Prie GS

menjual-diri-prie-gs

sumber foto: akun twitter Prie GS

Saya pertama kali mengenal namanya sekitar tahun 2003 atau 2004. Saat itu saya masih bekerja sebagai jurnalis di Iran Broadcasting, Teheran. Seorang karyawati asal Malaysia hobi sekali membaca tulisan-tulisan Prie GS (di media online) dan menyimpannya di folder khusus. Saya membacanya sekilas, tapi waktu itu saya masih belum punya ketertarikan pada tulisan-tulisan motivatif, pengembangan karakter, dan sejenisnya.

Di Facebook, sejak sekitar setahun terakhir, saya follow akun beliau, tapi juga masih belum terlalu tertarik. Sampai akhirnya, dua bulan yang lalu, terbuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan Next Level Public Speaking Clinic bersama Prie GS dan Prasetya M. Brata. Waktu tepat ketika saya memang merasa perlu menimba ilmu di bidang ini. Salah satu syarat ikut pelatihan adalah membaca buku Prie GS, “Menjual Diri”.

Saya pun membeli dan membacanya, dan merasa wow banget. Di buku itu dijelaskan bahwa untuk  menjadi pembicara (speaker) diperlukan intelektualitas, kecerdasan emosional, dan spiritualitas. Sekilas terlihat klise. Tapi cara Prie menjelaskan 3 unsur itu, benar-benar lain dari yang lain, karena dia hadir sepenuhnya dalam buku itu, menceritakan hal-hal yang dialaminya selama ini, sehingga pembaca (saya) berkali-kali tersentak dan berpikir, “Benar juga ya?” Ini benar-benar a must read book, menurut saya.

Saya pun semakin bersemangat menunggu tibanya hari pelatihan bersama Prie GS. Dan benar saja, sebagaimana dia hadir sepenuhnya dalam bukunya, ia juga menyerahkan diri seutuhnya  dalam melatih seluruh peserta (ini yang saya rasakan). Satu-persatu peserta diminta presentasi dengan slide dengan durasi 10 menit dan dia mengomentari dengan sangat detil dan penuh kasih sayang (ajaib, bahkan ketika dia dengan bercanda mengatai peserta “ini psikolog malas” karena tidak menyajikan slide yang ‘wow’, terasa bahwa dia mengatakannya dengan sayang, dengan sepenuh keinginan agar sang presenter meningkatkan kemampuannya). Terasa bahwa dia mencurahkan semua ilmu “seni berbicara” yang dimilikinya tanpa takut rugi.

prie-pelatihan-public-speaking

gaya epic pakdhe Prie, sudah kecapean, tapi tetap maksimal membimbing

Tentu, saya juga mendapat giliran presentasi dan itu terjadi di sore hari. Bisa dibayangkan, sejak pagi, selain bersemangat penuh karena mendapatkan curahan ilmu bicara yang ajaib (tidak sekedar teknis, tapi penuh makna spiritual), saya juga tegang menunggu giliran “dihabisi”.

Tapi karena saya sudah sejak pagi mengamati kritik terhadap teman-teman peserta, ketika tiba giliran saya, saya sudah mempraktekkan sebagian apa yang disampaikan pakdhe Prie. Saya sudah belajar dari kesalahan teman-teman lain sedari pagi. Jadi, presentasi saya malah dipuji-puji beliau.

Apa saya bangga? Yah, setidaknya kepedean saya meningkat. Sekarang saya tau dimana kekuatan saya saat bicara (ilmu yang saya dapat sejak pagi adalah mengafirmasi apa yang sudah saya lakukan, dan mengingatkan saya apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan, serta memberi tahu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bicara saya).

Tapi sebenarnya dalam hati saya masih belum puas. Yang ingin saya sampaikan kemarin itu tidak tersampaikan dengan seutuhnya. Pengennya ngomong A, yang keluar A1 dan A2, begitulah kira-kira. Dan ini masalah terbesar saya selama ini. Setiap selesai seminar, atau presentasi, (apalagi kalau waktunya terbatas) saya sering menyesali diri, waduh, tadi harusnya “ini” disampaikan, kok malah berlama-lama membahas “itu”. Mudah-mudahan saya nanti punya kesempatan untuk menanyakan hal ini kepada beliau, untuk mencari tahu bagaimana solusinya.

Terimakasih banyak untuk coach Prasetya M Brata yang memfasilitasi pelatihan ini. Beliau ini ahli neurosemantic (saya pernah menulis tentangnya di sini). Saya merekomendasikan Anda yang ingin memperbaiki kualitas diri untuk mengikuti pelatihan beliau.

Kabar gembiranya, tanggal 23-24 April nanti, ada pelatihan public speaking 2 hari, hari pertama dengan pendekatan neurosemantic oleh pak Pras, dan hari kedua dilatih oleh pak Prie (dengan metode yang saya ceritakan sekilas di tulisan ini). Follow saja akun pakdhe Prie dan pak Pras untuk tahu infonya.

Tentu saja, terimakasih kepada pakdhe Prie atas curahan ilmu dan kasih sayangnya.

Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan beliau berdua, jazakumullah khairan katsira, amiin.

NB: kalau mau baca apa yang saya sampaikan dalam presentasi, bisa baca di fanpage saya.

Advertisements

5 thoughts on “Prie GS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s