‘Mindful’ Ramadan

Adjie SilarusPastinya buat banyak ibuk-ibuk saleha, Ramadan selalu dinanti dan dinikmati dengan sepenuh hati. Sayang sekali saya tuh belum sampai level saleha, sehingga selama ini saya menjalani Ramadan dengan penuh distraksi. Walhasil, ujug-ujug Lebaran deh, dan menyesali diri, kemarin ngapain ajaaaa??

Tapi problem ‘menjalani hidup dengan penuh distraksi’ ini sebenarnya bukan cuma pas Ramadan. Kayaknya ini masalah saya sepanjang tahun. Ujug-ujug udah  tahun baru, lalu tiba-tiba sudah Maret, eh, sekarang sudah Juni. Target-target? Ke laut semua (alhamdulillah kerjaan-kerjaan bisa selesai juga sih, sebagian, meski waktunya meleset, atau tepat waktu tapi dilakukan penuh ketegangan).

Kalau saya pikir-pikir lagi, problem saya adalah terlalu banyak kerjaan, sampai akhirnya karena pusing, ga tau mana yang musti dikerjakan, saya malah ‘melarikan diri’ dengan fesbukan, chat di WA, atau… tidur. Hasilnya, waktu berlalu, tapi kerjaan malah tambah numpuk. Yang dulu belum selesai, yang baru udah datang. [eh, emangnya kerjaan Dina apa sih, katanya ibu RT? Hm, emangnya mengurus keluarga  itu bukan kerjaan ya? Apalagi kalo ditambah kerjaan freelance: nulis, nerjemah, dan ngedit, pening dah.]

Alhamdulillahnya 1,5 bulan sebelum Ramadan saya menemukan sebuah tulisan berjudul Mindfulness for Mom oleh Adjie Silarus [Shanty D. Arifin]. Tulisan itu kemudian membawa saya menjelajahi blognya Adjie Silarus, dan kemudian membaca bukunya, Sadar Penuh Hadir Utuh.

Nah, buku ini memberikan ‘pemetaan’ bagi persoalan saya dan menawarkan jalan keluar praktisnya.

Jadi begini, yang saya rasakan ketika bangun pagi adalah ‘banyak sekali yang harus aku lakukan hari ini’. Saya menulis banyak catatan dan ditempel di dinding list pekerjaan. Tapi seringkali, tidak terpenuhi semua. Ini membuat saya kecewa pada diri sendiri. Semakin lama semakin numpuk, dan sering berujung pada.. ehm.. apalagi kalau nggak uring-uringan ke si Akang atau anak-anak. Untungnya si Akang orangnya sabar dan ga bosen-bosen ngasih nasehat. Yang sering dia ulang-ulangnya, “Mengapa harus mikirin besok yang belum pasti? Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan hari ini, setelah itu tawakal.”

Iya sih.. tapi nggak gitu juga kali… demikian protes saya dalam hati padanya.

Nah, di buku Adjie, saya menemukan emang bener nasehat si Akang itu [kenapa ya, kalau yang kasih nasehat suami sendiri, saya malah suka ngeyel, ckckckck]. Kita memang perlu diam dan hening sejenak, setiap hari. Target perlu, tapi lakukan dengan tenang, jangan diburu-buru, dan tak perlu resah dengan hari esok. Justru dengan hening sejenak, pikiran bisa fokus dan kemudian kita bisa bekerja dengan tenang, seselesainya. Kalau hari ini belum selesai, ya sudah, lepaskan. Biarkan otak memikirkannya esok hari.

Berikut ini beberapa kutipan dari buku Adjie:

Hidup tak hanya terus bergerak dalam riuh, tapi juga butuh diam dalam hening.

Hidup tak melulu tentang tergesa untuk bertindak, tapi juga ada kalanya yang bisa kita lakukan hanya bersabar menunggu.

Hidup akan menjadi melelahkan jika hanya diisi dengan terus berharap dan berusaha meraih, sehingga dibutuhkan penerimaan segala yang sudah ada dengan penuh rasa syukur.

Hidup tak semata hanya bermimpi akan masa depan yang lebih baik, tapi juga merayakan apa adanya saat ini, di sini-kini.

Untuk mendeteksi apakah pikiran kita adalah pikiran yang riuh atau tenang, cobalah pejamkan mata lalu tarik nafas perlahan, hitung nafas itu satu-persatu, pusatkan pikiran pada ‘gerakan nafas’ . Waktu mencobanya pertama kali, baru pada hitungan ke 6 atau ke 7, pikiran saya sudah meloncat kemana-mana.  Adjie mengenalkan istilah ‘pikiran monyet gila’, pikiran yang bagai monyet yang tak bisa tenang, meloncat ke sana-sini. Ini kutipan dari buku Adjie:

Saat kita menghirup napas, rasakan dan sadari bahwa kita sedang menghirup udara. Kemudian saat mengembuskan udara, rasakan dan sadari pula bahwa kita sedang mengembuskan napas. Lakukan terus-menerus dan jadikan napas sebagai “jangkar” pikiran kita sehingga pikiran kita tidak berkeliaran ke mana-mana.

Saat hati, perasaan, dan pikiran telah menyatu dalam napas yang kita tarik dan kita lepaskan, saat inilah yang disebut “locking up the monkey heart” atau “mengunci monyet dalam pikiran kita” sehingga dia tidak nakal dan berkeliaran ke mana-mana.

Saya mencoba melatih diri melakukan ‘meditasi’ (dimanapun bisa dilakukan, di angkot, di perpustakaan, atau duduk di sajadah menjelang sholat), intinya pejamkan mata, lalu hitung nafas. Saya belum ahli sama sekali. Rekor saya sejauh ini baru 2 menit (120 hitungan), habis itu si monyet lari kemana-mana.

Kemudian, si Akang menyarankan agar saya tiap hari baca sholawat 1000 kali (dia dapat saran dari orang lain lagi), konon khasiatnya bisa menyelesaikan persoalan berat yang bisa dihadapi. Pernah saya praktekkan, eh, padahal baru 500 sholawat, masalah yang bikin saya uring-uringan berhari-hari, beres dengan ajaib. 😀

Tapi yang ingin saya ceritakan adalah proses saya baca sholawat itu. 1000 itu buanyak lho! Sulit sekali buat saya duduk tenang membaca 1000x sholawat (lha konsen 120 hitungan aja penuh perjuangan, apalagi 1000!). Di sini saya menemukan, menggenggam tasbih sambil berzikir atau baca sholawat ternyata sama fungsinya dengan meditasi. Artinya, kita berusaha ‘mengikat’ pikiran untuk tenang selama sejumlah hitungan, dan upaya itu insyaAllah ada efeknya untuk pekerjaan-pekerjaan kita selanjutnya.

Dengan kata lain gini, ketika saya mencoba meditasi atau fokus berzikir,  saya melatih pikiran saya agar hening sejenak dan merasakan ‘saat ini’. Setelah itu, praktikkan skill ini saat beralih ke pekerjaan lain. Misalnya, saat mendampingi Reza membaca Quran, atau mengerjakan matematika/bahasa Inggris, saya berusaha tenang dan menikmati ‘saat ini’ dan mengenyahkan pikiran soal ‘nanti’ atau ‘esok’.

Dulu biasanya, saat menemani Reza, muncul rasa tidak sabar, saking inget sama kerjaan lain. Padahal, dengan rasa tidak sabar dan ingat kerjaan lain, dua-duanya ga selesai: mendampingi Reza tidak maksimal (ngomel ketika dia salah-salah baca, misalnya); pekerjaan lain juga ga terkerjakan. Mendingan fokus, satu-satu dulu selesaikan, akhirnya selesai semua (semampunya).  Nah skill untuk bisa ‘tenang’ dan ‘merasakan saat ini’ yang perlu dilatih. Adjie menyarankan, latihan ‘menghitung nafas’ itu dilakukan 2-3 menit, dua kali dalam sehari.

Begitu pula di bulan Ramadan ini.

Saya mencoba menikmati detik-detik menyiapkan sahur dan buka, dengan menu yang sangat sederhana (karena saya tidak pintar memasak, masakan dengan menu rumit malah bikin stress, jadi buat apa menyiksa diri?), apalagi ditemani suami dan anak-anak. Saya mencoba menikmati saat-saat sholat, bertadarus bersama anak, atau membaca buku  (fokus, lupakan semua soal editan dan terjemahan! Juga, sumber-sumber distraksi harus dijauhi, misalnya medsos atau grup WA). Setelah selesai, baru beralih ke kerjaan.

Kuncinya adalah: nikmati hari ini, jangan resah esok , apalagi soal lebaran yang masih beberapa minggu lain. Sadar penuh, hadir utuh. Jangan sampai kembali terjadi: ujug-ujug udah lebaran lagi??? 

foto: adjiesilarus.com

Advertisements

One thought on “‘Mindful’ Ramadan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s