3 Film di Tahun Baruan

tahun baruan 2018

ngopi sebelum nonton

Libur tahun baruan (2018), ngapain saja? Secara ‘kebetulan’ saya mengisinya dengan nonton 3 film dengan 3 orang berbeda. Kenapa ‘kebetulan’ dikasih tanda kutip? Karena kan sebenarnya tidak ada ‘kebetulan’ dalam hidup, tapi keputusan-keputusan kita (dan pilihan-pilihan kita sendiri)-lah yang membuat sesuatu itu terjadi. Kalau saya memutuskan untuk tidak nonton, tentu tidak ada acara nonton itu, ya kan?

Film pertama, tralaaa.. Ayat-Ayat Cinta 2. Sebenarnya sama sekali tidak berminat nontonnya (sudah bisa menebak isinya kayak apa). Tapi karena diajak dan ditraktir Rika, adik saya, ya hayu ajalah.

Di luar dugaan, saya suka setting filmnya (setting lokasi, di Skotlandia). Indaaaah banget. Salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke kawasan Eropa yang klasik-klasik gitu. Tapi, jalan ceritanya, hm, bikin saya pening berkali-kali. Yang paling bikin saya komen “Whaaaaattttt???” tentu saja adegan “debat” antara Fahri dengan dosen di Universitas Edinburgh. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati, apakah para alumnus Univ tua & keren itu tidak tersinggung almamaternya digambarkan dengan sekoplak itu dalam film AAC 2?

Jadi ceritanya, si Fahri (tokoh utama AAC, seorang profesor Studi Islam, alumnus Al Azhar, kaya raya dan ditaksir banyak perempuan sejak zaman dulu ia masih lajang) lagi ngobrol di kafe sama 3 temannya. Eh tiba-tiba muncul seorang pria Yahudi, namanya Baruch. Si Baruch ini sebelumnya pernah berantem sama Fahri. Gara-garanya, Baruch mengusir ibu tirinya dari rumah (rumah si ibu tiri tetanggaan dengan Fahri; lalu Fahri menolong dengan MEMBELI rumah itu dan diserahkan ke si nenek ini).

Jadi, karena masih sakit hati, si Baruch ngajak ribut. Tapi tiba-tiba… orang yang entah apa profesinya ini (kayaknya sih preman), ngomong gini, “Kamu ngajar di Edinburgh University, kan? Saya punya kawan di situ. Bagaimana kalau kita adakan adu debat…??”

Maksud loooo??? Jadi, dosen di Univ Edinburg (temen si Baruch, kali aja dosen, padahal siapa tahu bagian cleaning service) mau-mau aja disuruh ngadain acara debat ilmiah demi memuaskan keinginan Baruch? Trus, bayangkan, di dunia ini, adakah preman yang awalnya ngajak berantem fisik, tapi kemudian berkata: GIMANA KALO KITA ADAKAN DEBAT ILMIAH DI KAMPUS?

Lalu, saat debat, lebih memalukan lagi. Yang ngomong paling banyak malah ibu tiri si Baruch. Isinya: memuji-muji akhlak Fahri. Duh, debat ilmiah di kampus sekeren itu kok jadi ancur begini? Dan jangan tanya, apa kalimat-kalimat yang diucapkan Fahri dan lawan debatnya. Asli, kasian saya sama Univ of Edinburgh.

Ah sudahlah, ga usah dibahas lebih jauh. Tapi kalau mau baca review yang bikin puas ngakak, klik ini aja.

Habis nonton, saya dan Rika ke kafe yang lagi ngehits itu lho, Up******. Saya pesan kopi dengan request: GULA DIPISAH. Dan pesanan datang dengan salah, gulanya sudah dicampur dan manis banget. Ini sudah kedua kalinya kafe ini bikin saya kecewa karena tidak memperhatikan request saya soal gula.

Selang sehari, saya nonton lagi, bareng Reza. Judulnya “Si Juki The Movie”. Ini adalah film animasi karya orang Indonesia (dan atas nama nasionalisme, saya memutuskan nonton :D) yang diangkat dari komik populer, karya Faza Meonk. Reza suka sekali baca komik “Si Juki”, jadi dia sejak beberapa waktu yll sudah bilang ingin nonto filmnya.

Secara umum, filmnya oke. Ga ada yang bikin saya bergumam “whaaat???” Reza juga suka dan banyak tertawa.

Terakhir, bareng Rana, nonton Susah Sinyal. Menurut saya, ini film yang menghibur dan ga memunculkan keluhan. Kecuali, entah mengapa Ernest suka sekali mengeksploitasi artis seksi (yang jelas hanya ‘bumbu’, ga ngefek ke cerita yang dibangun), di film Cek Toko Sebelah juga gitu. Menurut saya, trik bikin ‘rame’ film dengan mempertontonkan keseksian perempuan malah merendahkan perempuan.

Setelah nonton, Rana ngajak ke kafe yang itu lagi (yang beberapa hari sebelumnya saya datangi dengan Rika). Dan… kecewa lagi. Pesanan kami datang setelah 30 menit dan sudah DINGIN! Rupanya si pelayan lupa, padahal kami sudah tanya dan dia jawab ‘tunggu aja’. Huh. Sudah deh, sudah 3x kecewa. Coret saja dari daftar tempat nongkrong.

Nah.. malam tahun baru ngapain? Kami makan jagung bakar bersama kakak ipar (dan anak-anaknya) dan adik ipar (dan anaknya). Setelah lewat tengah malam, mereka pulang, kami berempat sekeluarga pun bermuhasabah. Mengenang tahun 2017, apa saja kebahagiaan yang kami alami, apa saja yang disesali dan dijanjikan untuk ‘ditebus’. Kami masing-masing menetapkan resolusi tahun baru. Lalu, berdoa… dan tidur deh.

Sekarang, sudah bulan Februari. Dan ‘janji’ (resolusi) saya belum satupun saya jalankan. T_T.

 

 

Advertisements

One thought on “3 Film di Tahun Baruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s