Dilan dan Ketundukan pada Narasi Mainstream

imam khomeini quote

“Dilan memasang poster Imam Khomeini! Artinya dia itu Syiah! Sesat!”

Sudah bisa diduga, yang nuduh-nuduh Syiah itu (dan yang nge-like) adalah ibuk-ibuk dan bapak-bapak kalangan you know who yang emang demen nuduh-nuduh ga jelas. Musuh utama mereka ini: Syiah, China, Kapir, Liberal, Komunis, dll, dan setiap pihak yang ‘beda’ dari mereka, langsung dikasih stempel demikian.

Yang paling kasian tentu saja Pakde Jokowi, semua stempel itu dilekatkan di keningnya sekaligus oleh kalangan you know who ini. Yang pernah belajar sedikit filsafat pasti tertawa, kok bisa di satu orang menempel beberapa stigma sekaligus yang secara paradigmatik bertolak belakang? Tapi karena yang demen bikin itu stempel justru golongan yang mengharamkan filsafat, pantas saja kalau terjadi kekacauan akut dalam cara berpikir.

Dan, bermunculanlah status, komen, serta tulisan yang membela Dilan dan Pidi Baiq (sang novelis).

Saya awalnya ya agak-agak kasian sama Pidi Baiq. Saya pun membaca novel Dilan, versi e-book gratisan. Tapi dulu saya pernah beli kok novelnya, untuk putri saya (17 thn) yang penasaran pingin baca. Tapi sepertinya karena si putri punya ‘selera tua’ (yang sedang dibacanya saat ini: Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang), novel itu hanya dibacanya beberapa lembar lalu disumbangkan ke rumah baca.

Diceritakan bahwa tokoh Dilan (anak SMA kelas 2, di tahun 1990) memasang poster Imam Khomeini di kamarnya, berdampingan dengan poster Mick Jagger. Mungkin dengan keberadaan poster itu, si penulis (Pidi Baiq) ingin menciptakan citra ‘garang’ atau revolusioner pada Dilan. Meski sebenarnya tidak nyambung juga dengan jalinan cerita keseluruhan, dimana karakter Dilan sama sekali tidak garang, apalagi revolusioner, kecuali ketika pacarnya diganggu orang.

Di novel Dilan, sama sekali ga ada tuh nuansa revolusioner yang diteriakkan Imam Khomeini, “Wahai rakyat tertindas di dunia! Wahai negeri-negeri Muslim. Bangun! Ambilah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian!”

Yang ada: “Jangankan Anhar. Kepala Sekolah nampar Lia, KUBAKAR SEKOLAH INI!”

*tepok jidat dan berdoa, semoga anak cowokku ga jadi remaja kayak Dilan*

Lalu, sepertinya si penulis, Pidi Baiq sudah khawatir sejak semula akan ada tuduhan Syiah, di halaman lain (saya lupa nomer halamannya), dia memberikan penjelasan yang malah terasa garing, kurang lebih begini: kekaguman Dilan pada Imam Khomeini tidak terkait dengan mazhab.

Wah… kok tunduk banget pada narasi mainstream? Takut banget? ‘Revolusi ke laut aja’ ini mah. Kenapa tidak sekalian bikin disclaimer: Dilan memasang poster Mick Jagger tidak terkait dengan paham liberalisme pro seks bebas?

Sudah tahu kan Jagger nyanyi ini: I got this sexdrive/ Driving me mad/I’ve got to drive you crazy/Best you’ve ever had…

Lalu, muncul rasa amat prihatin ketika membaca komen Pidi Baiq di status facebook temannya. Awalnya dia menulis begini:

Pidi1 (1)

Bijaksana sekali. Tapi kemudian, dia berbalas komen dengan temannya seperti ini:

Pidi2

 

Pidi menyuruh umat untuk tabayun, tapi dia sendiri tunduk pasrah pada narasi yang beberapa tahun terakhir disebar masif oleh kaum you know who “Syiah itu sesat, kafir, bukan Islam, artinya ga pergi haji atau umrah”. Di komen selanjutnya sudah ada yang menjelaskan bahwa tidak demikian (bahwa kaum Syiah adalah Muslim yang tentu saja berhaji dan umrah). Lalu dijawab Pidi: Terimakasih penjelasannya. Dengan demikian sudah dijelaskan oleh adanya masukan dari Kang Fajrudiin.

Sebenarnya, Pidi bukan sosok ‘istimewa’ dalam urusan ketundukan pada narasi mainstream ini. Betapa banyak orang yang jauh lebih paham soal agama yang entah sengaja, entah benar-benar tak tahu, membebek saja pada narasi mainstream ini. Tau kan, ada ustadz terkenal yang (konon) lulusan Al Azhar mengatakan ‘usir Syiah dari masjid’.

Well, kalau saya yang klarifikasi: Syiah itu Muslim, mereka tetap sholat 5 waktu, berumrah dan naik haji, mungkin sebagian orang ga mau percaya. Soalnya, ada satu web yang dibuat kaum you know who (pendukung jihad Suriah) sejak tahun 2012 menobatkan saya jadi salah satu tokoh Syiah (gara-gara saya aktif melawan mereka dalam isu jihad Suriah) dan isi web itu dicopas dan dishare di berbagai web lain dan medsos, secara masif.

Jadi, kalian baca saja apa kata Grand Syekh Al Azhar,  Prof Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb. Atau, coba deh, baca buku karya Pipiet Senja (tau kan, blio ini  pendukung kelompok 212), “Menoreh Janji di Tanah Suci” (2011, Gramedia). Di buku memoar perjalanan umrah dan hajinya ini Pipiet berkali-kali menceritakan pertemuannya dengan jamaah haji Iran. Salah satunya, di halaman 140:

Belum sempat kulihat siapa berkomentar, sudah tampak ratusan jamaah yang berasal dari Afrika, berbadan tinggi besar, secara serentak bergerak melintasi barisan di depannya, jamaah Iran. Mereka menembus dari kiri-kanan, segala sudut, sehingga barisan yang terkenal revolusioner itu bertemperasan pula dibuatnya.

 

pipiet senja-iran3

Kisah di atas adalah kisah bagaimana perjuangan jamaah haji perempuan untuk bisa sholat di Raudhah. Pipiet juga bilang, jamaah haji terbanyak setelah Indonesia adalah jamaah dari Iran. Di halaman 147-148, Pipiet menceritakan, jamaah haji Iran gemar sekali membaca Al Quran selama di Tanah Suci, beda dengan orang Indonesia yang hobinya ngobrol mulu.

pipiet senja-iran1

pipiet senja-iran2

Atau, silahkan baca catatan Dr. Abad Badruzzaman (dosen dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Tulungagung) yang baru saja berkunjung ke Iran, di facebooknya. Ini saya copas sebagian ya:

Saya di sana kurang dari seminggu: cuma lima harian. Tapi sejumlah kesan membekas lekat. Umumnya kesan positif. Namanya kesan tentu saja subjektif. Saya punya kesan positif tentang Iran dan orang Syiah-nya, karuan saja karena sejak awal memang saya pro-Iran dan sangat terbuka terhadap mazhab Syiah. Hal mana membuat saya kenyang “disyiah-syiahkan”.

Kendati begitu, saya hampir yakin, orang yang bencinya terhadap Iran dan Syiah sampai ubun-ubun pun, sedikit-banyak sikapnya itu akan berubah jika ia berkunjung langsung ke Iran; gak harus berbulan, cukup 1-2 minggu saja.

Tiba di Imam Khomeini Airport jam 11 malam. Salju menyambut, dingin menggigit waktu kami baru saja keluar dari pesawat. Keluar dari bandara, seorang pemuda utusan Mostafa International University menyambut ramah. Di mata saya, wajahnya Arab banget. Memang, selama di Iran, di mata saya orang sana semua mirip Arab.

Pemuda penyambut membawa kami ke mobil. Setelah membereskan barang bawaan, sebelum masuk mobil, pemuda itu memberi kami setangkai bunga mawar merah terlindung pelastik bening. “This for you,” kata dia. Senyumnya tetap terlihat meski lampu di luar bandara gak terlalu terang. Begitu duduk, pemuda penyambut membagi kami kue dan minuman kemasan kotak.

Sampailah di kota Qom. Qom gak sedingin Tehran. Gak terlihat salju di Qom. Jam 2 dini hari kami baru bisa benar-benar istirahat. Untung subuhnya jam 6. Jam 8 langsung kegiatan Short Course (SC). Seperti apa kegiatan awal SC, sudah saya posting.

Setatus ini hanya akan mencatat beberapa poin tentang para narasumber SC, disusul kemudian tentang Iran secara umum.

SATU: semua narsum menyebut kami saudara seagama. Apakah semua orang Syiah seperti itu? Tidak. Kelompok takfiri ada di kedua pihak; Sunni dan Syiah. Kelompok takfiri ini sebenarnya bukan mayoritas, hanya saja dibesar-besarkan dan juga mereka memang memiliki media. Melalui gerakan tafahum, taqrib dan anti-takfirisme, Sunni-Syiah bisa bergandengan. Persatuan dalam kebhinekaan bukan asa hampa.

DUA: hampir semua narsum fasih dua bahasa asing: Arab dan Inggris. Tingkat kefasihan bahasa Arab-nya lebih tinggi. Prof Barati, pakar peradaban Islam misalnya, bahasa Arab-nya nyaris sempurna.

TIGA: dari semua narsum, kami tidak pernah mendengar kritikan terbuka terhadap kelompok Sunni, meski sesekali ada peserta SC yang “memancing” mereka untuk melakukan hal itu. Misal, seorang teman bertanya soal tiga khalifah pasca Nabi Saw. Sang narasumber malah bilang gini, “Kami mengikuti sikap Imam Ali dalam hal ini.” Ada juga narsum yang “berkelit” seperti ini, “Sudahlah kawan, itu masa lalu! Kini semua negara Islam punya masalah yang sama; bagaimana demokrasi mampu mengharmonisasi agama dengan dunia (negara). Dalam kerangka itu, Iran bereksperimen dengan konsep wilayatul faqih.”

EMPAT: di sentra-sentra buku dan kepustakaan, baik yang fisik maupun virtual, akan dengan mudah ditemukan literatur-literatur Sunni. Jangankan di perpustakaan atau koleksi pribadi para ayatullah, di toko kitab sederhana di Qom, saya lihat sendiri kitab-kitab Sunni dijual di sana. Di sini? Baru rencana mendatangkan orang Iran saja, teriakan penolakan serta ancaman lengkap dengan pentungan langsung merebak.

LIMA: Iran bukan negara kaya, meski juga gak melarat, tapi jelas punya kemandirian yang membanggakan. Sejak kemenangan revolusi, Iran kenyang dengan embargo. Perang teluk (Iran-Irak) semakin menguras tenaga dan pikiran mereka. Nyatanya mereka bangkit sebagai negara yang maju secara sains dan teknologi. Jangan mengolok-olok Iran, nanti kamu ditodong rudal sama mereka!!

 

Sejak dimulainya Perang Suriah (2012), tiba-tiba saja gerakan anti-Syiah bermunculan di Indonesia. Poster-poster anti-Syiah dipasang di berbagai penjuru kota. Buku-buku anti-Syiah (mencatut nama MUI) disebar gratis. Ini semua pastilah gerakan tersistematis dengan biaya amat besar. Saya sampai nulis surat terbuka untuk Kang Emil menjelaskan hal ini, entah blio baca, entah tidak. Sejak itu pula, salah satu strategi yang dipakai untuk menjatuhkan lawan politik, atau lawan bisnis, atau siapa saja yang menjadi lawan kelompok you know who adalah: kasih stempel Syiah (termasuk Kang Emil tuh jadi korbannya).

Nah yang saya heran, orang-orang yang punya literasi tinggi (misalnya, novelis atau mahasiswa, kan “seharusnya” tingkat literasinya tinggi ya?) kok ikut-ikutan tunduk pada narasi jahat dari kelompok you know who ini ya? Kok bisa banyak yang amnesia massal soal Iran/Syiah [penduduk Iran mayoritas Syiah]?

Ga usah jauh-jauh mengenang betapa tahun 1980-1990-an Imam Khomeini dielu-elukan  bahkan poster-posternya dijual bebas di lapak-lapak pinggir jalan (si Dilan, bocah SMA yang kerjaannya momotoran dan pacaran mulu pun juga ikut-ikutan pasang posternya). Bukankah tahun 2006  Presiden Ahmadinejad datang ke Jakarta dan dielu-elukan luar biasa oleh publik Indonesia (termasuk disambut di UI, oleh mahasiswa kelompok you know who yang dulu cerdas-revolusioner yang sekarang mendadak jadi zombie itu)?

ahmadinejad1

ahmadinejad2

Ahmadinejad di Jakarta (2006)

Saya pun, tahun 2007 menulis buku Doktor Cilik Paham dan Hapal Al Quran, tentang hafiz cilik Iran, yang best seller tanpa terduga-duga (lebih 15x cetak ulang, belum dihitung edisi hard cover). Yang jualan VCD rekaman si hafiz cilik Iran ini (tanpa izin/kerjasama dengan saya) bahkan website yang sama yang sejak tahun 2012 menjadi web terdepan mencaci-maki Syiah.

coverkecil-drcilik_wp

Jadi, ya sudahlah. Mau dibilang apa. Inilah era post-truth. Ada banyak orang yang memilih tunduk menerima kebohongan yang diulang-ulang dan disebar dengan amat sistematis, masif, dan didukung dana raksasa. Mengapa? Karena itulah yang membuatnya nyaman, perekonomian/karirnya tak terancam, atau …

Tapi tentu saja, ada sedikit orang yang revolusioner ‘asli’ (gak cuma gegayaan pasang poster), mau berpikir merdeka, menolak lupa, dan mau sedikit belajar geopolitik kontemporer.

Semoga kamu, yang sedang membaca tulisan ini, termasuk di antaranya.

Menjadi bodoh itu berat, Dilan. Aku sih ogah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s