Novel “Sapere Aude!”

sapere audeNovel berjudul asing ini tiba di rumah kami pada suatu siang.  Penulisnya Astrid Tito dan Budy Sugandi, diterbitkan Gramedia.

Sapere Aude! Hm, apa artinya? Kata Wiki, sapere aude adalah frasa Latin yang bermakna dare to know (berani untuk tahu), atau dare to be wise (berani untuk bijak) atau dare to think for yourself! (berani untuk berpikir sendiri, tak diatur-atur orang). Frasa ini awalnya digunakan dalam the First Book of Letters (20 BCE), oleh penyair Romawi, Horace. Di novel dijelaskan bahwa sapere aude adalah ‘berani mengambil pilihan/keputusan terbaik’.

Jalinan kisah dalam novel ini, hm… ya cocok sekali buat pemuda-pemudi yang sedang mencari tambatan hati. Di dalamnya juga bertaburan puisi cinta romantis. Bisa jadi template buat kamu yang perlu merayu seseorang, hahaha.

Tokoh utamanya adalah seorang pemuda keren bernama Gilang (soleh, aktivis NU, pintar, dapat beasiswa kuliah di Jerman) yang menjalani hari-harinya di Eropa. Ada beberapa wanita dalam hidupnya, yang siap ‘dipilih’. Yang mana yang dipilih Gilang? Kalau mengikuti logika emak-emak seperti saya, ya harusnya yang dipilih adalah Tajul Bariyah, sudahlah cantik, pintar, salehah, pintar masak, anak aktivis senior NU pulak. Pas kan? Niscaya Gilang dan Tajul akan menjadi keluarga muda NU yang akan berperan dalam menjaga NKRI 🙂

Tapi tentu saja ga seru kalau ceritanya bisa ditebak. Gilang akhirnya memilih yang lain. Siapa dia? Silahkan baca sendiri ya 🙂

Quote menarik, yang diucapkan oleh Kiai Kemmo, “Mencintai setiap manusia itu sebaiknya karena kita mencintai-Nya, Gilang…”

Ehm, kalimat ini terasa klise, ala “tarbiyah” banget gitu lho. Tapi sungguh, setelah saya menikah 19 tahun, saya merasakan kebenaran kalimat ini. Mencintai itu kata kerja, to love, me-…. Jadi, ini bukan perasaan yang statis dan bisa kauharap akan abadi kalau kau tetap diam. Mencintai itu adalah proses / kerja untuk membuktikan cinta itu sendiri. Bagaimana mungkin kaubilang ‘aku cinta padamu’ tapi kau tak memperbaiki penampilanmu, perilaku, kinerja, akhlak, atau apa saja, demi menyenangkan hati kekasihmu? Ketika kau tak lakukan itu semua, tandanya kau tak cinta. Kalau si dia melakukan hal-hal yang selalu membuatmu sedih, tandanya dia tak cinta. Seribu puisi pun ia buat untukmu, sejatinya ia tak mencintaimu. Sesimple itu.

Tentu, perlu ada parameternya, karena keinginan manusia sering tak terbatas. Seberapa besar pengorbanan yang harus diberikan seorang perempuan kepada sang kekasih, dan sebaliknya? Seberapa besar perbaikan penampilan yang dilakukan seorang perempuan demi lelaki yang dicintainya? Seberapa besar harta yang harus dicari lelaki untuk menjaga kesejahteraan perempuan yang dicintainya? Apa parameter benar-salah yang harus disepakati bersama di antara mereka berdua? Di situlah peran “cinta pada Allah”, yang akan menjadi parameter, penjaga, agar tak ada hal-hal yang berlebihan “atas nama cinta” yang malah membuat celaka.

Jadi, pemuda-pemudi sekalian, beranilah untuk memilih yang terbaik, tapi ingatlah bahwa ada parameter dalam memilih. Allah.

 

When we love, we always strive to become better than we are. When we strive to become better than we are, everything around us becomes better too.” – Paulo Coelho

 

 

Advertisements

One thought on “Novel “Sapere Aude!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s