Logika Warung (Part I & II)

Ini copas dari status saya di FB

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Balik lagi ke soal buka warung saat Ramadhan. Ada yang bikin meme ini. Sekilas seolah benar, tapi sebenarnya salah. Mari kita bahas.

Dalam khasanah ilmu mantiq (logika), ada yang disebut ‘mughalathath’ (logical fallacy/ kesalahan logika). Salah satu bentuk kesalahan logika adalah “qiyas ma’al faariq” (menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang lain, tapi tidak setara). Jika kita mau berpikir logis, gunakan analogi yang setara. Gunanya apa sih, berpikir logis itu? Tentu saja supaya kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan yang benar.

Coba perhatikan kalimat ini, “Kamu ini sudah gedhe ga bisa brenang, malu dong sama ikan, sejak bayi udah mahir brenang!” Logis gak? Enggaklah; kalimat tsb pake “qiyas ma’al fariq”.

Nah, logika fals yang dipakai di meme ini adalah: Menag tidak mau memerintahkan warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag memerintahkan Bandara Bali BUKA DI HARI NYEPI untuk menghormati mereka yang tidak beribadah Nyepi. Jadi, yang dibandingkan adalah Warung+PUASA RAMADHAN dan bandara+NYEPI. Ini ga setara bro. PUASA di bulan Ramadhan itu ‘hanya’ gak makan-minum-seks. Tapi kerja mah tetep atuh lah, kita tetap melakukan berbagai aktivitas seperti biasa. Jika si muslim jalan melewati warung makan, ibadah puasanya ga batal. Sedangkan NYEPI itu ibadah Hindu yang artinya berdiam di rumah, tidak melakukan aktivitas. Artinya, kalau si Hindu ini dipaksa kerja, maka ibadahnya BATAL.

Perbandingan kedua yang dipake orang ini: Menag tidak mau memerintahkan warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag juga memerintahkan mal untuk TIDAK PASANG POHON NATAL untuk menghormati mereka yang tidak Natalan. Nah ini lebih kacau lagi. Puasa Ramadhan kok diperbandingkan dengan POHON?! Emang orang Nasrani batal ya, Natalnya, kalau gak pasang pohon? Atau, orang Muslim jadi kafir kalau matanya melihat pohon Natal? Anggota DPR liat foto *teeeeet* saat sidang aja kayaknya kaga ada yang kafir2in, apalagi cuma liat pu’un  😀

Contoh kalimat yang menggunakan logika setara: Kalau Menag memerintahkan Bandara Bali (yang karyawannya diasumsikan mayoritas Hindu) buka di hari Nyepi, itu sama artinya Menag melarang Muslim puasa di bulan Ramadhan. Kalau Menag melarang umat Nasrani pasang pu’un Natal, itu sama artinya dengan Menag melarang Muslim pakai baju baru di hari ‘Id (sama-sama tidak bernilai ibadah, hanya ‘hiasan’ ibadah belaka).

Buat ibuk-ibuk, pelajaran logika dasar kayak gini musti diajarin ke anak sejak kecil, biar kalau gede ga bikin meme yang illogical kayak gini. Malu ah.

PART II

Karena sepertinya banyak yang ‘penasaran’, saya merasa perlu melanjutkan kuliah logika soal warung grin emoticon Berikut ini intisari sanggahan-sanggahan yang masuk ke inbox dan jawaban saya. [T: tanya J: jawaban Dina]

1. T: Yang Anda tulis itu benar, tapi Anda mengaburkan esensi utama masalah. Masalah utamanya yaitu perintah Menag agar orang yg berpuasa menghormati yg tidak berpuasa, ini juga logika amburadul. Mungkin maksud yg membuat meme, membandingkan dalam hal aturan toleransi beragama.

J: a. Silahkan dicek langsung ke twitter Menag, apa kalimat dia yang asli (jangan ‘kata orang’); lalu kritisi kesalahannya dimana. Logika amburadulnya dimana? Kalau bicara logika, tidak pakai ‘perasaan’ ya, tanggapi dengan kalimat logis.
b. Apa niat si pembuat meme, bukan urusan saya. Yang saya kritisi, kalimat dalam meme tersebut.

2. T: Jika liburnya bandara di hari raya Nyepi agar tidak merusak ibadah umat Hindu, bagaimana dengan karyawan muslim di hari Id atau Jum’at? Teman saya banyak yang tidak diberi kesempatan libur pada hari dan jam itu, sehingga terpaksa tidak sholat Id dan sholat Jum’at.
J: Ya, ini bisa dibuat analogi yang logis yang sangat layak kita ajukan tuntutan ke pemerintah. Kalau umat Hindu di Bali diberi hak menghentikan segala aktivitas warga di Hari Nyepi, umat Muslim harus diberi hak libur pada Hari Eid, dan diberi kesempatan melaksanakan sholat Jumat.

3. T: Jika pohon natal ibarat baju baru maka pohon natal itu silahkan pajang di rumah ibadah dan tempat yang semestinya, sebagaimana orang muslim memakai baju baru di badannya, tidak dipakaikan ke orang lain yang non muslim. Tapi saya temukan banyak karyawan muslim yang di wajibkan memakai atribut natal saat mereka bekerja, terutama di mall dsb.
J: Saya tidak bilang pohon Natal “ibarat” baju baru; tapi meletakkan keduanya dalam posisi sama-sama “bukan ibadah” melainkan “hiasan”. Kalau pohon Natal di mall dilarang dan hanya boleh dipasang di gereja; berarti Anda terpaksa setuju bila disebutkan “atribut Lebaran di mall dilarang, pasang saja di rumah atau masjid.”

Soal karyawan mall diwajibkan pakai atribut Natal (topi Natal): apakah pakai topi Natal menyebabkan kekafiran? Topi Natal bukan ibadah, sebagaimana baju koko juga bukan ibadah. Itu sama-sama budaya. Orang Nasrani tidak wajib pakai topi Natal, sebagaimana Muslim juga tidak wajib pakai baju koko. Banyak juga non-Muslim di sebuah perusahaan pakai baju koko di hari Raya, misalnya penyiar tivi yang siaran di hari raya. Apa mereka jadi masuk Islam gara-gara pakai baju koko? Ini beda dengan jilbab, yang bernilai ‘ibadah’ (syariat/ wajib bagi Muslimah), sehingga Mall yang mewajibkan karyawatinya buka jilbab layak dituntut melakukan pelanggaran HAM.

4. T: Bukankah warung makan di tempat mayoritas muslim dan berpuasa patut untuk dibatasi kebebasannya, sebagaimana bandara yang ditutup karena ke-mayoritas-an, umat hindu walaupun sedikit memberi beban kepada “minoritas”?
J: Analogi Anda salah, karena perbandingan antara PUASA Ramadhan dan NYEPI tidak setara. Dalam berlogika, definisi itu PENTING. Apa definisi puasa Ramadhan, dan apa definisi Nyepi? Puasa Ramadhan adalah menahan diri dari makan, minum, seks, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Nyepi adalah berdiam di rumah, tidak melakukan aktivitas apapun. Karena itu, adanya warung yang buka saat Ramadhan tidak membatalkan puasa si Muslim. Sedangkan Nyepi, kalau si Hindu dipaksa bekerja, berarti dia tidak Nyepi lagi. Sehingga wajar kalau Pemda Bali memberikan sejumlah aturan agar ibadah Nyepi bisa dilaksanakan (misal, bandara ditutup; tapi rumah sakit tetap buka). Kalau warga tidak setuju, tentu bisa menggugat ke DPRD, misalnya.

Ini kuliah tambahan dari saya: Logika hanya akan menjadi lurus seandainya persyaratannya terpenuhi, yaitu: premis mayor dan minornya harus benar secara logis. Dalam ilmu mantiq, ini disebut ‘misdaq”.
Premis mayor: setiap hal yang setara bisa dianalogikan (di-qiyas-kan)
Premis minor: A dan B setara
Kesimpulan: A dan B bisa dianalogikan

Nah, kesalahan terbesar dari para FB-er yang mengirim inbox sanggahan ke saya adalah: ‘misdaq’-nya tidak benar (bahkan ada yg mengajak saya mendiskusikan masalah teologis segala, atau melakukan argumentum ad hominem :D) sehingga kesimpulan yang diambil juga salah (baca ulang poin 4).  [Baca: Logika Warung For Kids]

begini kalimat asli Menag, perhatikan kata DIPAKSA dan kata JUGA ['juga' bermakna 'saling'] (klik untuk memperbesar)

begini kalimat asli Menag, perhatikan kata DIPAKSA dan kata JUGA [‘juga’ bermakna ‘saling’]
(klik untuk memperbesar)

Advertisements

2 thoughts on “Logika Warung (Part I & II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s