Perjalanan

travelingSaya suka sekali melakukan perjalanan, terutama ke tempat-tempat baru. Ke tempat yang sudah bisa didatangi pun, saya juga suka. Misalnya, perjalanan ke rumah ibu mertua. Saya selalu menikmati pemandangan di perjalanan dan berkali-kali bilang, “Eh liat itu sawahnya [atau langit, atau gunung], indah banget ya?”

Padahal, saya kan sudah ratusan kali melewati jalan yang sama? Tapi selalu saja terpesona lagi dan lagi.

Penyebabnya adalah perubahan suasana hati dan cara berpikir saya. Sungguh, hati yang bahagia akan berdampak pada mata: bagaimana engkau melihat dunia.

Dulu, perjalanan ke rumah ibu mertua terasa sangat menjemukan. Karena, ada beberapa hal yang mengganjal di hati (ya biasalah, banyak juga para ibu-ibu muda yang mengalami problem serupa). Tapi seiring bertambahnya usia, setelah saya ikut berbagai pelatihan perbaikan diri (misalnya Neurosemantic ++ dengan pak Prasetya M. Brata yang pernah sedikit saya ceritakan di sini) dan self healing dengan bu Yuli Suliswidiawati, hidup menjadi jauh lebih menyenangkan. Apakah orang-orang di sekitar saya berubah? Tidak. Tapi, cara saya memandang dan mempersepsi kata-kata mereka jauh berubah. 

Continue reading

Advertisements

Me Time (Buku 33 Ibu-Ibu)

dina-bunda intanMe Time, ini istilah yang sering dipakai oleh ibuk-ibuk jaman now. Artinya kurang lebih, menyendiri sejenak, ga ngurusin rumah tangga. Tujuannya adalah biar pikiran fresh lagi, biar ga stress, dll.

Eh si Akang kalau saya ngomong soal me time selalu ngomel, “Apa..?? Mama itu udah kebanyakan me time-nya! Papa nih yang butuh me time!”

Hahaha. Lha iya, emang si Akang tipe yang ngurusin keluarga banget. Tak jarang, saat blio ada di rumah dan saya lagi sibuk ngetik-ngetik, blio yang nyediakan makanan (sholawat..semoga demikian selamanya, aamiin..).

Kenapa kok bahas me time? Karena saya baru baca buku berjudul Me Time: Perjalanan Ibu Bahagia.  Buku ini kumpulan tulisan dari 33 penulis, ibuk-ibuk semua.

Continue reading

Reza Potter :)

Late post. Beberapa waktu yll (1 Feb) saya dan Reza berdua saja ke Jakarta. Tujuannya, ikut acara Harry Potter Book Night 2018 (HPBN). Jauh-jauh dari Bandung, sampai di Plaza Senayan dan ter-wow dengan harga barang-barang di sana. Akhirnya melipir duduk di cafe, minum jus seharga 40 ribu-an. Mahal amaaat. Tapi Reza tahu bahwa kami perlu berhemat, jadi dia tidak minta macam-macam. Dia saya belikan roti di sebuah toko.

Saat masuk ke Kinokuniya (tempat acara), puluhan Potterhead (sebutan bagi fans Harry Potter) sudah berdatangan. Sebagian dari mereka memakai jubah hitam, lengkap dengan tongkat sihir, tapi banyak juga yang pake kostum-kostum lainnya.

Ini Reza dan kostumnya:

Reza Potter

Continue reading