Cime’eh (Cemooh)

bully

Dalam budaya Minangkabau, dikenal istilah cime’eh  (mencemooh, meledek, menghina). Dalam pembicaraan sehari-hari urang awak, terkadang cime’eh dilontarkan. Terkadang memang diniatkan untuk menghina, namun seringkali hanya bermaksud candaan. Pernah saya baca di sebuah artikel, cime’eh merupakan salah satu cara orang Minang bercanda, memunculkan gelak-tawa, dan mencairkan suasana. Sebagian orang juga menilai bahwa cime’eh adalah upaya para tetua dalam menempa anak muda, agar ia lebih tahan banting. Konon berkat cime’eh orang kampung, anak-anak bujang akan bersemangat pergi merantau dan di sana mereka bekerja keras supaya ketika pulang ke kampung halaman, mereka datang sebagai orang sukses yang tak pantas lagi di-cime’eh.

Namun, saya pikir, dampaknya tidak selalu baik. Menghina jelas berbeda dengan kritik atau penilaian terhadap orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghina bermakna merendahkan, memandang rendah (hina, tidak penting), memburukkan nama baik orang, atau menyinggung perasaan orang (seperti memaki-maki, menistakan).

Ini cerita ayah saya. Dulu, ketika SMP gurunya bertanya, “Apa bahasa Inggrisnya ‘meja’?” Ayah dengan penuh semangat menjawab, “Table!” Pak guru menimpali, “Apa?? Tabek?” [kolam ikan]. Sontak semua teman sekelas tertawa.  Sejak itu, ayah saya jadi antipati pada pelajaran bahasa Inggris. Akibatnya ketika sudah jadi PNS, ayah berkali-kali melepas kesempatan tugas ke luar negeri karena tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Continue reading