Nak, Allah Selalu Melihat Kita!

Tidakkah dia mengetahui
bahwa sesungguhnya Allah melihat?

Rasanya, semua orang berakal sehat pasti paham, korupsi adalah kejahatan yang berdampak panjang bak lingkaran setan. Ilustrasinya begini. Ketika si Fulan yang demi mendapatkan proyek pembangunan jalan harus membayar suap kepada beberapa pejabat, ia akan mengurangi  takaran semen atau aspal. Dalam hitungan bulan, jalan itu pun berlubang. Lalu Pak Budi yang sedang berangkat ke kantor dengan mengendarai motor, terpelanting saat melewati lubang tersebut. Ia tewas. Anak-anaknya pun yatim. Mereka tumbuh menjadi orang-orang tak berpendidikan, lemah fisik, dan hidup miskin. (Tapi, bukahkan negara ini kaya raya, mengapa tidak dialokasikan dana untuk kesehatan dan pendidikan gratis? Masalahnya, pendapatan negara yang seharusnya sangat banyak itu, digerogoti “tikus” (koruptor) di sana-sini, yang tersisa untuk rakyat hanya sedikit.)

Anak-anak Pak Budi (alm) kemudian menikah, punya anak, dan anak-anak itu pun tumbuh tanpa kehidupan yang layak. Atau, mungkin mereka nekad melakukan perampokan, dan merenggut nyawa seseorang. Orang yang tewas ini juga punya anak-istri, dan entah bagaimana nasib mereka kemudian. Dan seterusnya.

Intinya, dampak buruk korupsi tidak berhenti pada satu orang, atau satu generasi, melainkan berlapis-lapis, meluas, sambung-menyambung ke generasi berikutnya, bila ada tidak ada upaya menggunting lingkaran setan ini.

Ada banyak teori yang sudah disampaikan para pakar tentang cara pemberantasan korupsi. Namun, ada satu pertanyaan menohok yang disampaikan oleh seorang guru parenting saya. Pertanyaan yang sepertinya menjadi dasar utama dari upaya pencegahan korupsi.

“Para pejabat yang saat ini suka korupsi, bukankah mereka dulu adalah anak-anak? Bukankah mereka dulu adalah asuhan para ayah bunda dan guru? Lalu, anak-anak kita hari ini, kelak akan menjadi orang seperti apa? Ikut dalam lingkaran korupsikah, atau mampu bertahan hidup bersih?”

Dari beberapa pelatihan parenting yang saya ikuti, saya menyimpulkan bahwa “kata-kata” kita sangat berpengaruh pada “jadi apa anak kita kelak”.

Misalnya begini, seorang anak yang setiap hari diomelin oleh ayah-ibunya, dikatai “bodoh” atau “gak bener”, sangat berpotensi tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri. Sosok yang tidak percaya diri, umumnya tidak berani berkata “tidak” saat menghadapi tekanan lingkungan. Penakut, tak berani mengambil keputusan.

Apa yang akan terjadi saat sosok seperti itu berada di tengah-tengah komunitas yang biasa melakukan korupsi? Ada istilah “korupsi berjamaah”, karena memang korupsi biasanya tidak bisa dilakukan sendirian. Saat korupsi, para pejabat di sebuah instansi harus bekerja sama, baik sukarela maupun terpaksa. Mampukah kita mendidik anak yang kelak berani berkata tidak, saat ia dihadapkan pada tekanan untuk korupsi?

Jadi, kata-kata ayah-bunda adalah kunci. Ayah dan bunda harus mulai memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perhatikan kata-kata berikut ini.

“Nak, kalau ada Bu Dewi datang, bilang Mama sedang ga di rumah, ya!”
“Adek… ayo cepet habiskan makannya! Kalau habis, nanti Bunda beliin es krim!”
“Ih cengeng! Jatuh dikit gitu aja, nangis! Kamu itu anak laki-laki, jangan nangis!”

Pada kalimat pertama, ibu sedang mengajari anak berbohong. Kalimat kedua, ibu sedang mengajari anak untuk menyuap. Dan kalimat ketiga, ibu sedang menyuruh anak mengabaikan perasaannya.

Bukankah tiga hal itu sangat berkaitan dengan korupsi? Seorang koruptor dipastikan berbohong, menyuap, dan mengabaikan perasaannya. Manusia dikaruniai fitrah atau akal budi. Saat kita melakukan kejahatan, pasti ada suara hati yang melarang. Namun, anak yang sejak kecil diajari untuk mengabaikan perasaan atau suara hati, sangat mungkin kelak ia pun mengabaikan suara hatinya yang melarangnya melakukan korupsi.

Ingat ya Ayah, Bunda, kata-kata adalah kunci.*

Lalu, sebagai umat beragama, kita (seharusnya) meyakini adanya surga dan neraka. Kita (seharusnya) meyakini bahwa ada malaikat yang senantiasa mencatat amal baik dan amal buruk. Kita (seharusnya) meyakini bahwa Allah itu Maha Melihat, tak ada tempat untuk bersembunyi dari pengelihatan-Nya.

Namun mengapa masih banyak orang yang korupsi, padahal secara lahiriah mereka terlihat beriman (melakukan ritual-ritual keagamaan)?

Jawabannya, karena “yakin” berbeda dengan “tahu”.  Meyakini adalah bentuk pemahaman yang inheren, benar-benar terpatri dalam akal dan hati, dan terungkap dalam perilaku dan kata-kata. Lalu, bagaimana cara mengajarkan doktrin-doktrin keagamaan agar anak-anak benar-benar yakin, bukan sekedar tahu?

Inilah yang saya pelajari dari guru-guru di TK anak saya dulu.** Mereka mengajarkan ayat-ayat Quran secara tematis, dengan metode yang holistik. Lima panca indera anak diaktifkan saat mempelajari sepotong ayat.

Ayat yang sangat terkait dengan korupsi adalah “A lam ya’lam bi annal-Laaha yaraa” (tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah Melihat? QS Al Alaq:14)

Anak-anak diajak untuk melafazkan potongan ayat itu sambil menggerak-gerakkan tangan (mirip dengan isyarat tuna rungu), sehingga pada saat yang sama mereka memahami arti ayat (karena gerakan tangan/isyarat tangan berkorelasi dengan makna ayat). Lalu, guru akan bercerita mengenai sifat Allah yang Maha Melihat. Kemanapun kita pergi dan bersembunyi, Allah pasti bisa melihat. Kemudian, anak-anak diajak bermain petak-umpet. Dan terakhir, anak-anak membuat kerajinan tangan yang terkait ayat tersebut. Dengan cara ini, pemahaman anak “diikat” oleh berbagai kegiatan, sehingga diharapkan dia akan “yakin”, bukan sekedar “tahu” bahwa Allah Maha Melihat.

Salah satu kerajinan tangan yang cocok digunakan untuk memahamkan ayat ini adalah membuat “rumah kaca”. Ibu bisa mempraktekkannya di rumah bersama anak.

Alat dan Bahan:  Kotak sepatu bekas, kardus kue bekas, plastik mika, kertas berwarna, lem, gunting, cutter.

Jpeg
 
Cara Membuat:
1.       Lubangi 5 sisi kotak sepatu
 Jpeg
Jpeg
2.       Tempelkan plastik mika untuk menutupi lubang (menjadi “dinding rumah”) dan kertas warna untuk menjadi “karpet”-nya.
3.       Buat lemari, kasur, meja belajar dari kardus kue bekas, lalu taruh boneka kecil di dalamnya.
 
Jpeg

 
 
Lalu, katakan kepada anak:
“Nak, Allah selalu melihat kita, sebagaimana kita melihat boneka yang ada di dalam rumah ini. Apapun yang kita lakukan, meskipun kita berada di kamar terkunci, Allah akan lihat.”
“Nak, jangan sekalipun melakukan keburukan dan kejahatan, karena Allah Maha Melihat.”
 
Tulisan ini diikutsertakan dalam  lomba artikel blog dengan tema #PraktikBaik #ParentingAntiKorupsi #GakPakeKorupsi yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Internasional 2015 oleh Prung! Gak Pake Korupsi dan A Cup of Friendly Tips.
——————-
Referensi:
*Ilmu tentang kata-kata (berkomunikasi dengan anak) saya dapatkan dari buku Amazing Parenting (Rani Razak Noeman)
** Ilmu tentang mengajarkan ayat-ayat Quran bertema akhlak saya dapatkan dari sekolah hafidz Quran untuk balita, “Jamiatul Quran” (Iran), sudah saya tuliskan dalam buku berjudul “Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik”.
Advertisements

4 thoughts on “Nak, Allah Selalu Melihat Kita!

  1. Korupsi, oh korupsi…hrs berkata apa lagi ttg korupsi, berani berkata tidak, ternyata ya, Lalu harus bagaimana dan berbuat apa utk mencegah perilaku korupsi ini. Budaya/rasa malu sdh tak ada lagi, mungkin itu penyakitnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s