[Homeschooling] Matematika dan Quran

MATEMATIKAUntuk tahun ajaran baru ini, saya membuatkan jadwal kegiatan harian baru buat Reza (9 tahun). Simpel saja:

  1. Hafalan Quran
  2. Terjemahan Quran
  3. Matematika
  4. Sains/IPS/English (boleh pilih)
  5. Menulis

Saya sengaja tidak membuatkan jam-nya, flexible saja. Sebabnya, saya bukan orang yang bisa ketat pada jam (ada saja aktivitas dadakan, jadi buat apa memaksakan diri). Sisa waktu yang ada, Reza sudah punya aktivitas sendiri, mulai dari menggambar komik (dan sepertinya inilah yang mengisi pikirannya setiap hari, sepanjang hari), bikin craft, masak, nonton DVD bareng (dan didiskusikan), main game (maksimal 20 menit sehari), dll.

MATEMATIKA

Saya melihat memang baru sekarang Reza “merasa perlu” belajar matematika. Sebelumnya dia males-malesan aja. Pernah saya leskan, cuma bertahan dua minggu, lalu mulai banyak alasan (menunjukkan bahwa dia nggak minat, ya udah buat apa dipaksa). Saya juga daftarkan ke program belajar online ixl.com, angin-anginan.

Nah, tiba-tiba saja, dia memilih buku di tumpukan bukunya yang banyaaaak itu (sampai bingung gimana menyusunnya dengan rapi): buku Ringkasan Matematika SD karya Ir. Koeshartati Saptorini. Dia bilang gini, “Ma, belajar pake buku ini aja, aku sudah baca, aku ngerti! Dan ga ada latihan soalnya!”

Aha, ada beberapa poin yang saya simpulkan dari perkataan Reza:

-minat belajarnya matematika-nya sudah tumbuh (buktinya, dia sudah belajar sendiri tanpa setahu saya)… artinya, sudah tiba waktunya untuk belajar ‘serius’ bersama Reza (serius = terstruktur, benar-benar mengikuti panduan kurikulum, dan ada evaluasi belajar; kalau selama ini kan belajar sambil main saja)

-bukunya bagus, buktinya dipuji sama Reza, hehe (Saya juga merasa mudah mengikuti panduannya.)

-Reza keliatan tidak suka pada buku yang ada latihan soalnya (mungkin trauma sama lesnya dulu yang banyak PR). Ga masalah, kan saya bisa bikinin soal-soal sendiri (tinggal ikuti contoh-contoh soal di buku tersebut).

Alhamdulillah, saya jadi lega. Sebelumnya, meskipun berusaha kalem, tapi saya ya tetep ibuk-ibuk biasa yang resah liat anak sendiri setiap hari kerjanya gambar komik, baca buku, ngutak-atik photoshop&pivot, pura-pura jadi detektif, dll (ga mau disuruh belajar “serius’). Tentu, secara “sambil lalu”, saya tetap mengajak Reza menghafal perkalian, atau kadang-kadang jawab soal di buku kumpulan soal.

Saya bisa kalem karena percaya, belajar yang efektif adalah bila muncul kemauan dari diri si anak. Asal kata “murid” kan “arada” atau “iradah” (bhs Arab, artinya: kemauan/kehendak). Jadi, seorang murid adalah seorang yang memiliki KEMAUAN atau KEHENDAK dari dalam dirinya untuk belajar. Ortu bertugas menstimulasi agar kemauan itu muncul. Gimana caranya? Antara lain dengan mengajaknya diskusi dalam setiap kesempatan, memberinya buku-buku bagus yang kira-kira bisa menginspirasinya, dll.

TERJEMAHAN QURAN

Untuk terjemahan Quran, kami sudah uji coba selama bulan Ramadhan yll, mengajari Rana dan Reza menerjemahkan ayat-ayat Quran kata per kata. Dan ajaib, di luar dugaan kami, mereka bisa cepat paham dan bisa (tentu sebatas yang sudah dipelajari). Saya menggunakan metode Alwani yang diciptakan oleh Pak Faizal Fahri. Jadi, kami membaca halaman-halaman Quran di layar laptop. Yang lebih menyenangkan lagi metode penerjemahan al Qur’an ini menggunakan bantuan warna-warna, sehingga lebih memudahkan bagi para pemula.

Dasar metodenya sebenarnya sederhana, tanpa ngasih teori-teori apapun, langsung terjemahkan kata per kata, kasih contoh, lalu suruh anak mengulangi. Dimulai dari Al Fatihah, lalu masuk ke Albaqarah. Seiring waktu, kosa kata anak bertambah banyak, grammar-nya pun terpelajari sambil jalan. Contohnya begini:

Dzalikal: itulah

Kitaabu: kitab

Laa: tidak ada

Raiba: keraguan

Fiihi: di dalamnya

Cuma, untuk mengajarkannya, ortu memang perlu mengerti dasar-dasar bahasa Arab juga (atau mampu menerjemahkan Quran). Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ibu saya yang sudah tua, ternyata juga bisa menerjemahkan tuh. Ibu saya mulai belajar menerjemahkan Quran pada usia tua (ketika anak-anaknya sudah kuliah); beliau belajar menerjemahkan Quran kata-per-kata dari ustadz di majelis taklim, sekali sepekan. Oiya, biar anak ga boring, sambil menerjemahkan, ortu perlu mengajak diskusi tentang ayat yang dipelajari.

Sekian catatan saya, semoga menginspirasi ibuk-ibuk sekalian 🙂