Men Are From Mars

delimaLaki-laki itu dari Mars, perempuan dari Venus, kata buku karya John Gray. Karena berasal dari dua planet berbeda, mereka punya bahasa yang beda juga, sehingga keduanya musti mengenal bahasa satu sama lain supaya nyambung.

Nah, salah satu ‘bahasa’ kaum Mars adalah ‘selalu berusaha memberi solusi’. Ini sering bikin ibuk-ibuk bete. Kita mau curhat kan pengennya mah disayang-sayang, eeeeh… malah dikasih solusi praktis (dan biasanya solusinya juga kita udah tau, tapi itu masih untung ga diomelin atau disalah-salahin). Jalan tengahnya, di satu sisi, kaum Mars musti paham, apa yang sebenarnya diinginkan orang Venus saat mereka curhat. Di sisi lain, kaum Venus juga paham bahwa sudah nature-nya kaum Mars untuk kasih solusi, dan hargai upaya mereka itu.

Berdasarkan pengalaman pribadi, bukti dari teori Mars-Venus ini rupanya sudah muncul sejak kecil. Anak saya Reza (10 th) dengan penuh empatik menawarkan solusi dari berbagai persoalan yang saya hadapi. Misalnya, saat saya mengeluh kehilangan sisir (karena kebiasaan naruh barang tidak pada tempatnya), Reza spontan berkata, “Tenang Ma, nanti aku beliin sisir ya.” Dan benar saja, tanpa saya suruh, dengan sepeda dia pergi ke sebuah toko untuk membeli sisir (tentu saja minta duit dulu dari ibuknya).

Suatu hari, tanaman delima saya dicabut semena-mena oleh Mang Iwan, tetangga yang saya mintai bantuan beresin taman belakang. Padahal itu saya tanam dari biji delima yang dikasih temen dari Iran, rasanya maniiiiis banget dan warnanya merah sempurna. Saya rawat baik-baik, sampai akhirnya tumbuh tunas, dan mencapai tinggi sekitar 10 cm. Eeeeh.. dicabut! Dikira rumput liar, barangkali. Bayangkan betapa kesal dan sedihnya saya. Ya udah deh, mewek.

Reza spontan memeluk saya dan mengelus-ngelus rambut saya. Si Akang menepuk-nepuk pundak saya dan berkata, “Yaaah.. untung cuma tanaman yang hilang, coba bayangin kalau anak yang ilang.” [Maksutnyaaah??? Tapi ya bener juga sih, toh “cuma” tanaman. Tapi aku kan butuh empatiiii… ihiks…]

Lalu, setelah tangis saya reda, Reza mengajak saya ke ruang tengah.

“Sini Ma, aku pengen liatin sesuatu di komputer,” katanya.

Ternyata, yang dia lakukan adalah browsing toko online yang jual pohon delima! Oh my lovey Mars boy… ❤

Setelah saya pilih, Reza sendiri yang memesan pohon delima itu lewat sms. Dua hari kemudian, pohon setinggi 40 cm itu itu pun tiba di rumah. Sudah ditanam. Semoga tumbuh besar dan berbuah manis, karena dibeli dengan cinta dari planet Mars. 🙂

One thought on “Men Are From Mars

  1. Pingback: Men Are From Mars | Ritma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s