[Parenting] Melatih Anak Menulis

menulis1

Skill menulis itu penting banget, menurut saya. Bukan melulu agar jadi penulis profesional, tapi dalam berbagai lini kehidupan kita, ada banyak hal yang bisa dilalui dengan mudah bila punya skill menulis dan sebaliknya jadi beban berat ketika skill menulis kita lemah. Misalnya saja nih, nulis paper tugas kuliah, skripsi, hingga disertasi. Bukan sekali dua kali saya saksikan orang yang sebenarnya pintar banget tapi kerepotan menyelesaikan studi gara-gara kesulitan menuangkan pemikirannya dalam tulisan.

Karena itu sejak anak-anak masih kecil sudah saya latihkan skill menulis kepada mereka. Berikut ini sekedar sharing, semoga bermanfaat buat ayah bunda.

Untuk Kirana, sejak ia berusia 5 tahun, saya mengajaknya menulis di laptop (nah, ini sebenarnya salah ya, sebaiknya nulis di buku saja, sekalian melatih syaraf motorik anak… maklum dulu itu saya belum paham).

Karena menulis pada hakikatnya mendeskripsikan sesuatu, saya bimbing Rana untuk mendeskripsikan adiknya.

Misalnya:

–Adikku namanya Reza

-(saya bilang: ayo coba cerita, pipinya dedek kayak apa?), Rana tulis: Pipinya gemuk

-(saya bilang: ayo lanjutkan, rambutnya gimana?), Rana tulis: rambutnya hitam

-(saya bilang: Rana mau cerita apa lagi?), Rana tulis: alisnya kayak bulan sabit

-(saya bilang: perasaan Kirana gimana?), Rana tulis: aku sayang adikku

Dst…

Nah, lama-lama, kok dia malah suka nulis sendiri di kertas, kadang dibikin buku (beberapa kertas dicepret jadi satu, dikasih cover kertas yg digambarnya sendiri). Awalnya, isi tulisannya selalu saja tentang adiknya.

Saya amati, kemajuan pesat muncul setelah Rana ikut kursus menggambar kreatif (gurunya mendongeng dulu sebelum anak-anak disuruh menggambar). Ini saya praktekkan ke Reza. Dulu itu saya mendirikan TK sendiri, niat awal buat Reza, sepupunya dan anak-anak tetangga. Yang jadi guru tentu saja bukan saya (saya ga sabaran kalo jadi guru), tapi saya yang mengenalkan metode-metode pengajaran kreatif ke para guru.

Nah di TK itu, anak-anak didongengi setiap hari, lalu mereka disuruh menggambar bebas (benar-benar bebas, tidak diajari). Sudah tentu karya anak-anak itu banyak yang aneh dan tidak dipahami guru. Nah, ibu guru bertanya kepada masing-masing anak, ini gambar apa? Ketika anak menerangkan, ibu guru menuliskan penjelasan sang anak di samping gambarnya. Lalu, dikumpulkan dan di akhir semester, si anak sudah punya “buku cerita bergambar” karyanya sendiri. (Ini bisa dipraktekkan ayah-bunda di rumah).

[Oiya, TK ini sudah saya tutup tahun lalu.]

Untuk Kirana, lama-lama, cerita yang ditulisnya makin bervariasi (seiring dengan semakin banyaknya buku yang dibaca). Saya pun membimbingnya menyatukan berbagai cerita ini ke dalam satu jalinan cerita utuh yg agak panjang. Triknya, kurang lebih, semacam mengajari plot cerita. (“Si Helen begini…lalu begitu..lalu begini..dst). Akhirnya, Kirana sendiri yg terinspirasi menyusun plot cerita.

Untuk Reza, karena punya karakteristik beda dari kakaknya, tentu penanganannya beda juga. Setelah lulus TK, Reza ga mau masuk SD (aku mau belajar sama mama aja!). Karena homeschooling, saya jadwalkan ia menulis di blog. Tidak mudah, karena Reza tidak terlalu suka menulis. Menulis 1-2 kalimat, lalu kabur. Tapi lama-lama ya lumayan, bisa bertahan menulis panjang-panjang.

Beberapa bulan yang lalu, ia memulai proyek menulis buku cerita (gak mau kalah dari kakak). Setting-nya Jogja (karena dia pernah 2x kali sana). Karena ga selesai-selesai juga, saya ajak dia ke Jogja supaya lebih ‘meresapi’. Balik dari Jogja, tetap saja ia malas-malasan menyelesaikan bukunya.

Saat saya ke Malang 2 pekan yll, saya kasih pesan: bukunya diselesaikan ya!

Si Akang kemudian mengajak anak-anak ke kafe, nongkrong di sana seharian. Anak-anak berupaya menyelesaikan novel masing-masing, si Akang menggarap disertasinya. Ajaibnya, Reza yang biasanya kayak cacing kepanasan kalo disuruh nulis, kali itu bisa tahan duduk berjam-jam dan punya determinasi kuat untuk menyelesaikan novelnya. Kata si Akang, “Reza ini ekonomis banget, dia tahu bahwa duduk di kafe yang nyaman dengan makanan enak itu butuh biaya, jadi rugi kalo novelnya tidak selesai.” 😀 😀

[kuncinya di sini: sabar menanti munculnya tekad&kemauan dari dalam diri si anak, kita menstimulasi/mendorong saja… tapi jangan maksa.]

Saat saya mau pulang dari Surabaya, novelnya masih belum selesai, sedikit lagi. Padahal ia ingin laporan ke saya bahwa novelnya sudah selesai. Jadi, Reza membawa laptopnya, dan ketika baterenya habis, dia mengetik di mushola bandara sambil ngecas. Begitu saya keluar dari bandara, Reza menyambut dengan sangat ceria, “Novelku sudah selesai Ma!”

Meskipun hasilnya belum layak dikirim ke penerbit, yang penting sudah selesai. Sekarang tinggal disempurnakan di sana-sini (tentu oleh Reza sendiri, setelah mendapat masukan dari mama-papa-kakak).

Demikian cerita keluarga kami, semoga bermanfaat buat ayah-bunda

Advertisements

One thought on “[Parenting] Melatih Anak Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s