Nak, Allah Selalu Melihat Kita!

Tidakkah dia mengetahui
bahwa sesungguhnya Allah melihat?

Rasanya, semua orang berakal sehat pasti paham, korupsi adalah kejahatan yang berdampak panjang bak lingkaran setan. Ilustrasinya begini. Ketika si Fulan yang demi mendapatkan proyek pembangunan jalan harus membayar suap kepada beberapa pejabat, ia akan mengurangi  takaran semen atau aspal. Dalam hitungan bulan, jalan itu pun berlubang. Lalu Pak Budi yang sedang berangkat ke kantor dengan mengendarai motor, terpelanting saat melewati lubang tersebut. Ia tewas. Anak-anaknya pun yatim. Mereka tumbuh menjadi orang-orang tak berpendidikan, lemah fisik, dan hidup miskin. (Tapi, bukahkan negara ini kaya raya, mengapa tidak dialokasikan dana untuk kesehatan dan pendidikan gratis? Masalahnya, pendapatan negara yang seharusnya sangat banyak itu, digerogoti “tikus” (koruptor) di sana-sini, yang tersisa untuk rakyat hanya sedikit.)

Anak-anak Pak Budi (alm) kemudian menikah, punya anak, dan anak-anak itu pun tumbuh tanpa kehidupan yang layak. Atau, mungkin mereka nekad melakukan perampokan, dan merenggut nyawa seseorang. Orang yang tewas ini juga punya anak-istri, dan entah bagaimana nasib mereka kemudian. Dan seterusnya.

Intinya, dampak buruk korupsi tidak berhenti pada satu orang, atau satu generasi, melainkan berlapis-lapis, meluas, sambung-menyambung ke generasi berikutnya, bila ada tidak ada upaya menggunting lingkaran setan ini.

Ada banyak teori yang sudah disampaikan para pakar tentang cara pemberantasan korupsi. Namun, ada satu pertanyaan menohok yang disampaikan oleh seorang guru parenting saya. Pertanyaan yang sepertinya menjadi dasar utama dari upaya pencegahan korupsi.

Continue reading

[Parenting] Mengajarkan Islam yang Welas Asih

compassion-wordSebuah riset menemukan, “Anak-anak dari keluarga religius secara umum lebih tidak ramah dan bersifat menghakimi dibanding anak-anak dari keluarga yang tak religius.”

Riset ini dilakukan sejumlah akademisi dari tujuh universitas di seluruh dunia yang mempelajari anak-anak yang beragama Kristen, Islam dan anak-anak yang kurang religius untuk untuk menguji hubungan antara agama dan moralitas. Mungkin ada bantahan ini-itu. Tapi ada baiknya kita kembali menengok ke dalam diri sendiri.

Konflik di Timur Tengah yang semakin hari semakin memanas seolah menampilkan sebuah wajah Islam yang kelam. Selain aksi bom bunuh diri yang seolah dianggap ‘lazim’ dilakukan oleh para teroris berlabel Islam di berbagai negara, kita disuguhi parade kebencian yang akut hingga ke level yang paling mengerikan, seperti menggorok leher, mutilasi mayat, atau memakan jantung mayat yang direkam dan diperlihatkan dengan bangga oleh para pelakunya.

Inikah wajah Islam sejati? Pastinya, setiap muslim yang berhati nurani akan menjawab TIDAK. Lalu, mengapa semua ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya?

Karen Amstrong, seorang pemikir kelas dunia yang telah menulis banyak buku tentang sejarah dan dialog agama-agama, menulis bahwa esensi Islam dan berbagai agama samawi lainnya, adalah cinta dan welas asih (compassion). Esensi ini semakin hari semakin terkubur, namun selalu ada semangat dari segelintir orang untuk menggali dan mengartikulasikannya kembali.

Compassion, menurut Amstrong, adalah sesuatu yang sejatinya ada dalam diri manusia. Sikap welas asih berbeda dengan feeling (perasaan) yang biasanya fluktuatif. Kita bisa menyayangi seseorang detik ini, namun di saat yang lain, kita bisa berbalik membencinya dengan berbagai alasan, bahkan alasan yang irrasional sekalipun. Namun sikap welas asih adalah sesuatu yang selalu ada, dalam kondisi apapun, kepada siapapun, bahkan termasuk kepada musuh sekalipun. Menurut Amstrong welas asih adalah bagaikan sikap seorang ibu terhadap bayi yang dilahirkannya, akan selalu ada, meski si anak melakukan hal-hal yang melukai hati sang ibu.

Compassion bisa tumbuh ketika manusia berhasil menekan egonya dan lebih mementingkan sesama. Di balik segala bentuk kekerasan yang muncul sepanjang sejarah atas nama Islam, justru Islam sesungguhnya adalah agama yang segenap ajarannya bertujuan untuk menumbuhkan sikap compassion dalam diri individu.

Amstrong mencontohkan ajaran sholat. Ketika Nabi Muhammad mengajak umatnya untuk bersujud, meletakkan kening di tanah, di sisi Ka’bah, pada saat itu sebenarnya beliau mengajak umatnya untuk melepas ego dan menyadari bahwa manusia adalah hamba Allah dan semua manusia sama-sama hamba sahaya, sama-sama makhluk lemah di hadapan Allah. Lalu, ajaran zakat. Ketika zakat diwajibkan dengan besaran tertentu, maka zakat menjadi semacam paksaan kepada manusia untuk melepas ego dan rasa cinta pada harta. Zakat berbeda dengan infaq yang bisa fluktuatif, bergantung feeling manusia.

Amstrong juga merefleksikan kisah Hijrah di masa Rasulullah sebagai sebuah ajaran untuk keluar dari ke-aku-an menuju ke-kita-an. Pada masa itu, tradisi kesukuan sangat kental di jazirah Arab. Mereka rela saling membunuh demi membela kehormatan suku dan garis darah. Lalu Rasulullah mengajak umatnya untuk berhijrah, membaur bersama suku-suku yang lain, dan membangun sebuah masyarakat yang egaliter.

Lalu, siapakah muslim yang tak pernah membaca kisah Perjanjian Hudaibiyah yang dijalin antara Rasulullah dengan kaum musyrik Makkah? Namun, Amstrong telah menjelaskan esensinya dengan sangat indah (dan Amstrong menyatakan bahwa inilah kisah favoritnya). Rasulullah mengajak umatnya di Madinah untuk berhaji ke Makkah, tanpa membawa senjata. Bagaimana mungkin perjalanan menuju markas musuh dilakukan tanpa membawa senjata untuk membela diri? Tapi itulah yang dilakukan oleh Rasulullah yang memang selalu membawa pesan cinta dalam setiap langkahnya.

Lalu, ketika orang-orang Makkah menghalangi masuknya rombongan haji ke Makkah, dilakukanlah negosiasi dan ditandatanganilah Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini sangat luar biasa dari sisi compassion dan menunjukkan betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat welas asih dan telah melepaskan egonya secara total. Beliau sendiri yang mencoret kata ‘Rasulullah’ dalam naskah perjanjian itu, karena negosiator dari Makkah menolak adanya kata itu.

Yang ada dalam diri Rasulullah hanyalah cinta. Sama sekali tak ada rasa ego dan ketersinggungan saat gelar yang valid dan disematkan langsung oleh Allah SWT itu harus dicoretnya sendiri (dalam naskah perjanjian itu). Gara-gara perjanjian yang sepintas tak adil itu, Nabi Muhammad dikecam oleh sahabat-sahabatnya sendiri. Namun beliau bersabar. Terbukti dua tahun kemudian, welas asih dan cinta Rasulullah-lah yang terbukti ‘menang’, dengan masuknya kaum muslimin secara bebas ke Makkah. Welas asih, pada akhirnya akan membawa kemenangan.

Continue reading

Bagaimana Cara AS Mendirikan Al Qaida/ISIS?

Kajian Timur Tengah

Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.

====

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.” (browsing aja, itu status dicopas pkspiyungan).

Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan…

View original post 495 more words

Ketika ISIS Sudah Masuk ke Kamar Kita

bocah isis2Dalam sebuah tulisannya, seorang dosen Fikom Unpad mengeluhkan framing media Barat dalam memberitakan aksi terorisme di Paris. Menurutnya, “Belum genap sehari pengeboman dan penembakan Paris terjadi, tapi berbagai media sudah menyebut satu kelompok Muslim sebagai pelaku teror.” Kelompok muslim yang dimaksudnya tentu saja “ISIS”, karena memang ISIS-lah yang disebut-sebut dalam pemberitaan terkait teror Paris.

Analisis model ini sangat mudah ditemukan. Semua salah Barat. Benar, media Barat memang sudah berkali-kali melakukan ‘framing’ yang menyudutkan kaum Muslimin. Bahkan lebih parah lagi, menyebarkan kebohongan yang membuat AS akhirnya mendapatkan persetujuan publik untuk menyerbu dan menduduki Irak. Atau membuat Dewan Keamanan PBB menyetujui serangan NATO ke Libya. Jadi, menyalahkan media Barat sebenarnya cerita basi (dan media Barat pun sepertinya tak peduli). Melihat perkembangan akhir-akhir ini, saya rasa ada yang lebih penting dilakukan kaum Muslimin, yaitu: menengok ke dalam diri sendiri.

Tanpa keberadaan ISIS, Jabhah Al Nusra, FSA, dan berbagai kelompok jihad lainnya yang melakukan perang atas nama Islam, apakah media Barat punya bahan bakar untuk mem-framing?

ISIS adalah kelompok Muslim, anggotanya Muslim. Di Indonesia banyak sekali simpatisan ISIS, mereka terang-terangan berdemo di berbagai kesempatan, mengibar-ngibarkan bendera ISIS. Di Facebook, banyak ditemui akun-akun orang Indonesia pendukung ISIS. Segera setelah teror Paris, mereka berseru girang dan tak lupa berkata ‘Allahu Akbar’ sebagai bentuk kegembiraan karena ‘keberhasilan’ mujahidin melakukan teror di negeri kafir.

Yang banyak dilakukan publik –sejauh yang saya amati—menyikapi teror Paris ini masih setengah-setengah. Sebagian berkata: “Pray for Paris” atau “Terorisme tak Mengenal Agama” atau “ISIS melanggar ajaran Islam”. Sebagian lagi bersikap denial dan memakai teori konspirasi: “Ini pasti kerjaan AS dan Zionis, bukan ISIS atau kelompok Islam manapun!”

Halooo….? ISIS itu kelompok Islam, anggotanya Muslim, membawa simbol-simbol Islam, menjagal sambil berteriak Allahu Akbar (rekamannya sangat banyak tersebar di Youtube). Dan mereka memang melakukan bom bunuh diri, mulai dari Damaskus, Riyadh, Sana’a, sampai Paris. Mereka pun mengakui melakukan aksi teror itu. Tak peduli siapa yang membentuk, mendanai, menyuplai senjatanya, yang jelas anggotaya adalah MUSLIM. Akui itu dengan jujur.

Tidak cukup buat kita berkata “PrayForParis” atau “Mereka yang melakukan teror itu bukan kami. Kami Muslim cinta damai. Mereka bukan kami.”

Continue reading