Kebaikan Hati

foto: julettemillien.com

foto: julettemillien.com

Reza (9th): “Mama, Nobita itu kan bodoh, penakut, cengeng… tapi sekarang aku tahu kelebihannya.”

Mama: “Apa?”

Reza: “Hatinya baik, dia menghibur orang-orang yang putus asa…”

Saya jadi teringat salah satu dialog dalam film Stand By Me Doraemon, ayah Shizuka menyadari bahwa calon mantunya itu (si Nobita) memang ‘payah’, tapi… hatinya baik. Hm, istimewa ya, calon mertua yang lebih memilih ‘kebaikan hati’ dibanding karir, kekayaan, dan sejenisnya?

Kebaikan hati, kata Dr Gottman (pakar pernikahan), ternyata kunci utama dari sebuah pernikahan yang kuat dan sehat. Kebaikan hati membuat pasangan merasa disayang, diperhatikan, dipahami, dan diterima. Kebaikan hati adalah “lawan” (antitesis) dari hinaan, kritikan, dan kekasaran. Jadi, pasangan yang baik tidak akan menghina, mengkritik, apalagi berlaku kasar. Menurut penelitian, penghinaan adalah penyebab utama terjadinya perceraian.

Pasangan yang baik hati adalah orang yang mampu menyampaikan ketidaksetujuan atau kemarahannya dengan baik; selalu berbaik sangka, dan tahu berterima kasih (bersyukur).

Dan yang perlu dicatat, kebaikan itu seperti otot: semakin dipraktekkan, semakin kuat kita mampu berbaik hati. Dan semakin kita baik pada pasangan, pasangan pun akan semakin termotivasi untuk membalas kebaikan itu.

Seperti kata Juliet, “My love as deep; the more I give to thee / The more I have, for both are infinite.”

Petuah Dr John Gottman bisa dibaca selengkapnya di sini: http://www.theatlantic.com/…/…/06/happily-ever-after/372573/

Advertisements