Kisah Tentang Joy-Killer

keep-calm-and-choose-joy-2Seorang teman pernah menyebut saya (bercanda, tentu saja) sebagai joy-killer (pembunuh kesenangan orang). Yang dia maksud, saya sering menuliskan sesuatu yang membuat kesenangan orang terganggu. Misalnya, saya menulis soal skandal Erdogan-Israel, pastilah mengganggu kesenangan para pemuja Sultan Erdogan. Atau saya mengungkap kepalsuan jihad Suriah, pastilah bikin para pendukung mujahidin sakit hati.

Di kamus google, definisi joy-killer adalah a person or event that ruins a good time. Dengan persepsi saya: joy-killer adalah orang yang ‘puas’ banget saat memberitahukan sesuatu yang salah pada orang lain. So, I don’t consider myself as a joy-killer. Saya tidak merasa sebagai joy-killer karena saya tidak merasa ‘puas’ seperti itu. Bahkan biasanya, saya sering ragu, kadang takut, saat akan mempublish sebuah tulisan (politik internasional), karena sadar sepenuhnya, pastilah ada orang yang akan tersinggung. Tapi tetap saya publish, tentu saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pastilah pernah/sering ketemu dengan the real joy-killer.

Contohnya:

Ibu A: Wah, jilbab baru ni ye.. Beli dimana?

Ibu B: Di Pasar Baru. Eh, murah banget lho.. saya sampai borong lima jilbab.

Ibu A: Oya? Berapa harganya?

Ibu B: Rp55.000

Ibu A: Waaaah..kemahalan itu! Kemarin saya liat di Pasar Raya jilbab kayak gini cuma Rp45.000!

Atau,

Ibu A: Aku suka banget sama si X. Novelnya keren banget! Cara dia nulis benar-benar out of the box deh.

Suami ibu A: mana, coba aku baca.

Beberapa menit kemudian…. “$#@&$#+*@&*….”

(Si suami yang intelek itu dengan kritis menguliti tulisan si X dan menunjukkan bahwa si X tak sehebat yang dikira istrinya)

Kebayang kan, betapa kesalnya ibu A?

Joy-killer juga banyak bertebaran di medsos.

Misalnya, soal mengucapkan Selamat Hari Ibu. Orang-orang lagi seneng-seneng berbagi quote indah soal Ibu dan mengucapkan Selamat Hari Ibu, eeeh.. si joy-killer nyelonong broadcast tulisan ustad impor dari Arab yang membid’ahkan ucapan Selamat Hari Ibu. Orang sedang share status soal Maulid, kecintaan pada Rasulullah, si joy-killer muncul dengan komen soal bid’ahnya Maulid. Orang sedang mengungkapkan rasa sayang dan tolerannya pada saudara Kristiani dengan mengucapkan Selamat Hari Natal, si joy-killer merasa saleh dengan memunculkan komen copas dalil syar’i (versi dia tentunya) “Haram Mengucapkan Selamat Natal”.

Darimana kita tahu dia joy-killer atau bukan? Siapa tahu kan niat dia mah dakwah, bukan merusak kesenangan orang lain? Yah, kita lihat saja konteksnya dong, pasti terasa kok. Saat saya menulis soal Erdogan, misalnya, jelas saya bukan joy-killer karena kan saya nulis di wall/blog saya sendiri, dengan mengungkapkan argument dan data yang jelas (bukan asal njeplak). Saya tidak ujug-ujug kasih komen di wall orang yang setengah mati memuja Erdogan dan menulis status “Subhanallah Sultan Erdogan wajahnya bercahaya berkat wudhu” berupa link artikel berjudul “Tingginya Kerjasama Bisnis Turki-Israel”.

Karena saya ibuk-ibuk, saya selalu berusaha menarik fenomena ini ke pendidikan anak. Saya temukan beberapa kasus, orang yang joy-killer memang dibesarkan oleh ibu yang joy-killer juga. Anak itu peniru ulung orang tuanya. Tapi, bisa jadi, anak meniru dari temannya yang punya ibu joy-killer. Misalnya nih Reza anak saya.

Saya: Reza, lihat nih, gambarnya si X bagus banget!

Reza: siapa yang nanya?!

Rasanya saya (dan suami) ga pernah menjawab perkataan Reza dengan kalimat seperti itu. Hampir pasti dia meniru dari temannya (yang kebetulan saya tau, ibunya memang jenis joy-killer). Langsung deh saya katakan bahwa saya tersinggung dengan cara Reza menjawab dan itu bukan sikap yang baik.

So, ibuk-ibuk yang pernah sakit hati ketemu dengan joy-killer, berusahalah memaafkan (karena sakit hati berkepanjangan bakal bikin kita rugi sendiri) dan pilihlah untuk tetap berbahagia. Joy is a choice, jangan biarkan joy-killer merusak kebahagiaanmu. Anggap saja mereka angin lalu. Tapi, sekaligus lakukan tindakan pencegahan: jangan sampai kita sendiri jadi joy-killer buat orang lain, dan jangan sampai anak-anak kita jadi pribadi yang joy-killer juga.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Tentang Joy-Killer

  1. Kadang kita jadi Joy-killer tanpa menyadari. Setuju, maafkan saja orang yang jadi Joy-killer. Yang penting nikmati saja hidup ini. Pahit dan manis itu menjadikan hidup lebih nikmat.
    OOT: di kampung saya besok, -kamis 12 rabi`ul awwal- orang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan bacaan barjanzi dan sholawat. Hari ini, -rabu 23 desember 2015- orang kampung saya membuat lamang, dan sore maanta lamang ka bako, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s