Tips Pernikahan

anniversaryKadang saya kasihan sama friends saya, saban hari dikasih status dan link-link soal Timteng. Jadi kali ini sebagai selingan saya mau sok bijak kasih nasehat soal pernikahan *eciye.

Sebenarnya niatnya mau posting menye-menye atas ultah pernikahan saya dan si Akang. Tapi ternyata gagal. Mungkin karena saya bukan orang romantis, ga bisa nulis puisi.

Jadi sudahlah, saya sharing aja, semoga bermanfaat untuk pasangan muda. Begini, ada dua hal penting yang saya dapatkan selama 18 tahun pernikahan kami.

Pertama, selalu beri ruang kepada masing-masing pihak untuk jadi dirinya sendiri. Bagaimanapun, pernikahan itu menyatukan dua pribadi yang berbeda, dengan sejarah kehidupan yang berbeda. Kalau suami-istri sama-sama memaksa pasangannya untuk ‘berubah’ menjadi sosok yang diinginkan (atau dikhayalkannya sebelum menikah), yang ada malah konflik melulu.

Sebelum menikah, posisi laki-laki dan perempuan adalah berhadapan, nilai baik-baik calon istri/suami, jangan lupa, logikanya tetep dipakai (jangan atas nama ‘cinta’ melulu, soalnya bisa memunculkan distorsi). Tapi setelah menikah, berjalanlah berdampingan, menuju satu target di depan (yang sudah dimusyawarahkan bersama, istilahnya: visi-misi keluarga). Kalau saling menatap terus, biasanya kejelekan satu sama lain jadi kelihatan dan akhirnya sibuk mengungkit-ungkit kekurangan dan janji-janji yang tak terpenuhi.

Kedua, untuk bisa menjalankan poin pertama, PERLU USAHA. Kadang ada pasangan yang sukses sejak awal pernikahan untuk melaksanakan poin pertama itu. Tapi saya pribadi, perlu jatuh-bangun. Mungkin karena perbedaan di antara kami terlalu besar.

Pencerahan yang saya dapatkan adalah setelah ikut beberapa pelatihan parenting (komunikasi pengasuhan anak). Lho kok parenting? Ehm, ini rahasia di antara para perempuan ye, bapak-bapak ga usah tahu. Pokoknya, percaya deh, kalau ibu-ibu ikut pelatihan parenting yang tepat, dia akan lebih mampu ‘dealing’ dengan baik dengan suaminya 😅

Nah ketika komunikasi sudah bisa terjalin dengan lebih baik, proses selanjutnya juga bisa dijalankan bersama-sama. Misalnya, belajar self healing, neurosemantic, dan lain-lain, pokoknya ilmu-ilmu pengembangan kepribadian deh. Lalu didiskusikan bersama dan dipraktekkan (‘dipraktekkan’ ini yang paling penting ya.. banyak orang rajin ikut pelatihan ini itu tapi ga beres-beres urusannya karena ga mempraktekkan apa yang dipelajarinya).

Dan hasil terbaik dari proses ini adalah saling menerima apa adanya, tapi di saat yang sama, bersemangat untuk bergerak ke arah yang lebih baik lagi.

Jadi beda ya konsepnya dengan pasangan muda menye-menye yang suka bilang ‘terimalah aku apa adanya’. Lha kalo pasangannya berperangai buruk, masak harus diterima apa adanya? Saya sih NO. Tapi bukan berarti pula, begitu pasangan terlihat kekurangan-kekurangannya, lalu opsinya cerai. Baca lagi poin 1 dan 2 di atas.

Demikian sekilas info.

Foto: kartu ucapan Happy Anniversary dari Kirana untuk kami

Advertisements

One thought on “Tips Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s