Mindful Ramadan (2): Syukur

thankful-quote

Bahasan tentang bersyukur sebenarnya sudah banyak sekali ya. Tapi selalu saja ada insight baru yang bisa kita dapat dalam perjalanan hidup. Misalnya, kemarin2, saya uring-uringan karena amplop tebal yang saya dapatkan usai menjadi narsum di sebuah acara, langsung habis karena didistribusikan ke pos-pos lain. Yang tersisa untuk saya hanya 100 ribu. Spontan saya berkata sedih, “Kenapa ya, seneng punya duit banyak itu cuma sebentar, langsung habis untuk berbagai keperluan…”

Si Akang menjawab, “Mindset-nya diubah dong… Alhamdulillah, setiap kali ada yang harus dibayarkan, Allah kasih uang untuk membayarnya.”

Cerita belum berhenti di sini karena besoknya, uang dari si Akang habis untuk menyiapkan hadiah Lebaran sederhana untuk beberapa orang yang memang perlu dikasih. Itupun masih kurang. Ditambah lagi kegalauan memikirkan pengeluaran ini-itu lainnya (padahal untuk besok-besok; harusnya mah ga usah digalau-in sekarang, menurut konsep mindful). Saya pulang ke rumah dengan murung.

Si Akang menegur.

“Ma… bersyukur dong. Alhamdulillah untuk hari ini bisa tertutupi kan? Segini juga kita sudah jauh lebih beruntung. Orang lain banyak yang untuk dirinya saja belum cukup, tapi kita alhamdulillah bisa kasih hadiah buat orang lain…”

“Aku sih bersyukur terus, Pa!”

“Bersyukur itu akan terlihat dalam tindakan, bukan di kata-kata. Mama murung begini artinya ga bersyukur…”

“Aku tuh cuma galau mikirin… kalau begini terus, kita kapan nabungnya?!”

“Coba dibayangkan begini. Mama ngasih hadiah duit ke orang karena Mama kasihan sama dia, lalu orang itu menjawab ‘Terimakasih ya Bu, tapi sebenarnya segini sih kurang!’ Coba, perasaan Mama gimana?”

“Ya kesel banget dong!”

“Bakal ngasih hadiah lagi nggak, ke orang itu?”

“Ga akan deh, mending ngasih ke yang lain aja!”

“Nah, yang Mama lakukan barusan tuh kayak gitu ke Allah. Allah sudah kasih, Mama sudah bilang alhamdulillah, tapi tetap terlintas di pikiran dan di lisan ‘segini sih kurang!’ Ya kan? Gimana kalau Allah akhirnya memilih menghentikan hadiah-hadiah-Nya buat kita dan mengalihkannya ke yang lain?”

Hiks, saya terdiam.

“Coba pikir lagi, gimana cara kita ngasih uang ke anak-anak kita. Kalau Reza misalnya, belum bisa mengatur uangnya dengan baik, masih menggunakannya untuk jajan makanan ga sehat, apa kita mau kasih uang banyak sama dia?”

Saya menggeleng.

“Iya, karena sayang pada Reza, kita akan menunggu dia sampai mampu amanah menggunakan uangnya, baru kita kasih tambahan kan? Jadi kita perlu introspeksi diri, kenapa rizki kita selama ini alhamdulillah “pas butuh, pas ada” tapi jarang berlebih, bahkan terkadang musti pinjam sana-sini; mungkin ini karena Allah sayang sama kita… kita mungkin masih belum layak dikasih dalam jumlah yang berlebih. Tapi, tetap alhamdulillah, selama ini kita selalu terlindungi, kan?”

Saya diam lagi. Iya sih, hiks hiks.

“Mama ingat nggak, gimana sumpah Iblis saat dihukum keluar dari surga? “…aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, aku akan mendatangi mereka dari muka, belakang, kanan dan kiri. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”[Al A’raf;17]  Jadi, tujuan utama godaan setan itu adalah agar manusia tidak bersyukur. Kenapa? Karena, tidak bersyukur akan menyebabkan munculnya semua kejahatan lain yang ada di muka bumi. Misalnya korupsi, orang yang pandai bersyukur tidak akan pernah korupsi, dan sebaliknya, orang yang korupsi kalau dicari akarnya pastilah ketidakbersyukuran atas segala nikmat yang sudah Allah kasih kepadanya.”

Fyuuuh… Ya deh, ya deh… Thanks ya suamiku 🙂

Luangkanlah waktu meski sejenak untuk melatih ketenangan diri. Mungkin kamu tidak sontak meraih impianmu, tetapi berjalan menuju ke sana dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan. (Adjie Silarus, Sadar Penuh, Hadir Utuh, hlm 45)

 

 sumber foto: prettymyparty.com

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Mindful Ramadan (2): Syukur

  1. Salam bu Dina…ketika membaca tulisan ibu,,,wah ini problemnya sama dg yg saya sering hadapi…kadang2 uang yg kita dapat cm mampir sebentar, palagi pas Ramdhan gini. Memang belajar ikhlas berbagi kemudian bersyukur itu tidak segampang yg diucapkan…butuh proses. Dan saya merasa tersadarkan ketika membaca ayat yg artinya “setan menjanjikan ( menakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji ( kikir) sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas. Maha Mengetahui ( Al-Baqarah: 268). Memang kayaknya kita selalu digoda untuk selalu merasa kurang dg apa yg sdh diberikan pd kita…. 😅😓

    • Baru saja dengar ceramah di masjid dg tema sama, ketamakan nafsu dan cara mengatasinya menurut alqur’an dan islam.

  2. Mbak dina terima kasih telah men share tulisan2 mengenai mindfull
    Kena banget, krn sy orangnya grasa grusu sering merasa terburu2, sepertinya waktu cepat habis. Nggak disiplin dgn waktu n keuangan, sedikit sekali bersyukur.
    Terima kasih sdh diingatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s