan saya ambil sebagai inspirasi saja, misalnya, oooh…dia hebat karena disiplin. Nah, saya ajak anak-anak saya meniru kedisiplinan si anak hebat itu.

Reza bereksperimen dengan bayam merah.

Reza bereksperimen dengan bayam merah.

Yang kita lakukan sebagai ortu adalah memberikan stimulus (rangsangan, pengenalan terhadap berbagai hal) semaksimal mungkin. Meski keliatannya anak-anak saya biasa-biasa aja di sains, saya tetap membelikan banyak buku sains serta alat-alat percobaan sains. Banyak sekali konsep sains yang penting diketahui anak, meski dia mungkin tidak akan jadi saintis.

Selain itu, kita ortu musti meningkatkan kualitas diri sendiri, sesuai dengan kondisi masing-masing. Ortu pedagang, perbaiki kualitas bisnisnya, supaya anak bisa belajar bisnis dengan baik dari ortu. Ortu penulis freelance kayak kami, misalnya, yang paling penting diperbaiki adalah kedisiplinan dan sikap nggak menyerah terhadap mood. Gimana anak bisa jadi penulis hebat kalau liat ortunya mood-mood-an ga jelas melulu? [Nah ini curcol, terkenang pada revisi disertasi ga ada kemajuan karena hambatan mood, hwaaa..]

Advertisements

15 thoughts on “[Homeschooling] Tau Diri

  1. trims mbak sharingnya, sudah lama nggak baca sharing mbak Dina… em… jadi di rumah anak-anak mbak Dina terbiasa mendengar obrolan2 politik gitu ya mbak? 🙂

  2. Hehe setuju mba..kami ortu yg biasa berkecimpung di dunia pendidikan dan pengelolaan alam ya anak anak kami juga lebih tertarik dibidang teraebut.peni anak pertama saja sejak usia 13 tahun magang sebagai guru bantu.rizka 9tahun senang sekali mengajarkan berbagai hal ke adik adik dan anak anak tetanggal mulai mengajar memasak sampai olahraga

  3. Berarti pepatah ‘Buah jatuh tidak jauh dr pohonnya’, tetap berlaku di era globalisasi ini ya mbak? 😊

    • hm, bisa saja karir anak berbeda jauh dari ortunya.. setiap anak bawa ‘nasib’ sendiri-sendiri kan? Cuma dalam pendidikan HS, keliatannya anak ngikutin kecenderungan ortu krn pergaulan anak-ortu sangat intens (dlm bbrp kasus yg saya temui ya)

  4. Salam kenal, Mbak Dina. Saya senang mengikuti tulisan-tulisan Mbak.
    Kebetulan, saya juga menjalankan HS bersama anak dan suami. Menurut saya, sebenarnya Tuhan sudah menyetting bahwa karakter dan kemampuan orangtua itu kompatibel dengan anak. Jadi, biasanya dunia orangtua dan anak akan saling kait mengait dan saling menginspirasi. Makanya, setiap keluarga homeschooling itu unik alias mempunyai karakter masing-masing yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Begitu pula anak-anak HS. Sebaiknya ber-HS tidak bertujuan untuk menjadikan anak lebih hebat dari anak lain. Tetapi, untuk menuntun anak mengeluarkan potensi diri terbaiknya (be the best of him/herself). Dan, memilih HS karena memang itulah jalan pendidikan terbaik menurut keluarga kita.

    • Waalaykumsalam.. terimakasih masukannya mba Juwit.. terharu bacanya “sebenarnya Tuhan sudah menyetting bahwa karakter dan kemampuan orangtua itu kompatibel dengan anak” 🙂

  5. Assalamu’alaikum uni Dina, apa kabar? saya senang sekali membaca tulisan-tulisan uni Dina. Tapi jujur saya sering gak paham dengan tulisan uni yang berhubungan dengan politik, maklum kecerdasan saya hanya pas-pasan.. 🙂 Tapi untuk tulisan uni yang ini agak nyambung juga sih dikit… :), Dan memang sudah saya rasakan sendiri terhadap kedua anak-anak saya.. Awalnya saya juga sama dengan uni merasa kedua anak saya kok tidak punya prestasi apa-apa seperti anak-anak tetangga, Tapi setelah saya melihat diri saya dan suami saya akhirnya saya menyadari, karena kami orang tuanya biasa-biasa saja, ya kedua anak kami seperti itu. Tapi saya yakin suatu saat mereka bisa melebihi kami orang tuanya yang biasa-biasa saja. Tergantung kami membentuknya bagaimana… Trimakasih uni atas seringnya yang akhirnya membuat saya tertarik untuk ikutan koment disini, walaupun mungkin gak nyambung dengan tulisan uni… :mohon dimaklumi ya uni Dina… 🙂 sukses selalu untuk uni Dina….

  6. mba dinaaaa.. ihhh aku pengen ketemuan deh pengen banyak ngobrol 🙂 tadi abis baca blog rana yang wawancara andre vltchek (?) duh, nulis namanya susah banget.. rana keren banget mbaaaa… jadi pengen belajar sama mba dina nih 🙂 secara saya juga orang tua yang biasa banget…tapi pengennya kemampuan anak jauh melampaui orang tuanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s