LDM

love2LDM, Long Distance Marriage, terpaksa kami jalani tiga minggu ini. Pasalnya, kan Rana magang di Bekasi, di sebuah perusahaan film dokumenter. Senin subuh, di Akang berangkat bersama Rana. Pulang, Jumat malam banget. Sabtu, biasanya saya ke kampus. Jadi, ada waktu buat ngobrol hanya Sabtu malam dan Minggu. Pekan pertama, fine. Kedua, ok. Sekarang, ketiga, mulai mewek. I don’t like it, at all. Meskipun lega, akhir pekan ini Rana selesai magang, tapi Sabtu-Minggu-nya si Akang mau keluar Jawa. Apa? Hiks. Sungguh saya sangat berempati pada ibu-ibu yang dengan penuh kesabaran mampu menjalani LDM, atau bahkan hidup sebagai single parent, semoga Allah selalu melimpahi kalian dengan segala bantuan dan keberkahan.

Dan hari Ahad kemarin (13/11), rasanya banyak sekali hal buruk yang terjadi, meski kemudian saya sadari, Allah telah melindungi kami.

Berawal dari bangun pagi yang telat [telat untuk tahajud], lalu sholat, dan buru-buru berangkat ke Gudang Gramedia, untuk berburu buku obralan lagi. Saya males  banget sebenarnya, tapi Reza terus mendesak. Kami berangkat bertiga, dengan Rika, adik saya. Perjalanan yang cukup lama, hampir 2 jam. Sekitar 40 menit mencari-cari buku dalam suasana tak nyaman, kepanasan, bau keringat orang, buku bertumpuk tak jelas. Rasanya yang terlihat oleh mata, di mana-mana buku how to, resep masakan, dan buku-buku tak menarik lainnya. Pantas saja tidak laku, saya pikir.  Atau mungkin buku-buku menarik (untuk saya) memang sudah habis. Syukurlah dapat buku komik yang disukai Reza, sekitar 11 judul. Saya sendiri beli buku tak jelas 4 judul, siapa tahu kepake. Rika dapat beberapa buku tentang tanaman.

Lalu pulang, saya putuskan naik Damri saja, di terminal Leuwi Panjang. Rika juga sekalian mau pulang ke Cipanas, Cianjur. Bisnya nyaman, ber-AC, tapi perjalanan amat lama. Di tengah jalan, saya baru teringat, belum sholat Zuhur, padahal sudah jam 12.07. Saya sedang bernazar sholat tepat waktu selama 1 bulan. Dan hari ini hari terakhir, tapi gagal karena lupa! Saya benar-benar kesal… kan jadi harus mulai lagi dari  hitungan 1. Hiks. Kadang saya menyesal, kok nazar dengan sesuatu yang sulit begini. Tapi dulu itu masalah yang kami hadapi berat banget sih. Alhamdulillah sudah ada solusinya. Tapi kan.. bayar nazarnya berat banget. Ini bukan pertama kalinya saya gagal, kadang hari ke 15, gagal, mulai lagi. Lalu hari ke 7 gagal, mulai lagi dari hitungan 1. Entah sudah berapa kali 😦

Saya tidak tahan untuk tidak melampiaskan kekesalan pada Reza, meskipun dengan pelan, “Mama tuh dari tadi memang ga pingin pergi. Tapi Reza sih suka maksa-maksa…” keluh saya.

Eh, Reza rupanya merasa disalahkan, akhirnya di rumah nangis dan ngadu ke papanya. Hih, tambah kesal lagi deh saya.

Di rumah, setelah sholat Zuhur, saya tidur dan terbangun karena mimpi buruk, buruk banget. Si Akang nikah lagi dengan orang lain, yang sialnya saya juga kenal orang itu. Mimpi itu benar-benar terasa nyata, bahkan saya ingat seperti apa kacaunya perasaan saya dalam mimpi itu. Terasa sekali sakitnya. Astaghfirullah,  naudzubillah min dzalik.  Ya udah deh, mewek. Saya benar-benar nangis tersedu-sedu dalam pelukan si Akang.

“Kalau Mama sedemikian takut kehilangan Papa, lalu mengapa masih saja melakukan hal-hal yang membuat kita saling tidak enak…? Tadi malam Papa kesal banget lho, sudah capek-capek menjemput Mama, tapi malah diomelin. Ya Papa paham, Mama sedang stress karena masalah disertasi. Pertanyaannya, mengapa demi menyenangkan hati orang lain, perasaan orang-orang yang lebih penting untuk dijaga perasaannya, justru dikorbankan…?”

Ya, memang beberapa hari ini saya tertekan. Disertasi saya sudah beres, dan sudah lulus sidang tertutup. So, ga ada masalah lagi. Tinggal nunggu sidang terbuka (promosi).Hanya saja, ada masukan untuk memperbaikinya agar lebih baik lagi. Si Akang meminta saya mengecek ke dalam hati kecil, tidakkah saya ingin mmeperbaikinya demi dipuji orang? Bukankah dengan seadanya saja, saya sudah dinyatakan lulus? Kalau merevisinya agar sempurna, tidak memakan waktu, energi, dan emosi, fine. Tapi masalahnya, ini memang membuat saya tertekan. Pasalnya, karena LDM ini, saya harus full mengurus Reza selama sepekan. Tidak ada waktu mengurus revisi. Waktu semakin habis, tapi kemajuan sangat lambat. Saya stress, dan meledak kesal. Padahal saya semalam cuma mengucapkan satu kalimat kesal saja, tidak mengomel panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membuat si Akang terluka. Duh, memang suami dan anak-anak saya orang-orang sensitif…

Akhirnya, perbincangan mengalir ke arah: siapa sih yang paling berharga dalam hidup saya? Tentu saja suami dan anak-anak. Jadi, seharusnya, apapun yang saya lakukan, harus mempertimbangkan dan mendahulukan mereka. Apa gunanya disertasi atau tulisan atau status facebook dipuji orang bila mengorbankan orang-orang terpenting itu? Si Akang mengingatkan, keinginan dipuji orang adalah jebakan setan dan setan memang selalu menjebak dengan hal-hal yang tampak baik. Saya menulis dengan baik, mungkin memang bermanfaat untuk orang lain; tapi jika mengorbankan yang wajib (mengurus anak dan keluarga), ya tetap saja salah. Keridhaan Allah lah yang bermanfaat buat kita, bukan keridhaan orang lain; apalagi orang lain yang tak dikenal.

Sore kemarin saya lalui dengan memikir ulang, kemana arah hidup saya selanjutnya. Aneh sekali, saya kan sudah punya suami dan anak, harusnya ini bukan pertanyaan lagi. Tapi dalam posisi saya, ada beberapa tawaran, ada jalan-jalan baru yang terbuka. Akankah saya ambil, atau saya tetap di sini, di rumah bersama suami dan anak-anak? Pengalaman LDM 3 pekan ini, plus hari buruk dan mimpi buruk ini, mendorong saya untuk memilih yang kedua. Lalu S3 buat apa? Entahlah, nanti saja dipikirin. Saya rasa, saya perlu merenung ulang lagi lebih lama…

*sorenya, saya dapat kabar bahwa Stasiun Bandung kebanjiran dan kereta tidak bisa lewat. Duh, Alhamdulillah, saya tadi memutuskan untuk  naik bis, bukan naik kereta. Tak apa ditebus dengan harus mulai lagi menunaikan nazar dari hari 1 [seandainya tadi saya naik kereta, kemungkinan besar saya tidak terlewat sholat Zuhur ontime]. Apalagi, saya pikir-pikir lagi, banyak sekali manfaat yang saya rasakan dengan sholat tepat waktu, antara lain, banyak kemudahan yang saya dapati dalam menjalani kehidupan, rizki semakin lancar, dll. Saya memang pernah baca di sebuah postingan di grup WA, seorang Ayatullah (saya lupa namanya), memberi nasehat, bila engkau mendapatkan kesulitan dalam hidup, sholatlah tepat waktu, insya Allah kesulitanmu akan teratasi. Dan saya sudah membuktikannya, Alhamdulillah.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “LDM

  1. Ibu, apa yang Ibu tuliskan selalu ada hikmah bagi saya yang belum menikah ini. Belajar untuk berdialog dg diri sendiri, berusaha untuk fokus kpd keluarga dan mahir dalam keilmuan, menjadi gambaran usai pernikahan di kepala saya..

    Ingin sekali bs bertemu Ibu kalau sy ke Bandung nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s