Epistemic Community & Homoseksualitas

scientistBanyak yang menentang pendapat bahwa homoseksual adalah penyimpangan” dengan menyodorkan berbagai jurnal ilmiah yang menyebut “homoseksual adalah genetik/bawaan”. Ketika ada kasus-kasus yang ditangani civil society membuktikan bahwa ada yang semula gay, akhirnya ‘sembuh’, malah dimintai jurnal ilmiah. Seolah tanpa jurnal ilmiah, tak ada kebenaran. Kalaupun ada di jurnal, mungkin dipertanyakan: itu jurnalnya terindex dimana dulu?

Tesis S2 saya dulu membahas fenomena ini: hegemoni epistemic community. Ini saya copas sebagiannya (kalau dianggap agak ‘berat’, abaikan saja, nanti saya jelaskan dengan bahasa yang simpel):

Dengan membandingkan pemikiran Adler & P.Haas dengan E. Haas, peneliti menyimpulkan bahwa hegemoni memang terjadi dalam proses koordinasi kebijakan internasional. Negara (dalam hal ini negara dominan, seperti AS) melakukan hegemoni dengan cara menerima pengetahuan tertentu yang dipromosikan oleh epistemic community lalu mendesakkan pengetahuan itu kepada negara-negara lain untuk menjadi pengetahuan konsensual. Namun, bukan berarti epistemic community tidak ikut andil dalam hegemoni ini (seperti yang dikatakan Adler dan P. Haas), karena selain epistemic community selalu berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara dominan, mereka juga akan berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara-negara yang kurang dominan. Ketika para pengambil keputusan dari berbagai negara telah memiliki framing, definisi state interest, dan standar yang kurang lebih sama, maka penetapan kebijakan atas sebuah isu akan menjadi relatif mudah.

Jadi intinya begini, kalau ada sekumpulan ahli (=epistemic community) yang punya akses besar ke PBB, mengajukan kesimpulan tertentu, misalnya: homoseksual itu masalah genetik, maka kesimpulan itulah yang akan dipakai PBB untuk memutuskan sesuatu tindakan.

Dalam penelitian S2 saya dulu, epistemic community mendesakkan “pengetahuan” bahwa di antara faktor-faktor penghalang bagi implementasi pencegahan HIV adalah kurangnya akses terhadap komoditas pencegah penularan HIV, yaitu kondom dan jarum suntik steril. Karena itulah UNAIDS mensponsori program penyebaran jarum suntik&kondom gratis.
Kemudian, saya turun ke lapangan, saya tanya ke LSM-LSM yang menangani program ini, mereka mengakui bahwa cara yang paling benar adalah rehabilitasi (penyembuhan pecandu narkoba).

Lalu, mengapa UNAIDS tidak mendanai program rehabilitasi dan malah menggelontorkan dana yang sangat banyak untuk program jarum suntik dan kondom? Ya karena epistemic community di PBB merekomendasikan demikian.

(Tambahan: adakah masalah duit di sini? Adakah perusahaan besar yang mengambil keuntungan di sini? Ya ada, tapi itu tidak dibahas di tesis saya. Pertanyaan ini sekedar kasih tau, just follow the money, and you will find out who’s the boss.)

Apa ada ilmuwan di luar lingkaran epistemic community yang menyampaikan hasil penelitian sebaliknya? Oh iya, banyak. Tapi hasil-hasil penelitian mereka diabaikan dan susah tembus jurnal internasional yang “terkemuka”.

Misalnya, Norman Hearst dan Sanny Chen (2003) melakukan studi terhadap efektivitas kondom, dan menemukan bahwa program pencegahan HIV di Afrika dengan penekanan pada distribusi kondom tidak ada kaitannya dengan penurunan tingkat infeksi HIV, terutama di Uganda. Uganda adalah negara dengan rata-rata penderita AIDS tertinggi di dunia pada tahun 1980-an. Namun, kini jumlah pengidap AIDS di negara itu menurun tajam setelah pemerintahnya melakukan program penanggulangan AIDS yang difokuskan pada berpantang (abstinence).

Intinya, bahkan bila ada 10.000 jurnal bilang X, belum tentu X adalah kebenaran, karena siapa tahu sebenarnya ada ahli-ahli lain yang juga sudah nulis jurnal, tapi tak terdengar gaungnya (karena “tidak terkemuka”) dan diabaikan oleh organisasi-organisasi internasional.

Dalam penelitian saya di S3, semua organisasi internasional (di bawah PBB) sepakat bahwa cara terbaik menangani masalah kelaparan dunia adalah dengan konsep food security. Padahal sebenarnya sebenarnya banyak ilmuwan lain yang berkata sebaliknya (bahwa konsep FS justru bikin orang yang kelaparan tambah banyak) dengan argumen dan data yang masuk akal. Mereka menulis juga di jurnal, tapi “tidak terkemuka”.

Fenomena ini juga muncul dalam politik. Misalnya saja konflik Suriah. Dulu seluruh media mainstream dan pengamat politik “terkemuka” (plus paper-paper di jurnal internasional), menyebut Assad adalah diktator bengis yang harus digulingkan. Hanya media-media alternatif (dan jurnalis&blogger independen) yang memberitakan hal sebaliknya. Tapi sekarang, sudah terkuak perilaku barbar mereka yang berkoar-koar jihad dan siapa sponsornya.

Moral of the story: sangat mungkin kebenaran itu terselip di sela-sela ribuan jurnal yang ada (saking terselipnya, sampai susah ditemukan kalau ga serius mencarinya), atau bahkan mungkin memang belum ditulis di jurnal.

Khusus untuk kasus homoseksualitas, saya no comment kalau diajak debat soal data ilmiah, karena saya tidak meneliti soal ini. Saya tidak mau bicara sesuatu yang di luar kemampuan saya. Tulisan ini hanya komentar untuk argumen: karena ada di jurnal, maka itu benar.

Untuk homoseksual, consern saya lebih ke isu parenting. Dan pilihan ini adalah hak saya.

NB: Saya menggunakan istilah “homoseksualitas”, bukan LGBT. Karena, untuk “T” atau transgender, sependek pengetahuan  saya memang diakui masalah genetik (di Iran, disebut demikian, sehingga bila terbukti di lab ada masalah genetik, orangnya diizinkan operasi ganti kelamin dg difasilitasi negara).

(sumber foto: www.calstatela.edu)

Advertisements

7 thoughts on “Epistemic Community & Homoseksualitas

  1. Artinya: bahkan jurnal yang ‘aroma’ scientific-nya kencang pun harus dilihat lagi ya Bu siapa yang punya uang atau modal biar isi jurnal yg ditampilkan sesuai dengan yg diinginkan? Kalau begitu, lalu sejauh mana ingin nentuin info X atau Y tepat atau tidak kalau semua kembali ke pemodal terbesar?

    • Biasanya, jurnal2 yang credible mencantumkan nama sponsor penelitian; nah dari situ bisa dilacak. Tapi saya pribadi saat membaca jurnal tidak fokus ke ‘siapa donatur’-nya ya, biasa saja, fokus di isinya; lalu dibandingkan dengan paper-paper yang lain.

      Soal pemodal biasanya muncul dalam diri saya sebagai pertanyaan sampingan (misalnya, ketika saya dapati ternyata jarum suntik yang disuplai di lapangan mereknya itu-itu saja).

      • Berarti tetep sih ya, jurnal di publikasi kredibel masih bisa dipertanggungjawabkan isinya..

        Saya mendadak inget komentar seseorang tentang GMO, katanya ya wajar aja efek negatif GMO nyaris ga disebut dalam jurnal internasional yang kredibel, soalnya yang punya lembaga jurnalnya pun pendukung GMO 😅

      • Kredible di sini dari sisi peer review, kualitas paper, dll; bukan dari sisi sisi ‘mana jurnal yang dipilih utk dimuat’. Sebuah jurnal credible tidak akan memuat paper2 yang bertentangan dg kepentingan yg mereka usung.

        Misalnya, utk kasus HIV/AIDS, betapapun bagus hasil penelitian, tapi pertentangan dg narasi besar yg diusung oleh sebuah jurnal, jurnal itu ga akan mau memuatnya.

        Makanya kita pun kalau mau ngirim paper ke sebuah jurnal, musti liat2 dulu, jurnal itu “ideologi”/kecenderungan-nya apa. Kalau paper kita bertentangan, ya udah pasti ga akan dimuat.

  2. Terima kasih ilmu n informasinya mbak dina
    Sy selalu membaca n meresapi semua tulisan mbak dina
    Smoga mbak dina n keluarga sehat selalu, barokah semua urusannya. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s