LDM

love2LDM, Long Distance Marriage, terpaksa kami jalani tiga minggu ini. Pasalnya, kan Rana magang di Bekasi, di sebuah perusahaan film dokumenter. Senin subuh, di Akang berangkat bersama Rana. Pulang, Jumat malam banget. Sabtu, biasanya saya ke kampus. Jadi, ada waktu buat ngobrol hanya Sabtu malam dan Minggu. Pekan pertama, fine. Kedua, ok. Sekarang, ketiga, mulai mewek. I don’t like it, at all. Meskipun lega, akhir pekan ini Rana selesai magang, tapi Sabtu-Minggu-nya si Akang mau keluar Jawa. Apa? Hiks. Sungguh saya sangat berempati pada ibu-ibu yang dengan penuh kesabaran mampu menjalani LDM, atau bahkan hidup sebagai single parent, semoga Allah selalu melimpahi kalian dengan segala bantuan dan keberkahan.

Dan hari Ahad kemarin (13/11), rasanya banyak sekali hal buruk yang terjadi, meski kemudian saya sadari, Allah telah melindungi kami.

Continue reading

Tumbal

wikileaksIni cerita horor. Begini, pembantu saya (kerja 3x sepekan) cerita soal bibinya yang baru meninggal sepekan yang lalu. Tak lama setelah meninggal, saudaranya (sepertinya sepupu) yang tinggal tak jauh, masih bertetangga, malah beli mobil baru. Selama ini, orang itu sudah punya mobil dan membangun rumah, padahal tidak bekerja sama sekali. Uang dari mana?

Sudah menjadi rahasia umum, kata pembantu saya ini, orang-orang bisa mendapatkan uang dengan memberikan tumbal kepada ‘sesuatu’. Kata pembantu saya, dia melihat sendiri beberapa orang di kampungnya (yang bertetangga dengan kompleks kami) mendapat uang berlimpah padahal tidak bekerja apa-apa. Dia bahkan menyebut orang-orang di kompleks kami yang dicurigai melakukan praktik serupa. Indikatornya: ada anggota keluarga atau orang yang terkait, meninggal  mendadak.

Continue reading

Sehari Kemarin (2)

gs1

sumber foto: grup WA

Sehari kemarin, saya ngebolang lagi sendirian di Jakarta. It’s a kind of me-time, meski kata si Akang saya tuh terlalu banyak me-time-nya, haha.

Tujuan utama sebenarnya nonton pagelaran teater Gatotkaca Stress di gedung Usmar Ismail. Acaranya jam 19.00, tapi saya berangkat dari rumah jam 10-an, dianter si Akang dan anak-anak ke tol, tempat naik bis Primajasa. Mereka mau lanjut cari sepatu dan makan siang.

Jam 11-an, bis meluncur ke suatu tujuan, lalu saya turun di suatu tempat, lalu naik ojek ke suatu tempat, untuk ketemuan dengan seseorang. Haish, rahasia-rahasiaan begini yak. Masalahnya ini sensi sih, terkait pilkada di Jakarta. Hahaha, saya mau bikin penelitian kecil-kecilan, buat diri sendiri, membuktikan bagaimana media mendistorsi informasi.  Kesimpulan yang saya dapat, eh bener, ada media sialan yang mendistorsi berita. Udah gitu aja ya ceritanya. Mungkin suatu saat ditulis lengkapnya, kalau perlu.

Jam 17.45-an saya cari ojek lagi, meluncur ke Usmar Ismail. Wah, jam segitu macetnya… Untung si abang ojek lincah banget. Saya nyampe jam 18.15. Cepet-cepet nukerin e-tiket dengan tiket beneran, dapat goodie bag n voucher jutaan rupiah (potongan harga kalau ikut  berbagai pelatihan dari para coach n trainer), buku Inspiring Moms (ini khusus untuk yang beli tiket kelas Yudistira dan Arjuna) dan sebotol kopi. Lalu, buru-buru ke mushola untuk sholat.

Continue reading

Berburu Buku Sampai Eneg

obral1

menunggu jam 9

Sejarahnya dimulai Senin lalu. Pagi-pagi, Kirana kami antar ke travel, untuk menuju tempat magangnya, di sebuah perusahaan film dokumenter. Lalu, kami menuju Jl Caringin 74, untuk mendatangi obral buku di gudang Gramedia. Reza sudah seneng banget, bakal beli buku. Dia memang suka bilang “buku itu sahabatku, Ma…” dan toko buku memang tempat favoritnya.

Jalanan Bandung pagi itu masih lengang, jadi dalam waktu singkat kami sudah sampai di Caringin. Baru jam 7, tapi kami sudah bawa laptop, siap menghabiskan waktu sampai jam 9 (saat obral dibuka) dengan mengetik. Sementara Reza juga sudah siap dengan buku bacaan dan dvd-nya. Saat akan parkir, seseorang memberi info, “Bu, baru dibuka jam 11! Pagi ini ada gubernur mau datang!”

What?? Saya benar-benar kesal. Ini hari terakhir obral. Ngapain pula gubernur datang dan melarang rakyat biasa masuk sampai jam 11?? Menunggu sampai jam 11 terlalu lama. Lagipula, nomer antrian masuk tidak boleh diambil sekarang, harus tunggu jam 11. Kacau deh. Terpaksa kami putuskan pulang. Reza langsung menangis. Saya yang super bad mood, tidak bisa apa-apa. Akhirnya si Akang yang membujuk Reza, menjanjikan akan ke toko Gramedia esok hari. “Ga apa-apa, papa ada uang kok, Reza boleh beli buku meski harganya tidak obral,” bujuk si Akang.

Continue reading