Jakarta, Antara Temanggung dan Kendeng

membatikSeperti saya tulis sebelumnya, saya berusaha untuk sering melakukan traveling bersama anak, sebagai media belajar. Traveling terkadang tidak harus direncanakan jauh hari, atau harus ke lokasi yang jauh. Terkadang kesempatan traveling datang begitu saja, tanpa terlalu direncanakan. Kali ini, perjalanan ke Jakarta berawal sederhana. Seorang novelis, Sundari Mardjuki, mengadakan acara launching novel terbarunya, Genduk, yang digabungkan dalam acara Pasar-Pasaran Temanggung (pementasan Jaran Kepang, workshop membatik, dll) di Museum Nasional Jakarta, hari Sabtu (30/7). Wah, menarik nih, pikir saya. Di saat yang sama, saya juga membaca tentang petani Kendeng yang kembali mendirikan tenda perjuangan di depan istana Presiden. Akhirnya, saya putuskan untuk mengajak anak-anak ke Jakarta.

Pagi-pagi subuh, saya dan anak-anak berangkat ke Jakarta naik bis umum. Sampai di Jakarta, nyambung naik busway ke Monas. Ini pengalaman baru buat kami. Dengan lugu, saya nanyain cara pembayaran. Saya tidak punya kartu apapun yang disebut si mbak, jadilah saya beli kartu e-money yang tersedia di counter. Bahkan nempelin kartunya ke sensor di pintu masuk pun, musti dibantu petugas. Ih, kliatan banget datang dari kampung nih 🙂

Busway cukup nyaman, karena sepi. Reza segera membuka bekalnya, bersiap sarapan. Tapi langsung ditegur petugas. Saya menghibur Reza dengan menawari minum. Dia menggeleng, “Minum juga gak boleh! Liat tuh!” Aih, iya, ternyata di kaca ada gambar burger+gelas yang dikasih tanda coret.

Ok, sekarang kita belajar taat aturan, ya Nak.

Reza memperhatikan gambar larangan. Ada gambar dua sosok laki-laki dan perempuan, dicoret juga. Reza nanya, apa itu maksudnya? Nah, kesempatan deh, belajar tentang tata krama pergaulan, jangan sentuh perempuan non muhrim, dst.

Tiba-tiba ia berbisik, “Ma, itu petugasnya juga melanggar aturan!”

Saya menoleh. Ternyata si petugas busway berdiri tepat di atas tulisan “Dilarang Berdiri” di depan pintu masuk/keluar busway. Ooow…

Sampai  di Museum, acara belum mulai. Tampak stand-stand makanan yang menggoda selera. Wah, pas banget, kami memang sudah lapar sekali. Segera saya membeli soto, nasi liwet Temanggung, dan lontong. Uenak banget. Lupakan diet karbo. Kebetulan hari ini ultah saya, jadi saya merasa perlu menghadiahi diri sendiri. Saya habiskan satu porsi, plus nyipin porsinya Kirana dan Reza. Lalu, mba Sundari memberi kupon workshop batik buat Reza, ah senengnya… Reza (dan saya) pun ikut belajar membatik. Wah, mendadak jadi artis deh, entah berapa banyak tustel yang menjepret kami dari berbagai angle. Saya kaku banget menggoreskan canting ke kain, sementara Reza lebih luwes (mungkin karena hobi menggambar).

jaran kepang

tarian Jaran Kepang

Selanjutnya, nonton pertunjukan Jaran Kepang yang epic banget. Saya bersyukur sekali anak-anak saya bisa menyaksikan langsung salah satu seni budaya Indonesia. Lanjut ke ruangan auditorium untuk menghadiri launching novel Genduk karya mba Sundari Mardjuki. Saat saya menulis blog ini, saya  baru membaca bab-bab pertama, jadi belum bisa mereview. Tapi yang jelas, terasa sekali nyastra-nya, serasa baca novel-novel klasik Indonesia karya Ahmad Tohari yang memang kental setting budaya Jawanya (setting novel Genduk adalah kehidupan petani tembakau di lereng Gunung Sindoro, Temanggung). Saya (dan Kirana) suka sekali novel-novel jenis ini, karena mengalir tenang dan memberikan kekayaan batin. Promosi kebudayaan Temanggung  yang terasa kental sepanjang acara ini, membuat saya bertekad, suatu saat musti mengajak anak-anak ke sana.

launching novel "Genduk"

launching novel “Genduk”

Usai acara, saya dan anak-anak duduk-duduk sebentar di Kids Corner museum. Fasilitas yang disediakan museum untuk anak-anak cukup bagus, kami sempat main dakon; selain itu ada baju-baju adat, boleh dipakai untuk berfoto, meja-meja kecil dan krayon, tembikar untuk diwarnai anak-anak, boneka panggung, angklung, dan layar televisi besar yang isinya media informasi interaktif (tentang rumah-rumah adat di Indonesia).

Usai sholat, saya mengajak anak-anak ke kawasan depan Istana Negara. Kami jalan kaki di tengah cuaca terik, melewati perkantoran terkenal, seperti Menko Ekuin dan Mahkamah Konstitusi. Akhirnya, diiringi keluhan Reza, “kapan sampainya?” kami sampai juga ke tempat yang dituju: tenda perjuangan para petani Kendeng. Sudah seminggu mereka menggelar tenda di depan istana Presiden (tidak terlalu di persis depan sih, agak jauh juga, di depan gerbang Monas; saya dengar, pendemo memang dilarang untuk bikin aksi tepat di depan istana), berharap sang Presiden mau menemui mereka dan mendengarkan keluhan mereka. Para petani tersebut menolak dibangunnya pabrik semen di kawasan mereka yang merusak lingkungan (memutus mata air yang jadi sumber air minum dan pengairan sawah), serta polusi udara. Dokumen ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) dibuat dengan data yang tidak akurat, pun tanpa melibatkan para petani.

Saya sempat berbincang sebentar dengan Yu Sukinah (saya pernah melihat sosoknya dalam film dokumenter Samin VS Semen). Dia yang membuka percakapan, karena saya sendiri speechless, bingung mau bicara apa. Sudut mata saya terasa berair berkali-kali. Yu Sukinah bicara dengan tenang, soal ‘sugih hati’ [kaya hati] dan ‘menjaga bumi’. Dia merendah sebagai ‘orang yang gak sekolah’, padahal, dia sedang mengajarkan saja kearifan dan ketangguhan luar biasa, yang sulit didapat dari sekolah zaman ini. Justru orang-orang pinter hasil sekolahan yang kini sedang menghancurkan lahan-lahan subur di Kendeng untuk membuat pabrik semen.

Yu Sukinah

Yu Sukinah

Yu Sukinah dan para perempuan petani Kendeng lainnya adalah perempuan tangguh, berjuang menolak pabrik semen di daerahnya. Kaum perempuan Kendeng mendirikan tenda perjuangan, mereka huni tenda itu secara bergantian. Sudah 2 tahun tenda itu berdiri, namun pabrik semen masih terus merangsek, sementara pemerintah seolah tak kuasa (atau tak mau?) menindak korporasi yang sebagian sahamnya milik asing. Padahal sebenarnya Indonesia sudah surplus semen 30%. Jadi, pabrik-pabrik semen baru itu dibuat untuk ekspor, sambil mengorbankan petani dan lahan pertanian. Lalu, ketika produksi pertanian berkurang, kita pun impor beras dari luar. Entah siapa yang pintar dan bodoh dalam siklus ini. 😦

Suasana sedemikian terik. Kami di sana hanya sekitar 10 menit, tapi sudah tak tahan. Kirana mengernyit kepanasan, Reza rewel meminta pulang karena panas. Apatah lagi mereka, yang sudah 2 tahun menjalani ini semua. Membangun tenda/demo di depan istana di tahun ini pun sudah 3x (April, Juni, Juli-Agustus 2016), bahkan sampai mengecor kaki dalam semen segala, tapi baru tadi sore (2/8 jam 17) bapak presiden menemui mereka.

Kami beranjak pulang dengan diantar kata-kata Yu Sukinah, “Matur nuwun njih bu, sampun nili’i kami di sini [terimakasih bu, sudah nengokin kami di sini].”

Dalam perjalanan pulang, saya menjelaskan kepada anak-anak apa yang terjadi, siapa para petani yang ada di dalam tenda, apa yang mereka perjuangkan, dst. Semoga kelak, jika mereka ditakdirkan jadi pemimpin atau pengambil keputusan, mereka ingat pengalaman singkat di tenda biru di tengah cuaca terik itu.*

Advertisements

4 thoughts on “Jakarta, Antara Temanggung dan Kendeng

  1. Setau saya, petugas dalam TJ memang selalu berdiri di dekat pintu masuk/keluar Bu. Karena memang buat ngatur keluar masuknya penumpang juga bantu yang kesulitan masuk seperti lansia dst. Jadi khusus peraturan tsb memang ga berlaku buat mereka 😁. Kalau penumpang yang berdiri di situ jelas mengganggu dan bisa berbahaya juga kalau terjepit pintu saat buka tutup. Entah berapa kali saya lihat, penumpang yg nyaris kejepit di pintu dan ga jadi kejepitnya karena memang ada petugas di dekat pintunya 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s