Review “A Monster Calls”: Manusia yang Kompleks

monster-callsKemarin saya nonton “A Monster Call”, berdua saja dengan anak saya, Reza. Film ini untuk remaja, Reza baru 10 tahun. Tapi saya pikir, kemampuan berpikir Reza sudah melampaui umurnya dan dia memang suka ‘berpikir’ (merenung). Beruntungnya, film ini seolah memang dibuat untuk para perenung, yang mau berlama-lama memikirkan bahwa dunia ini tidak hitam putih, bahkan dalam satu objek pun ada kontradiksi, ada ke-kompleks-an.

Di dalamnya, ada seorang monster yang menceritakan 3 kisah kepada seorang anak bernama Conor. Kisahnya out of the box semua. Saya ceritakan yang pertama dan kedua saja (sisanya nonton sendiri). Kisah pertama, seorang raja menikah dengan seorang penyihir. Tak lama kemudian, si raja meninggal. Semua mengira si penyihirlah yang meracuni raja, termasuk si pangeran. Si penyihir pun menjadi Ratu, penguasa kerajaan. Anak si raja, yang sudah remaja, di saat yang sama jatuh cinta kepada seorang anak petani. Si Ratu, karena ingin terus berkuasa, meminta sang pangeran menikahinya. Sang pangeran menolak, lalu kabur bersama kekasihnya. Keesokan harinya, sang kekasih meninggal. Sang pangeran pun menggalang massa untuk memberontak kepada Ratu. Rakyat yang marah pada Ratu yang membunuh anak petani, menjadi pasukan yang sangat tangguh. Pemberontakan berhasil, sang pangeran pun menjadi Raja, hidup panjang umur, dan dicintai rakyatnya.

Seolah ini kisah biasa dan memang begitulah ‘seharusnya’. Tapi ternyata tidak. Ternyata Raja meninggal karena sudah tua, bukan karena diracun. Kekasih si pangeran, siapakah yang membunuhnya? Semua mengira bahwa Ratulah yang membunuhnya (dia punya motif untuk itu bukan?). Tapi ternyata tidak. Justru pangeranlah yang membunuhnya, demi mencari pre-text (dalih) perang.  Sungguh tidak adil rasanya, seorang pembunuh kemudian menjadi raja yang dicintai rakyat.

Kisah kedua, tentang seorang tabib dan pendeta. Ada seorang tabib berwatak buruk, tapi sangat mumpuni. Dia mengumpulkan berbagai tanaman obat dan meraciknya jadi obat. Si Pendeta berkhotbah di gereja, jangan percaya pada tabib/perdukunan. Akibatnya, warga pun enggan membeli obat dari tabib. Ditambah lagi, watak sang tabib memang buruk, semakin besar alasan warga untuk menolak sang tabib. Sampai suatu hari, anak si pendeta sakit keras, tak ada dokter yang mampu mengobati. Si pendeta pun datang ke tabib, meminta maaf, dan berjanji akan mengubah isi ceramahnya supaya warga tak lagi antipati pada sang tabib.

Si pendeta berkata, “Aku akan menyerahkan segalanya untukmu asal kamu sembuhkan anakku.”

“Apakah itu termasuk keyakinanmu?”

“Ya”

“Kalau begitu, aku tidak bisa melakukan apapun untukmu.”

Si tabib pergi, dan anak si pendeta pun mati.

Lalu, si monster pun menghancurkan gereja si pendeta. Conor bertanya, “Bukankah yang salah si tabib yang menolak menolong, mengapa gereja yang kauhancurkan?”

Si monster menjawab bahwa meskipun watak si tabib buruk, ia tetap menolong orang. Namun sang pendeta justru mencekoki jamaahnya dengan keyakinan yang salah, yang ia sendiripun tidak mau mempertahankan keyakinannya itu. Bila perlu, ia siap melepaskan seluruh keyakinannya. Justru karena itulah si tabib tidak bisa menolong: karena “keyakinan adalah setengah dari [proses] penyembuhan”.

Dahsyat kan? Please, ini tidak dalam rangka menghina agama Kristiani lho. Justru ini fenomena umum, dalam semua agama ada. Betapa banyak orang dari agama apa saja yang membawa-bawa nama Tuhan untuk mendorong massa melakukan sesuatu, tapi di saat lain, mereka sendiri yang paling depan dalam urusan ‘melepas’ Tuhan.

Sang monster berusaha mengenalkan kepada Conor bahwa manusia itu makhluk yang kompleks. Seorang penyihir, belum tentu pembunuh. Seorang raja yang dicintai rakyat, belum tentu aslinya baik. Seorang pemuka agama, belum tentu lebih baik dari tabib berwatak buruk.

Bukankah sejarah berkali-kali sudah membuktikan, betapa hal-hal yang dulu kita kira benar, ternyata salah? Dalam politik, misalnya, banyak sekali fakta yang kita tidak tahu, ditutup-tutupi oleh media dan para orator. Massa pun seolah menjadi iringan domba yang merasa banyak tahu, padahal sedang digiring ke arah yang diinginkan oleh penggembala.

Karena itu, ketika manusia adalah makhluk yang kompleks, yang hidup dalam dunia yang kompleks pula, cara berpikir hitam-putih (atau “oposisi biner”) jelas menggelikan. Tentu, ada parameter kebenaran yang perlu kita yakini dengan teguh dalam hati, tetapi dalam menilai objeknya atau mengaplikasikan parameternya, sungguh kita perlu kebijaksanaan, welas asih, dan berlepas diri dari pola pikir hitam-putih.

One thought on “Review “A Monster Calls”: Manusia yang Kompleks

  1. Cara terbaik dan termudah memang simplifikasi, hitam-putih adalah salah satunya. Terkadang ada sesuatu yang lebih dalam, motif yang tersembunyi. Salah satunya mungkin keengganan untuk mencermari lebih jauh, menahan diri sebelum menentukan justifikasi. Tapi hal ini memang membutuhkan pemikiran yang kompleks, dimana sebagian kita justru menghindarinya dan memilih jalan gampang… kamu hitam atau putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s