Review “A Monster Calls”: Manusia yang Kompleks

monster-callsKemarin saya nonton “A Monster Call”, berdua saja dengan anak saya, Reza. Film ini untuk remaja, Reza baru 10 tahun. Tapi saya pikir, kemampuan berpikir Reza sudah melampaui umurnya dan dia memang suka ‘berpikir’ (merenung). Beruntungnya, film ini seolah memang dibuat untuk para perenung, yang mau berlama-lama memikirkan bahwa dunia ini tidak hitam putih, bahkan dalam satu objek pun ada kontradiksi, ada ke-kompleks-an.

Di dalamnya, ada seorang monster yang menceritakan 3 kisah kepada seorang anak bernama Conor. Kisahnya out of the box semua. Saya ceritakan yang pertama dan kedua saja (sisanya nonton sendiri). Kisah pertama, seorang raja menikah dengan seorang penyihir. Tak lama kemudian, si raja meninggal. Semua mengira si penyihirlah yang meracuni raja, termasuk si pangeran. Si penyihir pun menjadi Ratu, penguasa kerajaan. Anak si raja, yang sudah remaja, di saat yang sama jatuh cinta kepada seorang anak petani. Si Ratu, karena ingin terus berkuasa, meminta sang pangeran menikahinya. Sang pangeran menolak, lalu kabur bersama kekasihnya. Keesokan harinya, sang kekasih meninggal. Sang pangeran pun menggalang massa untuk memberontak kepada Ratu. Rakyat yang marah pada Ratu yang membunuh anak petani, menjadi pasukan yang sangat tangguh. Pemberontakan berhasil, sang pangeran pun menjadi Raja, hidup panjang umur, dan dicintai rakyatnya.

Continue reading

Advertisements

Cinta Itu Sebab

love1Mumpung masih mood nulis, saya tuliskan satu lagi. Soal cinta.

Suatu hari,  si Akang diminta menghadap ke seseorang, ada orderan proyek untuknya. Setelah berdiskusi panjang lebar, sebagai penutup, si Akang berkata, “Baik pak, saya diskusikan dulu dengan istri saya, nanti saya sampaikan keputusannya.”

Si Bapak itu seperti tersengat, “Buat apa, kok diskusi sama istri segala?!”

“Bapak menawari saya proyek ini, artinya Bapak menilai saya kompeten. Nah, saya bisa kompeten tentu berkat dukungan istri saya…”

Dia terdiam, lalu menjawab, “Oh ya, tentu saja. Ok, silahkan.”

Tentu saja saya terharu mendengar si Akang bercerita tentang kejadian ini kepada saya via telpon. Tapi tidak saya tampakkan. Soalnya percuma saja. Dia bercerita bukan demi romantis-romantisan. Biasa saja. Jadi ya saya sampaikan pendapat saya, yang seperti biasa, sangat impulsif dan tak saya pikir panjang. Tapi mungkin justru pendapat-pendapat model begitu yang ditunggunya. Buktinya, dia kemudian menjelaskan argumennya, dan seperti biasa, saya jawab, “Ya udah, kalo gitu, terserah Papa aja.”

Continue reading

Sehari Kemarin

jakarta.jpg

Jakarta di malam hari (foto: shuttershade.deviantart.com)

Ini hanya cerita tak penting, sekedar meng-update blog. Banyak sekali cerita sehari-hari yang terlewatkan, padahal seharusnya ditulis. Entahlah, saya merasa harus menulis dengan serius. Padahal, siapa yang mengharuskan? Mengapa memilih menjadi ‘korban’ sehingga ‘diharuskan’ oleh pihak lain, atau bahkan oleh diri sendiri? Mengapa tidak menulis saja sesuka hati, seperti duluuu.. sekali, rasanya sudah lama sekali. Dulu saya menulis dengan senang hati, tapi sekarang saya merasa ada banyak kekhawatiran:  bagaimana tanggapan orang? Bagaimana kalau..? Akhirnya begitu banyak yang saya pendam, tak jadi ditulis.

Sehari kemarin, saya ‘mengelana’ sendirian di Jakarta. Diawali dengan di-drop suami di masjid. Lihat, bahkan saya tak berani sebut nama masjidnya… saya bahkan tak berani menyebut nama acara yang saya ikuti, hanya semata kuatir, si pemilik acara terganggu oleh opini publik gara-gara ketahuan bahwa saya menjadi peserta dalam acaranya. Sama seperti keengganan saya memposting foto saya sendiri di FB bersama dengan orang-orang lain, kuatir mereka di-bully karena berfoto bersama saya (dan memang, saya dapat laporan, mereka yang memposting foto bersama saya, langsung di-inbox orang yang memperingatkan ‘hati-hati dengan Dina..’). Rasanya saya ingin berteriak pada mereka, menyumpahi mereka. Tapi tidak ada gunanya juga kan? Bukankah mereka yang sakit jiwa? Saya tak boleh membiarkan diri saya ikut sakit jiwa memikirkan kesakitjiwaan mereka.

Baiklah, saya ulangi lagi. Saya duduk di sebuah masjid. Acara saya jam 13, saya sampai di masjid itu jam 7. Saya harus menjalani 6 jam ke depan sendirian. Di laptop saya sudah ada setumpuk naskah terjemahan. Saya kerjakan, di sela-sela menjawab chat di WA. Tiba-tiba seorang pengurus masjid masuk dan bertanya, “Dari mana, Bu?”

Continue reading