Reza @Nusantara Bertutur (Mendidik Anak Melalui Dongeng)

kak Andi Yudha sedang mendongeng

kak Andi Yudha sedang mendongeng

Ah, sepertinya sudah banyak yang tahu bahwa mendongeng kepada anak-anak itu adalah kegiatan penting di rumah. Tapi… sayangnya kegiatan ini semakin terabaikan. Padahal  melalui dongeng, selain bonding (keterikatan) dengan ortu akan semakin erat, anak akan belajar bahasa dan nilai-nilai tanpa merasa sedang belajar. Anak yang biasa didongengin insya Allah akan tumbuh menjadi anak yang mencintai buku/membaca. Cinta buku/membaca lebih penting daripada bisa membaca. “Bisa membaca” bisa didapat dengan ikut kursus singkat (banyak tuh iklannya, metode ini-itu). Tapi cinta membaca, hanya bisa ditumbuhkan melalui proses yang panjang, tidak bisa instant. Mendongeng adalah salah satu caranya. Dan pengamatan saya terhadap anak-anak saya sendiri, mereka lebih cepat menyerap ‘nilai’ dari cerita (baik film, maupun buku) dibandingkan dari pengajaran yang kaku atau nasehat panjang lebar (apalagi kalau disertai omelan).

Di makalah ilmiah yang ini, disebutkan bahwa sifat atau karakter anak adalah mempunyai kecenderungan untuk meniru dan mengidentifikasikan diri dengan tokoh yang dikaguminya. Melalui dongeng, anak akan dengan mudah memahami sifat-sifat, figur-figur, dan perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk.

Sayangnya, akhir-akhir ini, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, karakter anak-anak lebih banyak dibangun oleh televisi, internet, dan games. Sudah tahu kan, karakter jenis apa yang kebanyakan muncul pada anak-anak Indonesia? Banyak yang negatifnya, kan? Ironis sekali.

Ternyata ada orang-orang yang prihatin atas masalah ini dan melakukan ‘sesuatu’ untuk mengubahnya dengan membuat gerakan Nusantara Bertutur (NB). NB awalnya digagas oleh alumni ITB angkatan ’81, dengan motornya pak Gilarsi W. Setyono, pak Arlan Septia, ibu Dyah Erowati, dll.  NB berupaya mengembalikan  budaya mendongeng demi membangun karakter anak-anak Indonesia karena dengan mendengarkan dongeng (yang berkualitas baik, tentunya), karakter anak bisa dibentuk menjadi mandiri, cerdas, tangguh, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat . Kegiatan NB antara lain memproduksi karya-karya dongeng (antara lain dimuat di Kompas, bahkan dikasih video juga (konon ada barcode yang ada di samping dongeng yang dimuat di Kompas, nah barcode itu kalau di-scan bisa terhubung dengan video dongeng). Saya belum pernah liat Kompas-nya sih, tapi video-video dongeng Nusantara Bertutur bisa diliat di sini.

Nusantara Bertutur juga bikin festival tahunan yang mengundang ratusan (tahun lalu katanya sampai ribuan) anak sekolah, untuk mendengarkan dongeng dari para pendongeng terkenal. Naaaah… tahun ini Reza beruntung bisa hadir di Festival NB. Soalnya, Reza kan homeschooling, mandiri pulak (benar-benar saya tangani sendiri). Jadi, Reza bisa ikut serta dalam acara-acara kayak gini buat saya adalah keberuntungan (beruntung dapat info, dan beruntung bisa daftar dan diterima, karena kebetulan ada teman yang jadi panitia). Acara Festival NB tahun 2016 ini digelar pada 28 April di Museum Geologi Bandung.

nusantara bertutur1Kami datang pagi-pagi, dan sepertinya Reza satu-satunya anak HS. Dia digabungkan dengan anak SD Dewi Sartika Sukabumi.  Acara diawali oleh sambutan dari Kak Oman Abdurahman (Kepala Museum Geologi). “Kenali bumi kita, sayangi bumi kita, karena di sinilah kita hidup. Kalau bumi rusak, kita akan ikut menderita,” kata Kak Oman. Oh rupanya, tema acara NB kali ini adalah seputar tanah, air, dan udara (mencintai bumi).

Awalnya Reza males-malesan. Reza mulai antusias setelah mendengarkan dongeng dari Kak Andi Yudha dan kemudian diajak jalan-jalan keliling museum. Sementara Reza dan kelompoknya jalan-jalan, saya tetap duduk menunggu di aula. Pendongeng kedua (untuk kelompok kedua-ketiga) adalah Paman Gerry. Menarik sekali ketika Paman Gerry bertanya, “Siapa di sini yang suka bermain gadget?” hampir semua anak di ruangan mengangkat tangan. Aih, rasanya memang aneh kalau anak jaman sekarang ga punya gadget. Bayi aja udah mahir main tablet atau smartphone. Padahal, Steve Jobs aja gak kasih gadget buat anaknya. Dampak buruk gadget juga buanyaaaaak banget… tapi kesadaran ortu masih sangat rendah soal ini.

Melalui dongeng yang menarik, Paman Gerry intinya mengatakan pada anak-anak agar mencintai bumi, caranya antara lain, jangan lupa matikan keran air, lampu, dan mencabut charger HP. Di sela-sela acara, mengalun suara musik dari grup Street Violin yang bagus banget mainnya. Yang bikin Reza antusias lagi adalah adanya stand Planet Sains, yang jual berbagai perangkat untuk percobaan sains dengan harga 10rb per paket. Wah, seneng banget dia milih-milih sendiri mana perangkat yang mau dibeli.

Sementara saya? Ya lumayan, capek juga, duduk sekitar 6 jam nungguin Reza. Tapi semua terbayar saat mendengarnya dengan ceriwis dan penuh semangat dia bercerita ini-itu tentang pengalamannya hari ini, termasuk saat ia saling bertegur sapa dengan anak-anak SD lain, dengan bahasa Inggris.

Akhir kata, berikut tips dari saya bila ayah-bunda ingin mendongeng kepada anak:

  1. Upayakan membaca dengan ekspresi dan intonasi agar cerita jadi seru. Pede ajaaaa… segaring-garingnya dongeng ortu, anak tuh seneng lho didongengin, karena dia merasa disayang, diperhatikan, dipentingkan.
  2. Ada beberapa cara mendongeng, bisa dibacakan (read aloud) atau ayah-bunda berimajinasi sendiri. Read aloud adalah membaca penuh apa yang tertulis di buku, manfaatnya banyak sekali, antara lain menstimulasi otak, sehingga bahkan bisa menterapi anak yang down syndrome (google aja kisah Marcia Thomas). Ayah-bunda berimajinasi sendiri juga bagus, bahkan bisa dibikin games. Misalnya, ayah cerita, lalu disambung bunda, lalu disambung anak (ngarang aja alurnya, sesukanya).
  3. Kritislah pada bacaan dan ajarkan anak untuk kritis. Tentu, ini bergantung juga dengan nilai-nilai dalam keluarga ya. Misalnya nih, suami saya dengan telatennya membacakan Harry Potter 1-7 sampai TAMAT buat Reza (Kirana sering ikut dengar juga, tapi dia waktu itu sudah baca sendiri novelnya). Nah, ada bagian-bagian yang didiskusikan bersama oleh si Papa dengan anak-anaknya, yang terkait nilai-nilai. Atau, kadang saya yang membacakan buku-buku cerita kepada Reza. Karena anaknya sudah terbiasa kritis pada bacaan, sering kali kami tertawa bersama saat mendapati cerita yang ga logis (dan berkata, “Ah ini penulisnya kayaknya lupa atau tidak teliti.”)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s