Afi, Plagiarisme, dan Logical Fallacy

Close-up  of young beautiful woman hands writing and work with laptop computer.Afi Nihaya Faradisa adalah seorang facebooker yang sangat terkenal karena status-statusnya di-like puluhan ribu orang. Tulisannya yang jadi hits berjudul ‘Warisan’. Saya tidak sepakat 100% dengan isinya, tapi menurut saya, sah-sah saja orang berpendapat dan berproses.  Dan sebuah tulisan yang baik (bukan hoax atau hate speech), selayaknya ditanggapi dengan baik dan beradab. Tapi anehnya, tulisan Afi ini mendatangkan bully-an dahsyat. Akun FB nya sempat down karena direport ramai-ramai.

Lalu, Afi menjadi sangat terkenal, masuk TV dan diwawancarai media dan bahkan masuk TV, acara Rosi dan Mata Najwa. Dalam acara itu, sekilas saya lihat Afi mampu memberikan pendapat dengan jelas, jadi ‘cocok’ dengan tulisannya. Dalam arti, apa yang ia tulis memang terinternalisasi dalam dirinya sehingga ia mampu menyampaikan pula dengan lisan.

Eh, tiba-tiba muncul tuduhan bahwa tulisan Afi itu plagiat. Banyak sekali yang komen, simpang siur, entah benar copas entah tidak. Saya tidak ada waktu untuk mengikuti intens. Tapi, ada hal-hal yang membuat saya miris.

Jadi ini komentar saya.

(1) Jika benar Afi melakukan copas status orang lain, lalu dia modifikasi menjadi tulisannya sendiri dan itu dilakukannya dengan sengaja, tanpa menyebutkan sumber, tentu saja ini kesalahan.

Tapi, mari kita introspeksi diri juga. Seberapa banyak sih, orang yang sudah teredukasi dalam masalah ini? Betapa banyak orang yang copas status orang tanpa menyebut nama penulis karena menganggap toh ini ‘cuma’ status?

Jadi, mengingat Afi masih remaja, orang-orang dewasa tak perlu berlebihan menanggapinya. Dia pun melakukannya bukan buat komersil, bukan untuk membohongi, hanya “sekedar” menyampaikan pendapat. Biarlah orang-orang terdekatnya yang memberi nasehat dan bimbingan. Jangan bunuh bakat menulis seorang anak remaja karena kesalahan yang mungkin tak disengaja. (Catat: kalau memang TERBUKTI bersalah lho ya, Afi pun sudah membantah tuduhan ini.)

(2) JIKA benar Afi bersalah, tidak membuat PIHAK LAIN jadi BENAR
-Tidak membuat mereka yang selama ini membully Afi, memfitnah (menyebutnya misionaris Kristen, misalnya), atau bahkan mengancam bunuh, menjadi BENAR.
-Tidak membuat “kakak” yang membuat tulisan menanggapi Afi dengan nuansa “fitnah” menjadi BENAR (Afi menulis X, dipersepsi jadi Y, lalu dia berpanjang-panjang membahas soal Y, padahal yang ditulis Afi adalah X).
-Tidak membuat mereka yang men-share tulisan-tulisan ngawur&fitnah soal Afi jadi BENAR (di sini, kasusnya konten vs konten, bukan masalah siapa yang nulis).

(3) Untuk poin 2 di atas, ada kesalahan logika akut yang terjadi pada orang-orang yang menjadikan kasus plagiarisme ini sebagai pembenaran atas pembully-an terhadap Afi. Dalam ilmu mantiq (logika), falasi kayak gini disebut ‘tabrir’, yaitu menganggap kesalahan si B sebagai bukti dari ketidakbersalahan si A.

Contoh lain dari falasi tabrir: si A ditangkap polisi karena korup. Lalu simpatisannya berkata, “Ini pasti konspirasi Zionis untuk menjatuhkan Partai Islam! Buktinya si B yang juga terindikasi korup kok ga ditangkap?”

Untuk kasus Afi, masih ditambah lagi falasinya. Ada yang nulis broadcast di grup WA, “Inilah buktinya rezim Jokowi memanfaatkan anak remaja untuk mempromosikan Islam Nusantara, Islam ala komunis, ala Ahok…” Ini falasinya masuk ke jenis “ignoratio elenchi” (mengambil kesimpulan dari premis-premis yang tidak relevan).

Demikian.

Untuk ananda Afi (siapa tahu dia baca status ini, soalnya saya ga friend dan ga follow juga), teruslah belajar dan teruslah menulis. Dalam karir kepenulisan, biasanya ada saja batu sandungan. Yang terpenting saat kita terjatuh bukanlah momen jatuhnya, atau rasa sakit saat itu, tapi saat kita mampu berdiri kembali.

Advertisements

2 thoughts on “Afi, Plagiarisme, dan Logical Fallacy

  1. Kalau memang plagiat betapa malunya. Saya gak bisa membayangkan akan jadi pengarang seperti apa di masa depan, kalau tidak menulis dengan jujur. Semoga dek Afi ini bisa berubah dan jadi penulis dari hasi pemikiran sendiri. Penulis-penulis besar membuat karya besar karena mereka jadi diri mereka sendiri, hasil tulisan sendiri.

  2. Saya juga mengutarakan hal yang lebih kurang sama Bu.
    Saya melihat gagasannya baik, namun ada hujjah atau argumen yang semestinya bisa menghindari serangan, tanpa menghilangkan kekuatan gagasan utamanya.

    Saya pribadi maklum karena dia masih belajar, dan perlu terus mengasah logika dalam membuat esai argumentatif atau persuasif.

    Respek dengan orang-orang yang menjawab tulisannya dengan santun. Semoga Afi tidak baperan karena dibully. Resiko mengeluarkan pendapat dengan audiens beragam latar belakang logika dan kedewasaan religius ya begini.

    Tanggapi dengan senyuman, dan terus belajar menulis lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s