Mindful Ramadan (4): Kritis

pray for turkey

Pray for Turkey from Paris

Turki dibom, Bangladesh dibom, Irak dibom. Di bulan Ramadan.  Suriah sudah lima tahun terakhir ini jadi korban bom di berbagai penjuru negerinya. Sialnya, pelakunya muslim yang mengaku sedang berjihad (ISIS atau kelompok-kelompok jihad dengan berbagai nama lain). Sebagian Muslim (atau pembela Muslim) berapologi dengan menyatakan, “ISIS bukan Islam!” [atau sekalian tambahkan: ISIS itu buatan AS-Israel!]. Tapi, coba kritis sedikit, kan yang melakukannya tetap orang Islam? Yang jadi anggota ISIS (dan kelompok-kelompok jihad lainnya, yang hobinya juga sama, main penggal dan main bom sana-sini) juga orang Islam, tho?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut karena sudah pernah menuliskannya (baca: Ketika ISIS Masuk ke Kamar Kita)  dan karena fokus tulisan ini bukan itu. Fokus saya ada pada kata KRITIS.

Ya, “hilangnya daya kritis” adalah kalimat yang terlintas dalam pikiran saya saat melihat polah para jihadis di Timteng (dan para pendukungnya di Indonesia). Sepertinya, sulit sekali buat mereka menganalisis secara kritis, apa yang sedang terjadi di dunia ini (baca: Dunia Kita-1, Dunia Kita-2, Dunia Kita-3).

Mengapa ada sebagian umat Muslim yang sulit berpikir kritis, padahal mereka dikenal salih, rajin ngaji, bahkan sebagian hafal Quran? Saya baru saja membaca tausiah Gus Mus, yang ditulis oleh seorang Facebooker:

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah bercerita tentang strategi setan menjauhkan umat manusia dari ridha Allah. Setiap perintah Allah kepada hambaNya, setan selalu punya sedikitnya dua cara menggoda agar perintah itu tidak terlaksanakan. Pertama, setan menggoda agar perintah tersebut dilaksanakan kurang dari semestinya. Kedua, setan menggoda agar perintah itu dilaksanakan berlebihan dari semestinya.

Mengapa ibadah yang dilaksanakan berlebihan dari semestinya malah menjauhkan umat dari ridha Allah? Ini jawaban dari saya sendiri ya: karena ibadah yang dilaksanakan berlebihan akan menghilangkan kemampuan otak untuk berpikir kritis.

Alasannya, ada hadis Rasulullah yang pernah saya baca: “bertafakur sejenak lebih baik daripada beribadah setahun.” Lihatlah betapa tinggi nilai bertafakur atau berpikir itu. Jadi, seharusnya manusia lebih banyak mikir daripada kebut-kebutan baca Quran sekian juz sehari (setelah capek baca Quran yang sangat banyak dan lama, apa kita masih sempat tafakur secara benar dan tenang? Apalagi, untuk bisa tafakur yang benar dan berbobot, kita butuh baca buku-buku yang berbobot, buku beneran [bukan sekedar status facebook] dan ini juga butuh waktu banyak.). Yang lucu, ketika orang-orang Barat berhasil mencapai penemuan sains yang hebat-hebat sebagai hasil tafakur, yang  Muslim melakukan cocoklogi, “Subhanallah, ini kan sudah disampaikan oleh Al Quran sejak dulu…” Lha kalo gitu, kenapa bukan kita yang menemukannya? (Biasanya akan dijawab, “Zaman dulu, ilmuwan Muslim yang paling hebat, orang Barat itu merampok ilmu-ilmu kaum Muslim..bla..bla..). Maaf ya, sibuk mengenang kejayaan masa lalu, ga ada gunanya dalam mengatasi keterpurukan hari ini.

Alasan lainnya, ada hadis Rasulullah, ”Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah hadis ini mengingatkanmu pada situasi hari ini? Tepat. Betapa banyak anak muda yang berpenampilan sangat salih dan salihah, fasih mengutip ayat-ayat, tapi yang keluar dari mulut (atau diketik dengan jari) kebencian belaka. Mereka bahkan merasa sedang berdakwah padahal sedang menyebarkan kebohongan (mungkin mereka tidak tahu itu bohong, dipikir benar, karena sumbernya dari ustad-ustadnya). Betapa banyak anak muda yang fasih bicara soal Islam tapi berbondong-bondong ke Timur Tengah untuk jihad dan yang dibantai sebagian besar adalah Muslim (tapi mereka anggap kafir). Ironis.  Kok bukan ke Israel, membebaskan Palestina dari penjajahan, ya jihadnya?

Artinya, kritis itu penting, agar tak salah paham dan tak salah langkah. Tapi sayang, pendidikan agama Islam tidak banyak mengajarkan kekritisan, lebih banyak ke dogma. Kalau anak nanya dengan kritis (karena umumnya anak-anak terlahir dengan fitrah berpikir jernih dan kritis), senjata ortu dan guru adalah, “Pokoknya, kata Allah begitu!”

Trus, gimana dong, cara mendidik anak supaya kritis? Sebagai ortu, langkah pertama tentu kita sendiri yang melatih diri berpikir kritis. Coba deh google, ada banyak artikel soal logika. Lalu, cari buku-buku bermutu, atau kalau tidak ada, dampingi anak saat membaca buku. Saya sering sekali baca buku Islami bareng anak, lalu mengomentari sana-sini, sehingga anak-anak saya jadi kebawa ‘cerewet’ saat baca buku. Misalnya, ada buku tentang kisah Rasulullah dalam sebuah perang. Diceritakan bahwa Rasulullah marah besar, mukanya merah padam, dan bersuara keras. Buat yang kritis, akan bertanya-tanya, emangnya Rasulullah kayak gitu? Bukankah dalam berbagai riwayat dan kisah lainnya beliau digambarkan sebagai pribadi yang pemalu, welas asih, dan bahkan saat perang pun, akhlaknya sangat terjaga. Beliau perang lebih sebagai pertahanan (defensif) dengan pretext perang yang jelas, bukan asal gempur dan asal bunuh.

yahiya emerick2Dan beberapa bulan terakhir ini, Alhamdulillah saya beruntung, mendapatkan terjemahan Al Quran untuk anak-anak yang kalimat-kalimatnya mendorong anak untuk kritis. Judulnya: The Meaning of The Holy Quran for School Children (Yahiya Emerick). Seorang sahabat mengirimkannya jauh-jauh dari Amerika sana. Semoga Allah membalas kebaikannya (dan kebaikan orang-orang yang bersedia dititipi buku yang lumayan berat ini) dengan ganjaran berlipat ganda.

Terjemahan yang ditulis dalam buku itu didampingi dengan berbagai penjelasan tambahan dan gambar. Misalnya, saat menjelaskan tentang surah Al Baqarah, tertulis kalimat ini (di bagian introduction).

Our overall failing is due as much to our own desire for worldy pleasure, as it is to the whispering of the forces of darkness. That darkness is embodied in Shaytan, an evil creature who felt he was better than human were, and thus he sent out on a campaign to prove Allah wrong.

Allah accepted his challenge, but not because He was afraid or in need of something to do. He accepted it because as is His way, He wanted Shaytan to understand how he went wrong before he was going to be defeated and punished.

Perhatikan betapa susunan kalimatnya memberikan hal yang logis, sebab-akibat. Perhatikan bahwa Allah menerima tantangan setan agar setan menyadari bahwa dia memang salah, sebelum dia dihukum. Menarik sekali, kita tidak boleh semena-mena menghukum orang, orang yang dihukum harus tahu kesalahannya apa. Bandingkan dengan pemahaman jihadis: bom..bom… tak peduli siapa korbannya, siapa yang salah (misalnya, si jihadis marah sama pemerintah, kok orang sipil yang dibunuh?).

yahiya emerickRangkaian terjemahan juga diberi ‘background info’ (penjelasan latar belakang turunnya ayat) dan subjudul yang memicu anak untuk berpikir. Misalnya, rangkaian terjemahan Al Baqarah 26-29, diberi subjudul “How Does Allah Use Example?” QS 2:  30-33: “Why did Allah make people?” QS 34-39: Why did Shaytan Disobey Allah?”

Saya perlu akui bahwa saya belum membaca keseluruhannya, masih membaca secara acak (bersama anak-anak, sesuai tadarusnya mereka, itupun sedikit-sedikit, sambil belajar English).  Yang menarik, saya temukan di halaman 710, terkait QS Al Mumtahanah:13 yang sering dijadikan dalil penolakan Ahok karena dia ’kafir’ (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.)

Emerick menulis terjemahan ayat ini dengan sub judul ‘Don’t betray your own cause’, dan menjelaskan asbabun nuzul ayat ini, sbb:

Some very poor muslims were selling information on events within the Muslim community to some local Jews who paid them for the intelligence gathering. This verse was revealed, forbidding contact with those Jews who were encouraging this trade.

Nah, terasa bedanya kan, membaca ayat ini, setelah tahu asbabun nuzulnya? Di sinilah peran buku-buku yang bagus, tidak asal mengumbar kebencian.

Semoga saja, para penulis buku anak di Indonesia (terutama kisah Islami) semakin banyak yang memproduksi buku-buku yang mendorong anak untuk berpikir kritis, supaya masa depan bangsa ini selamat.

==

Mungkin banyak yang belum tahu, paham radikal (yang akarnya ada di ketidak-kritisan) sudah sangat merasuk di negeri ini. Untuk mengetahui kondisi anak-anak Muslim Indonesia hari ini, silahkan baca reportase BBC berikut ini:

Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah

Survei: Hampir 50% Pelajar Setuju Tindakan Radikal

Sejarah Nabi Muhammad Lebih Didominasi Perang daripada Toleransi [jangan terkecoh judul, maksud artikel ini mengkritisi bgmn sejarah agama Islam diajarkan di sekolah, perang lebih dikenalkan ke anak-anak, padahal sejarah mencatat Nabi Muhammad sebagai sosok yang sangat toleran dan welas asih]

Siswa Mengenal Nabi Muhammad Sebagai Panglima Perang

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s