Traveling Bersama Anak (3): Ciletuh

sunset in puncak darma

pemandangan di Puncak Darma, Ciletuh

Traveling di Indonesia memang butuh biaya besar, terutama di biaya transportasi. Karena itu, memang perlu visi yang kuat (apa sih, yang ingin dicapai dari bertraveling?). Saya selalu berterus-terang kepada anak-anak, soal mahalnya biaya jalan-jalan, supaya mereka menghargai ‘nilai’ dari kegiatan kami ini. Jalan-jalan ke Geopark Ciletuh  (Maret 2016) contohnya. Sejujurnya, saya saat itu tidak punya uang. Tapi kebetulan ada rombongan teman-teman yang akan ke sana. Kalau berangkat sendiri saja, pastilah jauh lebih mahal. Tapi, ikut rombongan tentu tak bisa semau kita waktunya. Nunggu kalau ada uang, bisa-bisa tak akan jadi travelingnya. Jadi, saya daftar saja, dengan pinjam uang ke adik saya yang PNS itu (haduh, malu-maluin ya? :D).

Inipun saya ceritakan terus-terang ke anak-anak. Saya mencicilnya selama 6 bulan. Sempat terpikir, apakah ini sama dengan ngajarin berhutang ya? Ah sudahlah, kalau terlalu mikir ya gak jalan deh. Yang penting, saya kasih liat ke anak-anak bahwa saya berhutang dengan rasional: tujuannya jelas (bukan asal jalan-jalan/hura-hura) dan cara pembayarannya jelas pula (bukan asal ngutang; meski ke adik sendiri saya tetap bayar tepat waktu, sesuai perjanjian). Jadi inilah salah satu hikmah bertraveling dengan anak-anak: no pain, no gain. Traveling itu butuh dana, jadi musti kerja buat cari uangnya. Anak-anak melihat bahwa mamanya nulis atau ngedit supaya dapat uang. Papanya bahkan bekerja lebih banyak/sibuk lagi dan karena itu seringkali tidak bisa ikut saat saya dan anak-anak jalan-jalan.

Continue reading

Advertisements

Traveling Bersama Anak (2): Lombok

Jpeg

Pantai Kuta Lombok

Kata seorang ustadz, anak-anak itu sudah terlahir dengan berbagai macam fitrah, antara lain fitrah menghargai keindahan. Alam Lombok, luar biasa indahnya (yang kami lihat di foto). Inilah saatnya membawa anak-anak untuk melihat langsung keindahan itu, untuk mengeksplorasi fitrah keindahan mereka.

Dari Bali, kami menyeberang ke Lombok dengan menaiki kapal ferry yang sangat nyaman. Reza sangat menikmatinya karena inilah pertama kalinya ia naik kapal besar. Tak henti ia berkeliling, mengeksplorasi kapal.

Anak-anak memandang keindahan dengan mata mereka sendiri. Berperjalanan (seharusnya) melatih ortu untuk hening sejenak dan mencoba memandang dunia sebagaimana anak-anak memandangnya. Mereka polos, lugu, tanpa prejudice. Kitalah orang dewasa yang (sayangnya) mengajari mereka (mungkin tanpa sadar) untuk prejudice, memandang rendah pada siapa saja yang bukan ‘aku’ atau ‘kita’.

Continue reading

Traveling Bersama Anak (1): Bali

Jpeg

Pantai Pandawa

Sejak memulai homeschooling untuk Reza, kami berupaya melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Dulu, traveling adalah sesuatu yang membosankan buat anak-anak (dan saya juga sih), karena yang kami tuju itu-itu saja: Padang dan Jatiwangi (Majalengka). Dana yang kami punya ya habis buat ke dua tempat itu saja, dengan niat silaturahim ke ortu.

Akhirnya, karena terstimulasi oleh perasaan ‘wajib traveling biar anak-anak belajar tentang dunia’ (kan homeschooling itu ortu yang jadi guru, jadi ya kami yang memfasilitasi), saya berusaha memperluas ‘cakrawala’. Awalnya sih jalan-jalan di seputar Bandung aja. Kadang sekeluarga, kadang saya bertiga dengan anak-anak, naik angkot (apalagi dulu Kirana pernah punya proyek nulis buku traveling). Kemudian, kami jalan-jalan berempat ke Salatiga (ikut acara Festival Pendidikan Rumah) dan lanjut ke Jogja (2014). Lalu, Mei 2015, trip menyusuri pantai-pantai Gunung Kidul Jogja, gabung dengan komunitas Muslimah Backpacker. Lalu, ke Dieng, gabung dengan grupnya mbak Yayah. Ke tempat-tempat itu, biayanya masih terjangkaulah (apalagi kalo ikut rombongan backpacker).

Jpeg

Bersama ibu dan adik di Kintamani

Lalu, muncul  ide ‘gila’, mengapa tidak ke Bali dan Lombok, pulau yang beda, budaya yang benar-benar baru? Tapi biayanya..??

Continue reading

Mindful Ramadan (5-tamat): Pulang

kafil yaminTak terasa, Idul Fitri sudah di ambang pintu. Selama Ramadan saya hanya berhasil menulis lima tulisan kontemplasi di blog. Tak apalah, daripada tidak sama sekali. Kali ini saya ingin membahas masalah ‘pulang’. Seperti biasa, kami mudik ke kampung halaman. Dalam setahun saya dua kali mudik Lebaran, ke rumah mertua di Majalengka (pas hari H), dan ke rumah ortu di Padang (pasca Lebaran, tiketnya udah murah). Duitnya? Saya merem aja deh. Toh kata si Akang, “Justru karena kita harus mudik makanya Allah kasih duit, coba kalau kita memutuskan ga mudik dengan alasan ga ada uang, mungkin malah kita beneran kita ga dikasih duit sama Allah.”

Niat utama mudik tentu saja silaturahim dengan orang tua dan keluarga besar. Mumpung mereka masih ada.

Tapi, kalau direnungkan lebih dalam, ada filosofi besar di balik mudik. Saya baca status seorang fesbuker:

Mawlana Jalaluddin Rumi, memulai kisah dalam magnum opusnya, Mastnawi, dengan kisah seruling yang merindukan asalnya. Seruling, yang terpisah dari rumpun asalnya, selalu menjerit merindukan pulang. Untuk kembali ke asal muasalnya. Pilihan kisah kerinduan seruling untuk pulang, sangat mendalam artinya. Mengingatkan setiap kita, bahwa hidup ini tak abadi, dan suatu waktu kita harus pulang.

….

Jika pulang lebaran, kita tahu waktunya sehingga kita bisa merencanakan bekal dan kendaraan, maka untuk “pulang” yang tak kembali, hal ini merupakan misteri, namun pasti terjadi. Dan kita tak tahu apakah bekal kita sudah cukup, juga apakah yang akan menjadi kendaraan kita untuk kembali ke asalnya ? Untuk kembali menemui rumpun bambu tempat kita bermula, seperti cerita Mawlana Rumi dalam Mastnawi.

Nah, bekal apa sih yang musti kita bawa pulang?

Ini kontemplasi saya setelah membaca dua buku yang bertema sama (mindfulness), tapi beda cara penyajiannya: Sadar Penuh Hadir Utuh (Adjie Silarus) dan Hidup Sehari Penuh (Kafil Yamin).

Continue reading

Mindful Ramadan (4): Kritis

pray for turkey

Pray for Turkey from Paris

Turki dibom, Bangladesh dibom, Irak dibom. Di bulan Ramadan.  Suriah sudah lima tahun terakhir ini jadi korban bom di berbagai penjuru negerinya. Sialnya, pelakunya muslim yang mengaku sedang berjihad (ISIS atau kelompok-kelompok jihad dengan berbagai nama lain). Sebagian Muslim (atau pembela Muslim) berapologi dengan menyatakan, “ISIS bukan Islam!” [atau sekalian tambahkan: ISIS itu buatan AS-Israel!]. Tapi, coba kritis sedikit, kan yang melakukannya tetap orang Islam? Yang jadi anggota ISIS (dan kelompok-kelompok jihad lainnya, yang hobinya juga sama, main penggal dan main bom sana-sini) juga orang Islam, tho?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut karena sudah pernah menuliskannya (baca: Ketika ISIS Masuk ke Kamar Kita)  dan karena fokus tulisan ini bukan itu. Fokus saya ada pada kata KRITIS.

Ya, “hilangnya daya kritis” adalah kalimat yang terlintas dalam pikiran saya saat melihat polah para jihadis di Timteng (dan para pendukungnya di Indonesia). Sepertinya, sulit sekali buat mereka menganalisis secara kritis, apa yang sedang terjadi di dunia ini (baca: Dunia Kita-1, Dunia Kita-2, Dunia Kita-3).

Mengapa ada sebagian umat Muslim yang sulit berpikir kritis, padahal mereka dikenal salih, rajin ngaji, bahkan sebagian hafal Quran? Saya baru saja membaca tausiah Gus Mus, yang ditulis oleh seorang Facebooker:

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah bercerita tentang strategi setan menjauhkan umat manusia dari ridha Allah. Setiap perintah Allah kepada hambaNya, setan selalu punya sedikitnya dua cara menggoda agar perintah itu tidak terlaksanakan. Pertama, setan menggoda agar perintah tersebut dilaksanakan kurang dari semestinya. Kedua, setan menggoda agar perintah itu dilaksanakan berlebihan dari semestinya.

Continue reading