[Parenting] Mengajarkan Islam yang Welas Asih

compassion-wordSebuah riset menemukan, “Anak-anak dari keluarga religius secara umum lebih tidak ramah dan bersifat menghakimi dibanding anak-anak dari keluarga yang tak religius.”

Riset ini dilakukan sejumlah akademisi dari tujuh universitas di seluruh dunia yang mempelajari anak-anak yang beragama Kristen, Islam dan anak-anak yang kurang religius untuk untuk menguji hubungan antara agama dan moralitas. Mungkin ada bantahan ini-itu. Tapi ada baiknya kita kembali menengok ke dalam diri sendiri.

Konflik di Timur Tengah yang semakin hari semakin memanas seolah menampilkan sebuah wajah Islam yang kelam. Selain aksi bom bunuh diri yang seolah dianggap ‘lazim’ dilakukan oleh para teroris berlabel Islam di berbagai negara, kita disuguhi parade kebencian yang akut hingga ke level yang paling mengerikan, seperti menggorok leher, mutilasi mayat, atau memakan jantung mayat yang direkam dan diperlihatkan dengan bangga oleh para pelakunya.

Inikah wajah Islam sejati? Pastinya, setiap muslim yang berhati nurani akan menjawab TIDAK. Lalu, mengapa semua ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya?

Karen Amstrong, seorang pemikir kelas dunia yang telah menulis banyak buku tentang sejarah dan dialog agama-agama, menulis bahwa esensi Islam dan berbagai agama samawi lainnya, adalah cinta dan welas asih (compassion). Esensi ini semakin hari semakin terkubur, namun selalu ada semangat dari segelintir orang untuk menggali dan mengartikulasikannya kembali.

Compassion, menurut Amstrong, adalah sesuatu yang sejatinya ada dalam diri manusia. Sikap welas asih berbeda dengan feeling (perasaan) yang biasanya fluktuatif. Kita bisa menyayangi seseorang detik ini, namun di saat yang lain, kita bisa berbalik membencinya dengan berbagai alasan, bahkan alasan yang irrasional sekalipun. Namun sikap welas asih adalah sesuatu yang selalu ada, dalam kondisi apapun, kepada siapapun, bahkan termasuk kepada musuh sekalipun. Menurut Amstrong welas asih adalah bagaikan sikap seorang ibu terhadap bayi yang dilahirkannya, akan selalu ada, meski si anak melakukan hal-hal yang melukai hati sang ibu.

Compassion bisa tumbuh ketika manusia berhasil menekan egonya dan lebih mementingkan sesama. Di balik segala bentuk kekerasan yang muncul sepanjang sejarah atas nama Islam, justru Islam sesungguhnya adalah agama yang segenap ajarannya bertujuan untuk menumbuhkan sikap compassion dalam diri individu.

Amstrong mencontohkan ajaran sholat. Ketika Nabi Muhammad mengajak umatnya untuk bersujud, meletakkan kening di tanah, di sisi Ka’bah, pada saat itu sebenarnya beliau mengajak umatnya untuk melepas ego dan menyadari bahwa manusia adalah hamba Allah dan semua manusia sama-sama hamba sahaya, sama-sama makhluk lemah di hadapan Allah. Lalu, ajaran zakat. Ketika zakat diwajibkan dengan besaran tertentu, maka zakat menjadi semacam paksaan kepada manusia untuk melepas ego dan rasa cinta pada harta. Zakat berbeda dengan infaq yang bisa fluktuatif, bergantung feeling manusia.

Amstrong juga merefleksikan kisah Hijrah di masa Rasulullah sebagai sebuah ajaran untuk keluar dari ke-aku-an menuju ke-kita-an. Pada masa itu, tradisi kesukuan sangat kental di jazirah Arab. Mereka rela saling membunuh demi membela kehormatan suku dan garis darah. Lalu Rasulullah mengajak umatnya untuk berhijrah, membaur bersama suku-suku yang lain, dan membangun sebuah masyarakat yang egaliter.

Lalu, siapakah muslim yang tak pernah membaca kisah Perjanjian Hudaibiyah yang dijalin antara Rasulullah dengan kaum musyrik Makkah? Namun, Amstrong telah menjelaskan esensinya dengan sangat indah (dan Amstrong menyatakan bahwa inilah kisah favoritnya). Rasulullah mengajak umatnya di Madinah untuk berhaji ke Makkah, tanpa membawa senjata. Bagaimana mungkin perjalanan menuju markas musuh dilakukan tanpa membawa senjata untuk membela diri? Tapi itulah yang dilakukan oleh Rasulullah yang memang selalu membawa pesan cinta dalam setiap langkahnya.

Lalu, ketika orang-orang Makkah menghalangi masuknya rombongan haji ke Makkah, dilakukanlah negosiasi dan ditandatanganilah Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini sangat luar biasa dari sisi compassion dan menunjukkan betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat welas asih dan telah melepaskan egonya secara total. Beliau sendiri yang mencoret kata ‘Rasulullah’ dalam naskah perjanjian itu, karena negosiator dari Makkah menolak adanya kata itu.

Yang ada dalam diri Rasulullah hanyalah cinta. Sama sekali tak ada rasa ego dan ketersinggungan saat gelar yang valid dan disematkan langsung oleh Allah SWT itu harus dicoretnya sendiri (dalam naskah perjanjian itu). Gara-gara perjanjian yang sepintas tak adil itu, Nabi Muhammad dikecam oleh sahabat-sahabatnya sendiri. Namun beliau bersabar. Terbukti dua tahun kemudian, welas asih dan cinta Rasulullah-lah yang terbukti ‘menang’, dengan masuknya kaum muslimin secara bebas ke Makkah. Welas asih, pada akhirnya akan membawa kemenangan.

Amstrong memberikan ‘golden rule’yang disarikannya dari ajaran berbagai agama: jangan lakukan sesuatu yang kau tak ingin orang melakukannya pada dirimu. Kau tak ingin menjadi korban fitnah, jangan memfitnah. Kau tak ingin diserang, jangan menyerang. Kau tak ingin dijajah,jangan menjajah. Kau tak ingin dizalimi, jangan menzalimi. Kau tak ingin dibunuh, jangan membunuh.

Bagaimana Cara Mengajarkannya Kepada Anak?

Yang paling utama tentu saja keteladanan. Ibu-ibu seringkali gampang marah kepada anak-anaknya sendiri. Marah sama suami, kesal pada teman sekerja, yang jadi sasaran semprotan malah anak-anak. Apa bedanya dengan perilaku di tingkat ekstrim: marah pada “Barat”, yang dibom malah cafe yang isinya kaum muda apolitik?

Lalu, bagaimana mengatasi rasa marah ini? Caranya antara lain dengan banyak zikir, sholat, baca Quran, atau melakukan self healing (emotional freedom technique), dan berbagai metode psikologis lainnya. Suka marah dan ngomel ke anak bukanlah masalah yang ‘sederhana’, akarnya dalam, dan efeknya juga luas. Perlu perjuangan untuk bisa jadi ibu penyabar. (Baca perjuangan saya di sini.)

Jadi selesaikan dulu problem yang ini. Lalu, sambil jalan, ubah cara berkata-kata ke anak. Ketika mengajak mereka sholat, katakan, “Nak, yuk sholat, sebagai rasa syukur kita kepada Allah yang sudah benar-benar sayang ke kita…”. Jauhkan dari kata-kata ancaman, “Heh, sholat! Kalau enggak sholat, ntar masuk neraka tau!”

Bukankah Al Quran pun mengajarkan sikap welas asih jauh lebih banyak daripada sikap keras? Ayat Al Quran yang mengandung nama jamaliah Allah dalam Al Quran (rahman, rahim, ghafur, lathif, dll) disebut 5x lebih banyak daripada ayat yang mengandung sifat jalaliah-Nya (seperti Maha Pembalas, akbar, qawiy, dll).

Ajarkan neraka sebagai konsekuensi dari kejahatan yang dilakukan manusia. Silahkan jujur saja, tanya pada hati kecil, apakah ibu “mengancam” pake neraka karena ego pribadi atau sungguh-sungguh sedang mengajari anak? Ibn Arabi mengatakan bahwa bahkan neraka pun diciptakan Allah di dalam prinsip Jamaliah-Nya. Rahmati wasi’at kulla sya’i, rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, demikian firman-Nya. Allah sedemikian sayangnya kepada hamba-Nya, sehingga tidak ingin hamba-Nya berbuat dosa dan kezaliman, karena akibat buruknya akan menimpa diri si hamba sendiri dan seluruh umat. Bisa kita lihat contohnya hari ini, kezaliman yang dilakukan teroris di satu wilayah, tidak hanya menimpakan musibah bagi korban yang tewas, tapi efeknya sangat masif, melewati batas-batas wilayah negara. Demi menjauhkan para hamba terkasih-Nya dari kejahatan, Allah menciptakan neraka. Namun, mereka yang benar-benar jahat dan tidak memiliki rasa cinta dan welas asih, akan memandang neraka sebagai bentuk kekejaman Allah.

Karena itu, jangan jadikan neraka sebagai alat untuk mengancam dan menakut-nakuti anak (apalagi yang masih kecil). Bukankah ibadah yang dinilai tertinggi adalah ibadah yang dilakukan dengan cinta, bukan karena takut neraka?

Insya Allah, Ibu yang welas asih, akan mampu mendidik anak-anak yang welas asih juga. 🙂

Advertisements

9 thoughts on “[Parenting] Mengajarkan Islam yang Welas Asih

  1. Kalo dari kecil udah diajarkan welas asih tentu orang berpikir panjang kalo akan melakukan tindak kekerasan. Tapi kalo sejak dari kecil sudah menyaksikan dan mengalami dar der dor serta mendapat perlakuan yang tidak adil seperti di Palestina, jiwa dan semangat mempertahan diri akan tumbuh dengan sendirinya.

  2. Alhamdulillah Bu Dina membahas hal ini. Mungkin kalau dikaitkan ke soal timur tengah akan ngalor ngidul terlalu jauh, tp menarik buat bahasan psikologis-sosiologis yg lbh ringan aja.
    Jadi begini, memang saya mulai menekuni Islam rajin di pengajian, tapi dari pergaulan, memang mereka yang berlatar relijius kadang lebih prejudice, terlebih lagi kalau lingkungannya sebagai minoritas. Ini bukan cuma di Islam, tapi saya perhatikan sama saja di lingkungan agama lain.

    Nah omong2 soal sholat,dan ibadah2,krn saya seorang muallaf yg memahami Islam secara intelektual dan kultural, tentu agak nggak nyambung kalau ada yg ngomong semacam kenapa pasang PP bendera Perancis tanpa peduli Gaza,Rohingya,dst. Atau kenapa pasang PP nongkrong di Cafe malam minggu berarti nggak subuhan. Saya sampai mikir kok seorang sahabat yg baru saya kenal dgn harapan memperkaya khazanah, malah sampai segitu kerasnya ngurusin hal2 yg nggak penting. Kasarannya emang PP profil itu masuk rukun ya? Kan enggak! Apalagi ngurusin soal ngopi malam2, dugem,dsb. setahu saya di rumah atau di mesjid pun kalau yg dilakukan nggak bener ya tetap aja dosa, jadi sepanjang bukan hal yg diharamkan dilakukan di mana masalahnya? Ini logika saya.

    Tapi memang teringat ceritanya katanya ybs belajr ngaji dgn keluarganya yg keras. Bahkan sampai dipukul rotan segala kalau salah.

    Nah inilah masalahnya! Memang saya tidak menyalahkan pendidikan yg semacam ini. Saya yakin ada anak yg memang harua dikerasin dulu. Tapi di keyakinan saya yg dulu, saya dididik seperti ini juga, sehingga kalau saat ini urusan saya yg pribadi diurusi, diceramahi dgn prinsip sa’amina wa atha’na. Artinya sama saja kerasnya dgn format buat saya yg dewasa, jelas saya punya kecendrungan membantah. Karena Islam yg saya yakini penuh dgn kasih sayang dan humor. Bahkan saya memahami Islam dari muslim2 alternatif (ini kalau saya nggak diomeli nanti kasih label baru) yg mungkin nyeleneh menurut pandangan mainstream. Tapi sekali lagi, bukankah sebagai muslim setuju ada pemisah tegas antara perbuatan dosa dan kekufuran? Inilah yg saya pikir masih kurang dipahami bahwa berdosa ya berdosa, hanya sebatas tidak lazim ya sebuah ketidaklaziman, tapi kufur ya itu lain lagi. Lalu dalam mainstream yg relijius perlu juga pendidikan adab agar bisa memperlakukan orang yg dinilai berbeda dengan baik, bukan kutip2 ayat yg menakut-nakuti,karena kebenaran itu hanya milik Allah.

    Inilah saya pikir masalahnya. Saya sudahi dulu biar nggak kepanjangan curhat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s