Basa-Basi Basi

body shamingBuka FB pagi-pagi, ketemu artikel soal “body shaming“. Saya baru tahu istilah ini, kurang-lebih maknanya mengolok-olok tubuh orang (atau diri sendiri). Isi tulisan ini pun seputar pengalaman pahit seseorang yang sering mengalami body shaming, dan tips untuk menghadapinya.

Tapi saya lebih sering mendapati jenis ‘body shaming’ yang sebenarnya tidak bermaksud membully atau mencela (ini prasangka baik saya) melainkan karena ingin menunjukkan perhatian, tapi akibatnya malah jadi SOK PERHATIAN dan MENYEBALKAN. Saat ketemu dengan seseorang yang lama tak jumpa, komentar yang lazim diucapkan, “Gemuk ih, sekarang, makmur nih ye!” atau sebaliknya, dengan ekspresi wajah prihatin, “Kok kurus banget, kecapekan ya?”

Ibuk-ibuk, sadarilah, setiap perempuan itu (termasuk Anda sendiri) punya kondisi berbeda-beda. Saya pernah baca curhat seseorang yang sebal dikomentari gemuk. Memang ibu itu tidak gemuk, tapi montok, dan sebenarnya cantik!

Saya sendiri, karena sering dikatain “kurus kering” waktu kecil (maksudnya -saya percaya- baik, supaya saya makan lebih banyak), sangat sensitif dengan komentar kurus. Jadi, saya malah seneng saat dikomentari gemuk. Aneh tho? 

Saya kemudian memulai pola hidup sehat sehingga berat badan saya kembali ke masa sebelum punya anak dulu. Kalau diperhitungkan dengan tinggi badan, berat saat ini ideal. Masalahnya, orang-orang biasa melihat saya gemuk, lalu sekarang melihat saya kurus. Padahal, ini kondisi awal saya dulu.

Nah, karena masa lalu saya yang sensi dengan kata ‘kurus’, saya jadi sebal ketika dikomentari kurus. Aneh kan, padahal kan sebenarnya saya menguruskan diri dengan suka rela. Apalagi kalo ditambahi komentar sok perhatian, “capek ya?” atau “sedang sakit ya?”, ih males banget deh.

Tapi bisa jadi, ada ibuk-ibuk yang tadinya gemuk, lalu dia diet, dan berhasil kurus, dia akan happy banget bila dikomentari kurus. Dia akan sedih kalau dikatain gemuk (bayangkan, dia sudah berupaya keras diet dan berhasil menurunkan sekian kilo, kok ya masih dikomentari gemuk).

Saya jadi mikir-mikir, kenapa ya, ibuk-ibuk Indonesia ini kebanyakan kalau ketemu, mampunya komen ala body shaming aja (gemuk/kurus/tambah putih/tambah item)? Di tulisan di bawah ini, di paragraf akhir, ada jawabannya: pendidikan. Mungkin karena kita tidak banyak diajari berbasa-basi dengan baik.

Saya jadi introspeksi diri, saya juga suka komenin Reza, “ih, ndut..ndut” (saking gemes, sambil cubit-cubit pipi dan lengannya yang agak montok). Reza juga suka membalas saya, “Mama ndut!” (saya sudah kurus pun dia tetap katain saya ndut).

Jadi, mari mulai dari rumah. Ajari diri sendiri dan anak-anak menjauhi komentar body shaming, meski niatnya bukan untuk bully. Ajari basa-basi yang menyenangkan dan aman.

Aman itu maksudnya, kan kita ga tau orang lebih suka dikatain gemuk atau kurus. Memuji pun musti hati-hati. “Wah, tambah cantik aja..:.” Ada yang seneng dapat komen begini, tapi ada juga yang enggak, yaitu orang yang PD nya rendah banget, tak pernah percaya bahwa dia cantik, jadi saat dipuji cantik dia malah merasa itu ejekan. Repot kan?

Jadi karena perempuan memang susah dimengerti maunya apa, carilah komen yang aman dan netral. Cari basa-basi yang menyegarkan, bukan yang basi.

Misalnya, “Wah, tambah seger aja nih…” atau ya udah, ga usah sentuh urusan fisik:
“Apa kabarnya sekarang?”
“Buku apa nih yang sedang digarap?”
“Gimana aktivitasnya sehari-hari, lancar aja kan?”
“Bisnis kuenya gimana? Ih aku kangen banget makan kue buatanmu!”

Atau, ada usul lain, basa-basi yang aman?

Ini saya terjemahkan kalimat akhir tulisan ini, yang bagus banget direnungkan:

“Kita punya kewajiban untuk mengajarkan welas asih dan kebaikan kepada generasi penerus. Kita perlu mengajarkan mereka akhlak baik dan pemahaman bahwa ‘freedom of speech’ (kebebasan bicara) tidak sama dengan bebas berkomentar tentang fisik orang lain. Alih-alih mengolok-olok tubuh orang lain, anak-anak perempuan dan laki-laki kita perlu belajar untuk saling menguatkan satu sama lain.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s