Berburu Buku Sampai Eneg

obral1

menunggu jam 9

Sejarahnya dimulai Senin lalu. Pagi-pagi, Kirana kami antar ke travel, untuk menuju tempat magangnya, di sebuah perusahaan film dokumenter. Lalu, kami menuju Jl Caringin 74, untuk mendatangi obral buku di gudang Gramedia. Reza sudah seneng banget, bakal beli buku. Dia memang suka bilang “buku itu sahabatku, Ma…” dan toko buku memang tempat favoritnya.

Jalanan Bandung pagi itu masih lengang, jadi dalam waktu singkat kami sudah sampai di Caringin. Baru jam 7, tapi kami sudah bawa laptop, siap menghabiskan waktu sampai jam 9 (saat obral dibuka) dengan mengetik. Sementara Reza juga sudah siap dengan buku bacaan dan dvd-nya. Saat akan parkir, seseorang memberi info, “Bu, baru dibuka jam 11! Pagi ini ada gubernur mau datang!”

What?? Saya benar-benar kesal. Ini hari terakhir obral. Ngapain pula gubernur datang dan melarang rakyat biasa masuk sampai jam 11?? Menunggu sampai jam 11 terlalu lama. Lagipula, nomer antrian masuk tidak boleh diambil sekarang, harus tunggu jam 11. Kacau deh. Terpaksa kami putuskan pulang. Reza langsung menangis. Saya yang super bad mood, tidak bisa apa-apa. Akhirnya si Akang yang membujuk Reza, menjanjikan akan ke toko Gramedia esok hari. “Ga apa-apa, papa ada uang kok, Reza boleh beli buku meski harganya tidak obral,” bujuk si Akang.

Tanggal 2 November malam, saya baca status seorang teman di facebook, mengumumkan bahwa obral diperpanjang. Bahkan harganya dibanting, all item lima ribu. Wow! Rasanya saya beruntung sekali. Pagi-pagi tanggal 3, habis sholat Subuh, saya sampaikan ke Reza. Kami  sempat ragu-ragu, pergi nggak yaaaa? Apa nunggu Papa aja (saat itu sedang di Jkt), biar dianterin? Reza kemudian istikhoroh dengan Al Quran (kadang-kadang dia memang “dewasa”), hasilnya: bagus!

Ya udah deh, kami pontang-panting siap-siap. Soalnya, kami harus naik kereta lokal yang jam 6.30, lalu nyambung dengan angkot. Di stasiun, penumpang kereta lokal hanya boleh keluar di pintu utara. Padahal, kami harus naik angkot Sadang Serang-Caringin yang lewat jalan Kebun Kawung (di bagian selatan stasiun). Saya benar-benar ga suka dengan pengaturan seperti ini, sangat menyusahkan penumpang lokal. Dulu aturannya gak ruwet begini. Beruntung, saat itu tidak ada satpam yang menjaga, sehingga kami bisa menyelusup keluar ke pintu selatan. Agak deg-degan juga, takut diusir, kan malu. Ketika sudah di luar, saya dan Reza tertawa-tawa, lalu saling menepukkan tangan. Tos!

“Mama nakal ya?” kata saya.

“Iya, kayak Mamanya Aqil, makan di warung ga bayar,” jawab Reza tertawa.

“Ih, tapi kan akhirnya bayar…”

“Iya, tapi kan sempet kabur dulu. Harusnya bilang aja baik-baik, dompetnya hilang, nanti uangnya dikirim, gitu…”

Yang kami obrolkan adalah adegan di film Wonderful Life, ketika Aqil dan mamanya makan di sebuah warung. Tapi saat mau bayar, mamanya baru sadar bahwa dompetnya hilang. Lalu mereka kabur begitu saja (dengan mobil) dan sempat dikejar oleh si pemilik warung dengan motor. Tapi beberapa waktu kemudian, dia mengirim uang ratusan ribu ke pemilik warung itu.

Ok, balik lagi ke obral buku. Saat sampai, petugas langsung memberi nomer antrian. Alhamdulillah no 70, artinya kami bisa masuk tepat jam 9.00, tapi kami masih harus nunggu 30 menit lagi.  Antrian 1-150 boleh masuk jam 9-10. Jam 10 teng, semua harus keluar dan antrian berikutnya masuk. Selama 1 jam itu pengunjung bebas berburu buku. Tadinya saya pikir, 1 jam sangat sebentar. Tapi ternyata situasinya melelahkan, jam 9.35, saya menyerah dan ke kasir. Saya cuma bayar 165.000, padahal bukunya terasa banyaaak.. banget dan berat (rada nyesel, kenapa nggak nunggu dianter si Akang aja!).

obral2

yeeey, sudah boleh masuk!

Seperti saya bilang, memang melelahkan. Semua buku bertumpuk tak beraturan. Sejenak saya terdiam, berusaha fokus. Saya ingat lagi, tujuan saya adalah mencari buku-buku pelajaran untuk Rana dan Reza. Tapi susah mencarinya, berkali-kali membolak-balik tumpukan buku, tak dapat juga. Kadang ada juga yang nemu tak sengaja, langsung saya ambil. Saya pelototin judul buku-buku di rak yang relatif masih rapi, karena ini masih ronde pertama. Seseorang membongkar tumpukan di rak secara ceroboh, lalu menunduk, melihat buku di rak bawah. Dan… bruk, buku-buku di rak atas berjatuhan menimpa kepalanya. Rasain, pikir saya dalam hati.

Rasanya hampir mustahil menemukan buku yang saya mau di tengah tumpukan buku sedahsyat ini. Saya lalu berdoa berkali-kali, “Ya Allah pertemukan aku dengan buku-buku yang bermanfaat buatku dan anak-anakku…”

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga beberapa buku pelajaran sekolah untuk Kirana dan Reza. Lalu, yeeey.. saya menemukan dua buku tentang haji! Saya tak terpikir sama sekali sebelumnya. Tapi saat melihatnya, saya langsung tahu: ini memang saya butuhkan! Antrian ONH saya memang masih agak lama. Tapi siapa tahu kan, dipanggil lebih cepat? Kedua buku itu benar-benar menarik dan informatif. Alhamdulillah. Saya juga menemukan buku cara menggunakan Instagram untuk bisnis (buat adik ipar saya yang sedang merintis usaha jualan kerupuk ceker). Lalu, sebuah buku tentang politik.

Sementara Reza? Dia sih asyik sendiri, keliling mencari-cari buku cerita. Saya kasih dia jatah 20 buku, tapi cuma ketemu sekitar 10-an. Saya juga menemukan buku-buku cerita buat Reza, akhirnya tercukupi target 20 buku itu.

Lalu, ya sudah, saya putuskan pulang, rasanya sudah eneg melihat buku sedemikian banyak, pusing. Tapi ya tetap bersyukur karena punya buku-buku baru. Apalagi Reza, berkali-kali dia menyatakan ketakjubannya, melihat tumpukan buku yang kami bawa.

Udah, gitu aja ceritanya 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Berburu Buku Sampai Eneg

  1. mbak, saya juga bela2in pergi ke cuci gudang gramedia yg di jakarta itu. antri batch yg pertama, yg jam 08.00. lumayan masih menyenangkan : pengunjung masih sedikit, buku2 belum berantakan, belum panas dan gerah. tapi memang rata2 buku yg di ‘dicuci gudangkan’ bukan buku2 pengarang favorite saya 🙂 . tapi alhamdulillah, dg modal cuma 170 ribu saya dapat 2 plastik gede buku buat anak saya dan beberapa buku buat diri sendiri 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s