Supernova dan Perjalanan Memahami Tuhan

supernovaAwalnya begini, di pameran Bandung Islamic Book Fair dijual novel “Supernova” (Dee Lestari) dengan diskon 30% (di stand Mizan). Saya sudah lama mendengar novel ini, meski tak tahu tentang apa isinya. Semata-mata karena sangat terkenal, saya pun beli, untuk Kirana. Dan karena saya pikir isinya ‘aman’, tanpa saya baca dulu, saya serahkan ke Kirana (biasanya, ketika saya membelikan novel untuknya, jika saya tahu ada konten ‘dewasa’, saya baca dulu, lalu bagian yang ‘dewasa’ saya selotip, misalnya saat saya membelikan novel-novel Crichton atau Dan Brown).

Baru beberapa halaman awal, Kirana sudah komentar, “Ma, ini novel tentang gay?”

“Oya? Mama ga tau. Ya coba saja baca dengan kritis.”

Beberapa saat kemudian, “Ma, ini ceritanya tentang pelacur.”

O..owww.. Baiklah, saya ambil itu novel dan mulai membaca. Sial. Kirana sudah sampai pada kisah Diva yang melacurkan diri (dan diceritakan dengan cukup detil, sangat ga cocok untuk anak usia 14 tahun). Hiks, saya kesal sekali, dan kecewa. Kok bisa Mizan grup menerbitkan buku seperti ini?

Saya mencoba bersabar membaca sampai habis. Siapa tahu di akhir novel ada kesimpulan yang positif, setidaknya untuk muslim konvensional seperti saya. Ternyata tidak. Pasangan gay Dimas dan Reuben diceritakan dengan sangat ‘wajar’, mendorong pembaca untuk menilai bahwa ternyata kehidupan pasangan gay itu ‘biasa-biasa’ aja kok. Tak perlu jijik atau menyalahkan mereka. Tapi, saya rasa, kedua tokoh gay itupun tidak signifikan; kalau mereka diganti menjadi dua perempuan; dua kakak adik, atau siapa saja, tidak akan mengubah alur cerita. Jadi rasanya tidak salah kalau saya mengira bahwa memang tujuan Dee sekedar mengenalkan kehidupan sepasang gay, yang ternyata –konon- sehat lahir batin.

Perselingkuhan Rana dan Re (yang sampai ke tahap hubungan seksual) juga dikisahkan dengan sedemikian ‘alami’ (cinta bisa datang kapan saja kan? Kita ga bisa memilih.. konon demikian). Kalaupun ada rasa bersalah yang dialami oleh Rana dan Re, itu sekedar rasa bersalah karena melangkahi norma sosial (apalagi Rana sebenarnya sudah punya suami). Tapi cinta-nya sih seolah sesuatu yang sakral. Saya akui, Dee mampu menuliskan semua ‘percintaan’ itu dengan menawan dan di beberapa bagian percintaan antara Rana dan Re, saya sempat terharu-biru (ini sekedar bukti bahwa saya benar-benar berusaha ‘menikmati’ buku ini; bukan memandangnya semata-mata objek yang harus dikritisi).

Baiklah, tentu saya yang salah, membelikan roman dewasa untuk anak usia remaja, tanpa periksa dulu. (Tapi kan ini penerbit Islam..??? protes hati saya membela diri. Apalagi ada endorsment dari Taufiq Ismail segala).

Saya lalu mencoba mengira-ngira mengapa novel ini sedemikian laris. Saya baca-baca komentar orang di internet, kebanyakan memuji-muji diksi yang dipakai penulisnya, juga kecanggihannya mengangkat hal-hal berbau sains dan filsafat. Well, sekilas memang keren. Jujur saya juga agak kagum membayangkan betapa banyak buku sains dan filsafat yang sudah dilahap Dee (penulis); sekaligus salut pada kemampuannya merefleksikan kembali dengan kalimatnya sendiri di novel ini. Memahami pemikiran para filsuf Barat saja (demi kepentingan studi saya, HI, yang memang dibangun di atas fondasi filsafat Barat) saya setengah mati harus membaca pelan-pelan dan berulang-ulang (itupun bukan dari kitab aslinya), apalagi kalau musti mengisahkan kembali dalam sebuah novel, ga sanggup deh.

Dan, di titik inilah saya mikir lama. Menurut pembacaan saya, berbagai ulasan sains dan filosofis yang diuraikan Dee di sela-sela kisah roman dewasa (yang memberi makna ‘positif’ pada gay, perselingkuhan, dan pelacuran) sebenarnya pergulatan pikirannya untuk menemukan hakikat hidup dan hakikat Tuhan.

“Pernahkah kamu merasa kita semua terlahirkan ke dunia dengan membawa tanda tanya agung? Tanda tanya itu tersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, sehingga seolah-olah misi hidupnya pun hanya untuk menjawab tanda tanya itu.” (hal 67)
[…]
“T-tapi, apa yang dipertanyakan?”
“Diri-Nya sendiri.” (hal 68)

Baiklah. Pertanyaan saya, untuk diri saya sendiri, mengapa sih saya tidak terlalu banyak bertanya soal Tuhan? Buat saya, dunia ini, juga Tuhan, sederhana saja. Saya tak perlu bersusah payah membaca berbagai buku filsafat yang berat-berat itu. Tak merasa perlu paham paradoks Einstein-Podolsky-Rosen, Kupu-Kupu Lorenz, Dualitas Elektron, Paradoks Kucing Schrodinger…. (hal 9), hanya untuk “sekedar” memahami dunia. Atau, saya tak merasa perlu mencoba ‘mencerna semesta’ dengan cara Reuben:

Inspirasi halus yang hinggap di sukmanya telah mengamplifikasi seluruh sistem pemahaman yang ia miliki, menjadikan keping-keping teori yang selama ini terpecah-pecah tiba-tiba terekat menjadi satu. Dan, di tengah ruang tamu itu, sekelumit rahasia semesta terungkap di depan matanya. (hal 7)
[..]
Ruben tertawa lebar. Ternyata hidup ini cair. Terus berjalan tanpa putus bagaikan ombak soliton mengarungi samudera, dan ia berada di tengah-tengahnya. Mata Badai. (hal 8)

Lalu, menyimpulkan:

Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah Ada.Terus bergerak, berekspansi, berevolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadi batu di arus ini, yang menginginkan kepastian ataupun ramalan masa depan karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi. (hal 8)

Sebentar. Untuk “Tuhan” memang betul kalimatnya: Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah Ada. Tapi untuk kefanaan? Bukankah selalu ada awal dan akhir? Bukankah ada kepastian yang harus dipegang manusia, yaitu keberadaan Tuhan, surga, dan neraka? Mengapa orang-orang begitu rumit untuk memahami ini; begitu panjang dan berliku jalan yang ditempuh, tapi ujung-ujungnya menafikan kepastian? Merelatifkan segalanya?

Saya merasa ada yang salah dalam diri saya. Mengapa saya merasa pembahasan sains-filosofis ruwet ala Dee itu buang-buang waktu saja? Apakah saya ini tipe orang yang malas berpikir?

Jadi saya pun bertanya pada si Akang, yang seperti biasa, selalu menjadi pelabuhan saya menyandarkan semua keluh dan tanya *e ciee… ini sih kalimat abis baca novel roman*

“Lho, siapa bilang Mama tidak berpikir filosofis? Bukankah kita bahkan memulai ‘perjalanan’ ini dengan cara yang sangat radikal: ‘meniadakan’ Tuhan terlebih dahulu, dan kemudian ‘menemukan’ bahwa Tuhan itu harus ada, tak mungkin tidak ada. Dan konsekuensi keberadaan Tuhan adalah adanya Nabi, adanya Quran, adanya aturan-aturan-Nya, dst…”

“Ya, tapi itu tidak panjang kan, mikirnya? Untuk memahami itu, dulu aku cuma ikut satu sesi mentoringnya si *** (teman sesama mahasiswa). Gak perlu aku baca buku yang rumit-rumit. Kupikir, orang-orang hebat pastilah memikirkan Tuhan dan semesta dengan cara yang rumit,” jawab saya.

“Ah apa semua demikian? Pak Habibie? Rasanya dia tidak pernah bicara rumit-rumit soal Tuhan, hidup, dan semesta. Kita juga baca-baca berita tentang para ilmuwan nuklir Iran yang relijiusitas -dalam makna yang sangat konvensional- justru menjadi motor penggerak utama mereka dalam bekerja.”

[saya jadi teringat pada seorang ilmuwan Iran, doktor lulusan Amerika, yang kami kenal secara pribadi, dia bekerja di “NASA”-nya Iran; bolak-balik ke Jenewa, dia memang sangat relijius, taat menjalankan ibadah agama, menghindari tatapan mata dg perempuan non-muhrim, tidak bersalaman dg perempuan non-muhrim, hafidz beberapa juz Al Quran].

“Lalu, mengapa aku menemukan ‘kepastian’ dan merasa tenang, tanpa perlu mikir yang ruwet-ruwet, sementara ada sangat banyak orang yang begitu rumit memandang hidup ini?”

“Allamah Tabatabai pernah menulis, bahwa untuk mencari ilmu hakiki, ada jalan termudah, yaitu mendatangi mata air. Namun ada orang yang bersusah payah menggali sampai dalam, hanya untuk mencari mata air itu. Dia tidak mau keluar dari sumurnya, lalu berjalan sedikit dan langsung bertemu dengan sumber ilmu. Mungkin saja, dengan bersusah-payah itu, dia menemukan yang dicari; bisa juga dia tidak menemukan apa-apa.“

“Mama ingat ayat yang dulu dihafal Kirana dan Reza saat masih balita? Falyandzuril insaanu ilaa tha’aamihi.. Ada mufassir yang menulis bahwa makna lain dari ‘tha’am’ (makanan) dalam ayat ini adalah makanan jiwa, yaitu ilmu, dan itu berarti buku bacaan. Manusia perlu memperhatikan apa yang dibacanya. Tidak semua yang tertulis akan membawa kita pada kebenaran hakiki. ..”

“Ketika kita langsung mendapatkan ilmu dari mata airnya, rute perjalanan kita ‘mencapai’ Tuhan menjadi sangat jelas;  kita ini masih di level sangat dasar, tapi kita tahu tujuan akhirnya, yaitu ‘mencintai’-Nya (meleburkan diri dalam semua kehendak-Nya); tidak lagi di level menerka-nerka dimana Dia dan apa yang sesungguhnya Dia inginkan. Dan para ulama ‘irfan sudah memberikan contoh bahwa tahap cinta itu tidak mungkin dicapai bila kita mengabaikan hal paling elementer dalam beragama, yaitu pengamalan syariat-Nya.”

Baiklah, ini ‘perjalanan’ saya. Saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa, tidak pula merasa lebih hebat dan paling benar. Bila orang lain dianggap sah untuk merelatifkan segalanya; saya berhak juga dong meyakini kepastian untuk hal-hal tertentu dalam hidup ini.

Kembali ke novel. Agaknya saya sudah menemukan solusinya. Novel ini akan saya simpan saja. Sementara waktu, Kirana akan saya ajak untuk memandang semesta dengan cara saya, cara sederhana saja. Dan kelak, ketika dia membaca novel itu sampai selesai, semoga dia menjadi pembaca yang terbuka pada pikiran-pikiran liar, namun tetap kritis dan tidak terhanyut oleh kata-kata yang memukau tapi menyeretnya untuk merelatifkan segala hal. Dan semoga kelak dia membacanya dengan keheranan yang sama dengan saya: mengapa harus menempuh perjalanan panjang, jika ada jalan yang jauh lebih singkat untuk memahami dunia ini?

NB: Menanggapi kritikan saya ini, Kirana berkata, “Tapi aku tetep ingin baca novelnya Dee, Mama. Aku ingin mempelajari kalimat-kalimatnya, kelihatannya bagus. Tolong carikan novelnya yang lain, yang aman buatku ya?” Oh, oh, berarti saya harus baca-baca novel kayak gini lagi dong… hiks, padahal ada banyak text book HI yang harus segera saya selesaikan bacanya untuk keperluan disertasi. Adakah yang bisa memberikan saran, buku Dee mana yang tidak ada adegan seks-nya?

Advertisements

9 thoughts on “Supernova dan Perjalanan Memahami Tuhan

  1. Buku dee yg cocok buat remaja ada perahu kertas, madre, filosofi kopi dan rectocverso. Supernova emang cukup berat tp menurut saya brilian.

  2. jadi pengarangnya mendapatkan dan menggunakan teori2 alam secara ngawur Bu? sy belum pernah baca, tp ulasan2nya saja, …. berbeda dg ‘Dunia Sophi’ dong…
    Mizan berubah arah?

    • hm, saya tidak mengatakan ngawur.. saya bahkan tidak bisa menilai benar/tdk-nya. Cuma, dari perspektif saya, pengarang terlihat mengarungi perjalanan panjang utk memahami semesta; dan ujungnya adalah relativitas. Sementara saya meyakini bhw ujung dari sebuah perjalanan ruhani justru harusnya kepastian.

  3. Untuk anak 14 thn, bisa mulai dengan Perahu Kertas, lalu kumcer seperti Filosofi Kopi, Madre, Rectoverso. Untuk Supernova bisa baca yg episode Petir. Serial Supernova pada khususnya memang ditujukan utk rentang usia di atas 18 thn (dewasa). Semoga membantu.
    PS. Buku2 saya diterbitkan oleh Bentang Pustaka, yg merupakan anak perusahaan Mizan yg bergerak di bidang fiksi kontemporer, jadi segmen buku2nya berbeda “flavor” dg Mizan Publishing. Jadi, memang tdk bisa disandingkan sepenuhnya dengan buku2 religius khas Mizan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s