Kebetulan yang Istimewa

Jpeg

Kemarin, 24 Desember (12 Rabiul Awal), sebagian umat Islam, khususnya mazhab Ahlussunnah merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagian lagi, khususnya mazhab Syiah merayakan Maulid pada tanggal 17 Rabiul Awal. Perbedaan versi sejarah ini dikelola dengan cerdas oleh Iran dengan merayakan Maulid selama lima hari (12-17 Rabiul Awal) dan menyebutnya sebagai Pekan Persatuan. Selama hari-hari ini berbagai aktivitas perayaan Maulid dilakukan, mulai dari tingkat kampung hingga internasional (Islamic Unity Conference yang mengundang ulama-ulama berbagai mazhab, dari puluhan negara, untuk berdialog di Teheran).

Maulid Nabi tahun ini secara ‘kebetulan’ berdampingan dengan Hari Natal (25 Desember). Kata ‘natal’ dan ‘maulid’ bermakna sama: kelahiran. Sungguh ‘kebetulan’ yang sangat istimewa. Kata orang bijak, “Bila kita berhasil menghubungkan sebuah kejadian dan lainnya serta menarik benang merah kebetulan yang menghubungkannya, kita mulai sadar bahwa sebenarnya hidup yang dijalani ini adalah sebuah rangkaian perjalanan hati.” (Gobind Vashdev)

Dalam dunia yang semakin penuh kekerasan dan perang, “kebetulan” berbarengnya Natal dan Maulid ini mungkin perlu kita maknai bahwa Tuhan sedang mengajak kita untuk merenungi lebih dalam tentang cinta dan kasih sayang. Bukankah Nabi Muhammad dan Isa Al Masih selalu mengajarkan cinta dan kasih sayang pada umatnya?

مَنْ لَا يَرْحَمْ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
Manusia yang tidak menyayangi sesama manusia, tidak akan disayangi Allah (HR.Muslim)
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Efesian 4:2)

Biasanya saya menyampaikan ucapan Selamat Merayakan Natal via inbox kepada beberapa teman. Namun kini teman Kristiani saya sepertinya bertambah banyak, dan saya tidak mungkin lagi menyapa satu persatu. Jadi, lewat pesan terbuka ini, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Natal kepada teman-teman yang merayakannya, semoga kalian semua bahagia dan selalu dalam lindungan-Nya.

Dan kepada teman-teman Muslim yang merayakan Maulid (kan ada juga yang tidak :D), saya juga mengucapkan selamat berbahagia di hari bahagia ini, di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai.

Salam damai dan sayang,
Dina

Foto: koleksi pribadi, @pantai Pandawa, Bali

Advertisements

Kisah Tentang Joy-Killer

keep-calm-and-choose-joy-2Seorang teman pernah menyebut saya (bercanda, tentu saja) sebagai joy-killer (pembunuh kesenangan orang). Yang dia maksud, saya sering menuliskan sesuatu yang membuat kesenangan orang terganggu. Misalnya, saya menulis soal skandal Erdogan-Israel, pastilah mengganggu kesenangan para pemuja Sultan Erdogan. Atau saya mengungkap kepalsuan jihad Suriah, pastilah bikin para pendukung mujahidin sakit hati.

Di kamus google, definisi joy-killer adalah a person or event that ruins a good time. Dengan persepsi saya: joy-killer adalah orang yang ‘puas’ banget saat memberitahukan sesuatu yang salah pada orang lain. So, I don’t consider myself as a joy-killer. Saya tidak merasa sebagai joy-killer karena saya tidak merasa ‘puas’ seperti itu. Bahkan biasanya, saya sering ragu, kadang takut, saat akan mempublish sebuah tulisan (politik internasional), karena sadar sepenuhnya, pastilah ada orang yang akan tersinggung. Tapi tetap saya publish, tentu saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pastilah pernah/sering ketemu dengan the real joy-killer.

Contohnya:

Ibu A: Wah, jilbab baru ni ye.. Beli dimana?

Ibu B: Di Pasar Baru. Eh, murah banget lho.. saya sampai borong lima jilbab.

Ibu A: Oya? Berapa harganya?

Ibu B: Rp55.000

Ibu A: Waaaah..kemahalan itu! Kemarin saya liat di Pasar Raya jilbab kayak gini cuma Rp45.000!

Atau,

Ibu A: Aku suka banget sama si X. Novelnya keren banget! Cara dia nulis benar-benar out of the box deh.

Suami ibu A: mana, coba aku baca.

Beberapa menit kemudian…. “$#@&$#+*@&*….”

(Si suami yang intelek itu dengan kritis menguliti tulisan si X dan menunjukkan bahwa si X tak sehebat yang dikira istrinya)

Kebayang kan, betapa kesalnya ibu A?

Joy-killer juga banyak bertebaran di medsos.

Misalnya, soal mengucapkan Selamat Hari Ibu. Orang-orang lagi seneng-seneng berbagi quote indah soal Ibu dan mengucapkan Selamat Hari Ibu, eeeh.. si joy-killer nyelonong broadcast tulisan ustad impor dari Arab yang membid’ahkan ucapan Selamat Hari Ibu. Orang sedang share status soal Maulid, kecintaan pada Rasulullah, si joy-killer muncul dengan komen soal bid’ahnya Maulid. Orang sedang mengungkapkan rasa sayang dan tolerannya pada saudara Kristiani dengan mengucapkan Selamat Hari Natal, si joy-killer merasa saleh dengan memunculkan komen copas dalil syar’i (versi dia tentunya) “Haram Mengucapkan Selamat Natal”.

Darimana kita tahu dia joy-killer atau bukan? Siapa tahu kan niat dia mah dakwah, bukan merusak kesenangan orang lain? Yah, kita lihat saja konteksnya dong, pasti terasa kok. Saat saya menulis soal Erdogan, misalnya, jelas saya bukan joy-killer karena kan saya nulis di wall/blog saya sendiri, dengan mengungkapkan argument dan data yang jelas (bukan asal njeplak). Saya tidak ujug-ujug kasih komen di wall orang yang setengah mati memuja Erdogan dan menulis status “Subhanallah Sultan Erdogan wajahnya bercahaya berkat wudhu” berupa link artikel berjudul “Tingginya Kerjasama Bisnis Turki-Israel”.

Karena saya ibuk-ibuk, saya selalu berusaha menarik fenomena ini ke pendidikan anak. Saya temukan beberapa kasus, orang yang joy-killer memang dibesarkan oleh ibu yang joy-killer juga. Anak itu peniru ulung orang tuanya. Tapi, bisa jadi, anak meniru dari temannya yang punya ibu joy-killer. Misalnya nih Reza anak saya.

Saya: Reza, lihat nih, gambarnya si X bagus banget!

Reza: siapa yang nanya?!

Rasanya saya (dan suami) ga pernah menjawab perkataan Reza dengan kalimat seperti itu. Hampir pasti dia meniru dari temannya (yang kebetulan saya tau, ibunya memang jenis joy-killer). Langsung deh saya katakan bahwa saya tersinggung dengan cara Reza menjawab dan itu bukan sikap yang baik.

So, ibuk-ibuk yang pernah sakit hati ketemu dengan joy-killer, berusahalah memaafkan (karena sakit hati berkepanjangan bakal bikin kita rugi sendiri) dan pilihlah untuk tetap berbahagia. Joy is a choice, jangan biarkan joy-killer merusak kebahagiaanmu. Anggap saja mereka angin lalu. Tapi, sekaligus lakukan tindakan pencegahan: jangan sampai kita sendiri jadi joy-killer buat orang lain, dan jangan sampai anak-anak kita jadi pribadi yang joy-killer juga.

Menanti Cak Nun

JpegSecara sangat kebetulan, saya mendapat info bahwa pada Jumat malam 11 Desember 2015, Cak Nun akan tampil di Kenduri Cinta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Waktunya cocok, Jumat siangnya si Akang harus ketemu mahasiswanya di kampus, Sabtu pagi harus jemput Kirana yang alhamdulillah jadi finalis #ARKI2015 (Akademi Remaja Kreatif Indonesia). Rana sejak Rabu berada di hotel Twin Plaza bersama 99 finalis lainnya.

Jadi, mengapa Jumat malam tak dimanfaatkan untuk datang ke Kenduri Cinta? Saat ide ini saya sampaikan, si Akang langsung defensif. “Malamnya nginep dimana? Biayanya gimana? Kita tuh sekarang musti berhemat …”

Saya pun hunting hotel-hotel murah seputar TIM. Akhirnya dapat yang cocok. Si Akang mulai melunak. Saya bilang, saya akan memasak bekal makanan, untuk mengurangi jajan di jalan. Reza bahkan ikut serta membuat pisang goreng untuk bekal (dan 90% habis dimakannya sendiri). Dan, Jumat pagi pun kami berangkat ke Jakarta.

Continue reading