Cerita dari Pameran Homeschooling

panitia1

panitia ortu & panitia remaja

Saat Reza seharusnya masuk SD, dia mogok sekolah, pinginnya “belajar sama mama aja!” Jangan bayangkan saya ini mama yang hebat sampai si anak terpesona dan pingin belajar sama mamanya. Sebaliknya, saya malah ga sabaran ngajarin pelajaran sekolah ke anak. Lalu saya baca setumpuk buku tentang homeschooling dan menyadari bahwa konsep HS adalah ortu menjadi fasilitator anak belajar, bukan jadi guru (kalau bisa sekaligus jadi guru, ya boleh saja, tapi tidak harus). Jadi, saya cuma ngajak anak main, beli & baca buku, jalan-jalan ke berbagai tempat, ngobrol, memperkenalkan ke berbagai situs/fasilitas belajar online, dan memotivasi anak untuk belajar, memenej waktu, berkarya, dll. Panjanglah kalau diceritain di sini. Intinya, di rumah kami, saya tidak jadi guru untuk anak-anak saya.

Lalu, bagaimana dengan sosialisasi? Ini pertanyaan umum yang sering diajukan kepada para pelaku HS.

Continue reading

Jakarta, Antara Temanggung dan Kendeng

membatikSeperti saya tulis sebelumnya, saya berusaha untuk sering melakukan traveling bersama anak, sebagai media belajar. Traveling terkadang tidak harus direncanakan jauh hari, atau harus ke lokasi yang jauh. Terkadang kesempatan traveling datang begitu saja, tanpa terlalu direncanakan. Kali ini, perjalanan ke Jakarta berawal sederhana. Seorang novelis, Sundari Mardjuki, mengadakan acara launching novel terbarunya, Genduk, yang digabungkan dalam acara Pasar-Pasaran Temanggung (pementasan Jaran Kepang, workshop membatik, dll) di Museum Nasional Jakarta, hari Sabtu (30/7). Wah, menarik nih, pikir saya. Di saat yang sama, saya juga membaca tentang petani Kendeng yang kembali mendirikan tenda perjuangan di depan istana Presiden. Akhirnya, saya putuskan untuk mengajak anak-anak ke Jakarta.

Pagi-pagi subuh, saya dan anak-anak berangkat ke Jakarta naik bis umum. Sampai di Jakarta, nyambung naik busway ke Monas. Ini pengalaman baru buat kami. Dengan lugu, saya nanyain cara pembayaran. Saya tidak punya kartu apapun yang disebut si mbak, jadilah saya beli kartu e-money yang tersedia di counter. Bahkan nempelin kartunya ke sensor di pintu masuk pun, musti dibantu petugas. Ih, kliatan banget datang dari kampung nih 🙂

Busway cukup nyaman, karena sepi. Reza segera membuka bekalnya, bersiap sarapan. Tapi langsung ditegur petugas. Saya menghibur Reza dengan menawari minum. Dia menggeleng, “Minum juga gak boleh! Liat tuh!” Aih, iya, ternyata di kaca ada gambar burger+gelas yang dikasih tanda coret.

Ok, sekarang kita belajar taat aturan, ya Nak.

Reza memperhatikan gambar larangan. Ada gambar dua sosok laki-laki dan perempuan, dicoret juga. Reza nanya, apa itu maksudnya? Nah, kesempatan deh, belajar tentang tata krama pergaulan, jangan sentuh perempuan non muhrim, dst.

Tiba-tiba ia berbisik, “Ma, itu petugasnya juga melanggar aturan!”

Saya menoleh. Ternyata si petugas busway berdiri tepat di atas tulisan “Dilarang Berdiri” di depan pintu masuk/keluar busway. Ooow…

Continue reading