[Parenting] Mendidik Anak Sempurna (?)

IMG20170424080620

Ini sharing ala ibuk-ibuk ya… Ga usah ditanggapi dengan tegang. Jadi gini, barusan muncul di timeline FB, status orang, “saya kenal sama anak-anak muda yang pemikirannya cemerlang…rajin update status.. tapi mereka itu ga peduli sama urusan rumah, ga bantu-bantu ibunya, idealismenya ga terealisasi di kehidupan nyata.”

Saya ga ingin menilai negatif atas status ini. Saya pingin membahas dari sisi positif saja. Bahwa memang mendidik anak itu beraaaat… Manusia ga ada yang sempurna, tapi kita ortu perlu berupaya mendidik anak sesempurna mungkin. Banyak sekali aspek yang harus kita kembangkan dalam diri anak-anak. Jangan merasa sudah ‘selesai’ ketika anak kita pinter akademis, pinter nulis, pinter ini-itu. Kalau ustad Harry Santosa merumuskan ada sekian fitrah anak yang musti dikembangkan ortu: fitrah keimanan, bakat, belajar, seksualitas, perkembangan, estetika, sosial dll.

Saat ini, untuk urusan kerjaan domestik, saya sudah relatif santai. Kalau lagi sibuk tinggal bilang, “Reza, bisa masak sendiri kan? Mama lagi dikejar dedlen nih!” Reza bisa masak nasi sendiri (dengan rice cooker) dan masak telor ceplok. Aman deh. Kakaknya, Rana, sudah bisa masak yang agak rumit. Reza pernah menelpon saya dengan antusias, “Ma, tau nggak, Kakak berhasil bikin ayam crispy persis kayak yang dijual orang!”

Tapiiii… ini tidak terwujud instan. Perlu proses cukup panjang. Saya ikut berbagai pelatihan parenting dan berupaya mengamalkannya. Sejak kecil anak-anak sudah saya latih mandiri, meski hasilnya ga memuaskan, ya ga papa, jangan diomelin, bahkan harus dipuji dan disemangati. Misalnya, nyapu, hasilnya berantakan; nyuci piring, masih nempel sabunnya. Diam saja, lalu ketika mereka ga tau, kita ulang lagi (jangan di depan mereka mengulang semua kerjaan itu). Waktu masih balita, disuruh makan sendiri. Tumpah-tumpah ya biarin aja, namanya bocah kecil.

Lalu, meski saya ga suka masak yang rumit dan repot, demi anak-anak, kami pernah punya program cooking day. Di hari itu anak-anak memilih sendiri masakan yang ingin dibuat (biasanya mereka suka bikin cake), belanja sendiri bahannya ke warung, ditimbang sendiri, diaduk, dst. Dapur berantakan luar biasa. Ya sudah, biarin saja. Kalau menjelang lebaran, dulu (duluuu..akhir2 ini saya sudah ga sempat lagi) saya bela-belain bikin 1 jenis kue kering sendiri, melibatkan anak-anak. Jauh lebih praktis beli, tapi tujuan saya memang mau melatih anak-anak terbiasa dengan dapur.

Jangan bayangkan saya ibu sempurna ya. Sering juga saya ngomel-ngomel ke anak-anak, tapi biasanya ditebus dengan minta maaf lalu memeluk mereka erat-erat, lalu berterima kasih karena sudah menjadi anak yang pemaaf. Jadi, jangan gengsi minta maaf dan berterima kasih sama anak. Semua ibuk sama aja kayaknya, ada waktu-waktu sensi dan suara ga bisa ditahan (nada tinggi).

Terkait menulis. Stephen King dalam bukunya “Stephen King on Writing” merekomendasikan bila anak-anak ingin mengembangkan skill menulis sebaiknya tidak menonton tivi (karena menghabiskan waktu, mengganggu konsentrasi, dll). Menurut saya, di zaman sekarang, medsos-lah yang berperan jadi pengganggu konsentrasi itu. Makanya saya tidak menganjurkan anak-anak saya bermedsos. Mereka punya twitter dan IG tapi tidak terlalu aktif.

King menulis, “Menulis adalah pekerjaan orang yang kesepian.”

Saya memaknainya begini, tulisan yang mendalam butuh ‘sepi’, sementara medsos sangat hiruk pikuk, sulit untuk bisa menghasilkan tulisan mendalam. Waktu pun habis karena banyak distraksi. Jadi, di masa pertumbuhan anak-anak, memang sebaiknya mereka ‘menyepi’ saja. Saya pun mengajurkan anak-anak agar nge-blog saja. Blog lebih baik untuk melatih skill menulis karena ‘sepi’, yang baca ga banyak, jadi menulis bisa ‘lepas’, tidak ada tekanan dari luar.

Nah, terkait ‘sepi’ ini, penting bagi kita untuk mengkondisikan agar anak-anak tidak terjebak pada keinginan untuk populer dalam sekejap. Syaratnya, ortu juga jangan gampang terpesona sama prestasi anak orang lain. Berkarya dalam sepi itu bukan masalah. Ada kasus anak-anak yang ingin buru-buru populer, dan kemudian menghalalkan segala cara. Reza pernah mendapati penulis cilik yang karyanya sudah terbit jadi buku, ternyata isinya persis seperti karya Enid Blyton (hanya diubah nama tokoh dan setting). Kasus plagiasi sangat terkait dengan kejujuran, keinginan untuk berkarya instan. Sejak dini anak-anak perlu dikenalkan masalah ini, jangan asal copas, jangan mengakui karya orang sebagai karya dirinya.

(Untuk anak yang sekolah formal, prinsip ini bisa diterapkan dalam masalah ranking; jangan kondisikan anak agar menjadikan ranking jadi tujuan. Jangan resah melihat rangking anak orang lain, yang bisa jadi membuat anak kita jadi kecewa, lalu mencontek demi mencari kebanggaan dari ortu.)

Udah, gitu aja sharingnya. Semoga ada manfaatnya. Untuk semua yang saya tuliskan ini, saya berhutang budi pada guru-guru parenting saya, antara lain ibu Rani Razak Noeman, ibu Yuli Suliswidiawati, ustadz Harry Santosa (saya ikuti status2 fb-nya), semoga Allah selalu memberkahi mereka, amiin YRA.
Foto: Rana dan Reza sedang mengurusi Cimut, hamster mereka (lokasi: TMII, jauh-jauh si hamster dibawa-bawa, saking sayangnya).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s