Mindful Ramadan (3): Sabar?

langit

bukan iklan Li** lho 🙂

Kata sabar saya kasih tanda tanya, karena memang kata yang satu ini terkadang terasa ambigu. Ketika kita diam saja saat orang menghina atau mengatakan hal-hal yang bohong tentang diri kita, apa itu sabar? Ada seorang ada akhwat (dulu waktu SMP statusnya malah sahabat dekat saya), ia tak pernah membela saya (atau minimalnya menghibur) ketika saya dibully orang2 (dan orang2 itu adalah teman sekelompoknya si akhwat ini). Tapi ketika saya menulis klarifikasi atas kebohongan temen sekelompoknya dia itu, dengan fasih dia sodorkan kata-kata, “Nabi aja dulu dihina sabar, ga membalas.” Maksut loooo???

Padahal ya, demi menjaga pertemanan dengannya, saya selalu menahan diri untuk tidak membalas komen-komennya yang nyelekit itu; dan ini semakin membuat saya kesal: mengapa saya selalu saja berusaha menjaga perasaan teman, sementara si teman tak merasa perlu memikirkan perasaan saya? Rugi banget ya gue?!

Tapi, meski saya ‘rugi’, di saat yang sama saya juga beruntung karena melalui FB saya jadi kenal banyak orang hebat. Seorang bapak motivator terkenal (saya beruntung beliau bersedia jadi friend FB saya), memberi komen singkat di salah satu postingan saya, “if you get serious, you get stupid”.

Saya langsung inbox, dengan tujuan belajar. Maksudnya gimana pak?

Penjelasannya begini (ini hasil pemahaman saya, bukan kalimat asli beliau),

“Manusia itu merespon sesuatu yang dia lihat dalam peta internalnya. Kalau kamu melihat hinaan orang itu sebagai serangan atas diri pribadimu, kamu akan marah. Tapi kalau kamu melihat orang itu sekedar ‘berkata sesuatu yang tak diketahuinya’ ya sudah, ngapain marah? Dia bilang kamu ‘begini’, tapi kenyataannya kamu tidak ‘begini’, ya sudah, ngapain repot? Terkadang menjawab atau mengklarifikasi memang tak memberikan manfaat.  Jadi, ga usah dianggap seriuslah. Toh kamu tahu bahwa kamu aslinya tidak seperti yang dikatakan orang itu. Kalau kamu mengganggap serius (mengambil hati) omongan semua orang, kamu sudah bersikap bodoh. Kamu perlu bergeser dari posisi korban jadi pelaku. Pelakulah yang mengendalikan frame.”

provokasiPeta internal itu apa? Mengendalikan frame itu gimana? Jawabannya pernah saya pelajari dari buku beliau berjudul “Provokasi: Menyiasati Pikiran, Meraih Keberuntungan”. Oiya, nama bapak motivator yang ganteng dan baik hati ini adalah Prasetya M. Brata.

Peta internal adalah pemetaan kita (dalam benak kita) atas situasi yang ada di luar diri kita. Respon emosi kita bukanlah karena kata-kata atau perilaku orang lain yang membuat kita emosi (misalnya marah), melainkan ARTI yang kita berikan kepada kata-kata atau perilaku orang lain itulah. Apa yang kamu lihat di peta internalmu, adalah apa yang kamu rasakan, lakukan, dan dapatkan.

Nah, yang menggerakkan terjadinya internal map adalah  alam bawah sadar yang seyogyanya jadi budak kita, bukan majikan kita, atau berasal dari kesadaran-kesadaran kita yang bersumber dari nurani.  Dengan demikian kita mampu memberi mengoreksi kemunkaran, ketidakadilan, ketidakproporsian, kecutian-nalar, kedzaliman, dengan sabar… Jika itu suatu necessity… Mandatory… (Prasetya M. Brata, FB, 20 Juni 2016)

Contohnya, kalau ada orang bilang ‘goblok lu’ ke kita, bila yang kita ‘lihat’ adalah “orang itu sudah menghina saya!”, kita akan marah; kita mungkin akan membalas, atau memendam sakit hati. Tapi bila yang kita lihat di peta internal kita “wah orang itu sedang merendahkan dirinya sendiri”, kita akan baik-baik saja (karena alhamdulillah kita tahu, kita tidak goblok). Atau kita memandang orang itu memang sedang mengajari kita (karena kita memang baru saja melakukan kesalahan yang berbahaya untuk perusahaan, misalnya), kita pun berusaha belajar dari kesalahan yang baru dilakukan. Inilah yang disebut ‘framing’. Kita memberi bingkai pada apa yang sedang terjadi, bingkai itu sesuai dengan pilihan kita, sesuai dengan apa yang kita lihat di peta internal kita.  (kalau belum paham, silahkan baca sendiri bukunya ya 🙂 )

Baru-baru ini, saya dihadapkan lagi pada sikon di mana saya harus secara serius mempraktekkan lagi mantra ‘if you get serious, you get stupid’. Jadi gini ceritanya, saya diundang di sebuah forum diskusi, dipanelkan dengan seorang dari kaum you know who lah. Moderatornya payah banget (pinginnya bilang “sialan”, tapi kan lagi puasa, ihiks). Saya dikasih 20 menit, eh, belum 20 menit, sudah dikasih kertas “waktu habis”. Padahal presentasi saya (soal konflik Timteng) belum selesai. Terpaksa cepat-cepat saya selesaikan. Eh, si bapak you know who itu ngomong tenang, panjang lebar, sampai seluruh slidenya tuntas, lebih dari 30 menit (kata teman saya, 40 menit), tidak dipotong oleh moderator.  Lebih parah lagi, di akhir sesi, dia yang dikasih kesempatan bicara terakhir. Saya benar-benar ilfil, mendapati bahwa bapak itu berwajah tampan dan penampilannya sangat-soleh-sekali, top deh, tapi dari mulutnya berhamburan kebohongan terkait Iran dan konflik Suriah. Saya sudah siap menjawab (semua data ada di laptop saya, membuktikan bahwa dia bohong). Tapi acara langsung ditutup oleh moderator. Saya tidak diberi kesempatan kasih closing statement.

Hati saya benar-benar tidak enak. Rasanya kesal sekali, tapi tidak berdaya. Mantra ‘if you get serious, you get stupid’ saya coba gunakan. Saya coba mengubah peta internal saya. Oh, dia mungkin mengira yang dia katakan tidak bohong (karena demikianlah info yang dia dapat), atau mungkin memang dia bohong dengan sadar tapi dengan tujuan dakwah (ironis sekali, kenyataan menunjukkan di medsos banyak sekali yang menghalalkan kebohongan demi ‘kebaikan’ versi mereka). Ya sudah, toh saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi (masak mau marah2 ke moderator? bodoh sekali kalau saya melakukan itu). Yang penting saya sudah sampaikan apa yang saya tahu, sesuai waktu yang diberikan ke saya. Perkara orang lain mau menerima atau tidak, mau menebar kebohongan, bukan urusan saya. I will not take them seriously, because I do not want to get stupid.

Saya berusaha memposisikan diri sebagai ‘pelaku’, bukan ‘korban’ (kalau saya menempatkan diri sbg korban, saya akan terus marah, merasa dizalimi, tak berdaya, dll). Padahal saya bukan korbannya mereka. Saya baik-baik saja. Mereka kelak musti mempertanggungjawabkan semua yang mereka lakukan (sebagaimana saya juga kelak harus bertanggung jawab atas apa yang saya tulis dan saya katakan). Jadi ngapain saya yang musti baper, kesal, dan marah?

Tiba-tiba saya menemukan insight baru soal ‘sabar’: bukan memendam rasa, lalu nyabar-nyabarin diri,  tapi mengubah mindset atau frame saat menyikapi sesuatu.

Btw, tambahan, sabar juga tidak bermakna berdiam diri menghadapi kezaliman atau ketidakbenaran, kita tetap melawan, tapi dengan kesabaran (bukan dg kemarahan).

—-

Foto: pemandangan yang saya lihat di jendela pesawat dalam perjalanan pulang ke Bandung. Mengingatkan saya pada ayat “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (QS Yasin:65).

5 thoughts on “Mindful Ramadan (3): Sabar?

  1. Tugas ibu sdh selesai dlm penyampaian kebenaran ke forum, pendengar akan mendengar, menganalisa menilai mana yg bohong dan benar….. simpel kan bu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s