Mindful Ramadan (3): Sabar?

langit

bukan iklan Li** lho 🙂

Kata sabar saya kasih tanda tanya, karena memang kata yang satu ini terkadang terasa ambigu. Ketika kita diam saja saat orang menghina atau mengatakan hal-hal yang bohong tentang diri kita, apa itu sabar? Ada seorang ada akhwat (dulu waktu SMP statusnya malah sahabat dekat saya), ia tak pernah membela saya (atau minimalnya menghibur) ketika saya dibully orang2 (dan orang2 itu adalah teman sekelompoknya si akhwat ini). Tapi ketika saya menulis klarifikasi atas kebohongan temen sekelompoknya dia itu, dengan fasih dia sodorkan kata-kata, “Nabi aja dulu dihina sabar, ga membalas.” Maksut loooo???

Padahal ya, demi menjaga pertemanan dengannya, saya selalu menahan diri untuk tidak membalas komen-komennya yang nyelekit itu; dan ini semakin membuat saya kesal: mengapa saya selalu saja berusaha menjaga perasaan teman, sementara si teman tak merasa perlu memikirkan perasaan saya? Rugi banget ya gue?!

Tapi, meski saya ‘rugi’, di saat yang sama saya juga beruntung karena melalui FB saya jadi kenal banyak orang hebat. Seorang bapak motivator terkenal (saya beruntung beliau bersedia jadi friend FB saya), memberi komen singkat di salah satu postingan saya, “if you get serious, you get stupid”.

Continue reading

Mindful Ramadan (2): Syukur

thankful-quote

Bahasan tentang bersyukur sebenarnya sudah banyak sekali ya. Tapi selalu saja ada insight baru yang bisa kita dapat dalam perjalanan hidup. Misalnya, kemarin2, saya uring-uringan karena amplop tebal yang saya dapatkan usai menjadi narsum di sebuah acara, langsung habis karena didistribusikan ke pos-pos lain. Yang tersisa untuk saya hanya 100 ribu. Spontan saya berkata sedih, “Kenapa ya, seneng punya duit banyak itu cuma sebentar, langsung habis untuk berbagai keperluan…”

Si Akang menjawab, “Mindset-nya diubah dong… Alhamdulillah, setiap kali ada yang harus dibayarkan, Allah kasih uang untuk membayarnya.”

Cerita belum berhenti di sini karena besoknya, uang dari si Akang habis untuk menyiapkan hadiah Lebaran sederhana untuk beberapa orang yang memang perlu dikasih. Itupun masih kurang. Ditambah lagi kegalauan memikirkan pengeluaran ini-itu lainnya (padahal untuk besok-besok; harusnya mah ga usah digalau-in sekarang, menurut konsep mindful). Saya pulang ke rumah dengan murung.

Si Akang menegur.

“Ma… bersyukur dong. Alhamdulillah untuk hari ini bisa tertutupi kan? Segini juga kita sudah jauh lebih beruntung. Orang lain banyak yang untuk dirinya saja belum cukup, tapi kita alhamdulillah bisa kasih hadiah buat orang lain…”

“Aku sih bersyukur terus, Pa!”

“Bersyukur itu akan terlihat dalam tindakan, bukan di kata-kata. Mama murung begini artinya ga bersyukur…”

“Aku tuh cuma galau mikirin… kalau begini terus, kita kapan nabungnya?!”

“Coba dibayangkan begini. Mama ngasih hadiah duit ke orang karena Mama kasihan sama dia, lalu orang itu menjawab ‘Terimakasih ya Bu, tapi sebenarnya segini sih kurang!’ Coba, perasaan Mama gimana?”

Continue reading

‘Mindful’ Ramadan

Adjie SilarusPastinya buat banyak ibuk-ibuk saleha, Ramadan selalu dinanti dan dinikmati dengan sepenuh hati. Sayang sekali saya tuh belum sampai level saleha, sehingga selama ini saya menjalani Ramadan dengan penuh distraksi. Walhasil, ujug-ujug Lebaran deh, dan menyesali diri, kemarin ngapain ajaaaa??

Tapi problem ‘menjalani hidup dengan penuh distraksi’ ini sebenarnya bukan cuma pas Ramadan. Kayaknya ini masalah saya sepanjang tahun. Ujug-ujug udah  tahun baru, lalu tiba-tiba sudah Maret, eh, sekarang sudah Juni. Target-target? Ke laut semua (alhamdulillah kerjaan-kerjaan bisa selesai juga sih, sebagian, meski waktunya meleset, atau tepat waktu tapi dilakukan penuh ketegangan).

Kalau saya pikir-pikir lagi, problem saya adalah terlalu banyak kerjaan, sampai akhirnya karena pusing, ga tau mana yang musti dikerjakan, saya malah ‘melarikan diri’ dengan fesbukan, chat di WA, atau… tidur. Hasilnya, waktu berlalu, tapi kerjaan malah tambah numpuk. Yang dulu belum selesai, yang baru udah datang. [eh, emangnya kerjaan Dina apa sih, katanya ibu RT? Hm, emangnya mengurus keluarga  itu bukan kerjaan ya? Apalagi kalo ditambah kerjaan freelance: nulis, nerjemah, dan ngedit, pening dah.]

Alhamdulillahnya 1,5 bulan sebelum Ramadan saya menemukan sebuah tulisan berjudul Mindfulness for Mom oleh Adjie Silarus [Shanty D. Arifin]. Tulisan itu kemudian membawa saya menjelajahi blognya Adjie Silarus, dan kemudian membaca bukunya, Sadar Penuh Hadir Utuh.

Nah, buku ini memberikan ‘pemetaan’ bagi persoalan saya dan menawarkan jalan keluar praktisnya.

Jadi begini, yang saya rasakan ketika bangun pagi adalah ‘banyak sekali yang harus aku lakukan hari ini’. Saya menulis banyak catatan dan ditempel di dinding list pekerjaan. Tapi seringkali, tidak terpenuhi semua. Ini membuat saya kecewa pada diri sendiri. Semakin lama semakin numpuk, dan sering berujung pada.. ehm.. apalagi kalau nggak uring-uringan ke si Akang atau anak-anak. Untungnya si Akang orangnya sabar dan ga bosen-bosen ngasih nasehat. Yang sering dia ulang-ulangnya, “Mengapa harus mikirin besok yang belum pasti? Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan hari ini, setelah itu tawakal.”

Iya sih.. tapi nggak gitu juga kali… demikian protes saya dalam hati padanya.

Continue reading