Ngaji Adem Bersama Kiai Ndas

cover kiai ndasJudul : Kiai Ndas (Ngaji Raga, Ngaji Ati, Ngaji Laku)
Penulis : Nurul Huda Haem
Penerbit : Quanta (Gramedia grup), Jakarta, 2017
Tebal : 217 Halaman

Karen Amstrong dalam bukunya “Compassion” (2013:129) menulis, “…betapa jarangnya kita meluangkan tempat untuk yang lain dalam interaksi sosial. Dan, betapa seringnya kita memaksakan pengalaman dan keyakinan sendiri tentang orang dan peristiwa, dan penilaian ketus yang menyakitkan…”

“Meluangkan tempat untuk yang lain”, sebuah frasa yang terasa asing di tengah atmosfer sosial-politik masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Betapa banyak tersebar narasi yang memaksakan pemahaman dan keyakinan kepada pihak lain. Ketika beradu pendapat, umpatan kafir atau munafik demikian mudah terlontar. Narasi agama tidak lagi terasa menyenangkan, mewujud menjadi narasi penghakiman yang menciutkan nyali.

Karenanya, kehadiran buku Kiai Ndas seperti oase yang menyegarkan di tengah suasana beragama yang panas dan penuh hiruk pikuk ini. Buku yang berisi wejangan yang dikemas dalam cerita-cerita singkat ini mengajak pembaca untuk ‘beragama dengan menyenangkan’. Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang kiai nyentrik yang suka berkata ‘endasmu!’ (kepalamu!) sehingga dijuluki Kiai Ndas.

Kiai Ndas sering berdialog dengan Rindu Haramain, lelaki muda yang baru mendirikan pesantren di sebuah kampung bernama Mulia Asih, dan Mat Sikil, lelaki lugu yang gigih berupaya meraih ma’rifat. Mereka bertiga sering berkumpul di saung bambu dan menyebut diri ‘majelis gila’ sambil menyeruput kopi solong hitam.

Suatu hari, datanglah Mat Udel, lelaki bertato dengan rekam jejak kejahatan kelas teri yang panjang. Sang mantan preman ingin bertobat, namun setiap ustaz yang ia temui selalu menyuruhnya menghapus tato. Masalahnya, Mat Udel tak sanggup menahan sakit jika harus membersihkan tato yang ada di hampir sekujur badannya.

Sambil tertawa terbahak-bahak menyaksikan kegundahan Mat Udel, Kiai Ndas berkata,

“Ojo bingung, Del! Tato itu kemuliaan dirimu yang memilih jalan tobat. Katakanlah tato itu berdosa, tapi dosanya kan cuma ndak mengaliri air  wudhu dan mandi wajib yang menembus kulit, cuma iku thok. Sementara di luar sana ada banyak dosa yang ndak bertato; cangkem sing kakehan ghibah [mulut yang terlalu banyak menggunjing], tangan yang sering mencuri, …kezhaliman, ketidakpatuhan pada perintah-perintah Tuhan …. dosa-dosa itu tidak terpublikasikan seperti tato, malah rapat-rapat disembunyikan. Awakmu saiki sing penting [engkau sekarang yang penting] menghamba saja dalam ibadah yang tulus! Layani kemanusiaan dengan ikhlas! Samuderakan hati agar lebih welas!” [h.18]

Kiai Ndas mengajak kita untuk beragama dengan diiringi keyakinan bahwa Allah adalah Sang Maha Welas Asih. Kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, warahmati wasi’at kulla  syai’ (QS 7:156). Tentu terasa absurd ketika Sang Maha Welas Asih itu oleh sebagian umatnya malah digambarkan sebagai ‘sosok’ yang selalu siap siaga menjatuhkan hukuman.

Di bagian lain, Kiai Ndas menyampaikan kritikan kepada pihak-pihak yang dengan gampang mengklaim surga untuk kelompoknya.

“Jangan kaupaksa aku menjelaskan soal wilayah Tuhan. Itu domain veto. Aku tak kuasa. Jangan menyebut orang lain kafir. Lhaaaa keislamanku saja masih dipertanyakan, apalagi surga!” demikian curhat Sang Kiai suatu saat. [h.161]

Adalah wajar bila banyak pemeluk agama meyakini kebenaran agama yang dianutnya. Setiap agama memiliki klaim kebenarannya, sehingga ketika seseorang menganut sebuah agama dengan kesadaran, pada saat yang sama ia menilai bahwa agamanyalah yang terbaik. Konsep-konsep relativisme, menyamakan semua agama, jelas kontradiktif dengan klaim kebenaran agama dan logika beragama. Penyamaan semua agama membuat masing-masing agama akan kehilangan identitasnya. Adalah fakta bahwa semua agama memiliki kekhasan dan doktrinnya masing-masing, sehingga perbedaan antaragama adalah keniscayaan.

Pertanyaannya kemudian adalah  bagaimana umat beragama mampu menerima keberadaan penganut agama lain, sambil tetap meyakini kebenaran agamanya sendiri?

Pertanyaan ini dijawab oleh Romo Haryatmoko dalam “Dominasi Penuh Muslihat”, antara lain dengan mengutip pernyataan filsuf Perancis, Emmanuel Levinas penulis Ethique et Infini (1982), “Hubungan tidak menetralisir yang lain, tetapi memelihara otentisitas yang lain. Yang lain, yang sama sekali lain, bukan suatu obyek yang menjadi milik kita atau bercampur dengan ‘aku’ untuk menjadi ‘kita’.” Inilah prinsip inklusivitas yang penting ditegakkan dalam kehidupan bernegara, menerima yang berbeda, sekaligus menghargai, menjamin, dan ikut bertanggung jawab atas nasib setiap warganya, apapun agamanya (Haryatmoko, 2010:119).

Konsep menerima kehadiran penganut agama lain dengan legawa juga pernah diajarkan oleh Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Penulis buku ini, Nurul Huda Haem, seorang da’i Betawi asli dan pengasuh Pesantren Motivasi di Bekasi, mengajak pembacanya untuk mempelajari ‘pengetahuan ‘irfani’, yaitu pemahaman atas hikmah di balik tabir lambang atau kata-kata. Umat perlu berhenti berseteru atas teks-teks, dan lebih berupaya menggali nilai-nilai agama yang welas asing untuk kemudian diwujudkan pada kerja-kerja kebaikan di tengah masyarakat. Umat perlu berhenti merasa paling benar dan menjadi hakim bagi yang lain.

“Kil, bagaimana sampeyan mau menantang matahari, lha wong masih butuh terjemah, tafsir, ta’wil dan penjelasan-penjelas lanjutan atas satu kata yang membingungkan?” kata Kiai Ndas.

Kiai Ndas menggedor kesadaran kita bahwa setiap manusia sejatinya adalah salik (pejalan) yang sedang menempuh perjalanan pulang menuju Sang Khalik.

Semua salik tak tahu, apakah di tikungan berikutnya, ia akan selamat.  Manusia tidak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya, namun ia wajib berupaya mempersiapkan akhir yang baik (khusnul khatimah).

Ketika sama-sama tidak tahu, apatah hak kita untuk menghakimi pihak lain? Adalah lebih baik kita ngaji yang adem-adem saja, berupaya memperbaiki raga, ati, dan laku masing-masing. Sambil meluangkan tempat untuk yang lain, demi rahmat-Nya yang tak terbatas. []

 (tulisan saya, dimuat di koran Tempo, dengan nama asli 🙂 )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s