Hidup yang Tak Semudah Kata Motivator

gs

klik foto untuk memperbesar

Saya pikir, setiap manusia, pasti butuh motivator, sosok yang memotivasi, membuka pikiran yang tersumbat, menunjukkan pilihan-pilihan, menyemangati, dll. Sosok itu bisa jadi adalah ayah-ibu kita, guru-guru, suami/istri, atau sebatas teman facebook. Atau, bisa juga sosok tersebut adalah orang-orang mulia yang kata-katanya tercatat dalam buku-buku berusia ratusan tahun dan dinukil ulang hingga kini. Misalnya Rasulullah yang bersabda, “Orang yang kuat bukanlah mereka yang menang dalam pertarungan, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.”

Motivator bisa juga muncul dalam sosok yang mendedikasikan waktunya untuk secara serius mempelajari “bagaimana pengaruh kata-kata pada perilaku manusia”  (Neurosemantic), lalu mengajarkannya secara serius pula, dalam berbagai pelatihan. Mungkin dia tidak disebut motivator, tepatnya “coach” [pelatih]  tapi yang dilakukannya adalah juga memotivasi para peserta pelatihan untuk berlatih menggunakan pikirannya secara benar (dan menunjukkan caranya) sehingga bisa memaknai segala hal yang terjadi dalam hidupnya dengan cara yang benar. Dan hasilnya, biasanya sama dengan yang ratusan tahun lalu diajarkan oleh manusia-manusia mulia, karena kebenaran itu abadi meskipun disampaikan dalam berbagai format bahasa.

Misalnya saja, soal “masalah”, guru training Neurosemantic saya yang ganteng dan baik hati, bapak Prasetya M. Brata, menjelaskan, “Masalah itu, kalau diterima tentu tidak akan jadi masalah. Masalah baru akan jadi masalah, kalau tidak diterima.”

Maksudnya, ketika kita menghadapi masalah, ada dua pilihan, diterima, atau tidak diterima. Ketika tidak diterima, hasilnya adalah marah-marah, sedih, dll. Betapa banyak kita dapati orang yang marah-marah ga jelas ketika punya masalah. Kadang yang jadi korban adalah anak-anaknya yang tidak ada kaitan dengan masalahnya.

Continue reading

Advertisements

Ngefans

love-sand

image from google

Dulu, saya ngefans banget sama Aa Gym. Waktu kuliah S1, saya sempat rutin datang ke taklimnya. Bertahun-tahun kemudian, muncul “skandal”, si Aa diam-diam kawin lagi. Se-Indonesia heboh deh. Saya juga ikut heboh, “berantem” di sebuah milis (saya di pihak penentang poligami si Aa, bukan anti poligami sebagai “hukum” tapi praktiknya). Yang menarik, si Akang tetap membeli VCD ceramahnya saat kami liburan di Indonesia (waktu itu kami masih kerja di Iran). Yang penting isi ceramahnya seger, Nyunda pisan, lumayan buat mengobati rindu Indonesia, peduli amat soal poligaminya, demikian pendapat si Akang.

Beberapa waktu yll saya sempat uring-uringan karena Pak Anies Baswedan diberhentikan jadi menteri. Soalnya, saya kan (dulu) ngefans banget sama pak Anies. Si Akang yang lagi di luar kota menyempatkan nelpon 45 mnt cuma buat ceramahin, kalau ngefans tu ga sih gitu-gitu amat kali… dan banyak lagi komennya ttg politik dan konstelasi politik Indonesia. Sesuatu yang sebenarnya saya juga tahu dan paham, cuma.. ya gitu deh.
Saya dulu juga ngefans pada om Mario Teguh yang sejak kemarin dihebohkan oleh kasus masa lalunya (ada orang mengaku sebagai anaknya, entah benar/tidak, bukan itu topik tulisan ini).