Mindful Ramadan (5-tamat): Pulang

kafil yaminTak terasa, Idul Fitri sudah di ambang pintu. Selama Ramadan saya hanya berhasil menulis lima tulisan kontemplasi di blog. Tak apalah, daripada tidak sama sekali. Kali ini saya ingin membahas masalah ‘pulang’. Seperti biasa, kami mudik ke kampung halaman. Dalam setahun saya dua kali mudik Lebaran, ke rumah mertua di Majalengka (pas hari H), dan ke rumah ortu di Padang (pasca Lebaran, tiketnya udah murah). Duitnya? Saya merem aja deh. Toh kata si Akang, “Justru karena kita harus mudik makanya Allah kasih duit, coba kalau kita memutuskan ga mudik dengan alasan ga ada uang, mungkin malah kita beneran kita ga dikasih duit sama Allah.”

Niat utama mudik tentu saja silaturahim dengan orang tua dan keluarga besar. Mumpung mereka masih ada.

Tapi, kalau direnungkan lebih dalam, ada filosofi besar di balik mudik. Saya baca status seorang fesbuker:

Mawlana Jalaluddin Rumi, memulai kisah dalam magnum opusnya, Mastnawi, dengan kisah seruling yang merindukan asalnya. Seruling, yang terpisah dari rumpun asalnya, selalu menjerit merindukan pulang. Untuk kembali ke asal muasalnya. Pilihan kisah kerinduan seruling untuk pulang, sangat mendalam artinya. Mengingatkan setiap kita, bahwa hidup ini tak abadi, dan suatu waktu kita harus pulang.

….

Jika pulang lebaran, kita tahu waktunya sehingga kita bisa merencanakan bekal dan kendaraan, maka untuk “pulang” yang tak kembali, hal ini merupakan misteri, namun pasti terjadi. Dan kita tak tahu apakah bekal kita sudah cukup, juga apakah yang akan menjadi kendaraan kita untuk kembali ke asalnya ? Untuk kembali menemui rumpun bambu tempat kita bermula, seperti cerita Mawlana Rumi dalam Mastnawi.

Nah, bekal apa sih yang musti kita bawa pulang?

Ini kontemplasi saya setelah membaca dua buku yang bertema sama (mindfulness), tapi beda cara penyajiannya: Sadar Penuh Hadir Utuh (Adjie Silarus) dan Hidup Sehari Penuh (Kafil Yamin).

Di bab yang berjudul ‘Menciptakan Kebahagiaan’, Adjie menulis tentang ‘memaknai kesederhanaan’. Menurutnya, “Kesederhanaan memberikan kebebasan, memberikan tambahan waktu luang. Kesederhanaan, bukan kemewahan, tak kita sangka juga akan memberikan kenyamanan dan kebahagiaan dalam hidup.” Untuk bisa hidup sederhana, ia menyarankan agar kita mulai menyeleksi apa yang kita beli dan apa yang sudah ada di rumah.

Mari mulai sediakan tempat hanya untuk barang-barang yang memang memberi manfaat bagi hidup. (hlm 193)

Sementara, Kafil Yamin menulis bukunya Hidup Sehari Penuh dengan poin entri: manusia itu diciptakan Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi. Sebagai pemimpin, seharusnya manusia menjaga bumi sebaik-baiknya. Segala yang dilakukannya haruslah dengan mempertimbangkan keselamatan bumi. Buku ini menggugah kesadaran pembaca, bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta.

“Dunia industri tidak memberi ruang untuk menurunkan konsumsi dan produksi. Semuanya harus serba meningkat, membesar, meluas. Dalam ideologi pertumbuhan ekonomi, produksi harus terus meningkat, pasar harus ditemukan, dan kebutuhan-kebutuhan harus diciptakan. Manusia harus selalu dibuat butuh dan ingin, meski secara faktual tidak membutuhkan. Konsekuensinya, manusia harus terus mengambil, mengambil, dan mengambil dari alam.”

[kalimat dari beberapa halaman berbeda dari Kafil Yamin, saya satukan]

Misalnya saja, mencuci baju. Saya baru akhir-akhir ini tahu bahwa mencuci dengan garam krosok (garam tradisional, bukan impor) ternyata hasilnya memuaskan dan sama sekali tidak merusak lingkungan (sudah tau kan, dampak buruk deterjen bagi alam?). Tapi, ada penolakan dalam diri untuk kembali ke bahan alami, karena: hasilnya tidak wangi! Sejak kapan ada kebutuhan bahwa mencuci itu harus wangi? Dulu awalnya ada survei (lupa, saya baca di mana, ya?), ternyata ibuk-ibuk punya kebiasaan mencium baju untuk  mendeteksi pakaian kotor. Nah, dibuatkan produk sabun yang wangi, lalu pewangi untuk menyeterika.

Atau, air. Dulu kita bawa sendiri di botol, sekarang ada air mineral dengan botol plastik. Ketika kita tidak “Hidup Sehari Penuh” atau tidak “Sadar Penuh Hadir Utuh”, maka kita tidak sadar betapa besar efek limbah plastik ini. Kafil menulis, di Padang Arafah, para jemaah haji tiap musim haji meninggalkan sampah 100 juta botol plastik dan sampah lain yang sangat-sangat banyak. Padahal haji adalah ibadah, menghadap Allah, mempertanggungjawabkan diri sebagai ‘khalifah’. Bahkan untuk hal yang sederhana seperti botol minuman pun, banyak dari kita yang tidak sadar apa kaitannya dengan bumi.

Dan masih banyak lagi “kebutuhan” kita yang kalau dipikir ulang, sebenarnya tidak benar-benar butuh. Baju lebaran, butuhkan? Mukena baru saat Eid, butuhkah? Hidangan di meja dengan lauk yang sangat beragam, butuhkah? Atau hanya karena malu diliat orang?

Di kedua buku itu, penulis memberitahukan langkah-langkah yang harus dilakukan supaya kita bisa jadi manusia yang ‘sadar’, terlalu panjang kalau saya tulis di sini. Silahkan baca sendiri, insyaAllah terasa sekali manfaatnya.

Salah satu saran dari kedua penulis adalah berhemat dan sesedikit mungkin beli barang. Keluarkan barang-barang yang tak diperlukan lagi, bagikan kepada yang membutuhkan. Kami di rumah mulai mempraktekkan sedikit-sedikit. Kami jarang beli baju, tapi akhir-akhir ini, kalau ada baju satu baru masuk lemari, satu baju lama keluarkan. Beli buku pun dicoba dihemat (kalo bisa, beli bekas aja), buku lama dijual di toko buku online sekalian ngajarin anak jualan. Sampah mulai dipilah, yang organik masuk komposter. Bawa botol minuman supaya ga beli di jalan. Repot? Banget, hiks.

Tapi, bukankah ini juga bekal kita untuk PULANG kelak? Seperti ditulis oleh pak Kafil, orang sering mengira bahwa ‘mendekat kepada Allah’ (taqarrub ilal-Lah) hanya dengan zikir dan i’tikaf’. Padahal, menyebar kebaikan kepada sesama manusia, kepada sesama makhluk, kepada bumi, adalah jalan untuk mendekatkan diri pada Allah, karena sejatinya, kita ini memang diciptakan untuk menjadi pemimpin (=pelindung bumi).

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN.

4 thoughts on “Mindful Ramadan (5-tamat): Pulang

  1. Terima kasih mba Dina untuk sharing-nya. Tulisan ini sebagai pengingat saya untuk hidup secukupnya.
    Jujur saya pribadi yang “susah nabung” ada penghasilan sedikit maunya dihambur. Padahal apalah guna barang-barang itu nantinya jika tidak dibarengi dengan kesadaran akan hidup yang berkecukupan. Sekali lagi terima kasih. Semoga di lebar-kan jalan kita menuju kebaikan. Selamat Lebar-an.

  2. Berfikir n bersikap kritis serta menjalani hidup yg sederhana.
    Terdengar mudah n simple tapi beraat
    Hehehe belum apa2 sdh ngeluh berat
    Thanks mbak dina👍😊

  3. Terimakasih mbak Dina atas pembelajaran yg mengingatkan saya bahwa membeli barang yg di butuhkan saja.
    Karena saya susah berhemat, tp dg adanya sharing jadi tambah semangat hidup yg sederhana dan lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s