Sehari Kemarin

jakarta.jpg

Jakarta di malam hari (foto: shuttershade.deviantart.com)

Ini hanya cerita tak penting, sekedar meng-update blog. Banyak sekali cerita sehari-hari yang terlewatkan, padahal seharusnya ditulis. Entahlah, saya merasa harus menulis dengan serius. Padahal, siapa yang mengharuskan? Mengapa memilih menjadi ‘korban’ sehingga ‘diharuskan’ oleh pihak lain, atau bahkan oleh diri sendiri? Mengapa tidak menulis saja sesuka hati, seperti duluuu.. sekali, rasanya sudah lama sekali. Dulu saya menulis dengan senang hati, tapi sekarang saya merasa ada banyak kekhawatiran:  bagaimana tanggapan orang? Bagaimana kalau..? Akhirnya begitu banyak yang saya pendam, tak jadi ditulis.

Sehari kemarin, saya ‘mengelana’ sendirian di Jakarta. Diawali dengan di-drop suami di masjid. Lihat, bahkan saya tak berani sebut nama masjidnya… saya bahkan tak berani menyebut nama acara yang saya ikuti, hanya semata kuatir, si pemilik acara terganggu oleh opini publik gara-gara ketahuan bahwa saya menjadi peserta dalam acaranya. Sama seperti keengganan saya memposting foto saya sendiri di FB bersama dengan orang-orang lain, kuatir mereka di-bully karena berfoto bersama saya (dan memang, saya dapat laporan, mereka yang memposting foto bersama saya, langsung di-inbox orang yang memperingatkan ‘hati-hati dengan Dina..’). Rasanya saya ingin berteriak pada mereka, menyumpahi mereka. Tapi tidak ada gunanya juga kan? Bukankah mereka yang sakit jiwa? Saya tak boleh membiarkan diri saya ikut sakit jiwa memikirkan kesakitjiwaan mereka.

Baiklah, saya ulangi lagi. Saya duduk di sebuah masjid. Acara saya jam 13, saya sampai di masjid itu jam 7. Saya harus menjalani 6 jam ke depan sendirian. Di laptop saya sudah ada setumpuk naskah terjemahan. Saya kerjakan, di sela-sela menjawab chat di WA. Tiba-tiba seorang pengurus masjid masuk dan bertanya, “Dari mana, Bu?”

“Bandung, Pak,” jawab saya.

“*#$%&*)((*&%^” kata si Bapak tiba-tiba, tak ada angin, tak ada hujan. Soal Ahok. Tak perlu saya tuliskan apa katanya, karena terlalu banyak orang yang juga sakit jiwa di luar sana, sangat sensi mendengar kata Ahok. Entah sudah berapa orang yang saya unfollow di FB, teman yang semula baik dan pintar, tapi kini  kelihatan sakit jiwa hanya karena fans mati atau benci mati pada sosok bernama Ahok itu.

Tapi memang, terlalu banyak bermedsos bisa membuatmu sakit jiwa.

Si Bapak pergi, ketika saya menjawah sebatas, “Oooh…”

Saya kembali mengetik, menerjemahkan secepat mungkin. Akhir-akhir ini saya merasa tertekan karena pekerjaan saya tak habis-habis. dan justru karena tak habis-habis, saya jadi merasa malas melakukannya  dan lebih banyak melakukan hal-hal tak jelas.

Akhirnya azan Zuhur berkumandang, saya ikut sholat berjamaah di masjid itu. Lalu bergegas mencari makan siang. Sejak dua pekan yll saya memulai diet ketofastosis. Jadi saya memilih warung makan yang menyediakan gule daging, saya santap tanpa nasi, diiringi tatapan heran ibu warung. Lalu kami berbincang soal diet dan bagaimana mengurangi kegemukan. Saya tidak kegemukan sebenarnya, hanya over sekitar 5 kilo dari berat badan ideal. Tapi saya pingin sehat, ga cepat capek, dan tidak mau menjalani masa tua dengan penuh penyakit. Si Mbak bolak-balik bertanya, “Nasi merah karbohidratnya tinggi ga? Nasi kemarin, gulanya berkurang ga? Ciri-ciri diabetes bagaimana?” Untung ada smartphone sehingga saya bisa google dulu untuk menjawab.

Saya lalu memesan jus alpukat tanpa gula dan susu (diganti diabetasol yang saya bawa). Abang-abang penjual batagor dan jus, juga ibu yang lain, ikut nimbrung diskusi. Menarik juga ngobrol dengan mereka.

Lalu, saya berjalan ke lokasi acara seminar. Menarik isinya. Salah satu yang saya garis bawahi: kamu bukanlah pikiranmu. Jadi, berhentilah berpikir “I’m nothing, I’m hated, I’m isolated…” Jangan iyakan pikiran seperti itu. Be strong, be responsible for what you do. Saya menulis, saya bertanggung jawab atas apa yang saya tulis. Tapi saya tidak bertanggung jawab atas respon orang lain. Haters will always hate, bukan urusan saya. Biar saja mereka sakit jiwa sendiri.

Tentu saja tidak mudah mempraktikkannya. Buktinya, baca lagi beberapa paragraf pertama saya. Saya belum berhasil. Saya masih terus merasa harus di balik layar, duduk diam-diam, takut menjadi pusat perhatian.

Pulang, saya mencari ojek. Dengan khawatir saya tanya berapa ongkos ke Lebak Bulus, karena tukang ojek pengkolan di Jkt seringkali memasang harga mahal. Eh, cuma 20rb. Sepanjang jalan kami mengobrol tentang kehidupan si Bapak. Anak-istrinya barusan dikirim ke kampung, karena biaya hidup di Jkt sudah tak tertahankan lagi. Dulu dia juga kerja jualan pernak-pernik di kaki lima di daerah Blok M, kulakannya di Bandung, lumayan dapat 2 juat sebulan. Tapi sekarang semua digusur. Demi kerapihan dan kenyamanan mata kaum elit, memang para pedagang kaki lima harus digusur, ya kan?

Saya minta berhenti di sebuah masjid, mau Maghrib dulu. Saya beri dia 25 ribu plus kue-kue yang saya bawa. Senyumnya sumringah. sementara saya berharap ‘balasan’ dari sedekah saya, seperti khutbah para ustadz, kalau sedekah diganti sekian kali lipat. Ironis,  murni ikhlas itu memang susah.

Usai sholat, saya berjalan mencari bis. Malam sudah melingkupi Jakarta. Hujan rintik-rintik. Ternyata harus jalan kaki cukup jauh. Saat menyeberang, I felt blessed, ada 2 orang pengendara motor yang sigap melindungi. Mereka memanjangkan tangan ke kanan, menghalangi mobil di belakang melaju, sehingga saya aman menyeberang. Jakarta terasa ramah bila ada yang model begini.

Di sebuah lokasi dimana bis biasa lewat, saya melihat seorang bocah amat lusuh, menawarkan angkot kepada orang-orang yang lewat. Agaknya ia berharap dapat upah dari si sopir angkot atas jasanya berteriak, “Kebayoran..Kebayoran..” Anak itu seharusnya ada di rumah yang hangat, menyantap makan malam bersama ortu, lalu membaca buku sambil leyeh-leyeh, seperti Reza. Tapi dia ada di sini, dan saya hanya diam, tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Terlalu banyak orang susah di negeri ini. Terlalu banyak yang harus dibantu, sehingga akhirnya saya sering melewatkan begitu saja permintaan bantuan yang berseliweran di timeline FB saya.

Sepuluh menit menunggu, bis pun datang. Saya naik, menelpon si Akang, memberitahu posisi saya, supaya dia siap-siap menjemput saya di tempat pemberhentian bis di dekat rumah kami. Lalu saya tertidur pulas, dan terbangun ketika bisa sudah hampir sampai ke tempat saya harus turun.

Itulah, sekedar cerita tentang sehari kemarin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s