Tentang Homoseksualitas

pray2Beberapa waktu yang lalu, wartawan Detik menelpon saya, mau wawancara soal kondisi kaum gay di Iran. Saya tidak tahu, akhirnya dimuat atau tidak. Jawaban saya waktu itu: menurut pengamatan saya selama tinggal di sana, Pemerintah Iran bukan jenis pemerintah yang menelisik kehidupan pribadi. Selama mereka tidak memproklamirkan diri, tentu saja negara tidak bisa berbuat apa-apa. Kasus lain, jilbab diwajibkan saat keluar rumah. Tapi bila si perempuan tidak pakai jilbab di rumah di depan tamu-tamu laki-lakinya, negara tidak mengurusi, atau memata-matai. Itu urusan dia dengan Tuhannya.

Beda urusannya dengan mereka yang mempropagandakan perilaku tersebut, misalnya terang-terangan buka jilbab di jalanan umum, atau terang-terangan bercinta sesama jenis di depan umum. Atau pasang pengumuman di facebook bahwa mereka ‘jadian’. Di sini negara akan intervensi karena UU-nya sudah jelas mengatur soal itu. Hal serupa terjadi dengan zina. Seseorang baru bisa diajukan ke pengadilan karena berzina ketika ada dua saksi adil yang “benar-benar melihat prosesnya”. Artinya: mereka berzina terang-terangan, gak pake malu lagi. Bila mereka melakukannya di rumah dan tidak ada saksi, negara tidak bisa berbuat apa-apa; karena lagi-lagi, tugas negara memang bukan memata-matai rumah warga negaranya.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang benar-benar ‘gay’ (mengklaim diri sebagai manusia ‘terlahir demikian’ atau ‘diciptakan demikian oleh Tuhan’)? Negara memfasilitasi untuk berganti kelamin (tetapi harus dibuktikan secara medis bahwa orang tersebut memang ‘terlahir demikian’; ada perbedaan kromosom, atau entah apanyalah), lalu mereka menikah sebagai sepasang laki-laki dan perempuan.

Nah, itu di Iran yang UUD-nya berdasarkan Islam (dan pada saat penyusunan UUD juga dilakukan referendum untuk meminta persetujuan rakyat, jadi tidak ditetapkan secara sepihak oleh elit).

Bagaimana dengan Indonesia, atau negara mana saja, yang sekuler? Karena Indonesia bukan negara berlandaskan Islam, perdebatan menjadi berlarut-larut ketika aturan Islam dipakai sebagai argumen (meskipun, saya tahu pasti, sebagian kalangan Nasrani pun punya posisi yang sama dengan Islam soal ini, yaitu menolak homoseksualitas).

Mari kita melihatnya dari sisi ini. Ini kisah nyata. Seorang anak usia remaja (laki-laki, usia SMP), kecanduan hubungan seks dengan sesama jenisnya. Pada jam tertentu, dia gemetar saking ‘pingin’-nya. Dia dibawa ke seorang ahli parenting, dengan harapan bisa sembuh (si ahli parenting ini yang cerita kasus ini ke saya). Ternyata, dia sejak kecil disodomi oleh guru ngajinya sendiri, yang secara rutin datang ke rumah untuk mengajar ngaji. Lalu, ketagihan.

Apakah si anak terlahir dengan ‘bawaan’ sebagai gay? Tidak. Dia waktu kecil baik-baik saja. Dibesarkan dengan penuh cinta oleh ortunya. Dicarikan guru ngaji terbaik, lulusan dari pesantren ternama. Tapi dia ‘dipaksa’ untuk jadi gay. Apakah ini yang disebut ‘bawaan lahir’?

Kisah nyata lain, saya dapat dari psikolog yang menangani perempuan lesbi. Si perempuan baik-baik saja awalnya, dan menikah dengan laki-laki. Tiba-tiba dia berteman dengan seseorang perempuan lain, lalu dirayu-rayu, dan akhirnya ‘jadian’ dan ketagihan. Si perempuan sudah berusaha lepas dari temannya itu, dan ikut terapi. Tapi si teman lesbi itu terus mengejar-ngejar, dan akhirnya mengajak kabur. Rumah tangganya pun bubar, anak-anaknya kacau balau. Apakah ini yang disebut ‘bawaan lahir’ dan ‘ciptaan Tuhan’?

Kisah nyata lain, seperti diceritakan seorang ibu yang masuk ke grup gay dengan tujuan meneliti (link ada di komen status ini), yang ternyata sebagian besar anggotanya remaja. Dari komunikasi di antara anggota grup itu, yang mengemuka bukan CINTA tapi transaksi seks bebas di antara sesama lelaki (remaja). Apakah ini ‘kehendak Tuhan’?

TIDAK. Ini disebut MERUSAK kehidupan orang lain. Saya tidak akan meludahi para homo/lesbi, saya tidak akan menghina mereka, tidak akan merusak properti mereka. Tapi saya TIDAK SUDI bila anak-anak yang saya besarkan baik-baik dengan penuh CINTA kalian rusak, kalian paksa untuk untuk jadi gay (melalui perkosaan), kalian bujuk mereka (melalui berbagai propaganda) bahwa ‘inilah gaya hidup yang keren’ , dan kalian paksa kami –para ortu- untuk menerima bahwa “ini kehendak Tuhan”, “Ini gaya hidup yang normal, kok, kalian aja yang fanatik”, dll.

Toleransi adalah berdiri sejajar, bersama-sama, tapi tidak saling merusak kehidupan orang lain.

Continue reading

Advertisements

[Parenting] Logika Warung For Kids :)

Di antara tanggapan atas status fb saya berjudul “Logika Warung” menyoroti kalimat terakhir saya “Buat ibuk-ibuk, pelajaran logika dasar kayak gini musti diajarin ke anak sejak kecil, biar kalau gede ga bikin meme yang illogical kayak gini. Malu ah.”

Mereka bilang, “Masa logika diajarin ke anak kecil? Itu kan rumit?”

Jawaban saya: Jangan remehkan kemampuan anak Anda berpikir; sejak kecil mereka itu sudah bisa mikir (dan mereka peniru ulung cara pikir/cara bicara ortu). Tugas ortu adalah mengarahkan anaknya agar mampu berpikir logis, dan itu harus dilakukan sejak masih kecil. Tentu saja tidak harus secara teoritis, tapi melalui kalimat-kalimat yang Anda pakai sehari-hari kepada anak. Saya meyakini, orang-orang dewasa yang hari ini gak logis-gak logis itu adalah hasil didikan dari ortu yang gak logis juga. Dan karena “ibu adalah madrasah pertama”, makanya saya berpesan kepada ibuk-ibuk supaya mengajari anaknya logika.

Begini contoh-contoh kalimat tidak logis yang sering dipakai para ortu:

Continue reading

Logika Warung (Part I & II)

Ini copas dari status saya di FB

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Balik lagi ke soal buka warung saat Ramadhan. Ada yang bikin meme ini. Sekilas seolah benar, tapi sebenarnya salah. Mari kita bahas.

Dalam khasanah ilmu mantiq (logika), ada yang disebut ‘mughalathath’ (logical fallacy/ kesalahan logika). Salah satu bentuk kesalahan logika adalah “qiyas ma’al faariq” (menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang lain, tapi tidak setara). Jika kita mau berpikir logis, gunakan analogi yang setara. Gunanya apa sih, berpikir logis itu? Tentu saja supaya kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan yang benar.

Coba perhatikan kalimat ini, “Kamu ini sudah gedhe ga bisa brenang, malu dong sama ikan, sejak bayi udah mahir brenang!” Logis gak? Enggaklah; kalimat tsb pake “qiyas ma’al fariq”.

Nah, logika fals yang dipakai di meme ini adalah: Menag tidak mau memerintahkan warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag memerintahkan Bandara Bali BUKA DI HARI NYEPI untuk menghormati mereka yang tidak beribadah Nyepi. Jadi, yang dibandingkan adalah Warung+PUASA RAMADHAN dan bandara+NYEPI. Ini ga setara bro. PUASA di bulan Ramadhan itu ‘hanya’ gak makan-minum-seks. Tapi kerja mah tetep atuh lah, kita tetap melakukan berbagai aktivitas seperti biasa. Jika si muslim jalan melewati warung makan, ibadah puasanya ga batal. Sedangkan NYEPI itu ibadah Hindu yang artinya berdiam di rumah, tidak melakukan aktivitas. Artinya, kalau si Hindu ini dipaksa kerja, maka ibadahnya BATAL.

Perbandingan kedua yang dipake orang ini: Menag tidak mau memerintahkan warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag juga memerintahkan mal untuk TIDAK PASANG POHON NATAL untuk menghormati mereka yang tidak Natalan. Nah ini lebih kacau lagi. Puasa Ramadhan kok diperbandingkan dengan POHON?! Emang orang Nasrani batal ya, Natalnya, kalau gak pasang pohon? Atau, orang Muslim jadi kafir kalau matanya melihat pohon Natal? Anggota DPR liat foto *teeeeet* saat sidang aja kayaknya kaga ada yang kafir2in, apalagi cuma liat pu’un  😀

Contoh kalimat yang menggunakan logika setara: Kalau Menag memerintahkan Bandara Bali (yang karyawannya diasumsikan mayoritas Hindu) buka di hari Nyepi, itu sama artinya Menag melarang Muslim puasa di bulan Ramadhan. Kalau Menag melarang umat Nasrani pasang pu’un Natal, itu sama artinya dengan Menag melarang Muslim pakai baju baru di hari ‘Id (sama-sama tidak bernilai ibadah, hanya ‘hiasan’ ibadah belaka).

Buat ibuk-ibuk, pelajaran logika dasar kayak gini musti diajarin ke anak sejak kecil, biar kalau gede ga bikin meme yang illogical kayak gini. Malu ah.

Continue reading

Supernova dan Perjalanan Memahami Tuhan

supernovaAwalnya begini, di pameran Bandung Islamic Book Fair dijual novel “Supernova” (Dee Lestari) dengan diskon 30% (di stand Mizan). Saya sudah lama mendengar novel ini, meski tak tahu tentang apa isinya. Semata-mata karena sangat terkenal, saya pun beli, untuk Kirana. Dan karena saya pikir isinya ‘aman’, tanpa saya baca dulu, saya serahkan ke Kirana (biasanya, ketika saya membelikan novel untuknya, jika saya tahu ada konten ‘dewasa’, saya baca dulu, lalu bagian yang ‘dewasa’ saya selotip, misalnya saat saya membelikan novel-novel Crichton atau Dan Brown).

Baru beberapa halaman awal, Kirana sudah komentar, “Ma, ini novel tentang gay?”

“Oya? Mama ga tau. Ya coba saja baca dengan kritis.”

Beberapa saat kemudian, “Ma, ini ceritanya tentang pelacur.”

O..owww.. Baiklah, saya ambil itu novel dan mulai membaca. Sial. Kirana sudah sampai pada kisah Diva yang melacurkan diri (dan diceritakan dengan cukup detil, sangat ga cocok untuk anak usia 14 tahun). Hiks, saya kesal sekali, dan kecewa. Kok bisa Mizan grup menerbitkan buku seperti ini?

Saya mencoba bersabar membaca sampai habis. Siapa tahu di akhir novel ada kesimpulan yang positif, setidaknya untuk muslim konvensional seperti saya. Ternyata tidak. Pasangan gay Dimas dan Reuben diceritakan dengan sangat ‘wajar’, mendorong pembaca untuk menilai bahwa ternyata kehidupan pasangan gay itu ‘biasa-biasa’ aja kok. Tak perlu jijik atau menyalahkan mereka. Tapi, saya rasa, kedua tokoh gay itupun tidak signifikan; kalau mereka diganti menjadi dua perempuan; dua kakak adik, atau siapa saja, tidak akan mengubah alur cerita. Jadi rasanya tidak salah kalau saya mengira bahwa memang tujuan Dee sekedar mengenalkan kehidupan sepasang gay, yang ternyata –konon- sehat lahir batin.

Perselingkuhan Rana dan Re (yang sampai ke tahap hubungan seksual) juga dikisahkan dengan sedemikian ‘alami’ (cinta bisa datang kapan saja kan? Kita ga bisa memilih.. konon demikian). Kalaupun ada rasa bersalah yang dialami oleh Rana dan Re, itu sekedar rasa bersalah karena melangkahi norma sosial (apalagi Rana sebenarnya sudah punya suami). Tapi cinta-nya sih seolah sesuatu yang sakral. Saya akui, Dee mampu menuliskan semua ‘percintaan’ itu dengan menawan dan di beberapa bagian percintaan antara Rana dan Re, saya sempat terharu-biru (ini sekedar bukti bahwa saya benar-benar berusaha ‘menikmati’ buku ini; bukan memandangnya semata-mata objek yang harus dikritisi).

Baiklah, tentu saya yang salah, membelikan roman dewasa untuk anak usia remaja, tanpa periksa dulu. (Tapi kan ini penerbit Islam..??? protes hati saya membela diri. Apalagi ada endorsment dari Taufiq Ismail segala).

Saya lalu mencoba mengira-ngira mengapa novel ini sedemikian laris. Saya baca-baca komentar orang di internet, kebanyakan memuji-muji diksi yang dipakai penulisnya, juga kecanggihannya mengangkat hal-hal berbau sains dan filsafat. Well, sekilas memang keren. Jujur saya juga agak kagum membayangkan betapa banyak buku sains dan filsafat yang sudah dilahap Dee (penulis); sekaligus salut pada kemampuannya merefleksikan kembali dengan kalimatnya sendiri di novel ini. Memahami pemikiran para filsuf Barat saja (demi kepentingan studi saya, HI, yang memang dibangun di atas fondasi filsafat Barat) saya setengah mati harus membaca pelan-pelan dan berulang-ulang (itupun bukan dari kitab aslinya), apalagi kalau musti mengisahkan kembali dalam sebuah novel, ga sanggup deh.

Dan, di titik inilah saya mikir lama. Menurut pembacaan saya, berbagai ulasan sains dan filosofis yang diuraikan Dee di sela-sela kisah roman dewasa (yang memberi makna ‘positif’ pada gay, perselingkuhan, dan pelacuran) sebenarnya pergulatan pikirannya untuk menemukan hakikat hidup dan hakikat Tuhan.

Continue reading